My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 56


__ADS_3

Tak ada yang abadi di dunia ini.


Semuanya memiliki waktunya sendiri- sendiri. Ada yang datang kemudian pergi.


Masa depan yang akan datang pun akan berlalu menjadi masa lalu.


Sebagai manusia kita hanya bisa menerima segala hal yang terjadi


pada hidup kita. Sebagai makhluk yang perasa, membuat kita bahagia atas sebuah


pertemuan dan sedih atas suatu perpisahan.


Tak jarang kita mengungkapkan hal tersebut lewat kata-kata agar


perasaan menjadi lebih lega. Baik kegembiraan ataupun kesedihan semuanya butuh


tempat masing-masing untuk diluapkan. Karena menahan perasaan itu sangatlah


menyakitkan.


"Perpisahan mungkin terasa seperti


selamanya, tapi itu bukanlah akhir. Terutama sebagai kenangan dalam hatiku dan


di sanalah kamu akan berada." - The Fox and the Hound


Benar yang di katakan pak Mun, baru saja Ara turun dari mobilnya,


Ratih sudah berdiri di depan pintu


“oh .... astaga ...., sejak kapan ibu di situ?” batin Ara, dan


segera mendekati ibu mertuanya


“ibu ....., anda sudah pulang ...? maaf saya terlambat”


“masuklah ke kamarmu ...”


“baik ibu ...” ara langsung mengambil langkah seribu tak mau banyak


bertanya karena malah bisa merumitkannya


Setelah Ara meninggalkan ibu mertuanya, kini tinggal pak Mun dan


Ratih


“maaf nyonya....., saya bersalah karena membawa nona terlalu lama”


ucap pak Mun sambil menundukkan kepalanya


“dia menemui siapa saja sepanjang hari ini?” tanya Ratih lagi dan


pak mun segera menceritakan semuanya tanpa ada yang di tambah ataupun di


kurangi


Ara segera masuk kamar mandi untuk membersihkan diri, ia tak mau


sampai Agra datang masih terlihat kusut


Setelah membersihkan diri, ia pun kembali menghampiri ponselnya


yang sejak dia masuk ke kamar mandi seperti banyak telpon yang masuk


“hah ...., dia melakukan panggilan, ada apa ya?” karena rasa


penasarannya, akhirnya Ara memutuskan untuk menelpon balik


Tut tut tut


 Tak berapa lama Akhirnya


Agra menjawab telponnya


“hallo ....”


“ah ...., ini bukan suaranya ...” gumam Ara


“maaf nona, ini saya Rendi”


“pak Agranya di mana?”


“ ponsel pak Agra sedang saya bawa karena pak Agra sedang meeting,


beliau berpesan pada saya jika anda menelponnya, beliau menyuruh anda untuk


makan malan dahulu karena mungkin akan pulang sedikit larut”


“oh ..., jadi begitu ya ...” ada rasa kecewa di suara Ara


“nanti akan saya sampaikan jika anda telah menelpon”


“trimakasih ...” ara segera memutus panggilan telponnya dan


meletakkan ponselnya sembarangan


“kenapa sih ...., aku benci jauh darinya ...” teriak Ara sambil


melengkungkan bantal di balik kepalanya


“ups....., apa yang aku katakan ...” setelah tersadar dengan


ucapannya sendiri, ia segera menutup mulutnya sendiri karena merasa telah


lancang dengan ucapannya


Malam inisetelah makan malam, Ara hanya bisa berputar-putar di


tempat tidur sambil menonton tv  menunggu


Agra pulang


“benar yang di katakan Nadin, perutku tak juga membesar, mungkin


dalam hitungan hari saja sudah bisa di pastikan semua orang akan curiga”


‘aku sampai tidak sadar jika ini sudah empat bulan, kenapa waktu


berjalan begitu cepat?”


Ara terus bermonolog sendiri,walaupun ia menonton tv tapi


pikirannya tak di sana, ia masih kepikiran dengan permintaan Viona, setiap kali


mengingat hal itu ada rasa sakit dalam ulu hatinya,


“apa yang harus aku lakukan? Di sisi lain agra begitu mencintai


wanita itu”


‘tapi tidak, rasanya aku tidak terima jika ia kembali padanya, ia


lebih mirip rubah betina, membayangkan saja menakutkan sekali”


apakah mungkin ia bisa merelakan orang yang sudah empat bulan ini


tidur dalam satu ranjang dengannya ia berikan pada wanita lain apalagi orang


seperti Viona, menilai semuanya dengan materi


mungkinkah kini ara sudah memiliki rasa pada bosnya itu, entah rasa


itu muncul sejak kapan, apakah mungkin sejak mereka tinggal bersama dalam satu

__ADS_1


atap, dalam satu kamar, tapi sayangnya Ara tak pernah menyadarinya


ia terus menekan tombol temote tv sembarang, rasanya semua acara di


tv tak ada yang begitu menarik baginya


di tempat lain , setelah 3 jam di dalam ruangan itu, akhirnya


meeting pun selesai, Agra keluar dari ruang bersama para koleganya, setelah


berramah tamah dan berjabat tangan mereka berpisah


Agra kembali ke ruangannya di ikuti Rendi di sampingnya


“nona menelpon anda pak”


Dan Agra hanya menyahuti dengan anggukan


“apa anda tidak akan memberinya kabar jika meetingnya sudah selesai”


“berikan ponselku” Rendi menyerahkan ponsel Agra dan dengan cepat


Agra mengambilnya


“apa yang dia katakan ...”


“tidak ada pak, hanya menanyakan apakah anda akan pulang terlambat?”


“oh ...., kita pulang saja ...” Agra membatalkan keinginannya untuk


kembali ke ruangannya, ia berbalik menuju ke pintu keluar kantor


***


Ara yang masih berguling-guling di atas tempat tidur seakan sulit


untuk memejamkan mata


“rasanya aku tidak rela ...., jangan... hati ...., jangan lakukan


itu ....”


“aku nggak boleh jatuh cinta”


“ini bukan cinta, ini Cuma rasa nyaman”


‘ini tak akan lama ..., aku tak mau terluka terlalu dalam, ini sudah


empat bulan , mungkin satu atau dua hari lagi hubungan ini akan berakhir, dan


pak Agra akan pergi meninggalkanku, aku tak mau terluka sendiri”


Tapi kemudian pikirannya beralih, ia tidak mungkin egois, jelas


bahwa suaminya itu begitu mencintai mantannya itu, betapa ia ingat saat


kekasihnya meninggalkannya, bos yang sekarang menjadi suaminya itu begitu kacau


“apakah aku boleh egois untuk saat ini? Aku ingin tetap tinggal”


Lalu Ara kembali lagi pada pikirannya


“aku tak punya hak untuk tetap tinggal”


mereka belum melakukan hubungan suami istri, sehingga bukan hal


yang sulit buat mereka berpisah begitulah pikir Ara


“apa mungkin hingga sekarang pak Agra masih mencintai nona Viona?”


“pak Agra akan meninggalkanku ...”


Lamunannya seketika buyar saat tiba-tiba sebuah suara di depannya


“hemmm, kenapa nglamun” tanpa Ara sadari Agra sudah berada di


depannya, Agra gemas langsung mencubit hidung istrinya


“aduhhh, jahat banget ...” Ara memegangi hidungnya yang panas


sambil memanyunkan bibirnya


“kapan kamu masuk kamar? Aku tak mendengar kau membuka pintu?”


“bukan aku yang salah, salahkan otakmu itu, pasti memikirkan


hal-hal yang kotor”


“jangan menuduhku sembarangan ya ...” Ara merasa tak terima karena


di tuduh macam-macam


“lagian kamu melamun sampek nggak sadar aku datang, apalagi ....,


lihat kau berguling-guling sendiri di atas tempat tidur, semua pria dewasa yang


melihatnya pasti juga berfikir seperti itu .....”


“kau sungguh menyebalkan ...” Ara segera memukul tubuh Agra


menggukakan bantal yang sejak tadi di gunakan sebagai pelampiasan kekesalannya


“ its ...., ngggak kena” Agra segera menepis bantal yang tak sampai


mengenai dadanya” tak seperti biasanya Ara  akan membalas kembali kejahilannya, tapi kali


ini Ara hanya melotot tak lagi bicara, membuat Agra tak melanjutkan ulahnya


untuk menggoda Ara


“apa sih yang di pikirkan?” Agra pun ikut duduk di samping ara ia


melonggarkan dasinya, melepas satu kancing bajunya dan  menyingkapkan lengan kemejanya hingga siku


menampakkan otot-otot di lengannya


“maaf ...” Ara pun langsung memeluk suaminya, membuat Agra


benar-benar terkejut,  Agra yang belum


siap hanya bisa terdiam, ia pun bengan ragu  membalas pelukan Ara dan menepuk punggung Ara


pelan


tak biasanya istrinya itu memeluknya, bahkan untuk di pegang saja


Ara akan lebih dulu menolaknya, Agra benar-benar senang dengan apa yang di


lakukan Ara


bahkan mungkin jantungnya kini berdetak lebih kencang


“ada apa?” setelah lama mereka berpelukan, Agra pun tak bisa


membendung rasa penasarannya, dengan lembut ia bertanya pada Ara


“nggak ada, aku Cuma baru sadar saja kalau begini begitu nyaman”


ara nmembuat alasan sambil menyandarkan tubuhnya di dada bidang Agra


, rasanya jika di pikir-pikir , ia belum siap kehilangan suami yang


menikahinya empat bulan lalu itu, begitu cepat pikirnya, perutnya tak

__ADS_1


berkembang membuatnya hawatir jika entah besok atau lusa semuanya akan berakhir


“salah sendiri kau suka jual mahal, kalau kau suka aku akan


memelukmu setiap hari, setiap tidur, bangun tidur, berangkat kerja, pulang


kerja, sesuka kamu”


Hahaha


Mendengar penuturan Agra membuat Ara tak mampu menahan tawa, hingga


melepaskan pelukannya


“kenapa malah tertawa”


“tidak ....” kini terjadi keheningan, Ara pun menatap intens kepada


Agra


“kalau setelah ini apa akan terus seperti ini?”


“maksud kamu?”


“mungkin akan tinggal beberapa hari lagi kan”


‘apanya? Kau membuatku bingung saja”


“kita seperti ini dan semuanya akan berubah dalam hitungan hari”


“kau semakin membuatku pusing”


“aku mau ngomong serius sama kamu”


“mau ngomong, ngomong aja, serius amat, bikin aku khawatir saja”


“tadi aku ketemu sama nona viona” setelah menyebut nama viona tak


ada reaksi dari Agra, mau tak mau Ara melanjutkan ucapannya


“nona Viona, meminta bantuan saya buat membujukmu, ia mau minta


maaf dan memperbaiki hubungannya  kembali”


“bagaimana menurutmu?” Agra bertanya begitu dingin


“Gra ..., sebentar lagi waktu kita akan habis, semuanya akan


terbongkar, kita akan bercerai, kau bebas menentukan dengan siapa kau akan


hidup, jadi mungkin kau bisa kembali padanya”


Kini Ara tak mampu lagi melanjutkan kalimatnya, terjadi keheningan


di antara mereka, tidak ada yang keluar dari bibir Agra


Ara merasakan sakit di hatinya saat mengatakan itu semua, tapi kini


hatinya lebih sakit saat melihat reaksi Agra, suaminya itu mungkin masih sangat


mencintai mantannya


Tak mengatakan apapun agra malah beranjak dari duduknya, ia meninggalkan


kamar, menutup pintu kamar dengan sangat keras membuat Ara terkejut


“sudah ku duga pasti ia menemui nona Viona, aku tak punya harapan


lagi kan ...” gumam Ara dengan air mata yang tak mampu terbendung lagi


Saat Ara memandang jendela , mobil suaminya itu keluar melalui


gerbang rumah, Ara hanya bisa menangis di dalam kamar, entah apa yang sedang


terjadi dengan hatinya, ia mengutuki dirinya sendiri , ia seharusnya tak


bermain-main dengan hatinya


Harusnya ia tahu jika semua ini bukanlah pernikahan yang


sesungguhnya, pernikahan ini terjadi karena sebuah kesalah pahaman, bukan


pernikahan karena saling cinta


Sepanjang malam ia hanya bisa menangis, hingga ia terlelap karena


kelelahan


-


-


-


-


-


"Hidup ini masih panjang.


Hanya karena ia tidak ada di pelukanku hari ini, bukan berarti ia tidak akan


pernah kembali." - The Heirs


"Aku akan datang kepadamu


sebagai hujan dan aku juga akan datang menghampirimu sebagai salju


pertama." – Goblin


"Beberapa


orang memang hanya ditakdirkan untuk saling suka, saling jatuh cinta, dan


saling merasa nyaman. Namun tidak ditakdirkan untuk bersama. Sesederhana


itu." - Brian Khrisna


-


-


-


-


-


-


JANGAN LUPA KASIH LIKE DAN KOMENTARNYA YA


BIAR AUTHORNYA NGGAK MALES-MALESAN NULIS


APALAGI JIKA MAU DI TAMBAH VOTE


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2