My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 49


__ADS_3

 Agra menarik tangan Ara hingga ke


tempat mobilnya terparkir, tapi Ara menghentikan langkahnya saat hendak


memasuki mobil


“ken apa lagi ...?” tanya Agra kesal


“sebentar, aku akan membeli obat untukmu dulu”


“tidak perlu nona, di mobil sudah ada beberapa obat yang bisa noba


gunakan” Rendi tiba-tiba menyusul dari belakang


“cihhhh ..., kenapa kau selalu saja muncul disaat tidak aku


butuhkan” keluh Agra


“maaf pak ...”


“masuklah ....” perintah Agra pada Ara


“anda akan bersama sopir pak, jadi biarikan nona duduk di kursi


belakang bersama anda”


“tapi aku tidak butuh sopir” bantah Agra


“aku juga akan ikut di mobil anda pak”


“dasar kau ini..., sungguh pemaksa, persis seperti ibuku”


Akhirnya Agra pun menyerah, Agra dan Ara duduk di kursi belakang


sedangkan pak Mun dan Rendi duduk di kursi depan, pak Mun sebagai pengemudinya


Ara mengambil kotak obat  yang sudah di sediakan di dalam mobil, Ara dengan telaten membersihkan


luka di wajah Agra


“aughhh....”


“kenapa? Sakit ya ...”


“kau bisa pelan tidak, kau bisa membunuhku ...”


“lebay sekali ...” gerutu Ara “memang dengan begini orang bisa


mati”


“kau keras sekali ....”


“siapa suruh kau berkelahi, atau jangan-jangan berkelahi sudah


menjadi hobimu”


“auhgggg ..., hentikan” Agra memegang pergelangan tangan Ara “kau


benar-benar tidak iklas ya mengobatiku”


“kau begitu saja sudah mengeluh ..., dasar manja”


Perdebatan mereka tak pernah luput dari perehatian Rendi, walaupun

__ADS_1


rasanya sungguh menyedihkan saat melihat perdebatan mereka, tapi apa boleh buat


ia harus merelakan


‘apa perlu kita ke rumah sakit pak?” tanya Rendi


“tidak perlu, kita pulang saja”


“tapi di rumah ada nyonya ...”


“apa bedanya jika aku ke rumah sakit atau ke rumah, pasti


orang-orang suruhanmu sudah melaporkannya pada ibuku”


Mendengar jawaban Agra membuat Rendi diam seribu bahasa, memang


benar apa yang di katakan Agra, tak ada yang bisa ia sembunyikan dari ibunya


Mobil pun terus melaju hingga berhenti di depan rumah besar itu,


seperti biasa Rendi akan turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu untuk


agra


Dan benar Salman sudah berdiri di ambang pintu menanti kedatangan


mereka


“selamat datang tuan muda” Salman menunduk memberi hormat pada Agra


dan Ara


“maafkan kelalaianku  ...”


saat salman menatap Rendi, ia sudah tahu kesalahannya karena telah membiarkan


Agra pun menarik tangan Ara segera masuk ke dalam rumah di ikuti


oleh Rendi dan Salman


“nyonya sudah menunggumu tuan muda” ucap salman lagi saat Agra


hendak menaiki tangga kamarnya


“di mana ibu?’ tanya Agra dingin


“di ruang kerjanya tuan”


“masuklah ke dalam kamar, aku akan menemui ibu dulu” Ara hanya bisa


mengangguk dan menaiki tangga, sedangkan Agra berjalan ke tangga lainnya menuju


ke ruang kerja ibunya


“apa yang membuatmu melalaikan tugasmu?” tanya Salman pada Rendi


saat Agra sudah tak terlihat lagi


‘maafkan aku, ayah ...., ini tidak akan terulang lagi”


“segera selesaikan semua kekacauan ini, aku tak mau  ada berita miring tentang tuan muda besok


pagi”

__ADS_1


‘baiklah”


***


Tok tok tok


 Sebelum menunggu jawaban


Agra langsung masuk ke dalam Ruang kerja ibunya, ia tahu jika ibunya sudah


menunggu


“ibu menungguku?” tanya Agra saat melihat ibunya duduk di sofa


sambil menikmati secangkir kopi dengan kaki yang di lipat


“duduklah’ seperti biasa wanita itu akan berucap begitu dingin


‘kau tahu kesalahanmu?”


“iya ....”  agra duduk di


sofa lainnya yang lebih pendek


“kenapa kau lakukan itu hingga membuatmu terluka?”


“aku rasa bukan lukaku yang ibu cemaskan”


“jangan selalu berpikir buruk tentang ibu”


“lalu pikiran seperti apa yang ingin ibu dapatkan”


“jangan lakukan kecerobohan seperti itu lagi, kau tidak hanya


membahayakan dirimu sendiri tapi juga istrimu”


“itu tidak akan terjadi, karena ibu sudah menaruh mata-mata


dimana-mana”


‘itu tidak cukup”


“itu cukup ibu..., itu cukup untuk membuatku hidup seperti dalam


penjara, aku capek ...., permisi bu” Agra pun segera berdiri dan menunduk


memberi hormat kemudian meninggalkan ibunya


“kenapa dia keras kepala sekali, begitu bencikah dia padaku ...”


gumam Ratih sambil memegangi kepalanya yang terasa berat


-


-


-


-


-


-

__ADS_1


JANGAN LUPA KASIH LIKE DAN KOMENTARNYA YA KAKAK


DAN BALIK KE LAMAN DEPAN KASIH SEDIKIT VOTE


__ADS_2