My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Jauhi dia


__ADS_3

Sanaya terus menarik tangan Adit ke luar butik, ia terlalu syok dengan kenyataan yang baru ia temui ini.


"Nay .....!" panggil Adit tapi Sanaya masih terus menarik tangan Adit.


"Nay!"


"Apa sih Dit!?" bentak Sanaya.


Sanaya menoleh padanya. Ia menatap Adit kesal.


"Lo nggak pa pa?"


Sanaya memilih melepaskan tangan Adit, mereka ternyata sudah berjalan begitu jauh melintasi trotoar. Gadis itu memilih duduk di sebuah pot bunga besar yang terbuat dari semen yang ada di samping trotoar. Untung ada pohon pucuk merah yang bisa melindunginya dari panasnya sinar matahari soe yang tepat mengenai mereka.


Adit ikut duduk di sampingnya, ia mengambil sesuatu dari tasnya.


"Minumlah!"


Sanaya dengan cepat meraihnya botol itu dan meneguknya.


"Haus apa kesetanan!?"


Sanaya segera menoleh ke sampingnya, "Ikhlas nggak sih ngasihnya?"


"Sewot banget! Ayo mending makan aja, dari pada entar gue yang lo makan ...!" ucap Adit sabil berdiri dan menarik tangan Sanaya.


"Kemana?"


"Ya cari tempat makan terdekat aja!"


Adit terus mengajak Sanaya berjalan hingga akhirnya mereka berhenti di pertigaan gang kecil.


"Itu dia ....!"


"Apa?"


"Ada mang bakso!"


Benar saja, di sama ada gerobak bakso yang sedang mangkal. Lokasinya juga lumayan enak untuk sekedar beristirahat karena dekat dengan pohon besar.


"Mang baksonya dua mangkuk ya!" ucap Adit tanpa melepas tangan Sanaya.


"Iya dek, tunggu di sana ya!"


Mang tukang bakso menunjuk ke kursi panjang yang terbuat dari kayu yang ada di bawah pohon tanpa meja.


Adit pun mengajak Sanaya duduk di sana. Walaupun anak sultan tetap saja dia sudah terbiasa berada di tempat yang seperti ini. Memang tidak sering tapi cukup memberi pengalaman yang berharga.


"Lo nggak keberatan kan gue ajak makan di sini?" tanya Adit yang memperhatikan Sanaya tetao saja diam.


"Nggak!"


"Nggak tapi kok mukanya tetep jutek sih?"


"Nggak semua harus gue ceritain kan sama lo!"


"Okey ...! Asal lo seneng deh pokoknya!"


Tidak berapa lama mang tukang bakso pun mengantarkan dua mangkok bakso untuk mereka dan menawarkan minuman. Adit pun memilih dua gelas es teh untuk mereka.


Mereka mulai menikmati baksonya dengan pikiran masing-masing.


"Jadi lo belum tahu kalau Abimanyu dan Ariel saudaraan?" pertanyaan itu yang tiba-tiba muncul di benak Adit.


Pasal nya, keluarga Sanaya sudah mengenal keluarga Abimanyu sejak dulu.


"Belum!"


"Kok bisa?"

__ADS_1


"Ya mau gimana lagi, emang gitu kenyataannya!"


"Nyokap sama bokap lo?"


"Mungkin!"


Hmmmm, Adit memilih diam dan mengartikan segalanya sendiri tanpa bertanya pada Sanaya lagi. Ia baru ingat, gadis yang berfoto bersama Sagara adalah Ariel. Itu berarti Sagara maupun Abimanyu sudah bertemu dengan mama nya Abimanyu. Mungkin Abimanyu mengetahui kenyataan itu.


"Kok jadi lo sih yang bengong?" tanya Sanaya.


"Bukan apa-apa! Sudah selesai kan? Ayok gue anter pulang!"


Adit pun berdiri terlebih dulu dan membayar dua mangkuk bakso dan dua gelas es teh nya.


Mereka kembali berjalan menyusuri trotoar. Jalannya hanya jalan kecil jadi mungkin tidak di lalui oleh angkutan umum.


Hingga mereka sampai juga di ujung gang, mereka harus kembali menunggu bus atau angkot yang lewat.


...🍀🍀🍀...


Di tempat lain, Ariel terus mencecar Viona dengan banyak pertanyaan terkait kedatangan Sanaya ke tempat itu.


"Kamu memang selalu saja mencurigai mama!"


"Soalnya mama memang nggak bisa di percaya!"


Ariel pun kembali mengambil tasnya dan hendak meninggalkan mamanya.


"Ariel, mau ke mana?" tanya Viona saat langkah Ariel sudah mencapai ambang pintu.


Ariel menoleh kembali, "Ariel pulang!"


"Urusan kamu sama mama belum selesai!"


"Mama urus saja sendiri!"


Ariel pun benar-benar meninggalkan tempat itu. Ia keluar dari dalam butik.


Pemilik mobil pun keluar, sepertinya ia juga menyadari keberadaan Ariel di sana.


"Ariel, mau ke mana?"


"Pulang!" jawab Ariel dengan nada kesalnya.


"Sebenarnya ada yang ingin gue bicarakan sama lo, ada waktu sebentar nggak?"


Ariel mengerutkan keningnya, "Ada apa?"


"Ntar lo juga tahu, kita ke kafe terdekat ya!"


Akhirnya Ariel pun ikut, dia adalah Abimanyu. Ia sebenarnya datang untuk membicarakan kerja sama perusahaan dengan Viona.


Ia sebelumnya tidak tahu jika butik yang melakukan kerja sama dengan perusahaan Sagara adalah butik milik Viona. Jika tahu mungkin dia akan berpikir puluhan kali untuk melakukannya.


Mereka pun sampai di kafe terdekat, dua gelas minuman dingin sudah ada di meja.


"Ada apa?" tanya Ariel.


"Sebaiknya lo jauhi Sagara!" ucap Abimanyu.


Seketika Ariel melotot padanya. Ia benar-benar tidak tahu jalan pikiran pria di depannya itu. Padahal dia tahu Abimanyu adalah sahabat terbaik Sagara.


"Lo nggak salah?"


Abimanyu menggelengkan kepalanya, "Nggak! Gue punya alasan yang kuat mengatakan hal ini Ril?"


"Alasannya apa?"


"Belum waktunya lo tahu, tapi ini semua gue lakuin karena gue peduli sama lo dan Gara!"

__ADS_1


"Peduli apanya? Gue nggak mau nurut sama lo kalau nggak ada alasan yang tepat!"


"Jangan sampai lo entar nyesel Ril, percaya sama gue!"


Belum sampai Ariel menimpali ucapan Abimanyu, tiba-tiba ponselnya berdering. Ada panggilan telpon.


"Bentar!"


Ariel segera merogoh tasnya dan mengambil benda pipih itu.


"Mbak Nia!" gumamnya lirih. Ia pun segera menggeser tombol hijau.


"Iya hallo mbak, ada apa?"


"Kamu di mana Ril?" tanya di seberang sama terdengar panik.


"Aku, aku di luar mbak, ada apa?"


"Pak Jerry, Ril, pak Jerry!" suaranya terdengar semakin panik.


"Iya papa, papa kenapa mbak?" Sekarang Ariel juga terlihat panik.


"Pak Jerry tiba-tiba tidak sadarkan diri Ril!"


"Papa ...!"


Abimanyu yang mendengarnya pun segera mendekat dan mengusap punggung Ariel. Abimanyu mengambil alih ponsel Ariel.


"Hallo mbak saya temannya Ariel, ada apa?"


"Papa nya Ariel tiba-tiba tidak sadarkan diri di kafe!"


"Begini saja, mbak cepat panggil ambulan dan bawa ke rumah sakit terdekat, saya dan Ariel akan langsung menyusul di rumah sakit!"


"Baik!"


Abimanyu pun segera mematikan sambungan telponnya. Ia menyodorkan minuman pada Ariel yang terlhat sangat syok.


"Minumlah dulu!"


Ariel pun segera meminumnya.


"Gue akan ngantar lo ke rumah sakit!"


"Makasih ya!"


"Ntar saja kalau sudah sampai di rumah sakit terimakasih nya!"


Mereka pun segera meninggalkan kafe dan Kembali masuk ke dalam mobil.


"Lo tahu jalan tikus kan? Soalnya jam-jam segini jalanan macet banget!"


"Tahu, papa biasa lewat sana soalnya!"


"Ya sudah lo komandoin gue ya!"


Ariel pun menganggukkan kepalanya. Mobil nya melaju melewati jalan kecil agar tidak terkena macet. Hingga mereka sampai di sebuah pertigaan jalan.


"Bi ...., itu Nay sama Adit!" ucap Ariel sambil menunjuk ke pinggir jalan. Terlihat Adit dan Sanaya sedang makan bakso berdua.


Nay ...., kamu sudah ada yang jaga sekarang, mungkin sekarang kamu nggak butuh aku ..., tapi kenapa tetap saja rasanya sangat sakit ...?


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2