My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Kemarahan Oma


__ADS_3

“Serius?” dan nay pun menganggukkan kepalanya. Jelas Sagara tidak begitu percaya melihat penampilan anak itu yang terkesan tidak


rapi, ia juga suka sekali membobol, buktinya bisa masuk ke area sekolah


walaupun gerbang di tutup.


Ha ha ha …


Sagara malah tertawa terpingkal-pingkal sambil


memegangi perutnya.


“kenapa tertawanya seperti itu?” tanya Sanaya.


“Akhirnya aku menemukan orang yang sebanding dengan


abimanyu!”


Sanaya tersenyum lalu segera membuka pintu mobil


yang sudah di lepas oleh Sagara. Ia duduk di bangku belakang sedangkan bagian


depan ada Abimanyu yang duduk di balik kemudi dan sagara duduk di sampingnya.


Sesekali terlihat Sagara menatap Abimanyu, ia tidak


bisa menyembunyikan senyumnya setiap mengingat bagaimana wajah kecewa Abimanyu


saat tahu ia hanya meraih juara dua di olimpade sains itu.


“Kenapa senyum terus?” tanya Abi ketus tanpa menoleh


pada Sagara. Ia tahu jika yang duduk di sampingnya itu sedang menertawakannya.


“Nggak, biasa aja!”


“Jangan bohong!”


“Cuma aneh aja ternyata kamu bisa kalah sama anak


berantakan itu!”


 Sejenak Abimanyu menoleh padanya tapi kembali fokus pada jalanan. Ia tidak begitu tahu


dengan apa yang di maksud Sagara. Tapi tentang kekalahan, hanya sekali ia


merasa kalah.


“Siapa anak berantakan yang kamu maksud?”


“anak laki-laki yang bareng sama Sanaya tadi, dia


saingan kamu!”


Abimanyu kembali menoleh, “Benarkan?”


“Tuh kan kamu juga nggak percaya!”


“Kalau dia sangat pintar,  bukankah dia seharusnya sudah masuk kelas


akselerasi? Kalau iya berarti seharusnya dia sudah lulus!”


“Mana aku tahu, kalau itu kan bisa kamu tanyakan


langsung sama dia!”


Mereka terus mengobrol sampai tidak sadar anakn yang


biasanya sangat cerewet itu hanya diam saja. Saat mobil mereka sampai di depan


rumah besar itu akhirnya mereka menoleh ke belakang dan ternyata penghuni


belakang itu sedang tidur pulas sambil meringkuk.


“Pantas aja nggak ada suaranya!” gumam Sagara sambil


menggelengkan kepalanya.


“Bagaimana dong sekarang?”


“Biar aku gendong aja!” ucap Sagara, ia pun segera


turun dan membuka pintu mobil belakang. Ia segera menyusupkan kedua tangannya


di bawah paha dan punggung Sanaya. Hanya dengan sekali hentakan tubuh Sanaya


sudah beralih ke dalam gendongannya.


Sagara berjalan sedikit lebih cepat, mom Ara yang


melihat sagara datang dengan membopong tubuh Sanaya segera berlari menghampiri

__ADS_1


putranya itu.


“Gara …, Nay kenapa?”


‘Dia Cuma ketiduran mom, jangan khawatir, tolong


bukain aja pintu kamarnya ma!”


“Baiklah!”


Mom Ara pun akhirnya mengikuti putranya, ia


membukakan pintu kamar sanaya. Dengan pelan Sagara menurunkan tubuh Sanaya ke


atas tempat tidur. Sanaya seperti tidak merasakan jika tubuhnya sudah berpindah


dari satu tempat ke tempat lain, ia malah semakin pulas saja tidurnya.


Hahhhhh


“Dia keterlaluan, bahkan tidak bangun!” gerutu


Sagara membuat mom Ara tersenyum.


“Baiklah sebagai gantinya mom akan buatkan jus buah


untuk kamu!”


“Yang bener mom, wahhhh mau banget!”


“Ya udah ayo, biarkan dia tidur! Kita ke dapur ya!”


“Iya mom!”


Saat turun, Abimanyu masih di sana. Ara tersenyum,


“Abi …!” panggilnya.


“Iya nyonya!”


“Jangan pulang dulu ya, saya akan buatkan jus buah


buat kalian!”


“Iya nyonya!”


Mereka pun mengikuti mom Ara ke dapur, mom Ara mulai


semakin terasa manis.


“Apa nih yang terjadi di sekolah?” tanya mom Ara


sambil menyerahkan dua gelas jus ke duaanak laki-laki itu.


“Mom tahu, Gara sekarang tahu siapa saingan Abi ,


mom!”


“Siapa?”


“Anak yang penampilannya berantakan!”


“benarkah?”


Abimanyu yang di bicarakan hanya bisa diam. Ia


benar-benar masih tidak tereima menjadi nomor dua.


“Nggak pa pa Bi, lagi pula kan hanya kompetisi. Beda


kalau masalah hati, itu baru pantas kamu perjuangkan!” ucap mom Ara.


“Iya nyonya!”


Setelah meminum jus buahnya, Abimanyu pun berpamitan


untuk pulang, hari ini tidak ada jadwal apapun. Ia bisa menghabiskan waktunya


seperti anak-anak lainnya.


Malam ini semuanya sudah berkumpul di meja makan


begitupun dengan Sanaya dan Sagara.  Yang ada yang aneh  awalnya karena memang


seperti ini suasananya. Hening …, tanpa ada yang berani berbicara sebelum omanya yang bicara.


Saat ia mulai meletakkan kedua sendoknya di atas piring, maka saat itulah semua bersiap untuk mendengarkan apa yang akan di


katakan oleh omanya.


“Ada yang ingin kalian katakan sama oma, papa dan

__ADS_1


mama kalian?”


Ucapan omanya seketika tertuju pada Sagara dan


Sanaya. Mereka saling menatap dan berpikir tentang kesalahan yang telah mereka


lakukan seharian ini.


Oma tahu …., batin Sagara, ia pun menggerakkan alisnya mencoba


bertanya apakah Sanaya juga memiliki kesalahan yang sama.


“Kalian melakukan apa?” tanya mom Ara sambil menatap


kedua anaknya itu.


“Iya sayang, apa yang kalian lakukan?” papa Agra pun


tidak mau kalah. Sanaya mulai terlihat pucat, ia sudah pernah mengalami hal ini


dulu. ia bolos ikut pelajaran karena ingin melihat pertandingan basket dan


hasilnya ia tidak dapat uang saku selama dua minggu. Sedangkan sagara, sungguh


hal yang luar biasa jika anak itu sampai melakukan kesalahan. Tapi dia tadi


melihat sendiri bagaimana saudara kembarnya itu menyapu lapangan olah raga,


seperti biasa setiap hari pasti ada yang menyapu lapangan itu tapi bukan tukang


kebun melainkan anak-anak yang terlambat masuk sekolah.


“Maaf oma, sebenarnya tadi Sagara terlambat!” ucap


Sagara sambil menundukkan kepalanya.


Mom Ara terkejut, jika Sagara terlambat pasti Nay


juga melakukan hal yang sama karena mereka berangkat bersama-sama.


“Kalian terlambat?”


Sagara menggelengkan kepalanya, “Kok bisa?”


“Sagara membantu teman Sagara yang jatuh, dia


terluka makanya Sagara terlambat!”


Begitu …, jadi jika hanya Sagara yang terlambat lalu


sanaya? Mom Ara pun beralih menatap Sanaya, “Kamu Nay?”


“Jadi begini mom, oma, pa …, sebenarnya setelah olahraga , seragam Nay hilang! Ternyata ada yang iseng sama Nay, Nay harus mencari seragam Nay dulu, jadi tidak ikut pelajaran …! Tapi oma …, Nay cuma


tidak ikut satu pelajaran, beneran oma …!”


Nay menunjukkan wajah penyesalannya, atau lebih


tepatnya wajah tertindas. Ia tidak mau terlalu di salahkan karena memang ia


tidak sengaja melakukannya, ia akan terima jika ia di hukum sesuai kesalahannya


saja.


“baiklah, oma sudah menyiapkan hukuman untuk kalian,


Sagara harus mengikuti tambahan jam pelajaran dua jam setiap hari selama satu


minggu dan kamu Sanaya, oma akan menyimpan uang jajan kamu satu minggu ini!”


“Yahhh oma, kok gitu sih oma …, Nay kan nggak


sengaja oma!” protes Sanaya.


“Gara juga nggak sengaja!” ternyata oma Ratih lebih


tidak mau di bantah.  Ia menghukum kedua cucunya dengan cara yang


berbeda. Sagara dengan di beri tambahan jam pelajaran dan Sanaya di skor uang


jajannya selama satu minggu, cukup adil untuk keduanya.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2