
Agra kembali ke kamar, ia pun menghampiri Ara yang masih duduk di
atas tempat tidur, ia masih melihat kecemasan di wajah Ara
“gra ....” Ara segera menoleh ke tempat Agra yang masih berdiri,
Agra pun segera menghampiri istrinya
“sayang ...” Agra pun duduk di depan Ara dan mengusap lembut kedua
pipi istrinya
“apa yang terjadi Gra?” Ara tampak hawatir melihat suaminya kembali
dengan wajah yang sedikit muram
“jangan khawatir semua akan baik-baik saja....” Agra kambali
menguatkan hatinya dan istrinya
“apa maksudmu, aku tahu..., ini tidak baik-baik saja, ibu
mengetahuinya..., ibu tahu jika aku tidak hamil ....”
“kamu percaya padaku kan?” Agra kembali mengelus pipi Ara dengan
menatap mata Ara lembut, tatapan yang begitu sulit untuk diartikan, Ara pun
menghela nafas panjang dan mengelus lembut tangan Agra yang masih tak berpindah
dari pipinya
“aku akan selalu percaya padamu” ucap Ara sambil menampilkan senyum
ringan di bibirnya
“bagus ....” Agra pun berdiri dan mengusap pelan rambut Ara
“baiklah tunggu di sini” Agra pun langsung bangkit dari duduknya
dan mengambil tas besar di atas lemari kemudian memasukkan beberapa bajunya dan
baju Ara, Ara yang masih bingung dengan tingkah suaminya segera berjalan
mendekatinya
“Gra ..., apa yang kamu lakukan?”
“kita pergi dari sini, kita buka lembaran baru, hanya kita berdua”
Agra bicara tanpa menatap Ara, ia masih terus sibuk dengan aktifitasnya
“tidak ....” Ara segera menarik tangan Agra agar menghentikan
aktifitasnya yang belum selesai membuat tubuh Agra berdiri menghadapnya
Agra menaikkan sebelah alisnya, seperti sedang memberi pertanyaan
dengan tatapannya, kenapa? Ara langsung mengerti arti dari tatapan Agra
“jika harus pergi ..., akulah yang pergi, tidak denganmu ...” Ara
meninggikan suaranya
“itu tidak akan terjadi ..., kita akan selalu bersama ....” Agra
segera menepis tangan Ara
“jangan seperti itu ...., biarkan aku pergi sendiri ...., tanpamu
....” Ara menjatuhkan tubuhnya, memohon unttuk di dengarkan, ia merangkul kedua
kaki Agra,air matanya lolos begitu saja
Ia tak mau agra sampai menyesali keputusannya, meninggalkan rumah
ini buka keputusan yang benar menurutnya, hubungan Agra dengan ibunya akan
kembali renggang
“jangan keras kepala ...” Agra masih tetap diam, enggan menyahuti
__ADS_1
Ara
“aku sudah pernah bilang padamu ..., jika aku berada di pilihan
tersulit pun , aku akan tetap memilihmu untuk tetap bersamaku ....” ucapa agra
begitu tegas, membuat Ara melepaskan tangannya dari kaki suaminya, ia tak bisa
memohon lagi
Agra pun ikut menjatuhkan tubuhnya kelantai dan memeluk istrinya,
“maafkan aku sayang ...” Ara pun membalas pelukan Agra
Agra melepas pelukan ara , segera bangun dan menarik tangan Ara keluar dari kamar, Ara
hanya bisa pasrah tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, ia tidak tahu jika
mungkin semua karenanya
“gra ..., aku mohon biarkan aku pergi sendiri ...., ini tidak baik....,
seperti ini akan memperkeruh keadaan...” Ara berusaha memohon di tengan
langkahnya
“jika ada yang pergi, maka kita berdua yang akan pergi” bantah Agra
tak memperdulikan ucapan Ara
“Gra ...,tapi ....” ucapannya terhenti saat Agra menghentikan langkahnya
dan menatapnya begitu tajam, setelah Ara tak berniat untuk melanjutkan
ucapannya, Agra pun kembali menarik tangan Ara
“ kita harus pamit sama ibu” Ara menghentikan langkahnya ketika
melewati kamar mertuanya
“aku sudah pamit ....” akhirnya Ara hanya bisa pasrah saja
mengikuti suaminya
berlalu membawa satu tas besar segera menghampiri mereka
“tuan muda ...., nona ....”
“bi Anna ...” Agra menghentikan langkahnya dan menatap bi anna
“bi ,..., terimakasih untuk semua yang sudah bibi lakukan untukku”
“saya melakukan dengan senang hati tuan” bi Anna sudah tak mampu
membendung air matanya lagi
“bi bantu aku sekali lagi...” ucap Agra sedikit memohon pada ibunya
“apa itu tuan, jika bisa saya akan laksanakan”
“tolong jaga ibu untukku ....”
“tuan muda ....”
“kami pamit bi, jaga kesehatanmu ....” Agra segera menarik tangan
Ara kembali, ia sedikit terkejut saat melihat Viona masih mondar mandir di
ruang tamu
“Agra ....” Viona segera menghampiri Agra dan menarik tangan Agra tapi
sayangnya Agra sudah lebih dulu menepis tangannya
“kau mau kemana?” Viona melihat tas yang di bawa Agra “kau pasti
sedang mengusir wanita ****** ini, iya kan?”
“tutup mulutmu yang hina itu ...” Agra mengeratkan tangannya,
kemarahannya seakan memuncak saat melihat Viona di tambah kata-katanya yang
pedas
“gra ...” Ara segera memegang tangan Agra dan menggelengkan
__ADS_1
kepalanya, meredakan amarah suaminya, membuat Agra sedikit melunak
“kau sudah puas kan sekarang ..., kau menang ..., dan kami akan
pergi ...”
“kami ...., maksudnya kau dan dia ...?” tanya Viona tak percaya
“iya ..., KAMI ..., asal kamu tahu ...., aku sekarang sudah bukan
Agra yang kaya lagi, Agra si pewaris tunggal..., jadi jangan lagi mengganggu
hidup kami lagi ...”
“Gra ...., kau jangan bercanda ...”
“itu benar yang di katakan Agra ...” tiba-tiba Rendi datang dan
ikut bersuara, semua menoleh padanya, Rendi pun berjalan mendekati mereka
“sekarang ..., semua perusahaan di limpahkan kekuasaannya pada saya
..., Agra hanya memiliki 5% dari saham perusahaan, dan saya yang
menggantikannya” ucap Rendi membuat Viona benar-benar syok
“ini tidak mungkin ......” Viona segera menjatuhkan tubuhnya di
lantai
“dan jika sudah selesai..., silahkan anda keluar nona Viona, anda
tahu jalan keluarnya kan ...? apa perlu saya panggilkan scurity?”
“tidak perlu ...., aku bisa sendiri” Viona segera bangun dari
duduknya dan berlalu dengan kekecewaan
Setelah Viona tak terlihat lagi, kini giliran Rendi menatap Agra
“aku akan pergi ...” ucap Agra
“tunggu ....” Rendi menahannya untuk pergi, Agra yang sudah
berbalik segera menghentikan langkahnya
“kamu punya 5% dari saham perusahaan, jadi setiap bulan aku akan
menstranfernya ke rekeningmu”
“ciiihhhh...., jadi yang ingin kau bicarakan hanya soal uang ...,
kau tak ada bedanya dengan penjilat”
“ayo pergi ...” Agra segera menarik tangan Ara yang masih di buat
bingung dengan yang terjadi, tapi masih berjalan lima langkah, langkahnya
terhenti karena ucapan rendi kenbali
“jaga Ara ..., aku akan menjaga ibumu ...” ucap Rendi
“dia istriku, jika kau lupa ..., aku ingatkan kembali, dia ISTRIku
yang sah..., tidak perlu kau katakan itu aku pasti akan menjaganya dengan
nyawaku ...”
Agra tak mau berhenti lagi, ia sudah cukup kesal dengan Viona
sekarang di tambah Rendi, sahabatnya sendiri yang lagi-lagi mengambil posisinya
Mereka keluar dari rumah hanya dengan membawa beberapa pakaian dan
beberapa lembar uang kes, Agra meninggalkan semua kartu Atm pemberian ibunya
dan kunci mobil,ia hanya membawa kartu atm yang isinya tak seberapa, ia
benar-benar akan mulai dari awal
**kira kira dari sini sudah bisa nebak belum ya endingnya?
Viona apa Ara ya yang menang?
jangan lupa bayar authornya dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya**
__ADS_1