My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 57


__ADS_3

***Selamat pagi


Ada rasa sedih saat melihatmu


tak ada lagi di sampingku


Bukan karena aku tak ingin


melihatmu bahagia


Melainkan bahagiamu itu


menyakitiku


Seperti pukulan


yang akan buatku sadar


Mungkin waktuku bersamamu


telah berlalu


Supaya aku dapat melihatmu


Memakai kenangan ini


untuk buatku tetap hidup


Kemudian buatku bangkit


Ada satu hal yang sampai saat ini


Masih membuatku


bangga menjadi aku


Itu karena kamu ada


dalam bagian cerita hidupku


Walau sebentar, begitu indah


Pada akhirnya, semoga,


tetap kamu lagi yang aku lihat


Sebagai satu-satunya


cahaya di dalam gelapku


Selamat pagi sayang***


***


Ara masih termenung dalam diam, menatap di sebelahnya tak ada lagi orang yang selalu ia pandangi setiap kali membuka mata, air matanya meleleh


"Setiap


kali orang bertanya padaku apakah aku baik-baik saja, hal ini semakin


mengingatkan bahwa aku tidak baik-baik saja."


"tapi kau tak pernah bertanya padaku ....." Ara terus meratapi kebodohannya sendiri


"Mungkin


kebahagiaan bersamamu hanya seperti mimpi, tapi biarlah mimpi itu terus


menemani di setiap tidurku."


Ara pun beranjak dari tempat tidurnya, kini rasanya kamar seluas itu terasa begitu sesak, bayangan gelak tawa mereka begitu menggema di seluruh sudut ruang, menambah keperihan di hati Ara


“apa dia tidak pulang .....” Ara mendesah kecewa


“seharusnya aku tahu itu yang akan terjadi, dia pasti senang dan


menemui nona Viona, memang itu yang seharusnya”



Ara pun segera bangun dan menuju kamar mandi membersihkan diri,


setelah selesai dengan kegiatannya, Ara pun  keluar dari kamar dan menuruni tangga,


tak ada


senyum yang mengembang di bibirnya seperti biasa,  ia sudah melihat pak Salman dan ibu mertuanya


di ruang keluarga


“ibu ....” Ara segera menghampiri ibu mertuanya, dua orang itu


segera melihat ke arah Ara, Ratih dan Salman


“selamat pagi paman, selamat pagi ibu ...” Ara menyapa sambil


menundukkan kepalanya memberi hormat


“selamat pagi nona .....” balas Salman


“duduklah ...” perintah ibu mertuanya, Ara pun tak menunggu waktu


lama untuk segera duduk


“siapa yang kau temui kemarin?” tiba-tiba sebuah pertanyaan di


lontarkan oleh ibu mertuanya,


memang tak ada yang salah jika ibu mertuanya akan


dengan mudah mengetahui siapa saja yang ia temui


‘maafkan saya ibu ....”


“lain kali jangan lakukan itu lagi ...., itu tidak baik terhadap


hubunganmu dengan Agra”


“tapi ibu ....” Ara sebenarnya ingin menceritakan semuanya, tapi


kemudian salman segera menahannya


“sebaiknya anda melakukan seperti yang di perintahkan nyonya ,

__ADS_1


nona ...., semua demi kebaikan anda dan tuan muda” pria paruh baya itu selalu berucap tegas


“baik ...., maafkan aku ......” Ara menunduk menyesal


“mari sarapan ...” Ratih bangkit dari duduknya dan berjalan mendahului Ara


ia berjalan menuju ke meja makan,


Ara dan Salman hanya bisa mengikuti dari


belakang,


tapi seperti biasa Salman bahkan tak pernah ikut sarapan bersama


mereka, ia hanya akan ikut duduk di kursi yang kosong


Bi Anna akan mengambilkan beberapa makannan untu Ratih, saat sampai


di dekat Ara, Ara segera menahan tangannya


“tidak usah bi, biar aku ambil sendiri” bii Anna pun mengangguk dan


mundur perlahan


Ara mengambil menu yang memang sudah di siapkan oleh bi Anna, yang


pasti tidak sama dengan yang di makan Ratih


“jangan mencemaskan Agra ...” Ara sedikit terkejut ternyata di


balik cueknya ibu mertua, ia tetap memperhatikan Ara,


ara yang sedari tadi hanya mengaduk


makanannya sepanjang sarapan, segera menatap ibu mertuanya


“iya  ibu ....”


“dia akan kembali ...”


“jadi ibu tahu jika Agra pergi dari rumah, pasti ibu kecewa padaku “


batin Ara


“suruh Rendi menyelesaikannya...” Ratih memberi perintah pada


Salman


“baik nyonya ...”


“tidak usah ibu ...., aku akan menyelesaikan semuanya sendiri” Ara


segera mencegahnya,


ia tak mau jika masalahnya akan banyak orang yang tahu


cukup dirinya dan Agra


“baiklah jika itu maumu ...” Ratih mengalah karena tak mau


berdebat,


ia tak akan hanya berpangku tangan jika ara tak mampu


menyelesaikannya


“ke mana?”


“aku ingin ke taman sebentar dan berbelanja” Ara memberi alasan


supaya di perbolehkan keluar


“baik ..., tapi jangan terlalu lama, pengawal akan tetap ikut


bersamamu”


“terimakasih ibu ...”


***


“selamat pagi pak ...” sapa Rendi saat melihat Agra sudah ada di


ruangannya


“bapak sepagi ini..., apa ada masalah ...?” tanya Rendi heran,


karena sebelumnya Agra sudah menelponnya untuk langsung datang ke kantor, dan


lagi sepagi ini, jam masih menunjukkan pukul 6 pagi



“bapak tidak pulang?” tanya Rendi lagi saat melihat wajah kusut


Agra


“carikan aku baju ganti, aku mau mandi” perintah Agra


“baik pak ....” rendi pun segera keluar dari ruangan dan mencari


sebuah kontak di smartphonenya


Tut tut tut


Rendi melakukan sebuah panggilan


“hallo .....”


“iya tuan”


“bawakan ke kantor baju pak Agra”


“baik tuan”


Tut tut tut


Agra pun sudah masuk ke ruang pribadinya di dalam kantor, ia mandi


dan keluar hanya mengenakan handuk putih sepinggang, ia duduk di sofa sambil


menunggu bajunya datang


“apa bapak memerlukan sesuatu?” tanya Rendi yang juga duduk di sofa

__ADS_1


di hadapan Agra


“pesankan aku makanan”


“baik pak” seperti tadi maka Rendi hanya menuliskan beberapa pesan


ke layar ponselnya dan mengirimnya


Tok tok tok


“itu pasti baju anda datamg pak ...”


“suruh masuk ....”


Rendi pun segera berdiri, dan membuka pintu, ternyata yang masuk


adalah di Anna


“ini tuan, bajunya tuan muda”


“trimakasih bi ...” Rendi pun segera mengambil baju di tangan bi


Anna


“kalau sudah tidak di perlukan, biarkan saya kembali tuan”


“tunggu sebentar bi ...” rendi menahan bi anna dengan suara pelan,


dan berbalik menuju ke arah Agra duduk


“ini pak, baju anda” Agra pun menerimanya dan segera masuk kembali


ke ruang pribadinya


Setelah Agra menghilang di balik pitu, Rendi kembali menghampiri bi


Anna


“apa yang terjadi bi?”


“tuan muda semalam pulang sebentar, kemudian pergi lagi tuan”


“apa ini ada hubungannya dengan keluarnya nona Ara kemarin?”


“mungkin tuan, nyonya juga membicarakan hal itu pada nona pagi ini”


“siapa yang nona temui kemarin?”


“nona Viona , tuan”


“baiklah terimakasih bi, kau boleh kembali”


“permisi tuan”


Setelah bi Anna tak terlihat lagi, Rendi terlihat begitu cemas


“sebenarnya apa yang wanita itu lakukan?” gumam Rendi


Tak berapa lama Agra keluar dengan sudah memakai baju dengan stelan


jasnya,


“siapa yang kau ajak bicara?” tanya agra karena penasaran


“bi Anna, pak ....”


“bagaimana di rumah?” Agra berjalan menuju ke kursinya dan segera


duduk


“kenapa anda tidak menghubungi nona Ara sendiri, pak?” Rendi malah


balik bertanya, membuat Agra sedikit kesal


“pergi tidak akan menyelesaikan masalah pak”


"Walaupun melarikan diri dari kenyataan bisa


saja membuat kita melupakan beban masalah....., namun seharusnya bapak ingatlah itu hanyalah sesaat.


Cepat atau lambat, kita akan bertemu kembali dengan masalah yang dulu kita


menghidar darinya." Rendi berusaha menyadarkan Agra


"Jika memang hujan itu masalah buat bapak. ... mestinya


anda menghadapinya langsung, bukan malah menghindarinya dengan memakai payung,


anda tidak akan menikmati hidup jika terus lari dari masalah" Rendi lagi seakan


tak memperdulikan kekesalan Agra


"lalu apa yang kau lakukan dengan ibu....? kau juga melakukan hal yang sama, demi menghidarkanku dari masalah, kau membuatku berlari dari hidupku sendiri ...."Agra berucap dengan penuh kemarahan, kemarahan yang sudah lama terpendam


"anda akan tahu nanti, pak ..., jika sudah tiba waktunya ..."


"dan kapan waktu itu akan tiba, kau bisa memberitahuku ......?" Agra memicingkan matanya, seolah mencari jawaban dari raut wajah Rendi


"sebentar lagi ....." ucap Rendi lirih


“apa jadwalku hari ini?” Agra segera mengalihkan pembicaraan , ia tak mau perdebatan mereka berkepanjangan, walau bagaimanapun Agra tetaplah menghormati Rendi sebagai seorang sahabat


dan


rendi pun segera menunjukkan jadwalnya hari ini


**Ada kata kata


pepatah mengatakan


“Menghilang takkan selamanya hilang**”.


Terkadang saya merasa seolah-olah sedang


berpacu dengan bayangan sendiri. Tak pernah lebih cepat walau saya berlari


sekencang mungkin. Hal itu karena tidak ada yang bisa melepaskan bayangan diri


sendiri


JANGAN LUPA KASIH DUKUNGAN DENGAN MEMBERIKAN LIKE DAN KOMENTARNYA


TRUS BALIK KE LAMAN DEPAN KASIH VOTE YA ......

__ADS_1


TERIMAKASIH ....


NANTIKAN UP SELANJUTNYA YA .....


__ADS_2