
Malam ini Agra pulang larut lagi, ia sudah membawa kunci cadangan
jadi tidak perlu mengetuk pintu untuk masuk ke dalam rumah
Setelah mengunci pintu, Agra segera masuk ke dalam kamar,
memastikan keadaan istrinya,tapi baru saja masuk kamar, namun, kedua mata Ara
tak lepas menyambutnya dengan banyak pertanyaan
‘kau belum tidur sayang?” Agra segera mendekati istrinya yang
sedang duduk bersila di ujung tempat tidur dan mengecup bibirnya singkat
“kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Agra yang segera duduk di
depan istrinya
“apa nona Viona menemuimu?”
“kenapa kau bertanya seperti itu?” Agra balik bertanya karena heran
“kenapa tiba-tiba dia menanyakan soal Viona?” batin Agra
“aku tidak akan memaafkanmu jika kau bertemu dengannya” Ancam Ara
sambil cemberut
“oh ..., jadi ceritanya istriku ini lagi cemburu ya ?” Agra segera
mencubit kedua pipi istrinya gemas
“bby..., aku nggak mau kehilangan kamu, dalam mimpi pun aku nggak
mau” Ara segera memeluk suaminya
“bby???” Agra sedikit terkejut dengan panggilan yang di berikan
istrinya
“ya Hubby ...., sayang ..., masak kamu panggil aku sayang akunya
tetap panggil kamu Agra sih, kan jadi nggak romantis, kamu suka nggak dengan
panggilan itu”
“suka banget sayang ...” Agra kembali memeluk istrinya
“suamiku... ‘hubby’ panggilan yang manis bukan?” Ara mendongakkan
kepalanya memberi senyum yang begitu imut pada suaminya
“ya ..., semanis yang manggil .....” Agra lagi-lagi mencubit hidung
Ara dengan gemas
***
Pagi harinya ......
Ara terbangun karena silaunya cahaya matahari yang melewati belahan
korden yang telah di sibakkan. Suara gemericik air dari kamar mandi terdengar
nyaring karena pintu kamar sudah terbuka.
Ara segera membalut tubuhnya dengan selimut , rasanya badannya
begitu letih. Rasa kantuk kembali menyerang membuatnya berkali-kali nmenguap,
ingin tidur kembali, rasanya begitu malas beraktifitas
“buruan mandi sayang...” tegur Agra saat keluar dari kamar mandi,
bau sampo dan sabun semerbak menyegarkan. Agra mendekatkan badannya pada ara
yang kembali meringkukkan badannya
“aku masih ngantuk sekali, entah kenapa badanku sakit semua”
Mendengar ucapan Ara, Agra pun segera menempelkan punggung
tangannya ke kening Ara
“badanmu tidak panas sayang? Apa karena semalam aku terlalu
bersemangat ya?”
“nggak pa pa kok bby, nanti siangan dikit pasti sudah baikan, nggak
pa pa ya jika kamu sarapan di luar saja”
“nggak pa pa kok saya, ya udah kamu istirahat saja, nanti biar aku
pesankan makannan buat kamu sarapan, aku siap-siap dulu ya” Ara pun hanya
mengangguk
Setelah selesai bersiap siap Agra segera berpamitan pada Ara, dan
tak lupa memesankan bubur ayam untuk sarapan istrinya
Kini Ara sudah duduk di atas tempat tidur dengan menyandarkan
punggungnya di dinding kamar
“kamu makan ya, aku suapin dulu” Agra pun membukakan bubur ayam
yang sudah di belinya dan di masukkan ke dalam mangkuk
“nggak usah bby, kamu berangkat saja, biar aku makan sendiri” tolak
Ara sambil mengambil mangkuk di tangan suaminya
“kamu pucat sekali sayang” ucap Agra sambil kembali menempelkan
punggung tangannya ke kening Ara
“aku nggak pa pa ...” Ara kembali meyakinkan suaminya
“bagaimana aku bisa tenang ninggalin kamu, jika keadaan kamu
seperti ini, biar aku telpon Nadin ya suapaya nemenin kamu”
“nggak usaaah ...., aku nggak pa pa, kamu jangan cemas bby”
“baiklah..., hari ini aku pulang cepat, aku nggak akan lembur, kamu
hati-hati di rumah ya, kalau nggak kuat nggak usah jualan” perintah Agra, Ara
pun hanya bisa mengangguk
Mau tak mau Agra pun harus meninggalkan Ara seorang diri, karena
ada pekerjaan yang harus dia kerjakan
***
Agra siang ini begitu sibuk di pasar, ia sudah meminta ijin tidak
datang ke kaffe karena mengingat keadaan ara tadi pagi,
Ia sudah berencana untuk berhenti bekerja di kafe setelah
mendapatkan ruko, ia berencana membuka usaha marketing yang di padukan dengan kafe untuk toko kue
__ADS_1
istrinya
Brerrrt brerrttt
Tiba-tiba ponsel agra bergetar saat ia bersiap-siap untuk pulang,
ia sangat berharap itu kabar dari istrinya, setelah sampai rumah ia berencana
mengajak istrinya pergi ke dokter
Tapi ternyata yang ia harapkan tak seperti kenyataannya, ia sedikit
kecewa saat melihat siapa yang mengirim pesan
Viona
Gra ketemuan yuuuk
Agra
Maaf gue sibuk
Viona
Tapi ini penting Gra, gue tunggu di kafe biasa
Agra tak menbalas pesan terakhir dari Viona, ia lupa jika ternyata
selama ini masih menyimpan nomor wanita itu, ia pun segera menghapus nomor itu ia
kembali dengan kegiatannya, ia merapikan diri dan memesan ojek online
Brerrttt brerrrtttt
Lagi-lagi ponselnya bergetar
Viona
Gue tunggu, ku harap kamu datang, ini tentang kakak lo, Divta
Seketika nama Divta menjadi pusat perhatian Agra, bagaimana bisa
Viona mengenal kakaknya, sedangkan kakaknya sudah terpisah dengannya hampir 20
tahun
Agra
Ok gue dateng
Agra begitu penasaran apa yang ingin Viona bicarakan mengenai
kakaknya, ia beralih tujuan yang mulainya pulang ke rumah kini beralih ke kafe
yang sudah di tunjuk Viona
Agra segera menuju ke kafe yang di maksud Viona, kafe yang biasa
mereka gunakan dulu untuk kencan, kafe mewah di tengah kota, di salah satu meja
ia melihat Viona yang sudah menunggu di sana, Agra pun segera menghampiri, ia
tak mau berurusan terlalu lama dengan wanita yang pernah singgah di hatinya
itu.
“hgemmm” Agra merasa malas untuk menyapa wanita itu, bahkan hanya
untuk menyebutkan namanya
‘kamu sudah datang sayang,duduklah ...” Viona menggeserkan kursi
untuk agra
“ aku kangen banget sama kamu”
dengan tangkisan tangan Agra
“sudahlah to the point aja, gue nggak ada waktu” ucap Agra malas,
ia ingin segera pergi dari tempat itu, ia bahkan begitu malas hanya untuk
sekedar menatap wajahnya
“kamu gitu banget sih sayang, aku padahal kangen banget sama kamu”
“nggak usah bertele-tele, cepat katakan ..., jika tidak aku akan
pergi ...” Ancam Agra sambil menggeser duduknya hendak bersdiri, tapi tangan
Viona segera meraih lengan agra
“baiklah ..., duduklah dan minum minumanmu ..., aku sudah
memesankan untukmu ...”
Tanpa menaruh curiga Agra pun
segera meminum minumannya, tapi tanpa di duga ternyata Viona sudah mencampur
sesuatu di dalam minuman Agra, membuat Agra merasakan kepalanya begitu pusing
“kamu brengsek Viona ...” Agra masih sempat mengumpat di sisa-sisa
kesadarannya, hingga ia pun menjatuhkan kepalanya yang sudah tak sadarkan diri
ke atas meja
“kamu kan cintanya sama aku sayang, kamu tuh Cuma kasihan sama Ara,
kamu nggak cinta sama dia sayang, cintamu Cuma buat aku, aku akan mendapatkan
cintamu lagi ...” bisik Viona licik di telinga Agra
Kemudian dua orang pria berbadan gempal mendekati meja mereka
“sekarang kalian bawa dia ke kamar”
“baik nona ....”
Seketika mereka memapah tubuh agra yang tak sadarkan diri, dan
Viona mengikutinya di belakang, sesampai mereka di kamar, mereka menjatuhkan
tubuh Agra di atas tempat tidur
Viona pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, ia segera memeluk Agra di atas tempat tidur, dan
menyuruh mereka untuk memfotonya
***
Di tempat lain Rendi begitu gusar setelah menerima telpon dari
seseorang
“sudah ku duga, pasti dia bakal nemuin Agra lagi, apa yang bakal
dia rencanain lagi” Rendi begitu prustasi saat tahu jika Viona menemui Agra, ia
tahu jika usaha Viona tidak Cuma berhenti sampai di situ saja
Rendi pun segera mengajak beberapa orangnya untuk menuju lokasi
yang di tunjukkan oleh mata-matanya,
__ADS_1
Viona sudah melucuti pakaian Agra hingga hanya menyisakan celana
dalam agra saja, tapi saat ia hendak melepaskan pakaiannya sendiri , Rendi
sudah lebih dulu mendobrak pintu, orang-orang yang menjaga di luar pintu sudah
di bekuk oleh orang-orang yang di bawa Rendi
“Rendi ...” Viona segera merapikan kembali pakaiannya yang sudah
hampir terlepas
“menjijikkan ....” ucap Rendi menatap jijik pada Viona
“kau tidak sopan ...” Viona masih mencoba berkilah
Agra yang merasakan ada yang sedang ribut, ia berusaha membuka
matanya walaupun masih terasa berat, ia melihat samar-samar Rendi dan Viona
yang sedang berdebat
Kemudian ia benar-benar terkejut saat mendapati dirinya tanpa
pakaian, ia segera bangun dan mencari pakaiannya
‘lo sudah sadar ..., untung gue datang tepat waktu” ucap Rendi saat
melihat Agra sudah memakai celananya
“apa yang terjadi? Gue nggak ngapa-ngapain kan sama dia?’ tanya
Agra yang masih bingung sambil melihat Viona yang sedang ketakutan sambil
memegang bajunya yang sudah berantakan
‘sudah cepetan kita pergi dari sini ...” Rendi memapah Agra, saat
sudah sampai di depan Viona Rendi pun menghentikan langkahnya
“saya akan bikin perhitungan sama kamu ..., siap-siap saja polisi
datang ke tempatmu” Rendi mengancam Viona
Mereka pun keluar dari kamar itu, Viona berteriak kesal karena
rencananya telah gagal, ia menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya, di
tengah kemarahannya tiba-tiba ponselnya berdering
Brretttt brreeetttt
Viona mengambil ponselnya yang masih di simpan di dalam tas setelah
mengambil gambar kemesraannya dengan Agra
“hallo ...”
“bagaimana...., Berhasil
...?” tanya seseorang di balik telpon
“hampir saja tuan ..., jika saja ....”
“hampir ..., jika apa?” nadanya sudah meninggi
“maaf tuan Divta ..., seharusnya tadi berhasil jika saja si sialan
Rendi tidak datang ...”
“shiittttt ...., kurang ajar ..., gunakan langkah selanjutnya”
Belum sempat Viona menyahuti, sambungan telpon terputus
***
Rendi mengajak Agra ke rumahnya sebelum pulang, ia tak mau jika
sampai Ara melihat Agra pulang dalam keadaan kacau seperti saat ini
“mandilah dulu ..., biar badan kamu segar ...” Rendi menyuruh Agra
untuk mandi, Agra pun tak menunggu lama, ia pun segera membersihkan diri, dan
mengganti pakaiannya dengan pakaian Rendi
Setelah selesai membersihkan diri, Agra pun menghampiri Rendi yang
sedang duduk di ruang tamu bersama orang-orangnya
‘kasih pelajar pada wanita itu, dan lagi ..., cari tahu orang di
baliknya, wanita itu tidak mungkin berani bekerja sendiri” Rendi memberi
intruksi pada anak buahnya
“maksud lo apa?” Agra tiba-tuiba datang di belakang mereka sedikit
mengejutkan Rendi, Agra pun ikut duduk bersama mereka
“kalian pergilah ...” Rendi pun segera menyuruh anak buahnya untuk
pergi
“apa maksud orang di balik Viona?’ tanya Agra penasaran
‘aku rasa tidak mungkin Viona berbuat senekat itu tanpa ada
seseorang di belakangnya”
“maksud kamu?” Agra gagal faham dengan ucapan Rendi, walaupun ia
tahu musuhnya tidak sedikit, tapi kini ia tidak mempunyai apa-apa untuk di
incar
“Biar aku cari tahu ..., tenanglah ...” Rendi tak mau membuat Agra
curiga, ia tak mau Agra bertemu dengan Divta sebelum waktu yang tepat
“aku akan pulang ...”
“biar aku antar”
“tidak usah ..., terimakasih karena sudah menyelamatkanku ..., aku
pulang ...”
Tapi tanpa mengindahkan penolakan Agra, Rendi pun tetap kekeh
dengan keputusannya untuk mengantar Agra pulang
BERSAMBUNG
nih sudah aku kasih seperti permintaan kalian ya, aku rubah nih panggilannya biar lebih manis semanis authornya
__ADS_1
jangan lupa kasih upah ya sama author ya, kasih LIKE dan KOMENTARnya ya
kasih VOTE juga ( nih author udah bergaya manis mengedipkan kedua matanya seperti kucing sambil mengatupkan tangannya)