My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 63


__ADS_3

#makna CINTA#


CINTA itu seperti es krim, kau akan tetap memilih rasa yang menjadi favoritmu


CINTA itu seperti sebuah tarian kamu harus melakukan yang terbaik tanpa melihat bagaimana kondisi yang terlihat sebenarnya


***


 


 


 


Setelah Viona keluar, Agra kembali fokus pada Ara, ia menghampiri


ara yang masih diam tak berbicara lagi


“bicaralah ....” Agra memegang tangan Ara, tapi segera di tepis


olehnya


Agra hanya memandang Ara penuh rasa bersalah, ia tak tahu apa yang


membuatnya begitu merasa bersalah, tapi mungkin karena ia sudah mulai menyadari


perasaannya


“aku benci padamu ..., AGRA ANUGRA  PUTRA, aku sangat-sangat membencimu ..., kau tahu aku menangis sepanjang


hari sepanjang malam, berharap kau mau berbicara padaku, aku terlalu takut


untuk menyapamu karena aku anggap aku tak pantas untukmu....”


“dan lagi ...., memang aku yang salah, tak seharusnya aku jatuh


cinta padamu ...., aku memang seharusnya sadar jika tak ada tempat disini ....”


ucap Ara sambil menunjuk dada Agra


“tapi aku terlalu bodoh karena membiarkan semua ini terjadi ...,


aku pikir aku masih punya harapan atas perasaanku karena aku istrimu ...., tapi


hari ini ..., kau memberi tahuku jika semuanya memang benar-benar berakhir


tanpa di mulai terlebih dahulu ...”


“aku salah ....., aku salah mengartikan semua perhatianmu selama


ini ...., aku salah karena berharap terlalu banyak terhadap hubungan ini....”


“aku membencimu ...., tapi aku juga mencintaimu ..., aku bahkan


tidak sanggup untuk membencimu ...., sungguh .... bodohnya aku ....” Ara


berbicara panjang lebar mencurahkan segala perasaannya dan melontarkan segala


kekesalannya, berharap setelah ini perasaannya akan sedikit lega


Sedang Agra hanya bisa diam membisu mendengarkan semua perkataan


Ara, semua yang ara pendam selama ini, ia tak tahu harus bersikap bagaimana,


ada rasa senang karena ternyata Ara mencintainya, ada rasa kesal karena terjadi


disaat yang tidak tepat, bersalah karena dirinya terlalu pengecut untuk


mengungkapkan perasaannya


Ara kembali menangis ..., ia tak tahu harus mengatakan apa lagi


‘kenapa ini, kenapa pandanganku semakin gelap saja ....” batin Ara


“Ra..., aku bisa jelaskan semua ...” tapi sebelum Agra sempat


menyelesaikan ucapannya, tubuh Ara sudah lebih dulu ambruk,


Untung saja tangan Agra dengan sigap menangkap tubuh Araa sebelum


mendarat ke lantai,


“ra bangun ra .....” Agra begitu panik, ia terus menepuk pipi Ara


berharap gadis itu segera bangun


“gra ...., hentikan gra ..., kau menyakitinya ...” Rendi segera


menahan tangan Agra


“aku bodoh  Rend ....” Agra


menyalahkan dirinya sendiri saat mendapati tubuh Ara yang sudah berbaring lemah


di pangkuannya


“sekarang bukan saatnya menyalahkan diri sendiri, tidurkan dia di


sofa” Rendi menyadarakan Agra , Agra pun segera mengangkat tubuh Ara dan


menidurkannya  di sofa


Agra tak mau melepaskan tangan Ara walau hanya sedetik, ia terus


memegang jemari lentik milik Ara, penyesalannya seolah tak berguna,


Rendi sebenarnya ingin sekali mendekat ingin juga menyentuh nya,


tapi apa haknya


“aku akan menghubungi dokter Frans” ucap Rendi


“cepat ...” teriak Agra


Randi pun tak mau berlama-lama segera melalukan  panggilan pada dokter Frans dan menyuruhnya


datang


Untung saja jarak antara rumah sakit dan kantor tidak terlalu jauh,


hanya butuh waktu 15 menit, dokter Frans sudah sampai, kedatangan dokter Frans


cukup menyita perhatian seluruh karyawan kantor, mereka bertanya-tanya siapa


sebenarnya yang sakit hingga menghadirkan dokter Frans, jika karyawan biasa,


biasanya cukup di bawa ke klinik kantor tak perlu memanggil dokter keluarga


Wijaya


Setelah sampai di dalam ruangan yang cukup luas itu, Rendi segera


menuntun dokter Frans menuju ke tempat Ara


“sebenarnya apa yang terjadi?” tanyanya pafda Rendi sambil terus


berjalan


“nona Ara tiba-tiba pingsan ...”


“apa karena pengaruh kehamilannya?”


“aku tak tahu ....”


Setelah berada di dekat Ara, dokter Frans segera memeriksanya, Agra


masih setia berada di sisi Ara, tak berpindah sedikit pun


 “sepertinya istri lo


kecapekan” dokter Frans memeriksa denyut nadi dan tekanan dara Ara


“Hbnya rendah banget ....., sepertinya dia kurang tidur akhir-akhir


ini”


“tapi sepertinya ada yang janggal di sini” sebenar Agra tahu apa


yang ingin di ungkapkan Frans, ia sudah pasrah, yang ia pikirkan saat ini hanya


melihat Ara kembali sadar


“kayaknya istri lo nggak ...” Frans ingin melanjutkan katanya tapi


tak tega melihat sahabatnya sedang kacau di samping istrinya


“ini serep vitaminnya, ntar lo tebus ya, kalau ada apa apa jangan


lupa hubungi gue, gue pergi dulu”


“makasih Frans” hanya kata itu yang bisa di ucapkan Agra, Rendi pun

__ADS_1


ikut keluar bersama dokter Frans,


Ia mengikuti dokter Frans sampai ke bawah


“apa kau tahu sesuatu?” tiba-tiba dokter Frans menghentikan


langkahnya dan menatap Rendi


“apa?” tanya Rendi balik


“sesuatu yang besar”


“misalnya?”


“kehamilan kakak ipar”


“maksudnya?”


“dia tidak sedang hamil”


“omong kosong apa kau ini” Rendi berusaha tidak mempercayai omongan


dokter Frans, tapi bagaimanapun sanggahannya dokter Frans tetaplah seorang dokter


yang lebih tahu keadaannya


Rendi segera menarik dokter Frans ke sebuah lorong yang sepi,


berharap tak akan ada yang mendengarnya


“katakan lagi ...” pinta Rendi


“aku bicara sesungguhnya, walaupun aku bukan dokter kandungan tapi


setidaknya aku tahu jika seseorang itu sedang hamil atau tidak”


Rendi terlihat memijat kepalanya yang semakin pusing memikirkan


masalah yang semakin banyak, soal yang satu belum selesai kini harus bertambah


satu lagi masalah


“bisakah kau menyimpan semuanya sendiri, setidaknya sampai waktunya


tiba?” ucap Rendi pada dokter Frans


“maksudmu aku harus menyembunyikan semua dari ibu?”


“ya ...., setidaknya sampai mereka benar-benar menyadari


perasaannya”


“cehh....,aku benar-benar tak mengerti dirimu, seharusnya ini kan


kesempatanmu untuk mengambil apa yang ingin kau dapatkan”


“cinta tak berjalan seperti apa yang kita pikirkan, tapi apa yang


kita rasakan”


“cehh...., kau bijak sekali, aku tahu dari dulu diantara kita


bertiga kaulah yang paling pintar dan dewasa ..., tapi sekarang aku tanya padamu...,


jika kau katakan cinta tak berjalan seperti yang kau pikirkan tapi seperti yang


kau rasakan, maka sekarang apa yang kau rasakan?”


“aku merasa bahagia jika dia bahagia, dan akan terluka jika dia


terluka”


“dan kau yakin Agra akan membuatnya bahagia, dan jika tidak ....?”


“jika tidak , mungkin aku akan mengambilnya”


“walau berhadapan dengan ibu?”


“kau memberikanku pertanyaan yang rumit ...”


“setidaknya aku tahu jika ternyata kau masih punya hati untuk


menentukan pilihan untuk hidupmu sendiri, aku pergi .....” dokter Frans segera


meninggalkan Rendi yang masih terdiam di tempatnya


***


menyisakan Agra yang masih setia menunggui Ara, sepeninggal dokter frans dan


Rendi , Agra tak juga beranjak dari tempatnya, ioa bersimpuh di samping sofa


tempat Ara berbaring, ia memegang tangan Ara, dan tangan satunya di gunakan


untuk mengusap wajah Ara yang masih enggan membuka mata


“bangun Ra...., kau benar-benar berhasil membuatku takut .....”


“aku tahu pernikahan kita hanya berawal dari salah faham, tapi kamu


harus tahu....., walaupun sebuah kesalah pahaman tapi aku tidak pernah menolak


pernikahan itu karena aku mersa nyaman berda di dekatmu, entah kenapa aku


merasa senang kesalah pahaman ini terjadi, aku sama sekali tidak menyesal”


“setelah apa yang kita lalui bersama, entah sejak kapan perasaan


ini tumbuh, aku takut jika aku selalu bersamamu aku tak bisa melepasmu lagi,


aku terlalu nyaman bersamamu hingga aku takut jika suatu saat kau akan pergi


dariku”


“aku tak mau membuatmu merasa dalam penjara karena hidup denganku, aku


mungkin egois, di satu sisi aku ingin kau tetap tinggal tapi di sisi lain saat


mendengarkan keluhmu setiap hari, aku tahu mungkin dengan melepaskan akan


membuatmu bahagia”


“kenapa harus di lepas?” suara lemah Ara mengejutkan Agra , hingga


membuat Agra terjengkang ke belakang, melepaskan tautan yangannya dengan Ara


“astaga ....., kau mengagetkanku .....,kamu sudah bangun?”


“jika aku sudah bicara, berarti aku sudah bangun ..., kau ini ....”


“cehhh ...., kenapa di saat seperti ini dia tetap saja menyebalkan”


gerutu Agra sambil bangun dari tempatnya terjengkang


Ara berusaha untuk bangun, tapi ternyata tubuhnya belum mampu dibuat


bangun


“jangan bangun dulu, minumlah” Agra segera mengambilkan segelas air


di atas  meja, Ara pun meminum air putih


yang di sodorkan Agra


“kenapa kau  bicara jujur


pada nona Viona, nona Viona bisa salah faham, kau akan menyesal jika


melepasnya, jangan melepasnya ....”


“stop....., jangan bicara lagi” Agra menaruh jari telunjuknya di


bibir Ara, membuat gadis itu seketika diam


“kenapa aku harus berhenti bicara?” Ara segera menyingkirkan jari


agra


“kamu buat aku benar-benar sakit ...., aku bisa gila jika terus


begini....”


“bukankah dia yang menyakitiku ...” gumam Ara pelan


“apa yang kau katakan tadi benar?” tanya Agra


‘memang apa yang aku katakan?” Ara malah bertanya kembali pada Agra


“cehhh ..., yang kau katakan sebelum kau pingsan”


“aku tidak mengatakan apapun ...” Ara mencoba mengingat kembali apa

__ADS_1


yang terjadi sebelumnya hingga membuatnya pingsan


“bagaimana apa kau ingat ....?” Agra memiringkan wajahnya berharap


segera mendapatkan jawabannya


Ara nampak berpikir keras, kemudian sebuah ingatan melayang di benaknya,


semua kata-kata panjang yang telah dia lontarkan sebelumnya, kata-kata yang


lolos begitu saja dari mulutnya


“aku benci padamu ..., AGRA ANUGRA  PUTRA, aku sangat-sangat membencimu ..., kau tahu aku menangis sepanjang


hari sepanjang malam, berharap kau mau berbicara padaku, aku terlalu takut


untuk menyapamu karena aku anggap aku tak pantas untukmu....”


“dan lagi ...., memang aku yang salah, tak seharusnya aku jatuh


cinta padamu ...., aku memang seharusnya sadar jika tak ada tempat disini ....”


“tapi aku terlalu bodoh karena membiarkan semua ini terjadi ...,


aku pikir aku masih punya harapan atas perasaanku karena aku istrimu ...., tapi


hari ini ..., kau memberi tahuku jika semuanya memang benar-benar berakhir


tanpa di mulai terlebih dahulu ...”


“aku salah ....., aku salah mengartikan semua perhatianmu selama


ini ...., aku salah karena berharap terlalu banyak terhadap hubungan ini....”


“aku membencimu ...., tapi aku juga mencintaimu ..., aku bahkan


tidak sanggup untuk membencimu ...., sungguh .... bodohnya aku ....”


Ucapan-ucapan itu kembali mengiang di otaknya


“astaga ...., apa yang kau lakukan Ara ......, bodoh sekali kau ini


....” batin Ara


Ara segera mengacak-acak rambutnya, dan menggeleng-gelengkan


kepalanya cepat


“bagaimana ...., apa kau ingat ....?” Agra masih memastikan tapi


dengan senyum yang melengkung di bibirnya, ia sangat suka melihat Ara yang


seperti itu


“tidak ...., aku tidak ingat ....” Ara menyangkalnya


‘cehhh ...., kau ini ....., sekarang dengarkan aku .....”


“apa?”


“dengarkan baik-baik ....”


“iya .....”


“AULIA ZAHRA ...., ini aku AGRA ANUGRA PUTRA mencintaimu ....,


sangat-sangat mencintaimu .... AULIA ZAHRA, jadi maukah kau memaafkan aku dan


tetap bertahan disisiku, walau apapun yang terjadi ..., tetap menjadi bagian


dari cerita hidupku, kita tulis bersama kisah kita di lembaran yang baru dengan


lebih indah, biarkan senja tetap menjadi senja dan fajar akan datang esok hari


....AKU MENCINTAIMU ...”


“hahhhh” Cuma itu yang bisa ia ucapkan setelah mendengar kalimat


panjang lebar dari suaminya, ia benar-benar tak menyangka ternyata selama ini


ia menganggap perasaannya salah karena mencintai orang yang tak mencintainya,


tapi apa yang baru ia lihat sebelum pingsan itu juga nyata


Bagaimana bibir suaminya itu melekat dengan bibir wanita itu,


mantan kekasih suaminya, bukankan itu menunjukkan jika suaminya masih belum


move on


“aku tahu, itu salah, seharusnya aku tidak mencintaimu, maafkan


aku” Agra terlihat frustasi dengan reaksi Ara, ia benar-benar tak bisa membaca


pandangan mata Ara


“Gra ...” Ara yang masih tergeletak di sofa melihat Agra seperti


sangat tidak tega


“hemmmm”


“apa yang kau ucapkan tadi benar?”


“jadi kau meragukanku?”


“tapi ciuman itu?” Ara mengingat kembali ciumannya Agra dengan


Viona, rasanya begitu sakit


“dia yang menciumku...., bukan aku ...”


“cehhh ...., tapi kau kan mau ...”


‘kenapa sih kau selalu mengajakku berdebat..., menyebalkan” Agra


berdiri dari duduknya dan mengusap rambutnya frustasi


“aku boleh jujur?”


“apa lagi....?, tidak jika kau hanya ingin mengajakku berdebat”


“sebenarnya aku mencintaimu”


“aku tahu .....” Agra kembali memandang Ara  dan segera duduk di hadapan ara memastikan


kata-kata gadis itu


“hahhh ...., dari mana kau tahu?”


“kau sendiri yang mengatakan tadi sebelum pingsan ...”


“iya ya ...., maafkan aku karena mencintaimu, tapi sungguh aku


tidak bermaksud seperti itu, aku cuma tidak mau berada di antara kamu dan nona


Viona”


“apa sih maksudmu?”


“mungkin perasaanmu padaku hanya sebagai rasa nyaman saja, bukan


cinta, kau menciumnya pasti karena kau masih mencintainya” mata Ara kembali


berkaca-kaca


 


 


 


BERSAMBUNG


-


-


-


-


-


 JANGAN LUPA KASIH DUKUNGAN PADA AUTHOR YA


DENGAN MEMBERIKAN LIKE DAN KOMENTARNYA


DAN LAGI VOTE NYA YANG BANYAK YA


 

__ADS_1


 


__ADS_2