
Setelah pembicaraannya dengan adiknya kemarin, Ara pun jadi
kepikiran untuk membuka usaha, ia pun
memanfaatkan bakatnya, kemampuannya untuk membuat kue memberinya ide untuk
menjual kue
Awalnya ia mendapat penolakan dari Agra, Agra tidak mau membuat Ara
kecapekan , tapi karena keras kepala Ara dengan menggunakan beberapa bujukan
akhirnya Agra menyetujui tapi tetap dengan berbagai macam syarat yang harus Ara
turuti
Untung saja rumah kontrakan mereka berada di kawasan padat penduduk
dan sangat strategis untuk berjualan, Ara pun membuat berbagai macam gorengan dan kue
Selain di jajakan di depan rumah , Ara juga menjajakan dagangannya
secara online, melalui akun akun sosmednya dan juga tak jarang Nadin mampir
dulu sebelum ke kampus karena beberapa temannya ada yang memesan dan kantin
kampus menjadi pelanggan tetap
Kini usaha gorengan dan kue Ara sudah berjalan satu bulan, dan
langganannya pun semakin banyak, Ara pun cukup kualahan untuk melayani pesanan,
sehingga Ara merekrut satu orang untuk membantunya itupun juga atas usul Agra,
karena Agra tak mau Ara sampai kecapekan
Agra pun turut andil dalam usaha Ara ini, ia akan membantu Ara
untuk belanja sebelum berangkat ke kafe, sebenarnya Ara begitu penasaran kenapa
saat yang belanja suaminya , harganya akan lebih murah di banding dia sendiri
yang belanja
“Gra ...”
“iya... , ada apa sayang?” Agra pun masih sibuk menurunkan
belanjaan
“kamu kok bisa dapat harga murah dengan kualitas bagus sih?”
“kamu kan tahu aku ini sudah lama bekerja di bidang kayak gini,
masalah nego-nego, jangan ragukan , itu sudah keahlianku ...” Agra
menyombongkan diri
Ya memang tak bisa di pungkiri jika suami nya itu memang sangat
berbakat dalam bernegosiasi, ternyata bakatnya itu kini bisa di manfaatkan di
segala bidang
***
“mbak Rini nggak papa ya aku tinggal sebentar?, soalnya ini ada
pesenan.” mbak Rini adalah orang yang membantu Ara membuat kue dan gorengan, ia tetangganya di kontrakan itu, dia orang
jawa yang merantau ke jakarta ikut suaminya yang kebetulan bekerja sebagai
tukang sayur keliling
“iyo mbak, nggak po po mbak” jawab mbak Rini sambil tersenyum ramah
pada Ara
“makasih ya mbak, aku pergi dulu” Ara pun segera menenteng tas
kecilnya dan mengambil setumpuk kue yang sudah siap di antar ke pemesannya
“hati-hati mbak”
Ara hari ini terpaksa harus mengantar pesenan sendiri karena ojek
yang biasanya mengantar kue ke pelanggan sedang sakit,
Ara pun memesan ojek online lainnya
“pesanan atas nama mbak Ara?” tanya si ojol
“iya mas ...” Ara pun saik ojol yang membawanya hingga sampai di
depan sebuah kafe yang sudah berlangganan memesan kuenya beberapa minggu ini,
ini untuk pertama kalinya Ara
menginjakkan kakinya di kafe itu, kafe yang sudah jadi pelanggan tetapnya
selama dua minggu ini, di kafe itu biasanya akan memesan beberapa jajanan
tradisional karena kafe itu sedikit bernuansa tradisional
Ara tidak menyuruh ojek onlinenyau ntuk menunggu karena masih ada
beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan sebentar kepada pemilik kafe, Ara
masuk ke dalam kafe dan menyerahkan pesanannya pada kasir, tapi karena Ara ada
janji pada pemilik kafe, kasir itu
__ADS_1
menyuruh Ara untuk menunggu sebentar untuk di panggilkan kepada si pemilik kafe
“bentar ya mbak, saya panggilkan pak manajer dulu, pak Jerry tadi
berpesan ingin membicarakan masalah pembayarannya pada mbak”
“oh iya mbak, kebetulan saya sudah ada janji dengan beliau”
“mbak duduk dulu di situ” mbak mbak itu pun menyuruh Ara duduk di
salah satu kursi di kafe itu
Belum lama Ara duduk , seorang pelayan menghampirinya, karena Ara
sibuk dengan ponselnya, sehingga Ara tak menyadari kedatangan pelayan itu
“mbak, mau pesan apa?” tanya pelayan itu
“maaf mas, saya lagi nunggu manajer di sini” jawab Ara masih sibuk
dengan ponselya tanpa memandang si pelayan
“maaf mbak, ya udah saya permisi dulu mbak, maaf mengganggu waktu
anda” tapi sebelum pelayan , ara merasa begitu mengenal suara itu, betapa
terkejutnya saat melihat pelayan itu yang tak lain adalah suaminya , Agra
“Agra ...” Agra yang merasa namanya di panggil segera menoleh ke
sumber suara, begitu terkejutnya dia ternyata yang tadi ia hampiri adalah
istrinya
“sayang ..., kenapa kamu di sini?” Agra benar-benar tak menyangka
istrinya akan datang ke kafe, dia juga tidak tahu jika ternyata selama ini kue
yang masuk ke kafe itu adalah milik istrinya sendiri
“aku ngantar kue gra, kamu ...., kamu jadi pelayan ...”
“maafkan aku sayang, aku nggak da maksud buat bohongin kamu” Agra
segera duduk di hadapan Ara dan memegang kedua tangannya, berharap istrinya
tidak marah
Ara benar-benar tak percaya jika suaminya itu bisa membohonginya,
di tengah perdebatan mereka jerry pun datang
“selamat pagi , dengan Ara
ya ...?” sapa seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka, Agra pun segera
melepaskan tangan Ara dan berdiri dari duduknya, begitupun dengan Ara
senyum yang sedikit di paksakan
“saya manajer sekaligus pemilik kafe ini, salam kenal Ara, silahkan
duduk .....” Ara pun duduk tanpa mempedulikan suami di sampingnya
“oh ya, Gra kamu ikutan duduk ya” Agra pun kembali duduk di antara
mereka
“ mbak ..... tolong buatkan minum spesial buat tamu saya ya” Jerry
memanggil pelayan yang kebetulan lewat di dekat mereka sedangkan Agra pun tanpa
berkeinginan untuk mengenalkan Ara sebagai istrinya ikut duduk bersama mereka
“saya senang sekali bisa bertemu denganmu lagi” ucap Jerry pada
Ara, membuat Ara mengeryit heran , padahal menurutnya ini pertama kalinya
mereka bertemu begitu juga dengan Agra segera menatap heran pada Ara
“lagi ...?” Ara benar-benar kaget saat orang di depannya mengatakan
‘lagi’ pasalnya, ara merasa belum pernah bertemu dengan orang yang ada di
depannya ini
“ya ...., aku Jerry ..., kau lupa?”Jerry kembali menyebutkan
namanya
“Jerry ...?” tapi Ara benar-benar tak mengingatnya sama sekali
“ya aku Jerry , si gembul, tetangga kamu waktu kecil ..., walaupun
kamu sekarang pakek kaca mata, tapi tetap saja nggak menutupi pesona matamu”
secara bersamaan pelayan tadi sudah kembali dengan dua gelas minuman di atas nampan, Agra masih
terdiam dalam kebingungan, matanya tak pernah beralih menatap Ara
“kamu beneran gembul, gembul tetanggaku ....?” Ara baru ingat siapa
jerry, setelah mengaku teman masa kecilnya, mereka pun mengobrol panjang lebar,
menceritakan masa kecil mereka, hingga lupa jika ada orang lain di antara
mereka dengan sorotan mata yang membunuh
“ya iya lah ...., aku seneng banget saat tahu jika kamu pemilik kue-kue
enak itu, aku bener-bener berharap bisa ketemu langsung sama kamu, tapi kamu
sulit banget ya aku temuin, kapan-kapan aku boleh ya main ke rumah kamu?”
__ADS_1
Ara yang mendapat pertanyaan seperti itu hanya bisa diam sambil
melirik ke Agra, ia benar-benar melihat wajah Agra yang sudah lama tak di lihat
lagi, wajah yang seakan ingin memangsa siapa pun di depannya, tangan Agra
mengepal sempurna, otot-otot tangannya terlihat menonjol, mungkin jika Ara
berada di situ beberapa waktu lagi Agra tak janji bisa mengendalikan diri
“oh iya , masalah pembayaran kue, kamu bisa langsung transfer ke
rekening aku aja ya Jer”
“oh iya, aku hampir lupa tujuan utama aku tadi, dan ini kenalin
dulu, dia temanku namanya Agra, dia yang paling berjasa di kafe aku akhir-akhir
ini, dia yang bantu masarin kafe aku hingga rame seperti ini”
“iya ...” Ara dan Agra hanya saling menatap, tapi Ara segera
menuntuk saat bertemu mata tajam suaminya
“kalian kenapa? Sudah saling kenal juga?” ternyata Jerry menyadari
keanehan pada mereka
“maaf mbul, aku harus segera pulang, soalnya teman aku sendiri,
makasih atas minumannya, sampai jumpa lagi” Ara pun segera menghabiskan
minumnya dalam sekali teguk dan beranjak dari duduknya, segera mungkin bisa
keluar dari sorotan mata suaminya itu, jika lebih lama lagi, ia tak janji bisa
–bisa seluruh tubuhnya berlubang saking tajamnya sorot mata suaminya itu
Setelah Ara meninggalkan mereka, terjadi keheningan sesaat
“ya udah gue balik kerja dulu Jerr ...” Agra pun segera
meninggalkan Jerry yang masih di buat heran
***
Hari ini tak seperti biasanya, Agra pulang lebih cepat, jam empat
sore agra sudah sampai di rumah
“kok sudah pulang ...?” Ara melakukan rutinitas seperti biasa saat
menyambut kepulangan suaminya, tapi yang beda kali ini suaminya tak banyak bicara
Setelah mandi, Agra pun duduk di ruang tamu dan di ikuti Ara yang
memang kebetulan hari ini dagangannya juga sudah habis sejak pukul tiga
sehingga mbak Rini pun juga sudah pulang ke rumahnya
“kamu kenapa sih diam aja, kamu marah ya?” Ara benar-benar merasa
tidak nyaman di cuekin suaminya
“kenapa malah Agra yang
marah, harusnya kan aku yang marah, aku yang di bohongi ...” batin Ara
“gra ..., jangan diam aja dong ...” bukannya menjawab pertanyaan
Ara, tapi Agra malah meraih tubuh Ara dan ******* bibir Ara dengan sangat
rakus, hingga mereka kahabisan nafas
“aku nggak suka maku terlalu akrab sama Jerry” itulah kata pertama yang keluar dari bibir Agra
“ok fix ..., dia lagi cemburu” batin Ara
“dia kan Cuma teman masa kecilku gra ...” Ara mencoba memberi pengertian
“tapi aku nggak suka, kamu jangan pernah datang lagi ke kafe, aku
nggak suka, nanti-nanti biar mbak Rini saja yang ngantar ke kafe”
“iya ...., tapi gra” Ara mencoba untuk protes
“tapi apa lagi, nggak ada tapi-tapian” Agra menaikkan dagunya menatap Ara dengan alis yang sedikit di naikkan
“aku nggak suka kamu berbohong” ucap Ara sedikit memberi penekanan
setelah mengeluarkan unek unek dalam hatinya ara segera menunduk, ia masih kesal
karena di bohongi
Agra segera memegang tangan Ara yang berada di atas pangkuannya, ia meremas ringan tangan istrinya
“maafkan aku ..., aku nggak ada maksud buat bohongin kamu, aku Cuma
nggak mau kamu malu jika punya suami Cuma sebagai pelayan”
Ara kembali menegakkan pandangannya menatap Agra
“aku nggak akan malu gra, aku sayang sama kamu” ucap Ara lembut dengan mata yang mulai mengkristal dengan titik air mata yang tak mampu lagi di tahan akhirnya jatuh di kedua pipinya
Agra yang melihat air mata Ara, segera mengusapnya lembut, dan meraih tubuh Ara hingga bersandar di dada bidangnya
“makasih ya sayang, kamu memang sumber kekuatanku”
BERSAMBUNG
jangan lupa kasih upah dengan memberikan LIKE dan KOMENTAR YA
kasih VOTE juga
__ADS_1