My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Aditya Banu


__ADS_3

Anak laki-laki itu menunjuk ke arah kelas yang tampak  gaduh, jika di lihat-lihat kelas


itu ada tepat di samping kelas Sanaya.


“Kelas  XII B?”


tanya Sanaya dan anak laki-laki itu mengangguk.


Nggak percaya dia termasuk anak pintar ….batin Sanaya sambil menatap


remeh anak itu.


“kenapa gue tidak pernah melihat lo?” tanya sanaya


lagi dengan mengerutkan keningnya.


“Lo yang kurang pergaulan, gue aja kenal sama lo!”


Sanaya mengerutkan keningnya, “Siapa?”


“Nama lo, Sanaya Randita  anak kelas XI G, selalu dapat peringkat


sebelas di kelasnya, saudara kembar dari Sagara Rahardi yang berada di


kelas  XII superior, kelas unggulan!


Dekat dengan Abimanyu!”


Sanaya cukup terkejut kerena anak laki-laki di


depannya itu mengetahui tentang dirinya,


“Lo ngamatin gue ya? Atau jangan-jangan lo yang


menaruh segaram gue di sana ya?” tuduh Sanaya.


“jangan menuduh sembarangan kalau nggak ada bukti!”


“Lagian lo di sini, ngapain?”


“Lo nggak liat tadi gue lagi tidur!”


“tapi sekarang jadwalnya pelajaran bukan tidur,


emang istirahat seenaknya saja tidur!”


“Lo nggak liat di sana, kelas gue kosong! Dari pada


gue ribut di sana mending gue tidur, lebih guna!”


“terserah lo lah, hidup-hidup lo! Sekarang bantuin


gue ambil baju gue!” ucap Sanaya.


Anak laki-laki itu pun tiba-tiba jongkok di depan


sanaya.


“Lo mau ngapain?” tanya Sanaya kaget, ia sampai


memundurkan tubuhnya dua langkah.


“Ayo naik!” perintahnya sambil menepuk bahunya.


“Maksudnya?” Nay terlihat begitu bingung dengan maksud anak laki-laki itu.


Lagi-lagi Aditya menepuk pundaknya, “Naik ke pundak gue dan bawa tongkatnya!”


Sanaya terlihat begitu ragu, ia tidak yakin jika itu


bukan jebakan. Pasalnya penampilan anak laki-laki itu sangat tidak meyakinkan


kalau di anak baik-baik, rambut yang berantakan bajunya juga tidak di masukkan.

__ADS_1


“Ayo cepetan, keburu ganti pelajaran lagi, lo mau


bolos dua pelajaran?”


“Enggak!”


“makanya ayo cepetan!”


Sanaya pun akhirnya memutuskan untuk naik ke atas


bahu nya dengan duduk di atas bahu anak laki-laki itu.


“Pegangan!” perintahnya hingga Sanaya dengan cepat


memegang kepalanya, tepatnya rambutnya yang gondrong.


Anak laki-laki itu perlahan berdiri dan berpegangan


pada pagar, kakinya terbuka. Kaki kiri di belakang dan kaki kanan di depan,


kakinya terpisah oleh selokan yang berada tepat di bawah pagar.


Sanaya pun melakukan hal yang sama, ia menggunakan


tangan kirinya untuk berpegangan pada pagar sedangkan tangan kanannya memegang


tongkat dan mulai meraih seragamnya.


Akhirnya dengan mudah seragam itu bisa turun,


setelah semuanya turun, anak laki-laki itu menurunkan Sanaya juga dengan


hati-hati agar tidak terjatuh.


“Makasih ya!”


“Nggak perlu!” jawab anak laki-laki itu dengan santainya.


Dasar sombong ….


pelajaran!” ucap anak laki-laki itu membuat sanaya tersadar jika ia sudah berada di tempat itu selama empat puluh lima menit.


Sanaya melihat bajunya yang basah dan kotor, ia


menghela nafas lagi. Percuma juga ia bisa mengambilnya, ia tidak akan bisa memakainya lagi. Sanaya pun memilih untuk duduk lagi di atas rumput yang baru di potong itu.


“Ada apa lagi?”


“Percuma juga bisa nurunin baju ini, gue tetap aja nggak bisa ikut pelajaran!”


Anak laki-laki itu melihat ke arah kemeja Sanaya yang kotor dan basah, memang tidak mungkin Sanaya memakai bajunya lagi. Kalau pun di cuci, pasti isi tubuh sanaya akan terekspos.


“Ayo ikut gue …!” tiba-tiba saja anak laki-laki itu menarik tangan sanaya dan membawa kemeja Sanaya yang kotor dan basah itu.


“Kemana?” tanya Sanaya sambil terus mengikuti langkah anak laki-laki itu dengan tangan kirinya memegang rok dan jas kecilnya.


Hingga mereka sampai di depan toilet.


“Tunggu di sini sebentar!” ucap anak laki-laki itu saat sampai di depan kamar mandi, dia masuk ke dalam kamar mandi cowok dengan membawa kemeja milik Sanaya. Sesuai perintah, Sanaya pun tetap berdiri di depan


kamar mandi.


Anak laki-laki itu ternyata mencuci kemeja putih


milik Sanaya hingga bersih lalu memerasnya agar airnya berkurang.ia juga mengibas-kibaskannya beberapa kali. Setelah yakin kemeja itu sedikit lebih kering, anak laki-laki itu segera melepaskan kemejanya sendiri dan mengganti dengan kemeja milik Sanaya.


Kemeja Sanaya begitu ketat di tubuhnya, bahkan


lengannya tidak sampai di pergelangan. Ia pun menyingsing lengan itu hingga


siku jadi tidak terlalu kelihatan kalau kemeja itu kekecilan. Setelah selesai,


ia pun kembali keluar  dengan  kemeja miliknya yang ia gantung di tangannya.

__ADS_1


Ia kembali menghampiri Sanaya yang ternyata masih


berdiri di tempatnya.


“Pakai ini!” ucap anak laki-laki yang penampilannya


sedikit berubah dengan saat ia masuk.


‘Ini baju siapa?” tanya sanaya sambil memperhatikan


kemeja itu, “Aditya Banu?”


“Itu nama gue!”


Seketika Sanaya menjauhkan kemeja itu dari hidungnya, “Ihhh jorong!”


“Terserah lo, mau tetap di sini dengan baju olah raga lo atau lo mau masuk kelas dengan baju yang lo pilih!”


Sanaya terlihat begitu berpikir, jika sampai ia bolos dua kali pelajaran, tidak kebayang bagaimana jika sampai ia bolos dua kali, pasti oma nya akan memenggalnya dengan segera.


“Gue mau!”


“Bagus! Ayo cepetan masuk!”


Sanaya pun segera masuk ke dalam kamar mandi, ia


mengganti kaos olahraganya dengan seragamnya.


"Ini benar-benar ide gila, dia jorok banget pasti!" Sanaya begitu enggan untuk memakai baju itu. Tapi apa boleh buat tidak ada pilihan lain.


Kemeja milik Aditya di tubuhnya


memang terlihat begitu besar dengan lengan yang cukup panjang dan kedodoran, di


bagian tubuhnya juga terlihat begitu lebar, untung saja ada jas kecil miliknya


sedikit menutupi kemeja yang kebesaran itu.


Setelah selesai, Sanaya pun keluar dari kamar mandi,


“bagaimana kalau begini? Apa tidak terlihat aneh?” tanya Sanaya yang kurang


nyaman.


“Biasa aja, ayo!”


“kemana lagi sekarang?”


“ke kelas!”


“Kelas kita beda!”


“Cuma beda ruang, kelas kita berhadapan, ayo!” anak


laki-laki yang bernama Aditya itu pun berjalan dan meraih tangan Sanaya, melewati


beberapa kelas.


Mereka juga melewati kelas  Sagara dan Abimanyu. Melihat Sanaya berjalan


melintas di depan kelas mereka dengan seorang anak laki-laki membuat mereka


jadi ingin tahu dengan siapa saudaranya itu berjalan.


Tapi mereka hanya bisa saling menatap tanpa berani


meninggalkan bangkunya karena hari ini guru datang lebih cepat ke dalam kelasnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰


__ADS_2