
"merelakan bukan berarti menyerah, tetapi menyadari bahwa ada hal yang tidak bisa dipaksakan"
***
Saat bi Anna melihat Ara turun , bi anna pun segera menghampiri Ara
“selamat pagi nona, silahkan duduk” bi Anna menggeser kursi untuk
duduk Ara
“nyonya ..., maksudku ibu kemana bi, kok masih sepi?”
“nyonya sebentar lagi turun nona” dan benar saja belum selesai
mereka berbicara nanpak dari atas ibu Agra turun bersamaan dengan Agra dan
Rendi dari sisi tangga yang berbeda
Ara pun segera bangun dari duduknya, sedangkan bi Anna sudah mundur
beberapa langkah dari meja makan
“selamat pagi bu ...” Ara menundukkan kepalanya memberi hormat
“duduklah ...” dengan lembut
ibu Agra menyuruh Ara untuk duduk kembal, Ratih pun duduk di meja paling ujung,
sedangkan Agra dan Rendi yang berada di belakang, ikut menarik kursi , agra
duduk di samping Ara sedangkan Rendi duduk berhadapan dengan Ara,
Ara mengambilkan makanan untuk Agra, baru mengambil makanan untuk
dirinya sendiri, tak ada pembicaraan yang keluar selama sarapan, suasana
sarapan yang seharusnya hangat terlihat begitu canggung
“ibu harus berangkat ke singapura untuk dua minggu ke depan” Ratih
membuka pembicaraan, Agra hanya menatapnya sekilas, kamu nggak pa pa kan aku
tinggal?” kemudia tatapannya terarah pada Ara, Ara yang merasa di tanya segera
menoleh pada Ratih
“nggak pa pa bu” Ara terlihat gugup
“kamu mau kemana, dengan pakaian resmi seperti itu?” tanya Ratih
saat memperhatikan pakaian Ara
“mau kerja bu”
“nggak, mulai hari kamu nggak boleh kerja,kamu mentu rumah ini, kamu sedang hamil jadi harus di rumah aja,
nanti setelah melahirkan terserah, bi
Anna yang akan menyiapkan semua kebutuhan kamu” mendengar pernyataan ibunya
Agra dan Ara hanya bisa saling bertatap
__ADS_1
“tapi bu ...” Ara mencoba untuk protes
“nggak ada tapi tapi, apapun yang ibu ucapkan adalah perintah,kamu
boleh ke kantor hanya untuk mengantarkan makan siang suamimu”
“baik bu” Ara akhirnya hanya bisa pasrah
“ ya sudah ibu berangkat” ibu Agra pun beranjak dari duduknya
diikuti semua yang ada di ruang makan
“apa perlu saya antar nyonya?” tanya Rendi yang sudah berjalan
sejajar dengan Ratih
“tidak perlu, aku pakek sopir, kamu bereskan yang ada di sini”
“baik nyonya” Ratih pun tersenyum ramah pada Rendi dan mengelus
bahu Rendi sebentar dan segera mendekati mobil yang sudah terparkir di depan
rumah
“silahkan nyonya” pak supir sudah membukakan pintu mobil untuk
Ratih, Ratih menoleh sebentar pada Rendi dan segera masuk ke dalam mobil
Rendi segera menghampiri Agra setelah mobil Ratih tak terlihat
lagi, Agra pun juga bersiap untuk berangkat ke kantor, tapi Ara terus saja
mengekori Agra, setelah merasa aman dari jangkauan bi Anna, Ara pun segera
“augh ...., apaan sih kamu?” Agra mengaduh saat kakinya di injak
Ara dengan sangat keras
Rendi yang sudah berada tak jauh di depan Agra segera menghampiri
“ada apa pak?” Rendi merasa khawatir dengan bosnya
“ah..., enggak , kamu ke mobil aja, aku bicara dulu sama agra” Ara
pun segera melingkarkan tangannya ke tangan Agra ,
“iya kan sayang ...” Ara memelototkan matanya pada Agra memberi
kode
dan Agra pun hanya bisa
tersenyum menahan sakit
“baiklah ..., saya tunggu di mobil pak” Agra hanya mengagguk
Setelah Rendi menjauh dari mereka, Agra segera menoleh pada Ara
“ada apa sih?” Agra pun akhirnya berbisik pada Ara
“apanya yang apa, bagaimana
__ADS_1
ini? Aku bahkan nggak boleh kerja, kenapa kamu diam saja sih tadi?” Ara
meluapkan kemarahannya, walaupun dengan suara yang pelan sambil
menggertak-gertakkan kakinya ke lantai
“memang aku harus ngomong apa? Ngomong kalau kamu nggak hamil,
bisa-bisa kita di usir dari sini”
“hah ..., separah itu ...”
“ya iya lah ..., makanya kamu yang sabar, kalau bisa kamu beneran
hamil” bengan tatapan menggoda
“hah...,”Ara pun hanya bisa melotot ke arah Agra
“ya udah hati-hati di rumah sayang, jagain anak kita ya ...” Agra
pun lagi-lagi menggoda sambil berlalu meninggalkan Ara yang sudah sangat kesal
“dasar ....., menyebalkan” gerutu Ara, setelah mobil yang du
kendarai Agra dan Rendi menunggalkan halaman rumah dan tak terlihat lagi, Ara
kembali ke dalam rumah dengan wajah murung, ia melepaskan sepatu tingginya dan
mengeluarkan kemejanya hingga tak rapi lagi, wajahnya benar-benar prustasi
“nona ...., nona tidak pa pa?” bi anna benar-benar khawatir saat
melihat Ara masuk ke dalam rumah dengan penampilan yang sangat berbeda dari
penampilannya ketika mengantar Agra berangkat kerja, kini penawmpilannya
benar-benar berantakan
“aku pasti sangat bosan seharian di rumah, bukan sehari tapi setiap
hari” sepanjang hari ia habiskan waktunya untuk menggeruti dan mengutuki
nasibnya sendiri
-
-
-
-
-
-
-
KAKAK JANGAN LUPA LIKE DAN KESIH KOMENTAR YA
DAN TINGGALKAN BEBERAPA VOTE JUGA
__ADS_1