
Di rumah Agra
Agra sudah siap dengan mengenakan baju kerjanya, baju kerja yang
sudah lama sekali Agra tidak memakainya setelah jas warna biru gelap, begitu
pas di tubuh Agra.
“bby ......” Ara yang baru saja menyiapkan sarapan sangat terpesona
melihat suaminya keluar dari dalam kamar dengan baju kebesarannya, baju seorang
bos
“bagaimana sayang ..., apa aku masih cocok mengenakan baju ini
...?” Ara masih terpaku di tempatnya
“suamiku tampan sekali ...” gumam Ara tanpa mengalihkan pandangannya.
“sayang ...., kenapa malah bengong ...?” Agra masih dengan posenya.
“karena suamiku begitu tampan ..., rasanya sayang membiarkan
suamiku pergi begitu saja ...” Ara masih enggan mengalihkan pandangannya. ia pun segera mendekati suaminya dan
mengalungkan tangannya di leher suaminya sehingga tak ada jarak di antara
mereka
Ara menarik leher Agra supaya lebih menunduk dan dapat meraih
bibirnya
Cup ,cup cup cup cup cup cup
Ara menghujani ciuman di seluruh wajah suaminya dan terakhir di
bibir suaminya dengan sedikit menggigit bibir bawahnya supaya lebih terbuka,
Ara ******* bibir suaminya, Agra pun terpancing dengan perlakuan istrinya, ia
pun semakin mengeratkan pinggang Ara hingga lebih dekat lagi
“sudah bby ...” setelah selesai dengan ciumannya Ara pun menjauhkan
bibirnya
“masih kurang sayang ....” Agra enggan melepaskan tubuh Ara dari
dekapannya, ia semakin mengencangkan lengannya di pinggang Ara
“jangan kencang-kencang bby ..., kasihan dedek bayinya ...”
“ahhh ..., iya ..., papi lupa sayang ....” Agra segera melepaskan
tangannya dan berjongkok di depan perut Ara yang sudah lebih besar, ia mengelus
dengan lembut
“papi ...?” Ara terkejut dengan sebutan papi
“iya kan tinggal tiga bulan lagi aku akan jadi papi sayang ....”
“berarti aku mami dong ....?”
“iya ...., pintar sekali istriku ini ...” Agra bangun dan mencubit
hidung istrinya
‘sarapan kita apa sayang hari ini ...?” Agra segera meninggalkan
Ara yang masih tercengang tak percaya bahwa sebentar lagi ia bakal jadi ibu,
sedang Agra sudah duduk di dapur dan menyiapkan piring untuk mereka sarapan
Di rumah besar
Ratih sudah dari pagi berada di ruang kerjanya, ia begitu cemas
dengan hasilnya nanti, ia berharap putranya benar-benar akan datang
“nyonya ..., tuan Salman sudah datang ...” ucap bi Anna setelah
mengetuk pintu dan membukanya
“suruh masuk ...” jawab Ratih yang tak mengalihkan pandangannya
dari foto yang berada di tangannya
“mas ...., aku benar-benar takut ...., aku rapuh tanpamu ....,
bagaimana aku hidup selama ini tanpamu begitu berat, aku tidak bisa membesarkan
putra kita seorang diri, aku menjadi ibu yang egois, hingga putra kita begitu
membenciku, bahkan ia tak mau kembali ke sini ....” ucap Ratih sambil terus
memandangi foto suaminya
Tok tok tok
Ketukan pintu menyadarkan Ratih dari lamunannya
“masuk ...” Ratih segera menyimpan kembali foto suaminya di atas
meja
__ADS_1
“selamat pagi nyonya ...” sapa Salman
“pagi ..., bagaimana ? semuanya sudah siap?”
“sudah nyonya”
“bagaimana dengan Agra ...?”
“Rendi akan menjemputnya nyonya ...”
“dia bersedia datang ...?”
“begitulah yang saya dengar nyonya ...”
“baiklah ..., ayo kita berangkat ...”
Di rumah Aruni
“sayang ..., kau sudah siap ...?” tanya Aruni yang sudah memasuki
kamar putranya
“yes mam ...”
“mama bangga padamu sayang ...”
“kenapa mama begitu menginginkan harta itu? Aku bisa membangun
perusahaan sendiri mam walau tak sebesar perusahaan papa”
“mama nggak mau kamu jadi pecundang, rasanya tidak akan adil jika
Ratih dan putranya itu merebut semuanya”
“tapi mam ...”
“mama nggak suka kamu lemah sayang ....., mama tunggu kamu di bawah
..., kita berangkat sama-sama”
Di kantor
Mungkin hari ini adalah hari yang bersejarah setelah sekian lama
akhirnya diadakan rapat direksi yang di hadiri kedua putra Wijaya
Hari ini di sebuah ruangan yang cukup besar terlihat karyawan
begitu sibuk mempersiapkan keperluan rapat hari ini
Para pemilik saham satu persatu mulai memasuki ruangan, sedangkan
presiden direktur saat ini baru saja turun dari mobilnya, kahadirannya begitu
di sambut
kaca mata hitamnya saat kakinya hendak melangkah memasuki gedung di ikuti oleh
tangan kanannya
Tapi langkahnya terhenti saat tanpa sengaja matanya menangkap
sebuah mobil yang tak kalah mewahnya dengan mobil yang ia kenakan berhenti
tepat di samping mobilnya
Seorang wanita paruh baya dan pria tampan keluar dari mobil itu,
wanita itu menghampirinya
“senang bertemu denganmu ..., maduku ...” ucap wanita itu dengan
senyum sarkisnya, dia adalah Aruni dan Divta
“saya menunggu saat ini tiba ...” jawab Ratih tegas
“sepertinya kau sudah siap kalah ...”
“kita lihat saja .....”
“baiklah ...” Aruni berjalan mendahului Ratih, sedangkan Divta yang
mengikuti ibunya tak mengucapkan sepatah katapun, ia ikut berlalu bersama
ibunya
Banyak karyawan yang berbisik-bisik membicarakan pertemuan mereka
“apa itu istri pertama pak Wijaya ...?”
“sepertinya iya..., dan itu tadi ...”
“iya itu tadi yang bersamanya sepertinya putra pertama pak Wijaya”
“brati dia saudara pak Agra ...”
“ternyata sama-sama tampannya ya ...”
Para karyawan membicarakan kedatangan tiba-tiba mereka di tempat
kerja, sebenarnya apa yang akan di jadikan topik pembicaraan dalam rapat besar
kali ini
Ratih pun tak menunggu lama , ia segera menyusul Aruni yang sudah
masuk ke dalam ruang rapat terlebih dulu
Di ruang rapat
__ADS_1
Ruangan itu sudah terlihat penuh, hanya tinggal beberapa kursi yang
terlihat kosong, riuh orang-orang itu sedang berbincang satu sama lain, seperti
para karyawan , para pemegang saham pun masih bertanya-tanya perihal di
adakannya rapat kali ini
Suara riuh itu segera reda, saat Aruni memasuki ruang rapat dan di
susul oleh Ratih, seketikan ruang rapat berubah menjadi senyap, semuanya
berdiri menyambut kedatangan mereka
Mereka benar-benar terkejut dengan kedatangan Aruni di antara
mereka, sebagian dari mereka sudah mengenal Aruni dan sebagian lagi masih
bertanya-tanya siapa wanita itu, sedangkan Divta, jelas belum ada yang
mengenalnya
Ratih menuju ke kursi yang paling ujung karena dia masih sebagai
presiden direktur
“silahkan duduk ...” para direksi pun segera menempati kursinya
masing masing
“silahkan duduk nyonya Aruni ..., tuan Divta ...” Ratih menunjuk
dua kursi di depan sebelah kirinya yang masih kosong tanpak tag nama di depan
mejanya, dan mereka punduduk
“sekarang bisa kita mulai kan rapatnya ...” ucap Aruni tampak tak
sabar
“maaf nyonya ..., di sini saya yang memimpin rapat ...” ucap Ratih
tegas
“jika kau menunggu putramu, sepertinya putramu itu tidak akan
datang ..., dia sudah terbiasa hidup jadi orang kecil, dia tak akan bisa kau
harapkan lagi ...” ucap Aruni sinis
“maaf ..., ijinkan saya memperkenalkan diri anda nyonya” ucap Ratih
membuat wajah Aruni begitu terlihat kesal karena merasa ucapannya tak memancing
kemarahan Ratih
Ratih pun segera berdiri dari duduknya
“selamat pagi tuan dan nyonya ..., maafkan saya karena secara
tiba-tiba mengundang kalian semua dalam rapat ini, pasti kalian
bertanya-tanya.”
“Maka untuk itu..., ijinkan saya memperkenalkan seseorang yang
menurut kalian sedikit asing hadir dalam rapat kali ini”
“silahkan berdiri nyonya ..., tuan ...” Ratih mempersilahkan Aruni
dan Divta untuk berdiri, dan mau tak mau mereka pun mengikuti permintaan Ratih
Setelah mereka berdiri, Ratih pun melanjutkan ucapannya
“ini adalah nyonya Aruni, beliau mantan istri almarhum suami saya
..., dan di sebelahnya adalah tuan Divta ..., beliau adalah putra pertama suami
saya” mereka pun menundukkan kepalanya memberi hormat pada seluruh peserta
rapat
“terimakasih ..., silahkan duduk kembali ...” Ratih pun menyuruh
Aruni dan Divta untuk kembali duduk
“tujuan kami mengundang kalian semua adalah saya akan menyerahkan
posisi yang saya pegang sekarang pada orang yang menurut anda semua berhak dan
pantas untuk memegangnya”
Para pesarta rapat pun saling berbisik, mereka bertanya-tanya
maksud dari ucapan Ratih, sedangkan yang mereka gadang-gadang akan menjadi
penerus Ratih belum menampakkan batang hidungnya
Mereka mencari-cari kemungkinan yang paling mungkin untuk menjawab
teka-teki yang mereka buat sendiri.
BERSAMBUNG
jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
serta jangan lupa kasih vote juga ya
makacihhhhh ......
__ADS_1