My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 101


__ADS_3

“Aku tersesat dan kamu diam saja, tak masalah jika kamu tidak ingin melakukan apa-apa. Tapi setidaknya berpaling dan tengoklah ke belakang, ada Aku yang duduk diam menunggu.”


setelah sampai di ruang atas, Agra segera menutup pintu agar tak


ada yang mendengarkan pembicaraan mereka


Agra menghempaskan tubuh ara di atas sofa dekat dengan jendela lebar itu, hingga Ara memekik kesakitan


"sakit bby ...." Ara mengelus sikunya yang terbentur sandaran sofa


“sekarang katakan padaku” ucap Agra datar dengan wajah dingin


“a-apa bby?” Ara pura-pura tak mengerti


“mau sampai kapan kau tak mau jujur padaku..., kau benar-benar


membuatku jadi suami yang tak berguna ..., aku seperti suami yang begitu bodoh ....” ucapan Agra kali ini sedikit


meninggu membuat Ara sedikit terkejut, ia segera menundukkan pandangannya tak


punya keberanian untuk menatap suaminya


untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ara melihat kemarahan suaminya, Ara benar-benar ketakutan hingga tanpa terasa tubuhnya bergetar


“maaf sayang ...” Agra menyesal saat melihat wajah ketakutan pada


istrinya, Agra jongkok di depan Ara


“aku Cuma ingin kau jujur, apa seberat itu jujur padaku? Apa


sesulit itu percaya pada suamimu sendiri?” ucap Agra sambil mengusap rambutnya


dan menjatuhkan bokongnya ke lantai dia duduk kembelakangi Ara dengan menundukkan kepalanya


“maafkan aku bby ...” Ara ikut turun dan memeluk suaminya


“aku bukan tak mau jujur padamu bby, tapi aku belum siap bby ...”


air mata Ara tak tertahan lagi, jatuh begitu saja


“jika benar-benar menganggap aku suamimu, sekarang katakan


sejujurnya, aku tidak suka kau bergantung pada Rendi atau siapapun, kau telah membuat hatiku benar-benar sakit” ada luka


yang besar di mata suaminya, membuat Ara tak berniat meneruskan kebohongannya


“aku HAMIL bby ...” Ara memejamkan matanya, ia sudah siap dengan


kemarahan suaminya


Agra yang mendengar pengakuan Ara, segera mendongakkan kepalanya


menatap istrinya yang berada di depannya, rasa kecewa yang tadi menguasai


hatinya seakan musnah berubah menjadi sebuah kebahagiaan yang tak ternilai oleh


apapun


“sayang ...” Agra segera menarik tubuh Ara kedalam pelukannya, Ara


yang tekejut segera membuka matanya saat tubuhnya sudah berada dalam pelukan


suaminya


“kau tak marah padaku bby ...?”


Tapi bukannya menjawab, Agra malah menghujani wajah Ara dengan


ciuman yang bertubi-tubi di seluruh wajah Ara


“bby ....”


“stop ...” Agra menutup mulut Ara dengan jari telunjuknya


“biarkan aku merasakan kebahagiaan tak terkira ini ...” Agra terus


saja memeluk dan menciumi Ara sekenanya, air mata bahagia agra tanpa terasa


menetes di sudut matanya


Ara yang melihat kebahagiaan suaminya, merasa sangat bersalah


karena telah lancang menyembunyikan berita yang seharusnya menjadi hak suaminya


“kau menangis bby?” Ara mengusap sudut mata Agra


“kenapa kau begitu jahat sayang ..., kenapa?” tanya Agra dengan


mata yang berkaca-kaca


“maafkan aku bby, aku tak bermaksud ...” Ara menghentikan


ucapannyanya saat melihat tatapan Agra yang begitu terluka yang bercampur


bahagia


“apa sebegitu aku tak pantas menjadi suamimu hingga kau lebih


memilih Rendi menjadi orang pertama yang tahu kehamilanmu?”


Pertanyaan Agra begitu membuat Ara terluka, ia tak tahu jika


kebohonganya akan melukai perasaan suaminya begitu dalam


Setelah mengapus air matanya, Agra segera beranjak dan meninggalkan


Ara yang masih terduduk lemas


“bby ....”


Langkah Agra terhenti di depan pintu, saat Ara memanggilnya


“biarkan aku sendiri sebentar ....” ucap Agra tanpa menoleh pada


Ara, ia tak mau rasa kecewanya akan menyakiti anak dan istrinya, Agra lebih memilih menenangkan diri


Setelah Agra tak terlihat lagi, Ara menangis sejadi-jadinya,


sesekali memukul dadanya yang terasa sesak, begitu sakit, karena kebodohannya


ia sudah melukai hati suaminya


Seharusnya hari ini hari yang begitu membahagiakan untuk mereka,


tapi kebagahagiaan mereka terhalang oleh kebodohannya


Seandainya. Itu pasti kata yang paling menyedihkan di dunia ini." (Mercedes Lacke)


"Terkadang kita menciptakan sendiri rasa sakit hati melalui ekspektasinya"


***


 Sesampai di lantai bawah,


Agra segera di hampiri oleh Nadin yang sedari tadi memang sengaja menunggu


kakaknya turun, tapi langkahnya terhenti tepat di depan Agra


Nadin menjadi tak memiliki keberanian untuk bertanya setelah


melihat wajah kusut kakak iparnya, bibirnya seakan kelu sendiri


“kamu jaga kakakmu dulu, aku keluar sebentar ...” ucap Agra datar,

__ADS_1


tanpa menunggu jawaban dari Nadin, Agra pun langsung berlari meninggalkan Nadin


Agra keluar Ruko dan menuju ke motor yang sudah terparkir di sana,


ia segera menaiki motor itu dan meninggalkan pelataran parkir Ruko


Setelah Agra tak terlihat lagi, Nadin segera berlari menaiki


tangga, ia membuka pintu dan mendapati kakaknya sedang menangis tersedu di


depan sofa


“kakak ...” Nadin segera berlari menghampiri kakaknya dan


memapahnya memdudukkanya di atas sofa


“kakak kenapa? Kakak bertengkar ya dengan kak Agra?” Nadin mengelus


punggung Ara


Ara segera berhambur memeluk adiknya


“kakak kenapa? Cerita kak...”


“kakak bodoh dek ...., kakak bodoh ...”


“iya aku tahu..., kakak bodoh kenapa?”  ucapan Nadin membuat Ara segera melangkan


bantal ke punggung Nadin kesal


“bukannya menghibur kakak, kamu malah menggoda kakak” ucapan Ara


masih dengan air mata yang mengalir


“sekarang katakan , kebodohan apa yang telah kakak perbuat, biar


aku bisa bantu ...”


“kakak HAMIL dek ...”


Mendengar ucapan Ara, Nadin benar-benar syok, ia segera menutup


mulutnya yang terbuka


“lalu , apa kak Agra nggak menginginkannya, hingga ia meninggalkan


kakak? Seharusnya ini berita bahagia kan kak....? kak Agra nggak benar-benar


cinta sama kakak? Jahat banget kak Agra, kelamaan gaul sama balok es buat


hatinya ikut beku, jadi gemes aku kak pengen nimpul pakek vase bunga”


“stooooppppp ....” teriak Ara


“diem dulu kamu dek ...., biar aku jelasin dulu permasalahannya,


jangan asal nuduh”


“ini bukan nuduh kak, kita pulang saja kak, nggak usah urusin tuh


suami nggak guna, jadi sebel aku, kakak lagian juga ngapa nangis-nangis nggak


penting”


“jangan crewet kamu dek, kalau nggak mau diem, kakak tendang kamu


sampai lantai bawah , bisa diam nggak, biar kakak yang ngomong”


“maaf ..., aku diem ...”


“aku yang salah dek, aku udah menutupi semua ini dari suami kakak,


dia seneng aku hamil dek, seneng banget, bahkan dia ngesampingkan rasa kesalnya


harga dirinya dek, aku lebih memilih Rendi untu tahu lebih dulu ketimbang suami


kakak sendiri”


“uuuhhhh ...” Nadin pun segera memeluk kakaknya kembali sambil


mengerucutkan bibirnya


“kakak yang sabar ya, aku yakin kak Agra nggak akan lama marah sama


kakak, dia Cuma butuh sendiri buat nenangin diri”


“mudah-mudahan dek ...”


“tapi kakak benar-benar tak berperasaan sih, aku kasih tahu ya kak, suami itu bakalan seneng banget kalau di jadikan yang pertama...., aku jadi kasihan sama kak


Agra, coba deh kakak pikir, kalau kakak di posisi kak Agra, pasti kakak bakalan


marah kan sama kak Agra”


Ucapan Nadin membuat tangis Ara kembali pecah


“kamu benar dek...., hiks hiks hiks ...”


“yah ...., kenapa jadi nangis lagi ..., yahhh yahhh .....” Nadin menggaruk kepalanya


yang sebenarnya tak gatal


***


Agra menghentikan motornya di tepi danau, danau yang dulu sering


Agra, Rendi dan Frans kunjungi saat masih SMA , di situ merupakan tempat


favorit mereka untuk menghindari segala aturan yang di terpkan oleh Ratih


Agra duduk di salah satu bangku yang menghadap ke danau, ia


memandangi air danau yang memantulkan sinar orange dari matahari yang hampir


tenggelam


Daun yang jatuh di atasnya terombang-ambing mengikuti gelombang air


yang terkena terpaan angin


Tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya, seseorang segera duduk di


sampingnya


“lo di sini?” orang itu adalah Rendi


Seolah merasa malas menanggapi orang yang berda di sampingnya, agra


merasa orang di sampingnya lah yang telah menciptakan kerumitan dalam rumah


tangganya


Karena tak mendapat jawaban dari Agra, Rendi pun berdiri mendekati


bibir danau dan mengambil sebutir kerikil dan melemparkannya ke tengah danau


“lo liat batu itu ..., lo akan seperti batu itu jika terlalu


percaya diri bisa menyelesaikan semuanya,  jika lo pengen sampai di tengah danau tapi tidak tenggelan, taruh batu


itu di atas daun, daun itu yang akan membawanya ke tengah danau, jika tetap


takut tenggelam maka cari daun yang lebih lebar”

__ADS_1


“gue nggak ngerti dengan apa yang lo omongin” ucap Agra tetap


dengan tatapannya yang tak menentu


“gue sahabat lo ..., gue akan selalu ada setiap lo butuh gue, gue


akan jadi daun yang siap menopang lo sampai ke tengah sana”


“gue nggak suka lo terlalu ikut campur urusan rumah tangga gue, gue


nggak suka Ara terlalu menggantungkan semuanya ke elo”


“dia tetap nganggep lo yang nomor satu, bukan gue”


“itu yang selalu lo bilang ke gue tentang nyokap gue, tapi nyatanya


apa lo tetap yang jadi kebanggaan nyokap gue, gue memang putra kandungnya, tapi


nyokap gue Cuma nnganggap gue sebagai sampah, nggak lebih ...” ucap Agra sambil


berdiri mendekati Rendi dengan wajah yang menyorotkan kemarahan yang begitu


dalam


“lo salah ....” Rendi berusaha menjelaskan, tapi kembali terpotong


dengan ucapan Agra


“ya emang gue yang salah, gue terlalu naif, gue terlalu percaya


sama lo, gue udah nganggap lo sebagai saudara gue, tapi ternyata gue salah, setelah


lo ngambil nyokap gue, lo masih mau ngambil istri gue” ucap Agra sambil menarik


kerah baju Rendi


“berhenti berbuat bodoh” bentak Rendi sambil mengibaskan tangan


Agra hingga Agra terjatuh karena kehingan keseimbangannya, ia terduduk di


tanah, Rendi pun menunduk dan balik menarik kerah baju Agra


“gue nggak tau lo itu pura-pura bodoh ataukah memang lo bodoh,


seharusnya lo bisa bedain mana orang yang benar-benar tulus sama lo, mungkin


ada orang di luar sana bertepuk tangang liat kita kayak gini, mereka senang


liat kita bertengkar, lo udah ngasih  angin segar pada mereka”


Agra diam membenarkan ucapan sahabatnya, Rendi melepas tangannya dari


kerah Agra saat melihat Agra tak semarah tadi, amarah Agra sudah mulai mereda


Rendi pun berdiri, dan membiarkan Agra bangun sendiri, setelah bangun


Agra pun kembali duduk di bangku yang tadi di dudukinya


“sorry ...., gue bingung, gue kecewa, gue marah, terluka karena Ara


lebih milih lo yang lebih buat tahu berita bahagia buat kami”


Rendi segera ikut duduk di samping Agra, ia menatap ke arah danau


sama seperti yang sedang di tatap Agra


“jadi lo udah tahu jika Ara hamil?” Agra hanya menggangguk


menanggapi ucapan Rendi


“sebenarnya bukan Ara yang ngasih tahu gue, saat itu gue sama Frans


sengaja di suruh nyonya buat ngajak Ara ke rumah sakit Frans”


“ibu?” Agra memastikan kembali ucapan Rendi


“iya ...., nyonya yang nyuruh kami buat lakuin pemeriksaan, awalnya


Cuma buat pemeriksaan biasa untuk mengatur program kehamilan karena nyonya


begitu menginginkan hadirnya cucu, tapi ternyata semuanya lebih dari yang kita


duga, saat di periksa ternyata Ara sudah mengandung 10 minggu” Rendi memberikan


penjelasan pada Agra


“nyonya sangat menyayangi kalian, ia hanya ingin melindungi kalian


dengan mengirim kalian jauh darinya karena nyonya Aruni memiliki rencana yang


buruk untuk kalian”


Agra mencerna dengan baik ucapan Rendi, ia masih harus menemukan


bukti sendiri apa yang di katakan Rendi, ia tidak mau terlalu berharap pada


Rendi, ibunya atau siapapun


Di tengah keheningan itu, mereka di kejutkan dengan kedatangan


dokter Frans yang ngos-ngosan seperti habis lari maraton


“ah ...., untunglah kalian tidak pa pa ...” ucap dokter Frans


sambil memegangi dadanya


Agra dan Rendi saling berpandangan


“lo dari mana?” tanya Agra


“gue kira lo, lo ...” dokter Frans nenunjuk kedua temannya


‘emang kenapa dengan kita?” tanya Rendi tetap dengan wajah dinginya


“gue kira kalian lagi gencatan senjata, tuh ajudan lo ucal


calling-calling gue katanya kalian lagi berantem, mereka bingung harus mihak


siapa, kalau kalian beneran berantem gue bakalan suruh ajudan lo buat jeburin


kalian ke danau biar nggak ada yang menang”


“dasar lo ....” Agra dan Rendi segera menghampiri dokter Frans dan


segera menindih dokter Frans, mereka tertawa bersama seolah kembali ke masa di


mana mereka tak terlalu memikirkan masalah yang begitu rumit


Mereka menikmati senja di pinggir danau dengan memakan  beberapa camilan yang sengaja di bawa oleh


Frans sebelum sampai ke tempat itu, mereka tertawa , saling ledek, saling


timpuk, layaknya persahabatan pada umumnya



"Aku akan tetap di sini untuk bersedih sebentar saja. Jadi, kalian tidak perlu mengkhawatirkanku. *semua akan kembali baik."


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA KASIH DUKUNGAN DENGAN MEMBERIKAN LIKE DAN KOMENTARNYA YA


KASIH VOTE JUGA*

__ADS_1


__ADS_2