My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 16


__ADS_3

Pagi ini Ara sedikit terlambat , tapi ia memang sengaja datang terlambat, jam 09.00 ara baru sampai kantor, ia kembali ke kantor dengan membawa sebuah amplop


berwarna coklat,


setelah sampai di depan ruang direktur ara dengan ragu-ragu ia hendak mengetuk pintu


 yang merupakan ruangan Agra


 "aku harus bisa ..., enak aja dia mau kurang ajar sama gue, emang dia pikir dia siapa? aku pasti bisa" Ara seperti hendak merapalkan mantra tapi mantra mengumpati bosnya


Tapi karena tekatnya sudah bulat akhirnya ara pun memberanikan diri


untuk mengetuk pintu


Tok tok tok


Ara pun dengan perlahan membuka , ia memasukkan kepalanya terlebih


dahulu dan mengedarkan pandangannya ke segala arah tapi tak juga menemukan yang


ia cara


“hemmmm”  suara itu datang dari belakang tubuhnya Ara, ara benar-benar terkejut, ia


pun membenarkan cara berdirinya, setelah berdiri sempurna ia pun membalikkan


badannya


“ada apa?” ternyata Agra berdiri di hadapannya “ayo masuk, apa kau


akan terus menghalangi jalanku seperti itu” lagi-lagi agra bicara dingin seakan tidak terjadi apa-apa kemarin, membuat Ara tersenyum kecut


Ara pun segera menyingkir dari pintu, Agra masuk kedalam ruangan


dan  Ara pun segera mengekor  di belakangnya


Agra pun langsung duduk di kursinya, ia menautkan alisnya saat


melihat Ara masih berdiri mematung di depan mejanya


“kenapa kau berdiri di situ, cepat duduk di tempatmu” agra memberi perintah


“maaf pak sebenarnya saya ke sini mau menyerahkan ini” Ara pun

__ADS_1


menggeser amplop coklat dari tangannnya hingga ke depan Agra, Agra mengambil


amplop itu dan membukannya, ia pun sedikit terkejut bahwa apa yang ia dengar


kemarin adalah benar, kemudian ia memfokuskan diri


“hemmmm” Agra berdehem untuk memulai bicara “duduk ...” Agra


menunjuk bangku di depan mejanya, Ara pun hanya bisa pasrah, setelah Ara duduk,


Agra kembali menatap ara dan mengambil sebuah berkas berwarna sampul biru


“baca ini” Agra pun menyerahkan pada Ara map itu , ara hanya membolak balikan map itu tanpa berkeinginan untuk membacanya


“apa ini pak?”


“kamu baca sendir, bisa baca kan? rasanya tak perlulah saya membacakan, lagian mata kamu juga sudah empat”  Ara memutar bola matanya kesal, Ara pun dengan terpaksa membuka berkas itu, ia membaca satu


persatu poinnya


"ini apa pak?" Ara benar-benar tak mengerti dengan yang iaya baca, isinya seperti sebuah kontrak kerja


‘itu perjanjian kerja kita, semua karyawan yang akan mengundurkan


diri harus menyelesaikan tugasnya selama satu bulan jika tidak maka akan


“hah...” Ara benar-benar terkejut dengan apa yang ia dengar dan ia baca, lima puluh juta? uang dari mana? bahkan tabungannya selama ini selalu habis buat keperluannya dan biaya cicilan ini itu oleh Dio


“biasa aja , nggak usah terkejut-terkejut amat ...” lagi-lagi Agra begitu santai menanggapinya, membuat Ara benar-benar kesal, bisa-bisanya dia bersikap seperti itu? sungguh menyebalkan, batin Ara


“tapi pak ...” Ara berusaha menawar agar lebih ringan, ia tidak mungkin bekerja mersama orang yang egois seperti itu


“disitu sudah ada tanda tangan kamu di atas matrei, jadi jika kamu mau melanggarnya siap-sipa saja aku tuntut, atas tuduhan pelanggaran kontrak kerja, gimana?"


“heh ..., baiklah aku akan menyelesaikan tugasku” mau tak mau ara hanya bisa pasrah dari pada harus di penjara, Agra tersenyum samar, ternyata tidak sia-sia ia membuat kontrak kerja itu


 


Ara beranjak dari duduknya hendak menuju ke meja kerjanya, tapi lagi-lagi langkahnya terhenti saat agra kembali bicara


“dan lagi, kamu harus tetap kerja di sini jika aku bisa mendapatkan


bukti kelakuan buruk si brengsek itu” peringatan agra seperti sebuah cibiran bagi Ara, lagi-lagi Ara merasa Agra mencemooh Dio

__ADS_1


“apa? Bapak ini apa apaan sih, saya nggak suka bapak mencampuri


urusan pribadiku” kalau tidak karena surat perjanjian itu ara pasti sudah melempar Agra dengan mak yang ada di depannya


“terserah aku, aku yang bosnya di sini, suka –suka aku” Agra tersenyum puas menerima kekalahan Ara


“dasar egois ...” Ara pun berdiri menuju ke pantry untuk mengambil minuman, setelah sampai di pantry ia segera menuang air putih dan meneguknya, ia menyandarkan punggungya di meja dengan kedua tangannya menyanggah tubuhnya


"aku bisa gila jika lama-lama sama dia ..., dasar pria egois, tak punya hati ..., menyebalkan ..." Ara terus saja mengumpat hingga tanpa di sadari ada seseorang yang sudah berdiri di ambang pintu memperhatikannya


"ara ..., kau tidak pa pa?" orang itu adalah rendi, Ara pun segera menoleh ke sumber suara


"pak Rendi ...." Rendi pun menghampiri Ara


"apa ada masalah ...?"


"tidak ..., aku hanya ..." ara merasa ragu untuk bercerita, bagaimana ia bisa bercerita pada Rendi yang merupakan sahabat bosnya itu


"ceritalah ..., aku janji tidak akan memceritakan ini pada pak Agra" Rendi berusaha meyakinkan ara dengan senyumnya yang begitu manis


"aku benar-benar sebal sama si bos, bos kita robot atau apa sih ,..., kadang marah kadang menyebalkan, rasanya pengen muntah kalau teruis dekat sama dia ..." Rendi hanya menanggapinya dengan senyum, rendi merasa ara begitu manis saat sedang marah-marah,


"pantas saja Agra suka menggoda gadis ini ..." batin ara


 setelah puas mencurahkan perasaannya, ara pun kembali ke dalam ruanganya dan ternyata bosnya itu masih setia di dalam ruangan, membuat kemarahannya Ara semakin memuncak


 


Brakkk


Dengan sengaja Ara membanting tasnya keras untuk meluapkan


kekesalannya pada Agra


Ara pun duduk dan membuka –buka file yang sempat terlupakan kemarin


dengan masih memasang wajah cemberutnya


“lucu sekali dia kalau sedang marah ...” Agra pun malah tersenyum


senang melihat tingkah Ara yang dia rasa sangat menggemaskan


“jangan marah terus, kaca mata kamu semakin tebal tuh ...”

__ADS_1


“bukan urusan bapak ...” Ara tak mau menatap bosnya yang memang


punya hobi menggodanya itu


__ADS_2