
tak perlu hal yang besar untuk menjadikan sesuatu terlihat istimewa
tapi hal kecil yang di buat dari hati yang akan menjadikan semua terasa lebih berharga
Tanpa terasawaktu bergulir begitu cepat, tanpa mereka sadari 8
bulan sudah mereka pergi dari rumah
besar itu, rumah yang menjadi awal tumbuhnya benih-benih cinta mereka, rumah
yang menguak rahasia besar kehidupan seorang AGRA ANUGRA PUTRA,
Walaupun sudah lebih dari waktu
yang di targetkan oleh ibunya untuk sukses tak membuat mereka menyerah, karena
kesuksesan memang butuh proses tak seperti membalik telapak tangan, kita harus
menikmati semua proses supaya kesuksesan yang di dapatkan dengan proses yang
sulit akan menjadikan pemilik kesuksesan akan lebih menghargai hidup
“kita mau kemana?” ara sudah kembali dengan dandanan yang begitu
cantik, ia tak lagi mengenakan kaca mata minusnya, rok selutut dipadukan dengan
kaus dan flatshoes menambah tampilan ara tampak lebih muda dari usianya
“memang istriku ini paling cantik ya ...” bukannya menjawab, Agra
malah memuji istrinya, ia menatap dalam pada istrinya
“andai saja hari ini tak ada acara, aku pasti akan memakanmu
sekarang juga ...”
“ih mulai ya gombalnya ..., biasanya juga panggilnya si mata empat
...”
“aku suka Ara, PUTRI AULIA ZAHRA”
“jadi Cuma suka nih?” jawab Ara cemberut pura-pura ngambek
“ya..., karena selebihnya, ciiiiinnnnntaaaa, banget ...”
“gombal ...”
“biarin ..., kan ngombalin istri sendiri..., sah-sah aja kan , dari
pada aku gobalin istri orang”
“berani genit-genit, aku pukul senjatamu pakek ini ...” Ara sudah
bersiap mengambil sapu yang sedang bersender di dinding
“jangan dong sayang ....”
“makanya jangan macem-macem sama aku”
“nggak kok sayang, aku Cuma butuh satu macem aja”
“apa?”
“hati kamu ...”
“sudah jangan gombal terus, jadi berangkat nggak nih?”
“jadi dong ..., ayo...” Agra pun menarik tangan Ara hingga sampai
di luar rumah
“biar aku kunci dulu ya pintunya” Agra pun segera mengunci pintu
“kita naik apa bby?”
“ ini pakek helmnya ...” agra pun menyerahkan sebuah helm yang
tadinya berada di atas kursi plastikdi teras rumah
“helm ...?” ara begitu heran kenapa suaminya menyerahkan sebuah
helm, padahal mereka tidak punya motor
“iya sayang ..., kita naik motor”
“motor?”
“itu motornya ...” agra menunjuk pada sebuah motor yang terparkir
di depan rumahnya
“itu motor siapa bby?” lagi- lagi ara di buat heran
“itu motor kita saya ...., aku sengaja beli motor biar kita lebih
enak kalau kemana mana, tapi aku bisanya Cuma beli motor bekas, nggak pa pa ya
sayang?” ara bukannya menjawab ucapannya agra ia malah memeluk agra dengan mata
__ADS_1
yang sudah berkaca-kaca
“maafkan aku ya ...” suara ara yang serak karena telah menangis,
agra pun melepaskan pelukan ara dan melihat mata ara yang sudah penuh dengan
air mata
“kenapa nangis sayang? Harusnya aku yang minta maaf, bukan kamu ra
....” agra pun menghapus air mata ara
“sudah jangan nangis lagi, aku mau hari ini dipenuhi dengan
kebahagiaan, aku tak mau ada tangisan karena ini hari aniversary kita” ara pun
hanya mengangguki ucapan suaminya
***
Ara dan agra pun menaiki motor, melintasi jalanan jakarta yang
cukup ramai , setelah berjaman 15 menit agra pun menghentikan motornya tepat di
depan sebuah ruko yang berseberangan dengan sebuah taman yang luas
“kenapa berhenti di sini bby?” ara yang belum turun dari motor
langsung bertanya
“apa kita mau ke taman itu?”
mata ara berbinar saat melihat taman yang tertata begitu indah di seberang
jalan, banyak muda- mudi dan anak- anak sedang bermain di sana
“turunlah dulu sayang...” ara pun terun dan melepas helmnya di
ikuti agra
“kau bisa ke taman itu lain waktu, sepuasnya.....” Agra tersenyum
menunjuk taman yang sedari tadi menarik perhatian istrinya,
“ tapi bukan itu yang mau aku tunjukkan ke kamu sayang...,
kemarilah ...” agra menarik tangan ara mendekat pada sebuah ruko dengan
rollingdor berwarna biru muda, dan tangan sebelahnya merogoh sakunya
mengeluarkan sebuah kunci
dor itu
“masuklah sayang ...” ruko yang di lapisi dengan diding kaca
sehingga mata akan dengan mudah memandang ke dalam ruko
“ini ruko siapa bby ...?” ara masih di buat heran , tapi mata ara
masih berkeliling memandangi seluruh sudut ruko
“ini ruko kita sayang ..., aku sudah menyewanya selama 1 tahun
kedepan, tempatnya sangat strategis karena di sebelah sama ada tempat ibadah,
depan ada taman , sana ada mol dan dekat dengan jalan raya” agra sambil
menunjuk ke segala arah menunjukkan pada ara,
“ harga sewanya juga tidak terlalu mahal dan di sini ada 3 ruangan”
agra mengajak masuk ke dalam ruangan yang di tunjuk
“ruang ini yang akan jadi ruang kerja kamu” agra menunjukkan
ruangan yang sudah di atur dengan sebuah kursi kerja dan mejanya dan sebuah
sofa yang tak terlalu besar
“duduklah sayang ...” agra menyuruh ara untuk duduk di kursi kerja
itu, Agra berjongkok di hadapan Agra, ia menggenggam tangan Ara
“gimana sayang, nyaman kan?”
tanya Agra
“ini berlebihan bby ...” ara merasa tak enak
“aku nggak mau jadi bosnya,
aku nggak bisa”
“siapa juga yang nyuruh kamu jadi bos, kamu cukup jadi sekertaris,
asisten plus kepala koki di sini”
“trus bosnya siapa?”
__ADS_1
“ya aku lah sayang ..., tapi kamu yang akan full di sini selama aku
masih kerja di kafe, aku akan menghabiskan kontrakku dulu”
“memangnya di sini akan di buat usaha apa bby?”
“kita akan membuat pusat jajanan tradisional di sini, selain itu kita
juga membuka jasa marketing”
“suamiku ini cerdas sekali ternyata ...”
“baru tahu ya ..., beruntunglah kamu karena di anugrahi suami yang
tampannya nggak ketulungan, pinter lagi ...”
“iya ..., iya ..., jangan mulai deh ...” Ara memutar bola matanya menatap
suaminya kesal
“ ya udah ayo ke ruangan lainnya ...” Agra pun tak mau menunggu
lama, ia kembali menatrik tangan Ara, hingga si pemilik tangan ikut berdiri
Mau tak mau Ara mengikuti langkah suaminya, ke sebuah ruangan
lainnya
“dan di sini adalah pantry ..., kamu akan memasak di sini” ya di
ruangan itu sudah lengkap dengan penggorenangan, oven dan lain sebagainya
“makasih ya bby ..., aku benar-benar nggak nyangka aku dapat
mengelola ruko sendiri” ara lagi-lagi memeluk suaminya itu
Cup
“dan ini bonusnya” agra mengecup sungkat bibir ara, dan ara pun
hanya bisa membelalakkan matanya dengan pipi yang mulai memerah
“tapi bby ..., aku kan nggak punya karyawan?”
“siapa bilang ..., kamu kan punya mbak Rini dan ada lagi satu orang
lagi”
“siapa ...”
“nanti kamu juga tahu, mau ketemu orangnya sekarang, atau masih
betah berlama-lama di sini?”
“masih betah ...” jawab ara manja “tapi juga penasaran ...”
“ya udah kita pergi dari sini aja ya, kasihan orangnya kalau sampek
menunggu lama, kita kesini lagi besok buat buka ruko” akhirnya ara pun
menyerah, mereka pun keluar dari ruko, di ruang depan tampak sebuah meja kasir
dan beberapa pasang kursi sebagai rest area
“mungkin aku juga bisa jual kopi atau jus sebagai pendamping kue ya
di sini” ara pun masih terus memperhatikan meja dan kursi yang tampak seperti
kafe walaupun hanya ada 6 pasang saja
“itu terserah kamu tuan putri ...” agra menutup kembali ruko dan
menuju motor yang terparkir , mengambil sebuah helm dan memasangkannya ke
kepala istrinya , kemudian mengambil helm satunya untuk di pakainya sendiri
“sudah siap tuan putri ...” setelah mereka sudah menaiki motor agra
pun mulai menyalakan motor
“siap”
“pegangan ya ...” agra pun menarik tangan ara hingga melingkar
penuh di perutnya
“berangkat .....” motor pun
melesat kembali menyusuri jalanan
Ara merasa heran karena jalan yang mereka lewati serasa tak asing,
serasa menuju ke rumahnya sendiri, rumah yang ara tinggali bersama ayah dan
adiknya
Bersambung
jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
__ADS_1
kasih vote juga ya