
#makna CINTA#
CINTA itu seperti es krim, kau akan tetap memilih rasa yang menjadi favoritmu
CINTA itu seperti sebuah tarian kamu harus melakukan yang terbaik tanpa melihat bagaimana kondisi yang terlihat sebenarnya
***
Setelah Viona keluar, Agra kembali fokus pada Ara, ia menghampiri
ara yang masih diam tak berbicara lagi
“bicaralah ....” Agra memegang tangan Ara, tapi segera di tepis
olehnya
Agra hanya memandang Ara penuh rasa bersalah, ia tak tahu apa yang
membuatnya begitu merasa bersalah, tapi mungkin karena ia sudah mulai menyadari
perasaannya
“aku benci padamu ..., AGRA ANUGRA PUTRA, aku sangat-sangat membencimu ..., kau tahu aku menangis sepanjang
hari sepanjang malam, berharap kau mau berbicara padaku, aku terlalu takut
untuk menyapamu karena aku anggap aku tak pantas untukmu....”
“dan lagi ...., memang aku yang salah, tak seharusnya aku jatuh
cinta padamu ...., aku memang seharusnya sadar jika tak ada tempat disini ....”
ucap Ara sambil menunjuk dada Agra
“tapi aku terlalu bodoh karena membiarkan semua ini terjadi ...,
aku pikir aku masih punya harapan atas perasaanku karena aku istrimu ...., tapi
hari ini ..., kau memberi tahuku jika semuanya memang benar-benar berakhir
tanpa di mulai terlebih dahulu ...”
“aku salah ....., aku salah mengartikan semua perhatianmu selama
ini ...., aku salah karena berharap terlalu banyak terhadap hubungan ini....”
“aku membencimu ...., tapi aku juga mencintaimu ..., aku bahkan
tidak sanggup untuk membencimu ...., sungguh .... bodohnya aku ....” Ara
berbicara panjang lebar mencurahkan segala perasaannya dan melontarkan segala
kekesalannya, berharap setelah ini perasaannya akan sedikit lega
Sedang Agra hanya bisa diam membisu mendengarkan semua perkataan
Ara, semua yang ara pendam selama ini, ia tak tahu harus bersikap bagaimana,
ada rasa senang karena ternyata Ara mencintainya, ada rasa kesal karena terjadi
disaat yang tidak tepat, bersalah karena dirinya terlalu pengecut untuk
mengungkapkan perasaannya
Ara kembali menangis ..., ia tak tahu harus mengatakan apa lagi
‘kenapa ini, kenapa pandanganku semakin gelap saja ....” batin Ara
“Ra..., aku bisa jelaskan semua ...” tapi sebelum Agra sempat
menyelesaikan ucapannya, tubuh Ara sudah lebih dulu ambruk,
Untung saja tangan Agra dengan sigap menangkap tubuh Araa sebelum
mendarat ke lantai,
“ra bangun ra .....” Agra begitu panik, ia terus menepuk pipi Ara
berharap gadis itu segera bangun
“gra ...., hentikan gra ..., kau menyakitinya ...” Rendi segera
menahan tangan Agra
“aku bodoh Rend ....” Agra
menyalahkan dirinya sendiri saat mendapati tubuh Ara yang sudah berbaring lemah
di pangkuannya
“sekarang bukan saatnya menyalahkan diri sendiri, tidurkan dia di
sofa” Rendi menyadarakan Agra , Agra pun segera mengangkat tubuh Ara dan
menidurkannya di sofa
Agra tak mau melepaskan tangan Ara walau hanya sedetik, ia terus
memegang jemari lentik milik Ara, penyesalannya seolah tak berguna,
Rendi sebenarnya ingin sekali mendekat ingin juga menyentuh nya,
tapi apa haknya
“aku akan menghubungi dokter Frans” ucap Rendi
“cepat ...” teriak Agra
Randi pun tak mau berlama-lama segera melalukan panggilan pada dokter Frans dan menyuruhnya
datang
Untung saja jarak antara rumah sakit dan kantor tidak terlalu jauh,
hanya butuh waktu 15 menit, dokter Frans sudah sampai, kedatangan dokter Frans
cukup menyita perhatian seluruh karyawan kantor, mereka bertanya-tanya siapa
sebenarnya yang sakit hingga menghadirkan dokter Frans, jika karyawan biasa,
biasanya cukup di bawa ke klinik kantor tak perlu memanggil dokter keluarga
Wijaya
Setelah sampai di dalam ruangan yang cukup luas itu, Rendi segera
menuntun dokter Frans menuju ke tempat Ara
“sebenarnya apa yang terjadi?” tanyanya pafda Rendi sambil terus
berjalan
“nona Ara tiba-tiba pingsan ...”
“apa karena pengaruh kehamilannya?”
“aku tak tahu ....”
Setelah berada di dekat Ara, dokter Frans segera memeriksanya, Agra
masih setia berada di sisi Ara, tak berpindah sedikit pun
“sepertinya istri lo
kecapekan” dokter Frans memeriksa denyut nadi dan tekanan dara Ara
“Hbnya rendah banget ....., sepertinya dia kurang tidur akhir-akhir
ini”
“tapi sepertinya ada yang janggal di sini” sebenar Agra tahu apa
yang ingin di ungkapkan Frans, ia sudah pasrah, yang ia pikirkan saat ini hanya
melihat Ara kembali sadar
“kayaknya istri lo nggak ...” Frans ingin melanjutkan katanya tapi
tak tega melihat sahabatnya sedang kacau di samping istrinya
“ini serep vitaminnya, ntar lo tebus ya, kalau ada apa apa jangan
lupa hubungi gue, gue pergi dulu”
“makasih Frans” hanya kata itu yang bisa di ucapkan Agra, Rendi pun
__ADS_1
ikut keluar bersama dokter Frans,
Ia mengikuti dokter Frans sampai ke bawah
“apa kau tahu sesuatu?” tiba-tiba dokter Frans menghentikan
langkahnya dan menatap Rendi
“apa?” tanya Rendi balik
“sesuatu yang besar”
“misalnya?”
“kehamilan kakak ipar”
“maksudnya?”
“dia tidak sedang hamil”
“omong kosong apa kau ini” Rendi berusaha tidak mempercayai omongan
dokter Frans, tapi bagaimanapun sanggahannya dokter Frans tetaplah seorang dokter
yang lebih tahu keadaannya
Rendi segera menarik dokter Frans ke sebuah lorong yang sepi,
berharap tak akan ada yang mendengarnya
“katakan lagi ...” pinta Rendi
“aku bicara sesungguhnya, walaupun aku bukan dokter kandungan tapi
setidaknya aku tahu jika seseorang itu sedang hamil atau tidak”
Rendi terlihat memijat kepalanya yang semakin pusing memikirkan
masalah yang semakin banyak, soal yang satu belum selesai kini harus bertambah
satu lagi masalah
“bisakah kau menyimpan semuanya sendiri, setidaknya sampai waktunya
tiba?” ucap Rendi pada dokter Frans
“maksudmu aku harus menyembunyikan semua dari ibu?”
“ya ...., setidaknya sampai mereka benar-benar menyadari
perasaannya”
“cehh....,aku benar-benar tak mengerti dirimu, seharusnya ini kan
kesempatanmu untuk mengambil apa yang ingin kau dapatkan”
“cinta tak berjalan seperti apa yang kita pikirkan, tapi apa yang
kita rasakan”
“cehh...., kau bijak sekali, aku tahu dari dulu diantara kita
bertiga kaulah yang paling pintar dan dewasa ..., tapi sekarang aku tanya padamu...,
jika kau katakan cinta tak berjalan seperti yang kau pikirkan tapi seperti yang
kau rasakan, maka sekarang apa yang kau rasakan?”
“aku merasa bahagia jika dia bahagia, dan akan terluka jika dia
terluka”
“dan kau yakin Agra akan membuatnya bahagia, dan jika tidak ....?”
“jika tidak , mungkin aku akan mengambilnya”
“walau berhadapan dengan ibu?”
“kau memberikanku pertanyaan yang rumit ...”
“setidaknya aku tahu jika ternyata kau masih punya hati untuk
menentukan pilihan untuk hidupmu sendiri, aku pergi .....” dokter Frans segera
meninggalkan Rendi yang masih terdiam di tempatnya
***
menyisakan Agra yang masih setia menunggui Ara, sepeninggal dokter frans dan
Rendi , Agra tak juga beranjak dari tempatnya, ioa bersimpuh di samping sofa
tempat Ara berbaring, ia memegang tangan Ara, dan tangan satunya di gunakan
untuk mengusap wajah Ara yang masih enggan membuka mata
“bangun Ra...., kau benar-benar berhasil membuatku takut .....”
“aku tahu pernikahan kita hanya berawal dari salah faham, tapi kamu
harus tahu....., walaupun sebuah kesalah pahaman tapi aku tidak pernah menolak
pernikahan itu karena aku mersa nyaman berda di dekatmu, entah kenapa aku
merasa senang kesalah pahaman ini terjadi, aku sama sekali tidak menyesal”
“setelah apa yang kita lalui bersama, entah sejak kapan perasaan
ini tumbuh, aku takut jika aku selalu bersamamu aku tak bisa melepasmu lagi,
aku terlalu nyaman bersamamu hingga aku takut jika suatu saat kau akan pergi
dariku”
“aku tak mau membuatmu merasa dalam penjara karena hidup denganku, aku
mungkin egois, di satu sisi aku ingin kau tetap tinggal tapi di sisi lain saat
mendengarkan keluhmu setiap hari, aku tahu mungkin dengan melepaskan akan
membuatmu bahagia”
“kenapa harus di lepas?” suara lemah Ara mengejutkan Agra , hingga
membuat Agra terjengkang ke belakang, melepaskan tautan yangannya dengan Ara
“astaga ....., kau mengagetkanku .....,kamu sudah bangun?”
“jika aku sudah bicara, berarti aku sudah bangun ..., kau ini ....”
“cehhh ...., kenapa di saat seperti ini dia tetap saja menyebalkan”
gerutu Agra sambil bangun dari tempatnya terjengkang
Ara berusaha untuk bangun, tapi ternyata tubuhnya belum mampu dibuat
bangun
“jangan bangun dulu, minumlah” Agra segera mengambilkan segelas air
di atas meja, Ara pun meminum air putih
yang di sodorkan Agra
“kenapa kau bicara jujur
pada nona Viona, nona Viona bisa salah faham, kau akan menyesal jika
melepasnya, jangan melepasnya ....”
“stop....., jangan bicara lagi” Agra menaruh jari telunjuknya di
bibir Ara, membuat gadis itu seketika diam
“kenapa aku harus berhenti bicara?” Ara segera menyingkirkan jari
agra
“kamu buat aku benar-benar sakit ...., aku bisa gila jika terus
begini....”
“bukankah dia yang menyakitiku ...” gumam Ara pelan
“apa yang kau katakan tadi benar?” tanya Agra
‘memang apa yang aku katakan?” Ara malah bertanya kembali pada Agra
“cehhh ..., yang kau katakan sebelum kau pingsan”
“aku tidak mengatakan apapun ...” Ara mencoba mengingat kembali apa
__ADS_1
yang terjadi sebelumnya hingga membuatnya pingsan
“bagaimana apa kau ingat ....?” Agra memiringkan wajahnya berharap
segera mendapatkan jawabannya
Ara nampak berpikir keras, kemudian sebuah ingatan melayang di benaknya,
semua kata-kata panjang yang telah dia lontarkan sebelumnya, kata-kata yang
lolos begitu saja dari mulutnya
“aku benci padamu ..., AGRA ANUGRA PUTRA, aku sangat-sangat membencimu ..., kau tahu aku menangis sepanjang
hari sepanjang malam, berharap kau mau berbicara padaku, aku terlalu takut
untuk menyapamu karena aku anggap aku tak pantas untukmu....”
“dan lagi ...., memang aku yang salah, tak seharusnya aku jatuh
cinta padamu ...., aku memang seharusnya sadar jika tak ada tempat disini ....”
“tapi aku terlalu bodoh karena membiarkan semua ini terjadi ...,
aku pikir aku masih punya harapan atas perasaanku karena aku istrimu ...., tapi
hari ini ..., kau memberi tahuku jika semuanya memang benar-benar berakhir
tanpa di mulai terlebih dahulu ...”
“aku salah ....., aku salah mengartikan semua perhatianmu selama
ini ...., aku salah karena berharap terlalu banyak terhadap hubungan ini....”
“aku membencimu ...., tapi aku juga mencintaimu ..., aku bahkan
tidak sanggup untuk membencimu ...., sungguh .... bodohnya aku ....”
Ucapan-ucapan itu kembali mengiang di otaknya
“astaga ...., apa yang kau lakukan Ara ......, bodoh sekali kau ini
....” batin Ara
Ara segera mengacak-acak rambutnya, dan menggeleng-gelengkan
kepalanya cepat
“bagaimana ...., apa kau ingat ....?” Agra masih memastikan tapi
dengan senyum yang melengkung di bibirnya, ia sangat suka melihat Ara yang
seperti itu
“tidak ...., aku tidak ingat ....” Ara menyangkalnya
‘cehhh ...., kau ini ....., sekarang dengarkan aku .....”
“apa?”
“dengarkan baik-baik ....”
“iya .....”
“AULIA ZAHRA ...., ini aku AGRA ANUGRA PUTRA mencintaimu ....,
sangat-sangat mencintaimu .... AULIA ZAHRA, jadi maukah kau memaafkan aku dan
tetap bertahan disisiku, walau apapun yang terjadi ..., tetap menjadi bagian
dari cerita hidupku, kita tulis bersama kisah kita di lembaran yang baru dengan
lebih indah, biarkan senja tetap menjadi senja dan fajar akan datang esok hari
....AKU MENCINTAIMU ...”
“hahhhh” Cuma itu yang bisa ia ucapkan setelah mendengar kalimat
panjang lebar dari suaminya, ia benar-benar tak menyangka ternyata selama ini
ia menganggap perasaannya salah karena mencintai orang yang tak mencintainya,
tapi apa yang baru ia lihat sebelum pingsan itu juga nyata
Bagaimana bibir suaminya itu melekat dengan bibir wanita itu,
mantan kekasih suaminya, bukankan itu menunjukkan jika suaminya masih belum
move on
“aku tahu, itu salah, seharusnya aku tidak mencintaimu, maafkan
aku” Agra terlihat frustasi dengan reaksi Ara, ia benar-benar tak bisa membaca
pandangan mata Ara
“Gra ...” Ara yang masih tergeletak di sofa melihat Agra seperti
sangat tidak tega
“hemmmm”
“apa yang kau ucapkan tadi benar?”
“jadi kau meragukanku?”
“tapi ciuman itu?” Ara mengingat kembali ciumannya Agra dengan
Viona, rasanya begitu sakit
“dia yang menciumku...., bukan aku ...”
“cehhh ...., tapi kau kan mau ...”
‘kenapa sih kau selalu mengajakku berdebat..., menyebalkan” Agra
berdiri dari duduknya dan mengusap rambutnya frustasi
“aku boleh jujur?”
“apa lagi....?, tidak jika kau hanya ingin mengajakku berdebat”
“sebenarnya aku mencintaimu”
“aku tahu .....” Agra kembali memandang Ara dan segera duduk di hadapan ara memastikan
kata-kata gadis itu
“hahhh ...., dari mana kau tahu?”
“kau sendiri yang mengatakan tadi sebelum pingsan ...”
“iya ya ...., maafkan aku karena mencintaimu, tapi sungguh aku
tidak bermaksud seperti itu, aku cuma tidak mau berada di antara kamu dan nona
Viona”
“apa sih maksudmu?”
“mungkin perasaanmu padaku hanya sebagai rasa nyaman saja, bukan
cinta, kau menciumnya pasti karena kau masih mencintainya” mata Ara kembali
berkaca-kaca
BERSAMBUNG
-
-
-
-
-
JANGAN LUPA KASIH DUKUNGAN PADA AUTHOR YA
DENGAN MEMBERIKAN LIKE DAN KOMENTARNYA
DAN LAGI VOTE NYA YANG BANYAK YA
__ADS_1