
Benar apa yang Ara rasakan, agra berhenti tepat di depan toko bangunan
milik ayahnya, Ara merasa tidak enak hati, karena semenjak kejadian salah faham
itu hubungan Ara dan Roy tidak begitu baik, ayah Ara merasa begitu kecewa
dengan kejadian itu
Roy menganggap Ara tak bisa menjaga amanah, walaupun sejatinya
Roy menyukai Agra tapi rasa kecewa menutupi semuanya
Langkahnya begitu ragu untuk menjejakkan kakinya ke rumah orang tuanya, ingatan beberapa bulan lalu saat ayahnya tak menerimanya datang ke
rumah ini, membuatnya enggan untuk datang, ia begitu takut jika ayahnya marah
padanya dan suaminya
“kenapa kita kesini bby?” ara turun dari motor dan melepaskan
helmnya
“kamu nggak kangen sama ayah dan Nadin?” Agra malah balik bertanya
pada Ara, pertanyaan macam apa itu, bagaimana seorang anak tidak merindukan
ayahnya, ia tentu begitu merindukan ayahnya, tapi rasa takut untuk tidak di terima begitu besar
“kangen ..., tapi _” ara terlihat ragu
“nggak usah tapi –tapi , ayo ...” Agra menarik tangan Ara menuju ke
teras rumah, tapi lagi-lagi Ara menghentikan langkahnya
“ayo masuk ...” tanpa mengetuk pintu, Agra segera membuka pintu
rumah yang tampak sepi dari luar itu, toko bangunan juga sedang tutup sehingga
tak ada lalu lalang karyawan ayahnya yang sedang memindahkan atau menjual
dagangan ayahnya
“masuk ...?” Ara di buat heran lagi oleh tingkah suaminya,
bagaimana bisa suaminya mengajaknya masuk begitu saja
“ya ..., memang kau mau terus di luar ...? aku sih nggak ...” Agra tak
menunggu lagi jawaban dari Ara, Agra segera membuka pintu, setelah pintu terbuka
sempurna di sana sudah berdiri ayah dan Nadin menyambut kedatangan mereka
“ayah ....” Ara menatap pria paruh baya itu, matanya berkaca-kaca,
rasa rindunya seolah tak terbendung lagi , Agra mengusap punggung istrinya,
meyakinkannya bahwa semuanya baik-baik saja
“Nadin ...” dan beralih menatap Nadin
“masuklah nak ..., ayah merindukanmu ...” pria paruh baya itu
merentangkan kedua tangannya
“ayahhhh ...”Ara pun berlari memeluk ayahnya, air matanya tak mampu
terbendung lagi
“maafkan Ara yah ...” Ara berbicara sesenggukan
Roy melepaskan pelukannya dan menyapa Agra yang masih berdiri
di depan pintu,
“ayah sudah tahu semuanya, maafkan ayah karena tidak percaya sama
anak ayah ...” Roy mengelus lembut rambut Ara
Ara menoleh pada Agra, berusaha mencari jawaban dari tatap Agra,
berharap suaminya bisa menjelaskan semuanya
Hal ini terjadi beberapa minggu lalu, karena sering kali melihat
istrinya termenung setiap kali menatap foto ayahnya, membuatnya tak tega, tanpa
sepengetahuan Ara, Agra datang ke rumah ayah Ara, ia berniat menjelaskan
semuanya
“tuan Roy ...” sapa Agra saat melihat Roy keluar dari dalam rumah
“kenapa kamu kesini?” jawab Roy dengan begitu dingin
“saya kesini hanya untuk membuktikan omongan saya beberapa bulan
lalu , jika anda masih ingat”
“apa maksud kamu ..”
“anda bisa baca ini ...” Agra menyerahkan secarik kertas yang
__ADS_1
isinya tentang laporan kehamilan Ara, Ayah ara segera menerimanya dan
membacanya dengan cermat
“di situ tertulis jika Ara NEGATIF, ia terbukti tidak hamil, dan
saya berani bersumpah, kami tidak pernah melakukan hal yang dapat mempermalukan
keluarga”
Mata Roy berkaca-kaca setelah mengetahui kebenarannya, ia
begitu menyesal karena tidak mempercayai putrinya
“sekarang, bisakah anda menerima saya sebagai menantu anda
seutuhnya?”
Dan semenjak itu Agra sering datang ke rumah ayah Ara, hubungan
mereka membaik, tapi Agra tetap merahasiakannya, ia ingin memberikan surprize
kepada istrinya di waktu yang tepat
“tarala ....., surprize ......, happy aniversary ....” Nadin keluar
dengan membawa sebuah kue yang dihias begitu indah dengan gambar foto pernikahan
ara dan agra
“dek ...., makasih ...” Ara beranjak dari duduknya hendak memeluk
adik perempuannya
“stooooppppp” akhirnya tangan Ara hanya mengambang di udara setelah
Nadin berteriak
“kenapa dek ...?” tanya Ara heran
“nanti kuenya jatuh, biar aku taruh dulu kuenya ...” Nadin pun
menaruh kue di atas meja
“kakak ...., peluk aku ...” nadin pun merentangkan tangannya dan di
sambut oleh pelukan ara
“sudah- sudah ...., ayo kita potong kue dulu ..., aku sudah lapar
.....” Agra bicara sambil mengelus perutnya
Pesta sederhana itu sungguh terasa indah buat Agra, kehangatan yang
dia dapat dari keluarga barunya ini tak pernah ia dapatkan dari keluarganya
sendiri semenjak ayahnya meninggal
Kenyamanan di dalam rumah musnah bersama kematian sang ayah, agra
begitu bahagia , hingga senyum tak pernah pudar dari bibirnya
“makasih ya sayang ...” bisik agra ke telinga Ara
“untuk apa bby?” tanya ara heran
“atas semua kebahagiaan ini” ara hanya bisa tersenyum bahagia dan
mengecup kilat pipi suaminya, agra yang mendapat ciuman begitu merasa bahagia
“harusnya aku yang terimakasih sama kamu bby”
“sayang ..., aku masih ada surprize lagi buat kamu ...” Agra berbicara
lantang, membuat ayah dan Nadin pun ikut tertuju kepada mereka
“apa ...?” tanya Ara
“Nadin yang akan membantu kamu di ruko”
“itu beneran ....?” Ara tak percaya dengan kejutan itu
“lalu gimana dengan kuliahnya? Aku nggak mau ya kalau sampai
kuliahnya terganggu”
“kakak ...., aku kan masuk kuliah Cuma beberapa jam, jadi
selebihnya aku bantu kakak”
“makasih ya dek, kakak tambah sayang deh ...”
***
Setelah pulang dari rumah ayah, Ara dan Agra segera istirahat di
kamar yang masih sama, kamar tidur yang hanya beralaskan spon
Agra merebahkan tubuhnya dan di susul dengan Ara
“bby ...”
__ADS_1
“ya sayang, ada apa?” Agra memiringkan badannya menghadap ara,
menjadikan tangannya sebagai penyanggah kepalanya
“kamu nggak ngutang kan buat semua ini bby?”
“sayang ..., aku nggak ngutang, kamu tahu sendiri kan selama ini
aku sudah bekarja keras, asal kamu tahu sayang, upahku di pasar kadang bisa dua
ataupun tiga kali lipat dari gajiku sehari di kafe sayang, maaf ya selama ini
aku nggak pernah bilang sama kamu ...”
“kamu pasti begitu menderita ya bby..., maafkan aku ...”
“sayang ..., kamu ngomong apa sih ..., kamu tahu kan aku sudah
terbiasa hidup susah, bahkan aku besar di panti asuhan”
“terimakasih ya bby ...”
“ah ..., senang sekali aku hri ini sayang ..., tapi maaf ya sayang
buat modal buat kuenya aku sudah kehabisan uang, aku akan kerja lagi buat modal
nya, kamu nggak pa pa ya bersabar dulu buat buka rukonya sampai aku dapatkan
modalnya”
“aku kan masih punya uang bby ..., aku bisa pakek itu buat modal,
tidak besar tapi cukup kalau Cuma buat ngisi toko seadanya dan menerima
beberapa pesanan”
“oh iya aku lupa ..., makasih sayang ..., tapi sungguh aku akan
mencari modal lebih banyak supaya nanti kita bisa buka otlet baru”
“ya sudah kita tidur ya, aku ngantuk ...”
“tapi peluk ....” ucap Agra
begitu manja
***
“bagaimana kabarnya?” nyonya besar sedang duduk di sofa ruang tamu
di rumah besar itu, beliau begitu santai menikmati secangkir kopi dan sebuah
majalah bisnis di tangannya
“tuan muda sudah berhasil menyewa sebuah ruko nyonya” Rendi duduk
di sofa yang lainnya yang lebih kecil dari yang di duduki nyonya besar
“bagus ..., bagaimana dengan menantuku apa dia baik-baik saja?”
tanyanya lagi tanpa beralih dari majalah yang di pegangnya , walau matanya
fokus pada majalah itu tapi terlihat fikirannya berada di tempat lain, tapi
nyonya besar tetaplaah nyonya besar, ia tidak mau terlihat lemah di depan orang
lain
“nona muda baik nyonya, tetap seperti yang nyonya duga”
“baguslah sepertinya saya tidak salah pilih ..., apa sudah ada tanda-tanda penerus
keluarga Wijaya?”
“sepertinya belum nyonya”
“lusa bawa Frans untuk memeriksa gadis itu”
“tapi dokter Frans sedang ada di singapura untuk seminar kesehatan
nyonya”
“kapan dia pulang?”
“kira-kira dua minggu lagi nyonya”
“baik, hubungi dia kalau sudah kembali, dia harus segera memeriksa
gadis lugu itu”
“baik nyonya”
***
BERSAMBUNG
Maaf ya.... upnya kelamaan....., lagi-lagi si Pln ngajak becanda ......
tapi janga lupa dan jangan bosan ya buat selaku ngasih upah ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
vote nya juga
__ADS_1