My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 44


__ADS_3

"merelakan bukan berarti menyerah, tetapi menyadari bahwa ada hal yang tidak bisa dipaksakan"


***


Saat bi Anna melihat Ara turun , bi anna pun segera menghampiri Ara


“selamat pagi nona, silahkan duduk” bi Anna menggeser kursi untuk


duduk Ara


“nyonya ..., maksudku ibu kemana bi, kok masih sepi?”


“nyonya sebentar lagi turun nona” dan benar saja belum selesai


mereka berbicara nanpak dari atas ibu Agra turun bersamaan dengan Agra dan


Rendi dari sisi tangga yang berbeda


Ara pun segera bangun dari duduknya, sedangkan bi Anna sudah mundur


beberapa langkah dari meja makan


“selamat pagi bu ...” Ara menundukkan kepalanya memberi hormat


“duduklah  ...” dengan lembut


ibu Agra menyuruh Ara untuk duduk kembal, Ratih pun duduk di meja paling ujung,


sedangkan Agra dan Rendi yang berada di belakang, ikut menarik kursi , agra


duduk di samping Ara sedangkan Rendi duduk berhadapan dengan Ara,


Ara mengambilkan makanan untuk Agra, baru mengambil makanan untuk


dirinya sendiri, tak ada pembicaraan yang keluar selama sarapan, suasana


sarapan yang seharusnya hangat terlihat begitu canggung


“ibu harus berangkat ke singapura untuk dua minggu ke depan” Ratih


membuka pembicaraan, Agra hanya menatapnya sekilas, kamu nggak pa pa kan aku


tinggal?” kemudia tatapannya terarah pada Ara, Ara yang merasa di tanya segera


menoleh pada Ratih


“nggak pa pa bu” Ara terlihat gugup


“kamu mau kemana, dengan pakaian resmi seperti itu?” tanya Ratih


saat memperhatikan pakaian Ara


“mau kerja bu”


“nggak, mulai hari kamu nggak boleh kerja,kamu mentu rumah ini,  kamu sedang hamil jadi harus di rumah aja,


nanti setelah melahirkan terserah,  bi


Anna yang akan menyiapkan semua kebutuhan kamu” mendengar pernyataan ibunya


Agra dan Ara hanya bisa saling bertatap

__ADS_1


“tapi bu ...” Ara mencoba untuk protes


“nggak ada tapi tapi, apapun yang ibu ucapkan adalah perintah,kamu


boleh ke kantor hanya untuk mengantarkan makan siang suamimu”


“baik bu” Ara akhirnya hanya bisa pasrah


“ ya sudah ibu berangkat” ibu Agra pun beranjak dari duduknya


diikuti semua yang ada di ruang makan


“apa perlu saya antar nyonya?” tanya Rendi yang sudah berjalan


sejajar dengan Ratih


“tidak perlu, aku pakek sopir, kamu bereskan yang ada di sini”


“baik nyonya” Ratih pun tersenyum ramah pada Rendi dan mengelus


bahu Rendi sebentar dan segera mendekati mobil yang sudah terparkir di depan


rumah


“silahkan nyonya” pak supir sudah membukakan pintu mobil untuk


Ratih, Ratih menoleh sebentar pada Rendi dan segera masuk ke dalam mobil


Rendi segera menghampiri Agra setelah mobil Ratih tak terlihat


lagi, Agra pun juga bersiap untuk berangkat ke kantor, tapi Ara terus saja


mengekori Agra, setelah merasa aman dari jangkauan bi Anna, Ara pun segera


“augh ...., apaan sih kamu?” Agra mengaduh saat kakinya di injak


Ara dengan sangat keras


Rendi yang sudah berada tak jauh di depan Agra segera menghampiri


“ada apa pak?” Rendi merasa khawatir dengan bosnya


“ah..., enggak , kamu ke mobil aja, aku bicara dulu sama agra” Ara


pun segera melingkarkan tangannya ke tangan Agra ,


“iya kan sayang ...” Ara memelototkan matanya pada Agra memberi


kode


 dan Agra pun hanya bisa


tersenyum menahan sakit


“baiklah ..., saya tunggu di mobil pak” Agra hanya mengagguk


Setelah Rendi menjauh dari mereka, Agra segera menoleh pada Ara


“ada apa sih?” Agra pun akhirnya berbisik pada Ara


“apanya yang apa,  bagaimana

__ADS_1


ini? Aku bahkan nggak boleh kerja, kenapa kamu diam saja sih tadi?” Ara


meluapkan kemarahannya, walaupun dengan suara yang pelan sambil


menggertak-gertakkan kakinya ke lantai


“memang aku harus ngomong apa? Ngomong kalau kamu nggak hamil,


bisa-bisa kita di usir dari sini”


“hah ..., separah itu ...”


“ya iya lah ..., makanya kamu yang sabar, kalau bisa kamu beneran


hamil” bengan tatapan menggoda


“hah...,”Ara pun hanya bisa melotot ke arah Agra


“ya udah hati-hati di rumah sayang, jagain anak kita ya ...” Agra


pun lagi-lagi menggoda sambil berlalu meninggalkan Ara yang sudah sangat kesal


“dasar ....., menyebalkan” gerutu Ara, setelah mobil yang du


kendarai Agra dan Rendi menunggalkan halaman rumah dan tak terlihat lagi, Ara


kembali ke dalam rumah dengan wajah murung, ia melepaskan sepatu tingginya dan


mengeluarkan kemejanya hingga tak rapi lagi, wajahnya benar-benar prustasi


“nona ...., nona tidak pa pa?” bi anna benar-benar khawatir saat


melihat Ara masuk ke dalam rumah dengan penampilan yang sangat berbeda dari


penampilannya ketika mengantar Agra berangkat kerja, kini penawmpilannya


benar-benar berantakan


“aku pasti sangat bosan seharian di rumah, bukan sehari tapi setiap


hari” sepanjang hari ia habiskan waktunya untuk menggeruti dan mengutuki


nasibnya sendiri


-


-


-


-


-


-


-


KAKAK JANGAN LUPA LIKE DAN KESIH KOMENTAR YA


DAN TINGGALKAN BEBERAPA VOTE JUGA

__ADS_1


 


 


__ADS_2