
Kini tinggal Sagara dan Abimanyu di tempat itu, Sagar bangun dari duduknya, mengitari meja dan Abimanyu pun juga sudah berdiri.
Sagara menatap anak laki-laki yang lebih tua dari usianya dua tahun itu dengan mata
menyelidik, ia menyilang kan kedua tangannya di depan dada.
Anak ini ...., lumayan juga, persis seperti uncle Div ...., keren ....
Sebenarnya diam-diam Sagara mengagumi anak itu, tapi bukan sikap Sagar jika langsung menyatakan kekagumannya.
Abimanyu hanya diam di tempatnya tanpa bergerak sedikit pun, sepertinya dia merasa kalau sedang di interogasi, atau mungkin
tatapan tuan muda itu sedang mengintimidasi.
Sagara berjalan mengelilingi abimanyu. wajah seriusnya malah terkesan sangat menggemaskan, dengan usianya yang tidak sesuai dengan sikapnya yang sok tegas.
“Kenapa tubuhmu kerempeng seperti ini, usiamu lebih tua dariku, tapi badanku lebih besar darimu! Apa kau tidak makan dengan baik?”
“Tidak tuan muda, kakek ku memberi ku makanan yang cukup!” jawab Abimanyu tanpa bergerak sedikitpun, sepertinya pak Mun sudah
melatih anak itu cara menghadapi tuan muda barunya itu.
“Bagaimana kau akan menjadi tameng ku, jika tubuhmu sekecil ini!” ucap Sagara dengan nada menghardik, persis seperti papinya saat
meragukan seseorang.
“Walaupun tubuh saya kecil, tapi saya cukup kuat tuan muda, anda bisa mencoba kekuatan saya!” Abimanyu mencoba meyakinkan
Sagara.
“Baiklah …, mungkin nanti kau akan membuktikannya!”
Percakapan dua anak kecil ini benar-benar membuat orang yang melihatnya pasti menggelengkan kepala tak percaya, para pelayan yang bersiap membersihkan meja makan hanya bisa menahan tawa, anak yang bahkan belum bisa mengganti bajunya dengan benar bisa mengatakan hal-hal yang serius seperti itu.
Pembicaraan mereka terpaksa berhenti ketika seorang pengawal datang menghampiri mereka.
“Maaf tuan muda, guru anda sudah datang, nyonya besar meminta anda dan Abimanyu untuk ke ruangan nyonya besar!” ucap pengawal itu dengan menundukkan kepalanya.
“Baik!” jawab Sagara dengan nada yang masih sama.
Sagara segera melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerja omanya di ikuti Abimanyu dan pengawal itu.
"Tuan muda sungguh menggemaskan sekali ya!" bisik salah satu pelayan rumah itu.
"Iya ...., jadi keinget sama tuan Agra pas kecil, persis seperti itu!"
beberapa dari pelayan itu, memang sudah bekerja cukup lama, ada yang sudah sampai tiga puluh tahun, mulai dari mereka remaja dan sekarang sudah berkeluarga, bahkan mereka yang bekerja lama dan berkeluarga, nyonya Ratih menyiapkan rumah untuk mereka.
__ADS_1
Sesampai di depan ruangan
kerja omanya, Sagara segera mengetuk pintu yang sebenarnya tidak tertutup itu.
Tok tok tok
“Permisi oma!”
“Masuklah sayang, oma sudah menunggu lama!”
Sagara dan Abimanyu segera masuk ke ruangan itu tanpa pengawal, di dalam ruangan itu sudah ada nyonya Ratih dan seorang pria
dengan kaca mata tebalnya juga wanita dengan wajah teduh yang usianya sudah
sangat matang. Sepertinya pria itu yang akan ,menjadi guru bagi Sagara dan
Abimanyu.
“Perkenalkan sayang, ini profesor Kim, Miss Betty.
Profesor Kim akan mengajari kalian tentang ilmu bisnis sedang kan Miss Betty
akan mengajari kalian membaca dan menulis dengan cepat, beri salam untuk
mereka!”
“Dan untuk pelajaran pertama kalian, kalian akan bersama miss Betty selama satu bulan ini sampai kalian benar-benar bisa membaca
dan menulis! Setelah itu profesor Kim akan menambah pelajaran kalian!”
Setelah perkenalan itu, akhirnya kini nyonya Ratih
meninggalkan Sagara dan Abimanyu hanya bersama miss Betty hingga beberapa jam
ke depan. Nyonya Ratih memilih guru
bukan sembarang guru, ia benar-benar melilih yang terbaik dari yang terbaik.
Bahkan nanti Sagara dan Abimanyu bisa mengikuti ujian yang sama dengan
anak-anak yang sekolah umum.
🌺🌺🌺🌺
Ara mengantar Sanaya sampai di depan sekolah,
sekolah anak-anak normal pada umumnya. Anak-anak yang mulai belajar membaca dan
__ADS_1
menulis, berm,ain dan menggambar. Tempat anak-anak bisa bermain sepuasnya
dengan teman-temannya.
“Sayang …, momi akan menunggumu di sana! Belajar
yang rajin, jangan nakal dan cari teman yang banyak!” ucap ara sebelum putrinya
itu memasuki kelasnya, para orang tua mengantar putra putrinya hanya sampai di
pintu dan akan meninggalkannya sampai waktu mereka pulang baru akan
menjemputnya, tapi karena hari ini hari pertama Sanaya masuk sekolah, Ara
sengaja ingin menunggu hingga putrinya pulang sekolah.
“Iya mom, I love you mom!” ucap Sanaya sambil
mengecup pipi mominy lalu berlari masuk ke dalam kelasnya.
“I love you too my fairy!” Ara tetap berdiri menatap
putrinya hingga tubuh mungil putrinya itu menghilang di balik pintu, seorang guru
sudah menunggu semua anak masuk ke dalam kelas lalu menutup pintu itu.
Ara memilih menunggu putrinya di bangku yang ada di
bawah pohon besar itu. Saat matanya menatap ke gerbang masuk, ia melihat
seperti seseorang yang ia kenal sedang turun dari mobilnya, ia mengantar
seorang anak perempuan seumuran dengan Sanaya, sepertinya anak itu terlambat
datang, walau sudah lama tak bertemu tapi Ara yakin ia tidak salah melihat.
“Dia …..!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘
__ADS_1