
Dalam keheningan dini hari. Ara sedang menahan rasa sakit yang tak
tertahan di atas brankas rumah sakit bersalin. Pada bagian pelipis dan lehernya
terlihat basah karena keringat. Keningnnya mengerut, matanya terpejam rapat,
bibirnya menipis karena merasakan tiap-tiap rasa sakit yang timbul akibat kontraksi.
Tak ada teriakan rasa sakit keluar dari mulutnya. Ia berusaha menahannya.
Ia meringkuk, telentang, meringkuk lagi, menghadap ke kanan dan
balik lagi ke kiri mencari posisi yang nyaman tapi tak kunjung ia dapatkan. Rasa sakitnya semakin menjadi.
Tangannya mencengkeram erat tangan suaminya. Bahkan sesekali suaminya mendapat
pukulan dan cakaran. Wajah Agra tak kalah paniknya. Agra terlihat lebih pucat di bandingkan Ara.
"Ibu ...., Aku harus bagaimana?" tanya Agra pada ibunya yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Sabar nak ....., semua akan baik-baik saja." ucap Ratih berusaha menenangkannya.
"Apa ibu dulu juga seperti ini saat melahirkanku?" tanya Agra lagi.
"Semua wanita akan mengalami semua ini, nak ...., ini kenikmatan tersendiri bagi seorang wanita."
Terjadi keheningan. Ara masih dengan posisinya yang sedari tadi tak pernah bisa diam dalam satu posisi yang sama. Sedangkan Agra, ia sungguh selama ini merasa bersalah pada ibunya. Bagaimana bisa selama ini dia mendiamkan ibunya. Jika perjuangan seorang ibu untuk melahirkan seorang anak sebesar ini.
Tangan Agra kembali di cengkeram kuat oleh Ara, saat tiba-tiba kontraksinya terasa lagi.
“sayang kamu yakin mau melahirkan normal?” tanya Agra khawatir. Dan
Ara hanya mengangguk sambil menahan sakit. Entah sudah berapa kali Agra
menanyakan hal itu. Ternyata Agra tak kalah tegangnya. Keringat juga nampak
membasahi bajunya. Dia benar-benar tak tega melihat istrinya sedari semalam menahan sakit.
“operasi cesar saja ya sayang ....?” tanya Agra lagi.
“enggak ....” ucap ara yang terdengar begitu di tekankan. Ara bertekat akanelahirkan normal. selama dokter belum memberi intruksi padanya untuk melakukan tindakan operasi. Ara tetap akan melahirkan normal.
"kau pucat sekali sayang, minum ya ...., atau makan sedikit saja." tawar Agra sambil menyodorkan botol minum dan sepotong roti pada istrinya.
"Aku minum saja, bby ..." Ara meraih botol minumnya dan meneguknya hingga hanya menyisakan separoh.
“teriak saja nggak papa nona..., mungkin akan mengurangi rasa
sakitnya.” Ujar dokter Sifa yang tetap setia menemani Ara atas perintah dokter
Frans. Dia hanya meninggalkan Ara untuk urusan perawatan saja. Itu pun hanya sebentar.
“iya sayang ..., nggak pa pa teriak saja, aku siap mendengarnya kok
...” bujuk Agra.
“bby ....”ucap Ara sambil menjambak suaminya.
“saya cek pembukaannnya dulu ya, nona ...” ijin dokter Sifa pada
Ara.
Ara tidur terlentang dan melipat lututnya. Dokter Sifa mulai bagian
intim Ara.
“sudah pembukaan delapan. Sebentar lagi nona ...”
“tahan sayang ...” Ara hanya mengangguk. "Kata dokter tinggal sebentar lagi."
Sedang di luar ruang bersalin itu. Nadin, Roy, Rendi, Salman dan Divta sudah berkumpul. Mereka tidak sabar menunggu kelahiran si kembar.
"Ayah ...., apa kak Ara tidak pa pa menahan sakit selama itu?" tanya Nadin pada ayahnya yang tak kalah cemas.
"Kakakmu yang paling hebat. Dia pasti kuat sayang ...." ucap Roy menenangkan putrinya. Nadin sedari tadi hanya bisa mondar-mandir di eepan ruangan. Sedangkan yang boleh masuk ke dalam ruangan hanya dua orang saja. sampai tiba saat nya melahirkan.
Sedangkan Rendi dan Divta hanya bisa terdiam dalam duduknya. tak ada kata yang terucap. dua pria yang pernah sama-sama mencintai wanita yang sedang berjuang di dalam sana.
Agra memeluk istrinya dan mengusap punggung bawah istrinya untuk
memberi rasa nyaman.
“bby ..., sakit,” akhirnya setelah belasan jam diam menahan sakit
dari kontraksi perutnya.
“kamu bisa teriak sayang. Mungkin bisa membuatmu lega.” bujuk Agra
Ara hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Agra mengecup ujung kepala
istrinya,
__ADS_1
“kamu kuat, sayang... kamu hebat.” Ara hanya mengangguk.
Dokter Sifa kembali datang setelah Ara menunggu hampir satu jam. Ia
melakukan pemeriksaan ulang pada ara.
“sudah pembukaan sempurna , nona.”
“benarkah ...” Agra tersenyum senang. kesakitan istrinya akan segera berakhir.
“kita pindah ke ruang bersalin, nona. Tuan mau ikut atau menunggu
di luar?” tanya dokter Sifa.
“a-ku ... ikut.” Sahut Agra.
"Kalau begitu ibu keluar saja ya ...." Ratih meminta ijin pada Agra untuk keluar.
"Apa benar tidak bisa dua orang yang ada di dalam?" Tanya Agra memastikan.
"Maaf tuan. Ini sudah peraturan rumah sakit. hanya boleh satu orang yang di dalam agar tidak mengganggu proses kelahiran." jelas dr. Sifa.
“mari ikut saya untuk mensterilkan diri dulu, tuan.”
Ara di bantu perawat untuk duduk di kursi roda. Kemudian di bawa ke
luar ruangan. Sedangkan Ratih, Rendi, Divta, Roy dan Ara hanya menunggu di
luar.
***
Perawat sudah berdatangan. Bersiap-siap membantu proses kelahiran.
“Eeeeergggh!” Ara sudah mulai mengejang.
“bagus, Nona ... tahan sebentar ..., tarik nafas....ngejang lagi
..., Nona ...!” intruksi dari dokter Sifa. Dan Ara melakukannya beberapa kali.
“Eeeeerrrgggghhh!” Ara mengeratkan giginya dan mengejang sekuat
tenaga. Tangannya mencengkeram erat tangan suaminya.
Agra hanya diam dengan keringat yang bercucuran. Ia membuat lengan
satunya sebagai bantalan istrinya sedang tangannya yang lain sebagai pegangan
Agra tidak menyangka jika ini akan berlangsung cukup lama. Semua
tak semudah yang ia pikirkan. Ia harus menyaksikan pengorbanan istrinya yang
terlihat sangat tersiksa. Wajah istrinya terlihat merah padam hingga
menunjukkan otot bagian pelipisnya ketika mengejang. Nafasnya terasa pendek
memburu.
“Eeeeeeeghhh!”
“Oeeeeek oooeeeek ...”
Mata Agra memerah menahan tangis saat mendengar suara baya
menangis. Ia begitu bahagia ketika melihat dokter mengangkat bayi di kedua
tangannya. Tapi ini belum selesai.
“mengejang lagi, Nona ..., satu kali lagi ...”
“Eeeeeeeeggghhhh!”
“Ooeeeeek oooeeeek ...”
Untuk kedua kalinya. Dokter kembali mengangkat bayi mungil dengan
kedua tangannya. Air mata haru meleleh di pipi Agra. Ia menatap istrinya yang
kelelahan dan mencium keningnya.
“terimakasih sayang ..., terimakasih ..., aku mencintaimu ....”
Air mata Ara ikut mengalir mendengar ucapan suaminya.
“terimakasih sayang ...” Agra memeluk ara, menelunghkupkan wajahnya
di antara bahu dan kepala istrinya yang baru saja mendapat gelar ibu. Ia
sesenggukan di pelukan istrinya.
“anak-anak kita sudah lahir, bby ...” ujar Ara, matanya mengikuti
__ADS_1
perawat yang membewa anak-anaknya ke sebuah meja. Agra mengangkat wajahnya dan
mengikuti apa yang di lihat istrinya. Mereka fokus memperhatikan perawat yang
membersihkan bayi mereka.
Tak berapa lama, perawat membawa bayi-bayi mereka yang sudah
mengenakan bedong berwarna biru dan pink.
“selamat, tuan, nona ..., putra putri anda lahir sehat dan
sempurna.”
Agra menerima bayi-bayi kecil itu dengan kedua tangannya. Agra
dengan canggung dan takut salah menggendong. Ia memperlihatkan pada istrinya.
“mereka boy dan girl, sayang.”
Air mata Ara kembali meneteskan air matanya melihat bayi-bayi
kecilnya. Tangannya yang masih lemah berusaha meraih putra putrinya.
“terimakasih sudah hadir dalam hidup mami dan papi, sayang...,
kalian anak-anak yang luar biasa.”
“aku adzani mereka dulu ya sayang ...” ara mengangguk. Membiarkan
suaminya melakukan kewajibannya pada putra putrinya. Agra mengadzani mereka secara bergantian.
***
Ara sudah berada di atas tempat tidur ruang perawatan. Keluarganya
berdiri mengitari tempat tidur. Kedua bayi di samping kiri dan kanan Ara yang
menjadi pusat perhatian mereka.
“Aku benar-benar takjub dengan mereka kak..., mereka begitu
menggemaskan.” Mata Nadin tak henti terpukau menatap kedua keponakannya.
"Hai ... baby boy ...., hay baby girl." sapa Dr. Frans. "Maaf ya uncle nggak bisa menyambut kelahiran kalian tadi. tapi uncle janji akan menemani kalian bermain setiap hari."
"Makanya nikah ...., biar punya baby sendiri ...." Ledek Agra pada sahabatnya.
"Jangan salah ...., aku masih dalam proses pendekatan. kalau aku sih nggak usah di ragukan. aku sudah beberapa kali perpacaran. Yang harus kalian khawatirkan tuh ..., itu .... si manusia setengah robot, entah kapan dia akan nikah. sama perempuan aja takut ...." ledek dr. Frans sambil melirik Rendi dengan senyum jahilnya. sedang yang menjadi pusat omongan hanya mendelik kesal.
"Selamat ya atas kelahiran keponakan-keponakanku yang menggemaskan ini." ucap Divta pada Ara.
"iya kak ...., Semoga tak lama lagi kak Divta juga akan mendapatkan kebahagiaan yang sama." do'a Ara untuk Divta. dan Divta hanya menanggapinya dengan senyuman. Agra menepuk punggung Divta.
"Bang Divta orang baik ...., aku yakin Tuhan akan mempertemukan kakak dengan orang baik juga."
"Makasih ...., karena kalian sudah menjadi keluarga terbaik untukku."
"Ibu senang ...., melihat kalian akur seperti ini ...., semoga kebahagiaan itu akan berlangsung selamanya. kalian menjadi saudara yang kompak. Dan cucu-cucu ibu ...., akan menjadi peri-peri kecil yang akan menyinari kehidupan kita."
"Amiiiin." Semua orang mengamini doa Ratih.
“sudah ada nama untuk putramu, Gra?” tanya Roy. Ya Roy yang sedari tadi hanya diam kini mulai membuka suara.
"Nama?" Agra terlihat bingung. kemudian sedikit berpikir. “SAGARA dan SANAYA.” Jawab Agra, “itu nama mereka yah ...”
“nama yang bagus, bby ...” puji Ara.
***
**END
TAMAT
Serius tamat ya, tapi tenang akan ada extra part nya ya nanti. tetap di tunggu.
Dan besok akan ada cerita nya bang Rendi ya.
besok bisa langsung klik profil aku untuk nyari ceritanya bang Rendi atau nungguin pengumuman di sini ya.
besok akan aku umumkan. jangan di unfavorit ya ....., karena akan ada extra part nya. sewaktu-waktu.
untuk Reader:
Author ucapkan terimakasih atas dukungan kalian selama ini. atas Like . Comentar dan Vote nya ya
Maaf jika Author tidak bisa membalas komentar kalian satu persatu ya. tapi Author selalu menyempatkan diri buat baca koment-koment dari kalian semua.
babay ...., sampai jumpa lagi sama babang Rendi ya
judulnya
__ADS_1
MY BLOCK OF ICE**