
***Selamat pagi
Ada rasa sedih saat melihatmu
tak ada lagi di sampingku
Bukan karena aku tak ingin
melihatmu bahagia
Melainkan bahagiamu itu
menyakitiku
Seperti pukulan
yang akan buatku sadar
Mungkin waktuku bersamamu
telah berlalu
Supaya aku dapat melihatmu
Memakai kenangan ini
untuk buatku tetap hidup
Kemudian buatku bangkit
Ada satu hal yang sampai saat ini
Masih membuatku
bangga menjadi aku
Itu karena kamu ada
dalam bagian cerita hidupku
Walau sebentar, begitu indah
Pada akhirnya, semoga,
tetap kamu lagi yang aku lihat
Sebagai satu-satunya
cahaya di dalam gelapku
Selamat pagi sayang***
***
Ara masih termenung dalam diam, menatap di sebelahnya tak ada lagi orang yang selalu ia pandangi setiap kali membuka mata, air matanya meleleh
"Setiap
kali orang bertanya padaku apakah aku baik-baik saja, hal ini semakin
mengingatkan bahwa aku tidak baik-baik saja."
"tapi kau tak pernah bertanya padaku ....." Ara terus meratapi kebodohannya sendiri
"Mungkin
kebahagiaan bersamamu hanya seperti mimpi, tapi biarlah mimpi itu terus
menemani di setiap tidurku."
Ara pun beranjak dari tempat tidurnya, kini rasanya kamar seluas itu terasa begitu sesak, bayangan gelak tawa mereka begitu menggema di seluruh sudut ruang, menambah keperihan di hati Ara
“apa dia tidak pulang .....” Ara mendesah kecewa
“seharusnya aku tahu itu yang akan terjadi, dia pasti senang dan
menemui nona Viona, memang itu yang seharusnya”
Ara pun segera bangun dan menuju kamar mandi membersihkan diri,
setelah selesai dengan kegiatannya, Ara pun keluar dari kamar dan menuruni tangga,
tak ada
senyum yang mengembang di bibirnya seperti biasa, ia sudah melihat pak Salman dan ibu mertuanya
di ruang keluarga
“ibu ....” Ara segera menghampiri ibu mertuanya, dua orang itu
segera melihat ke arah Ara, Ratih dan Salman
“selamat pagi paman, selamat pagi ibu ...” Ara menyapa sambil
menundukkan kepalanya memberi hormat
“selamat pagi nona .....” balas Salman
“duduklah ...” perintah ibu mertuanya, Ara pun tak menunggu waktu
lama untuk segera duduk
“siapa yang kau temui kemarin?” tiba-tiba sebuah pertanyaan di
lontarkan oleh ibu mertuanya,
memang tak ada yang salah jika ibu mertuanya akan
dengan mudah mengetahui siapa saja yang ia temui
‘maafkan saya ibu ....”
“lain kali jangan lakukan itu lagi ...., itu tidak baik terhadap
hubunganmu dengan Agra”
“tapi ibu ....” Ara sebenarnya ingin menceritakan semuanya, tapi
kemudian salman segera menahannya
“sebaiknya anda melakukan seperti yang di perintahkan nyonya ,
__ADS_1
nona ...., semua demi kebaikan anda dan tuan muda” pria paruh baya itu selalu berucap tegas
“baik ...., maafkan aku ......” Ara menunduk menyesal
“mari sarapan ...” Ratih bangkit dari duduknya dan berjalan mendahului Ara
ia berjalan menuju ke meja makan,
Ara dan Salman hanya bisa mengikuti dari
belakang,
tapi seperti biasa Salman bahkan tak pernah ikut sarapan bersama
mereka, ia hanya akan ikut duduk di kursi yang kosong
Bi Anna akan mengambilkan beberapa makannan untu Ratih, saat sampai
di dekat Ara, Ara segera menahan tangannya
“tidak usah bi, biar aku ambil sendiri” bii Anna pun mengangguk dan
mundur perlahan
Ara mengambil menu yang memang sudah di siapkan oleh bi Anna, yang
pasti tidak sama dengan yang di makan Ratih
“jangan mencemaskan Agra ...” Ara sedikit terkejut ternyata di
balik cueknya ibu mertua, ia tetap memperhatikan Ara,
ara yang sedari tadi hanya mengaduk
makanannya sepanjang sarapan, segera menatap ibu mertuanya
“iya ibu ....”
“dia akan kembali ...”
“jadi ibu tahu jika Agra pergi dari rumah, pasti ibu kecewa padaku “
batin Ara
“suruh Rendi menyelesaikannya...” Ratih memberi perintah pada
Salman
“baik nyonya ...”
“tidak usah ibu ...., aku akan menyelesaikan semuanya sendiri” Ara
segera mencegahnya,
ia tak mau jika masalahnya akan banyak orang yang tahu
cukup dirinya dan Agra
“baiklah jika itu maumu ...” Ratih mengalah karena tak mau
berdebat,
ia tak akan hanya berpangku tangan jika ara tak mampu
menyelesaikannya
“ke mana?”
“aku ingin ke taman sebentar dan berbelanja” Ara memberi alasan
supaya di perbolehkan keluar
“baik ..., tapi jangan terlalu lama, pengawal akan tetap ikut
bersamamu”
“terimakasih ibu ...”
***
“selamat pagi pak ...” sapa Rendi saat melihat Agra sudah ada di
ruangannya
“bapak sepagi ini..., apa ada masalah ...?” tanya Rendi heran,
karena sebelumnya Agra sudah menelponnya untuk langsung datang ke kantor, dan
lagi sepagi ini, jam masih menunjukkan pukul 6 pagi
“bapak tidak pulang?” tanya Rendi lagi saat melihat wajah kusut
Agra
“carikan aku baju ganti, aku mau mandi” perintah Agra
“baik pak ....” rendi pun segera keluar dari ruangan dan mencari
sebuah kontak di smartphonenya
Tut tut tut
Rendi melakukan sebuah panggilan
“hallo .....”
“iya tuan”
“bawakan ke kantor baju pak Agra”
“baik tuan”
Tut tut tut
Agra pun sudah masuk ke ruang pribadinya di dalam kantor, ia mandi
dan keluar hanya mengenakan handuk putih sepinggang, ia duduk di sofa sambil
menunggu bajunya datang
“apa bapak memerlukan sesuatu?” tanya Rendi yang juga duduk di sofa
__ADS_1
di hadapan Agra
“pesankan aku makanan”
“baik pak” seperti tadi maka Rendi hanya menuliskan beberapa pesan
ke layar ponselnya dan mengirimnya
Tok tok tok
“itu pasti baju anda datamg pak ...”
“suruh masuk ....”
Rendi pun segera berdiri, dan membuka pintu, ternyata yang masuk
adalah di Anna
“ini tuan, bajunya tuan muda”
“trimakasih bi ...” Rendi pun segera mengambil baju di tangan bi
Anna
“kalau sudah tidak di perlukan, biarkan saya kembali tuan”
“tunggu sebentar bi ...” rendi menahan bi anna dengan suara pelan,
dan berbalik menuju ke arah Agra duduk
“ini pak, baju anda” Agra pun menerimanya dan segera masuk kembali
ke ruang pribadinya
Setelah Agra menghilang di balik pitu, Rendi kembali menghampiri bi
Anna
“apa yang terjadi bi?”
“tuan muda semalam pulang sebentar, kemudian pergi lagi tuan”
“apa ini ada hubungannya dengan keluarnya nona Ara kemarin?”
“mungkin tuan, nyonya juga membicarakan hal itu pada nona pagi ini”
“siapa yang nona temui kemarin?”
“nona Viona , tuan”
“baiklah terimakasih bi, kau boleh kembali”
“permisi tuan”
Setelah bi Anna tak terlihat lagi, Rendi terlihat begitu cemas
“sebenarnya apa yang wanita itu lakukan?” gumam Rendi
Tak berapa lama Agra keluar dengan sudah memakai baju dengan stelan
jasnya,
“siapa yang kau ajak bicara?” tanya agra karena penasaran
“bi Anna, pak ....”
“bagaimana di rumah?” Agra berjalan menuju ke kursinya dan segera
duduk
“kenapa anda tidak menghubungi nona Ara sendiri, pak?” Rendi malah
balik bertanya, membuat Agra sedikit kesal
“pergi tidak akan menyelesaikan masalah pak”
"Walaupun melarikan diri dari kenyataan bisa
saja membuat kita melupakan beban masalah....., namun seharusnya bapak ingatlah itu hanyalah sesaat.
Cepat atau lambat, kita akan bertemu kembali dengan masalah yang dulu kita
menghidar darinya." Rendi berusaha menyadarkan Agra
"Jika memang hujan itu masalah buat bapak. ... mestinya
anda menghadapinya langsung, bukan malah menghindarinya dengan memakai payung,
anda tidak akan menikmati hidup jika terus lari dari masalah" Rendi lagi seakan
tak memperdulikan kekesalan Agra
"lalu apa yang kau lakukan dengan ibu....? kau juga melakukan hal yang sama, demi menghidarkanku dari masalah, kau membuatku berlari dari hidupku sendiri ...."Agra berucap dengan penuh kemarahan, kemarahan yang sudah lama terpendam
"anda akan tahu nanti, pak ..., jika sudah tiba waktunya ..."
"dan kapan waktu itu akan tiba, kau bisa memberitahuku ......?" Agra memicingkan matanya, seolah mencari jawaban dari raut wajah Rendi
"sebentar lagi ....." ucap Rendi lirih
“apa jadwalku hari ini?” Agra segera mengalihkan pembicaraan , ia tak mau perdebatan mereka berkepanjangan, walau bagaimanapun Agra tetaplah menghormati Rendi sebagai seorang sahabat
dan
rendi pun segera menunjukkan jadwalnya hari ini
**Ada kata kata
pepatah mengatakan
“Menghilang takkan selamanya hilang**”.
Terkadang saya merasa seolah-olah sedang
berpacu dengan bayangan sendiri. Tak pernah lebih cepat walau saya berlari
sekencang mungkin. Hal itu karena tidak ada yang bisa melepaskan bayangan diri
sendiri
JANGAN LUPA KASIH DUKUNGAN DENGAN MEMBERIKAN LIKE DAN KOMENTARNYA
TRUS BALIK KE LAMAN DEPAN KASIH VOTE YA ......
__ADS_1
TERIMAKASIH ....
NANTIKAN UP SELANJUTNYA YA .....