My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 112


__ADS_3

   Di rumah Agra


Agra sudah siap dengan mengenakan baju kerjanya, baju kerja yang


sudah lama sekali Agra tidak memakainya setelah jas warna biru gelap, begitu


pas di tubuh Agra.



“bby ......” Ara yang baru saja menyiapkan sarapan sangat terpesona


melihat suaminya keluar dari dalam kamar dengan baju kebesarannya, baju seorang


bos


“bagaimana sayang ..., apa aku masih cocok mengenakan baju ini


...?” Ara masih terpaku di tempatnya


“suamiku tampan sekali ...” gumam Ara tanpa mengalihkan pandangannya.


“sayang ...., kenapa malah bengong ...?” Agra masih dengan posenya.


“karena suamiku begitu tampan ..., rasanya sayang membiarkan


suamiku pergi begitu saja ...” Ara masih enggan mengalihkan pandangannya. ia pun segera mendekati suaminya dan


mengalungkan tangannya di leher suaminya sehingga tak ada jarak di antara


mereka


Ara menarik leher Agra supaya lebih menunduk dan dapat meraih


bibirnya


Cup ,cup cup cup cup cup cup


Ara menghujani ciuman di seluruh wajah suaminya dan terakhir di


bibir suaminya dengan sedikit menggigit bibir bawahnya supaya lebih terbuka,


Ara ******* bibir suaminya, Agra pun terpancing dengan perlakuan istrinya, ia


pun semakin mengeratkan pinggang Ara hingga lebih dekat lagi


“sudah bby ...” setelah selesai dengan ciumannya Ara pun menjauhkan


bibirnya


“masih kurang sayang ....” Agra enggan melepaskan tubuh Ara dari


dekapannya, ia semakin mengencangkan lengannya di pinggang Ara


“jangan kencang-kencang bby ..., kasihan dedek bayinya ...”


“ahhh ..., iya ..., papi lupa sayang ....” Agra segera melepaskan


tangannya dan berjongkok di depan perut Ara yang sudah lebih besar, ia mengelus


dengan lembut


“papi ...?” Ara terkejut dengan sebutan papi


“iya kan tinggal tiga bulan lagi aku akan jadi papi sayang ....”


“berarti aku mami dong ....?”


“iya ...., pintar sekali istriku ini ...” Agra bangun dan mencubit


hidung istrinya


‘sarapan kita apa sayang hari ini ...?” Agra segera meninggalkan


Ara yang masih tercengang tak percaya bahwa sebentar lagi ia bakal jadi ibu,


sedang Agra sudah duduk di dapur dan menyiapkan piring untuk mereka sarapan


Di rumah besar


Ratih sudah dari pagi berada di ruang kerjanya, ia begitu cemas


dengan hasilnya nanti, ia berharap putranya benar-benar akan datang


“nyonya ..., tuan Salman sudah datang ...” ucap bi Anna setelah


mengetuk pintu dan membukanya


“suruh masuk ...” jawab Ratih yang tak mengalihkan pandangannya


dari foto yang berada di tangannya


“mas ...., aku benar-benar takut ...., aku rapuh tanpamu ....,


bagaimana aku hidup selama ini tanpamu begitu berat, aku tidak bisa membesarkan


putra kita seorang diri, aku menjadi ibu yang egois, hingga putra kita begitu


membenciku, bahkan ia tak mau kembali ke sini ....” ucap Ratih sambil terus


memandangi foto suaminya


Tok tok tok


Ketukan pintu menyadarkan Ratih dari lamunannya


“masuk ...” Ratih segera menyimpan kembali foto suaminya di atas


meja

__ADS_1


“selamat pagi nyonya ...” sapa Salman


“pagi ..., bagaimana ? semuanya sudah siap?”


“sudah nyonya”


“bagaimana dengan Agra ...?”


“Rendi akan menjemputnya nyonya ...”


“dia bersedia datang ...?”


“begitulah yang saya dengar nyonya ...”


“baiklah ..., ayo kita berangkat ...”


Di rumah Aruni


“sayang ..., kau sudah siap ...?” tanya Aruni yang sudah memasuki


kamar putranya


“yes mam ...”


“mama bangga padamu sayang ...”


“kenapa mama begitu menginginkan harta itu? Aku bisa membangun


perusahaan sendiri mam walau tak sebesar perusahaan papa”


“mama nggak mau kamu jadi pecundang, rasanya tidak akan adil jika


Ratih dan putranya itu merebut semuanya”


“tapi mam ...”


“mama nggak suka kamu lemah sayang ....., mama tunggu kamu di bawah


..., kita berangkat sama-sama”


Di kantor


Mungkin hari ini adalah hari yang bersejarah setelah sekian lama


akhirnya diadakan rapat direksi yang di hadiri kedua putra Wijaya


Hari ini di sebuah ruangan yang cukup besar terlihat karyawan


begitu sibuk mempersiapkan keperluan rapat hari ini


Para pemilik saham satu persatu mulai memasuki ruangan, sedangkan


presiden direktur saat ini baru saja turun dari mobilnya, kahadirannya begitu


di sambut


kaca mata hitamnya saat kakinya hendak melangkah memasuki gedung di ikuti oleh


tangan kanannya


Tapi langkahnya terhenti saat tanpa sengaja matanya menangkap


sebuah mobil yang tak kalah mewahnya dengan mobil yang ia kenakan berhenti


tepat di samping mobilnya


Seorang wanita paruh baya dan pria tampan keluar dari mobil itu,


wanita itu menghampirinya


“senang bertemu denganmu ..., maduku ...” ucap wanita itu dengan


senyum sarkisnya, dia adalah Aruni dan Divta


“saya menunggu saat ini tiba ...” jawab Ratih tegas


“sepertinya kau sudah siap kalah ...”


“kita lihat saja .....”


“baiklah ...” Aruni berjalan mendahului Ratih, sedangkan Divta yang


mengikuti ibunya tak mengucapkan sepatah katapun, ia ikut berlalu bersama


ibunya


Banyak karyawan yang berbisik-bisik membicarakan pertemuan mereka


“apa itu istri pertama pak Wijaya ...?”


“sepertinya iya..., dan itu tadi ...”


“iya itu tadi yang bersamanya sepertinya putra pertama pak Wijaya”


“brati dia saudara pak Agra ...”


“ternyata sama-sama tampannya ya ...”


Para karyawan membicarakan kedatangan tiba-tiba mereka di tempat


kerja, sebenarnya apa yang akan di jadikan topik pembicaraan dalam rapat besar


kali ini


Ratih pun tak menunggu lama , ia segera menyusul Aruni yang sudah


masuk ke dalam ruang rapat terlebih dulu


 Di ruang rapat

__ADS_1


Ruangan itu sudah terlihat penuh, hanya tinggal beberapa kursi yang


terlihat kosong, riuh orang-orang itu sedang berbincang satu sama lain, seperti


para karyawan , para pemegang saham pun masih bertanya-tanya perihal di


adakannya rapat kali ini


Suara riuh itu segera reda, saat Aruni memasuki ruang rapat dan di


susul oleh Ratih, seketikan ruang rapat berubah menjadi senyap, semuanya


berdiri menyambut kedatangan mereka


Mereka benar-benar terkejut dengan kedatangan Aruni di antara


mereka, sebagian dari mereka sudah mengenal Aruni dan sebagian lagi masih


bertanya-tanya siapa wanita itu, sedangkan Divta, jelas belum ada yang


mengenalnya


Ratih menuju ke kursi yang paling ujung karena dia masih sebagai


presiden direktur


“silahkan duduk ...” para direksi pun segera menempati kursinya


masing masing


“silahkan duduk nyonya Aruni ..., tuan Divta ...” Ratih menunjuk


dua kursi di depan sebelah kirinya yang masih kosong tanpak tag nama di depan


mejanya, dan mereka punduduk


“sekarang bisa kita mulai kan rapatnya ...” ucap Aruni tampak tak


sabar


“maaf nyonya ..., di sini saya yang memimpin rapat ...” ucap Ratih


tegas


“jika kau menunggu putramu, sepertinya putramu itu tidak akan


datang ..., dia sudah terbiasa hidup jadi orang kecil, dia tak akan bisa kau


harapkan lagi ...” ucap Aruni sinis


“maaf ..., ijinkan saya memperkenalkan diri anda nyonya” ucap Ratih


membuat wajah Aruni begitu terlihat kesal karena merasa ucapannya tak memancing


kemarahan Ratih


Ratih pun segera berdiri dari duduknya


“selamat pagi tuan dan nyonya ..., maafkan saya karena secara


tiba-tiba mengundang kalian semua dalam rapat ini, pasti kalian


bertanya-tanya.”


“Maka untuk itu..., ijinkan saya memperkenalkan seseorang yang


menurut kalian sedikit asing hadir dalam rapat kali ini”


“silahkan berdiri nyonya ..., tuan ...” Ratih mempersilahkan Aruni


dan Divta untuk berdiri, dan mau tak mau mereka pun mengikuti permintaan Ratih


Setelah mereka berdiri, Ratih pun melanjutkan ucapannya


“ini adalah nyonya Aruni, beliau mantan istri almarhum suami saya


..., dan di sebelahnya adalah tuan Divta ..., beliau adalah putra pertama suami


saya” mereka pun menundukkan kepalanya memberi hormat pada seluruh peserta


rapat


“terimakasih ..., silahkan duduk kembali ...” Ratih pun menyuruh


Aruni dan Divta untuk kembali duduk


“tujuan kami mengundang kalian semua adalah saya akan menyerahkan


posisi yang saya pegang sekarang pada orang yang menurut anda semua berhak dan


pantas untuk memegangnya”


Para pesarta rapat pun saling berbisik, mereka bertanya-tanya


maksud dari ucapan Ratih, sedangkan yang mereka gadang-gadang akan menjadi


penerus Ratih belum menampakkan batang hidungnya


Mereka mencari-cari kemungkinan yang paling mungkin untuk menjawab


teka-teki yang mereka buat sendiri.


BERSAMBUNG


jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


serta jangan lupa kasih vote juga ya


makacihhhhh ......

__ADS_1


__ADS_2