
Tak ada yang abadi di dunia ini.
Semuanya memiliki waktunya sendiri- sendiri. Ada yang datang kemudian pergi.
Masa depan yang akan datang pun akan berlalu menjadi masa lalu.
Sebagai manusia kita hanya bisa menerima segala hal yang terjadi
pada hidup kita. Sebagai makhluk yang perasa, membuat kita bahagia atas sebuah
pertemuan dan sedih atas suatu perpisahan.
Tak jarang kita mengungkapkan hal tersebut lewat kata-kata agar
perasaan menjadi lebih lega. Baik kegembiraan ataupun kesedihan semuanya butuh
tempat masing-masing untuk diluapkan. Karena menahan perasaan itu sangatlah
menyakitkan.
"Perpisahan mungkin terasa seperti
selamanya, tapi itu bukanlah akhir. Terutama sebagai kenangan dalam hatiku dan
di sanalah kamu akan berada." - The Fox and the Hound
Benar yang di katakan pak Mun, baru saja Ara turun dari mobilnya,
Ratih sudah berdiri di depan pintu
“oh .... astaga ...., sejak kapan ibu di situ?” batin Ara, dan
segera mendekati ibu mertuanya
“ibu ....., anda sudah pulang ...? maaf saya terlambat”
“masuklah ke kamarmu ...”
“baik ibu ...” ara langsung mengambil langkah seribu tak mau banyak
bertanya karena malah bisa merumitkannya
Setelah Ara meninggalkan ibu mertuanya, kini tinggal pak Mun dan
Ratih
“maaf nyonya....., saya bersalah karena membawa nona terlalu lama”
ucap pak Mun sambil menundukkan kepalanya
“dia menemui siapa saja sepanjang hari ini?” tanya Ratih lagi dan
pak mun segera menceritakan semuanya tanpa ada yang di tambah ataupun di
kurangi
Ara segera masuk kamar mandi untuk membersihkan diri, ia tak mau
sampai Agra datang masih terlihat kusut
Setelah membersihkan diri, ia pun kembali menghampiri ponselnya
yang sejak dia masuk ke kamar mandi seperti banyak telpon yang masuk
“hah ...., dia melakukan panggilan, ada apa ya?” karena rasa
penasarannya, akhirnya Ara memutuskan untuk menelpon balik
Tut tut tut
Tak berapa lama Akhirnya
Agra menjawab telponnya
“hallo ....”
“ah ...., ini bukan suaranya ...” gumam Ara
“maaf nona, ini saya Rendi”
“pak Agranya di mana?”
“ ponsel pak Agra sedang saya bawa karena pak Agra sedang meeting,
beliau berpesan pada saya jika anda menelponnya, beliau menyuruh anda untuk
makan malan dahulu karena mungkin akan pulang sedikit larut”
“oh ..., jadi begitu ya ...” ada rasa kecewa di suara Ara
“nanti akan saya sampaikan jika anda telah menelpon”
“trimakasih ...” ara segera memutus panggilan telponnya dan
meletakkan ponselnya sembarangan
“kenapa sih ...., aku benci jauh darinya ...” teriak Ara sambil
melengkungkan bantal di balik kepalanya
“ups....., apa yang aku katakan ...” setelah tersadar dengan
ucapannya sendiri, ia segera menutup mulutnya sendiri karena merasa telah
lancang dengan ucapannya
Malam inisetelah makan malam, Ara hanya bisa berputar-putar di
tempat tidur sambil menonton tv menunggu
Agra pulang
“benar yang di katakan Nadin, perutku tak juga membesar, mungkin
dalam hitungan hari saja sudah bisa di pastikan semua orang akan curiga”
‘aku sampai tidak sadar jika ini sudah empat bulan, kenapa waktu
berjalan begitu cepat?”
Ara terus bermonolog sendiri,walaupun ia menonton tv tapi
pikirannya tak di sana, ia masih kepikiran dengan permintaan Viona, setiap kali
mengingat hal itu ada rasa sakit dalam ulu hatinya,
“apa yang harus aku lakukan? Di sisi lain agra begitu mencintai
wanita itu”
‘tapi tidak, rasanya aku tidak terima jika ia kembali padanya, ia
lebih mirip rubah betina, membayangkan saja menakutkan sekali”
apakah mungkin ia bisa merelakan orang yang sudah empat bulan ini
tidur dalam satu ranjang dengannya ia berikan pada wanita lain apalagi orang
seperti Viona, menilai semuanya dengan materi
mungkinkah kini ara sudah memiliki rasa pada bosnya itu, entah rasa
itu muncul sejak kapan, apakah mungkin sejak mereka tinggal bersama dalam satu
__ADS_1
atap, dalam satu kamar, tapi sayangnya Ara tak pernah menyadarinya
ia terus menekan tombol temote tv sembarang, rasanya semua acara di
tv tak ada yang begitu menarik baginya
di tempat lain , setelah 3 jam di dalam ruangan itu, akhirnya
meeting pun selesai, Agra keluar dari ruang bersama para koleganya, setelah
berramah tamah dan berjabat tangan mereka berpisah
Agra kembali ke ruangannya di ikuti Rendi di sampingnya
“nona menelpon anda pak”
Dan Agra hanya menyahuti dengan anggukan
“apa anda tidak akan memberinya kabar jika meetingnya sudah selesai”
“berikan ponselku” Rendi menyerahkan ponsel Agra dan dengan cepat
Agra mengambilnya
“apa yang dia katakan ...”
“tidak ada pak, hanya menanyakan apakah anda akan pulang terlambat?”
“oh ...., kita pulang saja ...” Agra membatalkan keinginannya untuk
kembali ke ruangannya, ia berbalik menuju ke pintu keluar kantor
***
Ara yang masih berguling-guling di atas tempat tidur seakan sulit
untuk memejamkan mata
“rasanya aku tidak rela ...., jangan... hati ...., jangan lakukan
itu ....”
“aku nggak boleh jatuh cinta”
“ini bukan cinta, ini Cuma rasa nyaman”
‘ini tak akan lama ..., aku tak mau terluka terlalu dalam, ini sudah
empat bulan , mungkin satu atau dua hari lagi hubungan ini akan berakhir, dan
pak Agra akan pergi meninggalkanku, aku tak mau terluka sendiri”
Tapi kemudian pikirannya beralih, ia tidak mungkin egois, jelas
bahwa suaminya itu begitu mencintai mantannya itu, betapa ia ingat saat
kekasihnya meninggalkannya, bos yang sekarang menjadi suaminya itu begitu kacau
“apakah aku boleh egois untuk saat ini? Aku ingin tetap tinggal”
Lalu Ara kembali lagi pada pikirannya
“aku tak punya hak untuk tetap tinggal”
mereka belum melakukan hubungan suami istri, sehingga bukan hal
yang sulit buat mereka berpisah begitulah pikir Ara
“apa mungkin hingga sekarang pak Agra masih mencintai nona Viona?”
“pak Agra akan meninggalkanku ...”
Lamunannya seketika buyar saat tiba-tiba sebuah suara di depannya
“hemmm, kenapa nglamun” tanpa Ara sadari Agra sudah berada di
depannya, Agra gemas langsung mencubit hidung istrinya
“aduhhh, jahat banget ...” Ara memegangi hidungnya yang panas
sambil memanyunkan bibirnya
“kapan kamu masuk kamar? Aku tak mendengar kau membuka pintu?”
“bukan aku yang salah, salahkan otakmu itu, pasti memikirkan
hal-hal yang kotor”
“jangan menuduhku sembarangan ya ...” Ara merasa tak terima karena
di tuduh macam-macam
“lagian kamu melamun sampek nggak sadar aku datang, apalagi ....,
lihat kau berguling-guling sendiri di atas tempat tidur, semua pria dewasa yang
melihatnya pasti juga berfikir seperti itu .....”
“kau sungguh menyebalkan ...” Ara segera memukul tubuh Agra
menggukakan bantal yang sejak tadi di gunakan sebagai pelampiasan kekesalannya
“ its ...., ngggak kena” Agra segera menepis bantal yang tak sampai
mengenai dadanya” tak seperti biasanya Ara akan membalas kembali kejahilannya, tapi kali
ini Ara hanya melotot tak lagi bicara, membuat Agra tak melanjutkan ulahnya
untuk menggoda Ara
“apa sih yang di pikirkan?” Agra pun ikut duduk di samping ara ia
melonggarkan dasinya, melepas satu kancing bajunya dan menyingkapkan lengan kemejanya hingga siku
menampakkan otot-otot di lengannya
“maaf ...” Ara pun langsung memeluk suaminya, membuat Agra
benar-benar terkejut, Agra yang belum
siap hanya bisa terdiam, ia pun bengan ragu membalas pelukan Ara dan menepuk punggung Ara
pelan
tak biasanya istrinya itu memeluknya, bahkan untuk di pegang saja
Ara akan lebih dulu menolaknya, Agra benar-benar senang dengan apa yang di
lakukan Ara
bahkan mungkin jantungnya kini berdetak lebih kencang
“ada apa?” setelah lama mereka berpelukan, Agra pun tak bisa
membendung rasa penasarannya, dengan lembut ia bertanya pada Ara
“nggak ada, aku Cuma baru sadar saja kalau begini begitu nyaman”
ara nmembuat alasan sambil menyandarkan tubuhnya di dada bidang Agra
, rasanya jika di pikir-pikir , ia belum siap kehilangan suami yang
menikahinya empat bulan lalu itu, begitu cepat pikirnya, perutnya tak
__ADS_1
berkembang membuatnya hawatir jika entah besok atau lusa semuanya akan berakhir
“salah sendiri kau suka jual mahal, kalau kau suka aku akan
memelukmu setiap hari, setiap tidur, bangun tidur, berangkat kerja, pulang
kerja, sesuka kamu”
Hahaha
Mendengar penuturan Agra membuat Ara tak mampu menahan tawa, hingga
melepaskan pelukannya
“kenapa malah tertawa”
“tidak ....” kini terjadi keheningan, Ara pun menatap intens kepada
Agra
“kalau setelah ini apa akan terus seperti ini?”
“maksud kamu?”
“mungkin akan tinggal beberapa hari lagi kan”
‘apanya? Kau membuatku bingung saja”
“kita seperti ini dan semuanya akan berubah dalam hitungan hari”
“kau semakin membuatku pusing”
“aku mau ngomong serius sama kamu”
“mau ngomong, ngomong aja, serius amat, bikin aku khawatir saja”
“tadi aku ketemu sama nona viona” setelah menyebut nama viona tak
ada reaksi dari Agra, mau tak mau Ara melanjutkan ucapannya
“nona Viona, meminta bantuan saya buat membujukmu, ia mau minta
maaf dan memperbaiki hubungannya kembali”
“bagaimana menurutmu?” Agra bertanya begitu dingin
“Gra ..., sebentar lagi waktu kita akan habis, semuanya akan
terbongkar, kita akan bercerai, kau bebas menentukan dengan siapa kau akan
hidup, jadi mungkin kau bisa kembali padanya”
Kini Ara tak mampu lagi melanjutkan kalimatnya, terjadi keheningan
di antara mereka, tidak ada yang keluar dari bibir Agra
Ara merasakan sakit di hatinya saat mengatakan itu semua, tapi kini
hatinya lebih sakit saat melihat reaksi Agra, suaminya itu mungkin masih sangat
mencintai mantannya
Tak mengatakan apapun agra malah beranjak dari duduknya, ia meninggalkan
kamar, menutup pintu kamar dengan sangat keras membuat Ara terkejut
“sudah ku duga pasti ia menemui nona Viona, aku tak punya harapan
lagi kan ...” gumam Ara dengan air mata yang tak mampu terbendung lagi
Saat Ara memandang jendela , mobil suaminya itu keluar melalui
gerbang rumah, Ara hanya bisa menangis di dalam kamar, entah apa yang sedang
terjadi dengan hatinya, ia mengutuki dirinya sendiri , ia seharusnya tak
bermain-main dengan hatinya
Harusnya ia tahu jika semua ini bukanlah pernikahan yang
sesungguhnya, pernikahan ini terjadi karena sebuah kesalah pahaman, bukan
pernikahan karena saling cinta
Sepanjang malam ia hanya bisa menangis, hingga ia terlelap karena
kelelahan
-
-
-
-
-
"Hidup ini masih panjang.
Hanya karena ia tidak ada di pelukanku hari ini, bukan berarti ia tidak akan
pernah kembali." - The Heirs
"Aku akan datang kepadamu
sebagai hujan dan aku juga akan datang menghampirimu sebagai salju
pertama." – Goblin
"Beberapa
orang memang hanya ditakdirkan untuk saling suka, saling jatuh cinta, dan
saling merasa nyaman. Namun tidak ditakdirkan untuk bersama. Sesederhana
itu." - Brian Khrisna
-
-
-
-
-
-
JANGAN LUPA KASIH LIKE DAN KOMENTARNYA YA
BIAR AUTHORNYA NGGAK MALES-MALESAN NULIS
APALAGI JIKA MAU DI TAMBAH VOTE
__ADS_1