
Mendengar ucapan Ara, divta begitu tercekat. seakan suaranya tertahan di tenggorokan. Pria itu hanya bisa diam dengan segala pikirannya, Ara pun begitu, sebenarnya dalam
hatinya ada rasa takut. tapi pria ei dekatnya ini. rulu ia mengenalnya begitu baik.
“sayang .....” Ara dan Divta segera menoleh ke sumber suara. Suara yang begitu familiar. iya ... itu suara suaminya.
Agra yang sudah selesai dengan urusannya segera kembali. ia tidak tenang meninggalkan istrinya seorang diri. Dan benar saja apa yang khawatirkannya. Saat ia kembali
menghampiri Ara di taman, Ara sudah ada bersama seseorang tapi ia belum menyadari siapa pria yang sedang
berdiri di samping istrinya
Ara yang merasa di panggil segera berdiri dari duduknya, ada rasa
senang sekaligus cemas, ia senang karena ada suaminya yang pasti akan segera membawanya pergi. tapi ia juga cemas jika sampai
terjadi pertengkaran di antara mereka. dua bersaudara ini. Saat Divta juga menoleh ke sumber suara. barulah Agra sadar siapa yang ada di samping istrinya.
“bang Divta ....” Agra memperlambat langkahnya.
Mereka terdiam untuk beberapa detik, hingga Agra kembali
melanjutkan langkahnya dengan langkah yang begitu panjang hingga sampai di depan Divta
“bang Divta di sini ...?” Agra menatap Divta dan bergantian menatap
Ara, mencari jawaban atas pertanyaannya.
“kita bertemu lagi ya ...” ucap Divta sambil sedikit mengulas
senyum. senyum yang khas yang hanya di miliki oleh Divta , Agra dan ayahnya.
“kenapa bang Divta di sini? Bersama istriku ...., apa yang kau rencanakan”
Ara segera menghampiri suaminya dan melingkarkan tangannya di
lengan suaminya
‘kami tidak sengaja bertemu bby ....”
“benarkah ...” Agra tetap menatap Divta dengan penuh pertanyaan. ia benar-benar tak mempercayai ucapan istrinya.
“seharusnya kau percaya pada istrimu ...” ucap Divta dingin
“aku akan selalu percaya pada istriku ... tapi tidak denganmu”
Agra segera menarik tangan Ara ,berputar meninggalkan Divta
“sampai jumpa besok ..., adikku ...” ucapan Divta berhasil
menghentikan langkah Agra tapi tak membuatnya kembali membalikkan badannya,
setelah itu ia kembali melangkahkan kakinya dengan tangan yang di lingkarkan di
pinggang Ara dengan sangan posesif.
“kenapa kau begitu beruntung, kau selalu mendapatkan apa yang tak
pernah bisa aku dapatkan, kasih sayang ayah ..., teman-teman yang baik, dan
sekarang Ara ...” ucap Divta sambil menatap punggung Agra dan Ara hingga
beyangan mereka tak terlihat lagi.
***
Setelah meninggalkan taman, Agra tak mengeluarkan sepatah katapun, di sepanjang jalan pulang. Agra tak juga bersuara. hanya ia menggengam kemudinya dengan sangat kuat hingga buku-buku ruas jarinya terlihat memutih. Agra memendam emosinya. itu yang berhasil di tangkap Ara.
Ara pun sesekali mencuri pandang pada suaminya. tak berani bertanya atau berucap sesuatu.
“apa dia marah padaku ...?” batin Ara. tapi rasanya Ara benar-benar tak tahan, ia memberanikan diri untuk bertanya.
“bby ....” Ara memberanikan diri untuk membuka pembicaraan
“hemmmm” jawab Agra tanpa menoleh ke sumber suara.
“memang itu jawaban ..., menyebalkan” batin Ara
“apa kita akan mampir ke rumah ayah ...?”
“hemmm ..” lagi-lagi jawaban itu yang keliar dari mulut Agra. sepertinya ia benar-benar marah.
“lagi-lagi apa itu ..., dasar ..., bukan jawaban ...” batin ara
__ADS_1
sambil mengerucutkan bibirnya, Ara banya berani membatin tanpa berani mengungkapkan.
Ara pun menyerah dan lebih memilih menatap jalanan, mobil hanya
berjalan 15 menit dan mereka sudah sampai di depan toko bangunan milik ayah ara. tapi entah kenapa rasanya seperti satu jam saja.
Agra turun terlebih dahulu, ia berlari mangitari mobil dan
membukakan pintu untuk Ara
“makasih bby ...”
Dan masih sama, agra hanya diam, ia memilih berlalu meninggalkan
Ara, membuat Ara kesal , ara menginjak-injakkan kakinya ke tanah dengan kesal
Kedatangan mereka langsung di sambut Roy yang kebetulan sedang
mengecek barang-barang yang baru datang
“sore yah ..." ucap Agra menyapa ayah mertuanya, Roy pun segera
menyerahkan pekerjaannya pada karyawannya
“senang sekali kalian berkunjung ...., ayo masuk ...” Roy segera
menyuruh Agra dan Ara masuk ke dalam rumah
Mereka pun sudah duduk di kursi yang ada di ruang tamu, bibi yang
bekerja di rumah Roy dengan sigap langsung menyajikan minuman untuk mereka
bertiga
“kalian dari mana?”
“tadi saya ada urusan di sekitar sini, sehingga kami
mampir ke sini”
“ayah senang kalian sering ke sini”
“kami akan lebih sering berkunjung yah ...”
“baik yah ..., mereka baik...”
“kalian menginap di sini ya ..., sudah lama sekali kalian tidak
menginap” ucap Roy antusias, Ara pun menatap suaminya berharap suaminya bisa
setuju karena sudah lama sekali mereka tidak menginap
“maaf yah bukannya menolak, tapi besok saya akan ada rapat direksi,
sebenarnya kami datang ke sini untuk meminta restu pada ayah, semoga besok di
lancarkan” ucapan Agra sedikit membuat kecewa Ara, tapi ia tak mau egois
“baiklah..., doa ayah selalu buat anak-anak ayah ..., semoga usaha
kamu besok membuahkan hasil”
“terimakasih yah ..., karena hari sudah mulai petang, jadi kami
harus segera pamit ...”
Mereka pun akhirnya meninggalkan rumah Roy, Agra masih saja
mendiamkan Ara, hingga sampai di rumah mereka tetap diam tak ada pembicaraan
Sesampai si kafe, agra menyibukkan diri seperti sengaja menghindari
Ara, ara pun hanya bisa pasrah
Setelah kafe tutup Ara pun segera membersihkan diri dan merebahkan
tubuhnya di atas tempat tidur, ia menyelonjorkan kakinya yang terasa nyeri sambil
memijat ringan betisnya yang terasa panas karena seharian menopang berat
tubuhnya yang semakin naik
Matanya sebenarnya terasa berat tapi enggan terpejam karena
__ADS_1
suaminya tak juga kembali, entah apa yang sedang ia lakukan
Agra sedang duduk di kursi kerjanya, ia menatap map biru yang
beberapa hari ini menyita perhatiannya
Setelah lelah dengan pikirannya sendiri, Agra pun memutuskan untuk
kembali ke kamar, ia mendapati istrinya sudah terlelap di atas tempat tidur
Agra pun segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya
dengan air dingin, menghilangkan rasa lelahnya seharian ini.
Ternyata suara gemericik air, kembali membangunkan Ara yang memang
tertidur tanpa sadar, di tengah penantiannya menunggu suaminya, Ara segera
duduk menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur
Tak berapa lama setelah gemericik air terhenti, Agra pun keluar
dari dalam kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya dengan
rambut yang masih basah menetes di dada bidangnya
Pemandangan seperti itu yang selalu Ara sukai, melihat dada bidang
suaminya tanpa penutup, Ara tak membiarkan matanya berkedip, ia masih selalu
mengagumi tubuh pria yang sudah 16 bulan ini menjadi suaminya
Agra yang menyadari ara terbangun segera menatap ara sambil
mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang sudah membungkus kepalanya
“kenapa bangun?”
“apa kau marah padaku bby ...?”
Agra tak segera menjawab pertanyaan istrinya, ia mengenakan celana
pendeknya dan kaos oblongnya, setelah itu menaruh handuk yang ia kenakan di
balkon rumahnya dan segera kembali lagi menghampiri istrinya.
Ia merangkah ke atas tempat tidur, dan berhenti di samping ara.
“ya aku marah ...., aku marah , aku begitu marah. aku takut tidak bisa
melindungi kalian ...”
Ara hanya diam menatap suaminya, agra pun melanjutkan ucapannya.
“aku takut sayang, aku begitu takut kehilangan kalian ..., aku
takut seseorang menyakiti kalian, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika
sampai terjadi sesuatu pada kalian ...”
“tapi kak Divta tidak menyakitiku ...”
“aku berharap juga seperti itu, tapi aku tak bisa percaya pada
siapapun saat ini, apalagi berhubungan dengan keselamatanmu sayang ...”
“aku akan menjaga diri bby ...”
“iya ...., tidurlah ...”
“kau tak marah lagi padaku ...?”
“tidak sayang ..., cepat tidurlah ...”
bonusnya wajah si babang Agra (risky billar) ya ....💛💛💛💛
BERSAMBUNG
jangan osan ya jika selalu aku ingatkan buat ngasih like dan komentarnya
kasih vote juga ya.
__ADS_1
maaf ya jika akhir-akhir sedikit lambat up nya ....,