
Pagi ini Ara sedikit terlambat , tapi ia memang sengaja datang terlambat, jam 09.00 ara baru sampai kantor, ia kembali ke kantor dengan membawa sebuah amplop
berwarna coklat,
setelah sampai di depan ruang direktur ara dengan ragu-ragu ia hendak mengetuk pintu
yang merupakan ruangan Agra
"aku harus bisa ..., enak aja dia mau kurang ajar sama gue, emang dia pikir dia siapa? aku pasti bisa" Ara seperti hendak merapalkan mantra tapi mantra mengumpati bosnya
Tapi karena tekatnya sudah bulat akhirnya ara pun memberanikan diri
untuk mengetuk pintu
Tok tok tok
Ara pun dengan perlahan membuka , ia memasukkan kepalanya terlebih
dahulu dan mengedarkan pandangannya ke segala arah tapi tak juga menemukan yang
ia cara
“hemmmm” suara itu datang dari belakang tubuhnya Ara, ara benar-benar terkejut, ia
pun membenarkan cara berdirinya, setelah berdiri sempurna ia pun membalikkan
badannya
“ada apa?” ternyata Agra berdiri di hadapannya “ayo masuk, apa kau
akan terus menghalangi jalanku seperti itu” lagi-lagi agra bicara dingin seakan tidak terjadi apa-apa kemarin, membuat Ara tersenyum kecut
Ara pun segera menyingkir dari pintu, Agra masuk kedalam ruangan
dan Ara pun segera mengekor di belakangnya
Agra pun langsung duduk di kursinya, ia menautkan alisnya saat
melihat Ara masih berdiri mematung di depan mejanya
“kenapa kau berdiri di situ, cepat duduk di tempatmu” agra memberi perintah
“maaf pak sebenarnya saya ke sini mau menyerahkan ini” Ara pun
__ADS_1
menggeser amplop coklat dari tangannnya hingga ke depan Agra, Agra mengambil
amplop itu dan membukannya, ia pun sedikit terkejut bahwa apa yang ia dengar
kemarin adalah benar, kemudian ia memfokuskan diri
“hemmmm” Agra berdehem untuk memulai bicara “duduk ...” Agra
menunjuk bangku di depan mejanya, Ara pun hanya bisa pasrah, setelah Ara duduk,
Agra kembali menatap ara dan mengambil sebuah berkas berwarna sampul biru
“baca ini” Agra pun menyerahkan pada Ara map itu , ara hanya membolak balikan map itu tanpa berkeinginan untuk membacanya
“apa ini pak?”
“kamu baca sendir, bisa baca kan? rasanya tak perlulah saya membacakan, lagian mata kamu juga sudah empat” Ara memutar bola matanya kesal, Ara pun dengan terpaksa membuka berkas itu, ia membaca satu
persatu poinnya
"ini apa pak?" Ara benar-benar tak mengerti dengan yang iaya baca, isinya seperti sebuah kontrak kerja
‘itu perjanjian kerja kita, semua karyawan yang akan mengundurkan
diri harus menyelesaikan tugasnya selama satu bulan jika tidak maka akan
“hah...” Ara benar-benar terkejut dengan apa yang ia dengar dan ia baca, lima puluh juta? uang dari mana? bahkan tabungannya selama ini selalu habis buat keperluannya dan biaya cicilan ini itu oleh Dio
“biasa aja , nggak usah terkejut-terkejut amat ...” lagi-lagi Agra begitu santai menanggapinya, membuat Ara benar-benar kesal, bisa-bisanya dia bersikap seperti itu? sungguh menyebalkan, batin Ara
“tapi pak ...” Ara berusaha menawar agar lebih ringan, ia tidak mungkin bekerja mersama orang yang egois seperti itu
“disitu sudah ada tanda tangan kamu di atas matrei, jadi jika kamu mau melanggarnya siap-sipa saja aku tuntut, atas tuduhan pelanggaran kontrak kerja, gimana?"
“heh ..., baiklah aku akan menyelesaikan tugasku” mau tak mau ara hanya bisa pasrah dari pada harus di penjara, Agra tersenyum samar, ternyata tidak sia-sia ia membuat kontrak kerja itu
Ara beranjak dari duduknya hendak menuju ke meja kerjanya, tapi lagi-lagi langkahnya terhenti saat agra kembali bicara
“dan lagi, kamu harus tetap kerja di sini jika aku bisa mendapatkan
bukti kelakuan buruk si brengsek itu” peringatan agra seperti sebuah cibiran bagi Ara, lagi-lagi Ara merasa Agra mencemooh Dio
__ADS_1
“apa? Bapak ini apa apaan sih, saya nggak suka bapak mencampuri
urusan pribadiku” kalau tidak karena surat perjanjian itu ara pasti sudah melempar Agra dengan mak yang ada di depannya
“terserah aku, aku yang bosnya di sini, suka –suka aku” Agra tersenyum puas menerima kekalahan Ara
“dasar egois ...” Ara pun berdiri menuju ke pantry untuk mengambil minuman, setelah sampai di pantry ia segera menuang air putih dan meneguknya, ia menyandarkan punggungya di meja dengan kedua tangannya menyanggah tubuhnya
"aku bisa gila jika lama-lama sama dia ..., dasar pria egois, tak punya hati ..., menyebalkan ..." Ara terus saja mengumpat hingga tanpa di sadari ada seseorang yang sudah berdiri di ambang pintu memperhatikannya
"ara ..., kau tidak pa pa?" orang itu adalah rendi, Ara pun segera menoleh ke sumber suara
"pak Rendi ...." Rendi pun menghampiri Ara
"apa ada masalah ...?"
"tidak ..., aku hanya ..." ara merasa ragu untuk bercerita, bagaimana ia bisa bercerita pada Rendi yang merupakan sahabat bosnya itu
"ceritalah ..., aku janji tidak akan memceritakan ini pada pak Agra" Rendi berusaha meyakinkan ara dengan senyumnya yang begitu manis
"aku benar-benar sebal sama si bos, bos kita robot atau apa sih ,..., kadang marah kadang menyebalkan, rasanya pengen muntah kalau teruis dekat sama dia ..." Rendi hanya menanggapinya dengan senyum, rendi merasa ara begitu manis saat sedang marah-marah,
"pantas saja Agra suka menggoda gadis ini ..." batin ara
setelah puas mencurahkan perasaannya, ara pun kembali ke dalam ruanganya dan ternyata bosnya itu masih setia di dalam ruangan, membuat kemarahannya Ara semakin memuncak
Brakkk
Dengan sengaja Ara membanting tasnya keras untuk meluapkan
kekesalannya pada Agra
Ara pun duduk dan membuka –buka file yang sempat terlupakan kemarin
dengan masih memasang wajah cemberutnya
“lucu sekali dia kalau sedang marah ...” Agra pun malah tersenyum
senang melihat tingkah Ara yang dia rasa sangat menggemaskan
“jangan marah terus, kaca mata kamu semakin tebal tuh ...”
__ADS_1
“bukan urusan bapak ...” Ara tak mau menatap bosnya yang memang
punya hobi menggodanya itu