
# aku tidak terlalu paham apa itu
nyaman yang aku tahu setiap kau menatap hatiku ingin menetap#
Agra harus bolos kerja selama 2 hari setelah kejadian itu karena
tak mau ada gosip tak sedap di kantor jika semua karyawan melihat wajah Agra
yang biru-biru, ia harus menyelesaikan semua pekerjaaannya di rumah
“mana yang masih terasa sakit” tanya Dokter Frans saat memeriksa
keadaan Agra
“aku tidak separah itu, kau jangan berlebihan” bantah Agra yang
memang tak mau terlihat lemah di hadapan semua orang
“ya elah men..., kalau kau mengaduh nggak akan terlihat lemah juga
kali di depan orang lain”
“sudah hentikan, aku harus kembali kerja”
“kayaknya besok kau juga sudah boleh ka kantor ..., tapi tumben
banget lo betah di rumah, biasanya sampek bonyok pun lo nggak bakalan tinggal
lama di rumah”
“ini rumah ..., rumah gue kenapa jadi lo yang repot”
“atau jangan-jangan gara-gara kakak ipar ya ...”
“ini tak ada hubungannya dengan dia”
“ok deh gue nyerah ..., lo habisin obatnya , gue harus balik ke
rumah sakit”
“ya..., sudah sana pergi”
Dokter Frans pun meninggalkan Agra yang masih duduk selonjoran di
atas temapt tidur dengan beberapa berkas di sampingnya
Saat melewati ruang makan, dokter Frans melihat Ara yang sedang
berdebat dengan bi Anna
"kenapa kakak ipar menggemaskan sekali ...." batin dokter Frans 'pantas saja dua pria itu menyukaimu"
Ara yang melihat dokter Frans masih berdiri termenung di ujung tangga segera menghampirinya dan menghentikan perdebatannya dengan bi anna
'dokter ..."
“selamat pagi kakak ipar ...” dokter Frans yang tersadar dari lamunannya segera menyapa Ara,
Melihat kedatangan dokter Frans bi Anna pun segera undur diri
meninggalkan mereka berdua
“dokter ..., sudah selesai ya ...?”
“iya ..., sepertinya pasienku itu Cuma membutuhkanmu, kakak ipar” dokter Frans tersenyum menggoda pada Ara
“benarkah ...?” Ara menyukai dokter Frans yang terlihat lebih friendly di bandingkan kedua sahabatnya
“ya sepertinya seperti itu ...”
“kalau aku pikir-pikir sepertinya iya sih dok, dia banyak sekali
menyusahkanku akhir-akhir ini, dia bertingkah seperti anak kecil”
“benarkah seperti itu ...?” Frans sedikit tak percaya , karena
seorang agra tak mungkin berbuat seperti itu
“benar dok ...., aku saja juga sampai tak percaya, dia suka minta
ini, minta itu, membuatku repot saja, tapi agra sudah sembuh kan?”
“besok juga sudah boleh masuk kantor, jika dia tidak membuat ulah
lagi”
“wah ...., ternyata dokter juga setuju jika dia suka buat ulah”
Akhirnya mereka pun tertawa bersama-sama, hingga tawanya memancing
seseorang untuk mendekat
__ADS_1
“ada apa ini?” tanya wanita paruh baya yang sedang menuruni tangga yang berbeda dengan tangga tempat dokter Frans dan Ara berdiri
“ibu ....” Ara segera menghentikan tawanya , dan menunduk
“bagaimana keadaannya, dokter Frans?" tatapan Ratih beralih pada dokter Frans
“dia sudah lebih baik bu..., besok sudah bisa beraktifitas seperti
biasa”
“baguslah ...., apa kau juga tidak memeriksa nya ...?" tanya Ratih kembali pandangannya beralih pada Ara, seketika Ara begitu merasa gugup
"habislah aku ...." batin Ara
"tidak usah ibu, aku akan periksa besok bersama Agra" bantah Ara agar ibu mertuanya tidak memaksa lagi, karena selama ini Agra yang selalu memalsukan hasil periksa kandungan ara
"baiklah ...."
"ahhh ... syukurlah ...." Ara mengelus dadanya lega
“bagaimana kabar ibu?” Dokter Frans nampak mencemaskan Ratih
“seperti yang kau lihat”
“jaga kesehatanmu bu, jangan terlalu banyak pikiran, semua akan
baik-baik saja bu ....” dokter Frans tampak begitu memperhatikan ibunya Agra
“aku harap juga seperti itu ...”
“ya sudah ..., bu..., kakak ipar...., aku permisi dulu, aku harus
kembali ke rumah sakit”
“silahkan ....” Ara membungkukkan badan memberi hormat sebelum dokter Frans pergi
Dokter Frans sebenarnya masih ingin tinggal tapi apa boleh buat,
pekerjaannya mengharuskannya untuk segera undur diri
Ara yang hanya di tinggal sendiri bersama Ratih, harus mengalami
suasana canggung itu, sebenarnya ada banyak sekali yang hendak ia tanyakan,
tapi pikiran dan mulutnya sedang tidak konek, ia memilih untuk diam dari pada
banyak bertanya
terhenti
“bu....” Ara memanggilnya, ternyata kali ini rasa penasarannya
mengalahkan rasa takutnya
‘iya...” Ratih menoleh pada Ara “ada apa?”
‘bolehkah kita bicara sebentar bu....?” ratih hanya diam mendengar
ucapan Ara
“ahhhh ..., apa yang kau lakuakan Ara ..., kau sungguh bodoh ....,
kenapa berkata tanpa berfikir, kau sudah gila ....” batin Ara merutuki
kebodohanya
“baiklah ...., ayo ikut aku ...” ah akhirnya dada ara terasa lega
saat Ratih memberinya kesempatan
“kita bicara di ruang kerjaku”
“baik bu ....” Ara pun berjalan mengikuti langkah ibu mertuanya
Mereka pun sampai di sebuah ruangbesar di sama ada sebuah meja
kerja dan kursi putar di balik meja karja, seperangkat sofa , ada satu sofa
besar dan dua sofa kecil lengkap dengan mejanya, di susut sudut ruangan ada
beberapa rak buku
Mata Ara terfokus pada sebuah foto berukuran besar yang di pajang
di salah satu sisi dinding ruanga itu, di sama ada sebuah foto keluarga
“itu foto kami saat Agra masih berusia lima tahun”
“itu ayah pak Agra ...?” tanya Ara saat melihat pria yang begitu
mirip dengan Agra tapi memiliki kumis tipis
“iya ...., beliau sudah meninggal sembilan belas tahun yang lalu,
__ADS_1
saat agar berusia sepuluh tahun” mata Ratih menerawang jauh, menyiratkan
kesedihan yang begitu dalam
Tangan Ara menyentuh pada gambar anak laki-laki yang usianya
sekitar lima belas tahun wajahnya sedikit berbeda dengan Agra, tapi masih ada
kemiripan dari keduanya
“dia kakaknya Agra, kakak laki-laki agra dari istri pertama
ayahnya, dia menetap di Australia semenjak ayahnya meninggal, dia ikut dengan
ibunya, namanya Divta Anugra Putra”
‘apa dia tidak akan kembali?”
“itulah yang aku takutkan, jika dia kembali..., karena ibunya sudah
menghasutnya untuk membenci adiknya” Ara hanya diam terpaku mendengarkan cerita
ibu mertuanya
“membenci ....?” Ara sedikit terkejut dengan kata membenci,
bagaimana seorang ibu menyuruh anaknya untuk membenci saudaranya sendiri
“iya”
“kenapa?”
“karena wanita itu menginginkan seluruhnya jadi milik dia dan
putranya”
Sekarang ara sedikit tahu kenapa begitu banyak pengawalan di rumah
ini, ia diam dengan pikirannya sendiri
“apa yang ingin kau tanyakan?” pertanyaan Ratih membuyarkan
pikirannya yang sedang melayang jauh
“untuk saat ini, aku rasa cukup bu, jika aku ingin tahu tentang pak
Agra, mungkin lusa aku akan bertanya kembali”
“baiklah jika seperti itu ..., temani suamimu ...”
‘permisi bu ....” Ara pun keluar dari ruang kerja ibu mertuanya
dengan berbagai pertanyaan yang melayang-layang di benaknya
-
-
-
-
-
Dia mengharapkan meletakkan sebuah keinginan mendapat kata
kenyamanan, dia mempertahankan rasa yang telah ia genggam, kenyamanan membuat
dia mengerti akan arti memiliki
-
-
-
-
-
-
siapa yang pernah mengalami situasi seperti ara ya ...
aku yakin pasti wajahnya sudah kayak kepiting rebus .....
jangan lupa kasih like ya kakak, sudah aku banyakin lo hari ini, walaupun satu episode tapi puanjaaaaang kayak rel kereta heheheh
kasih komentarnya juga
dan balik ke laman depan kasih upahnya VOTE ya
__ADS_1