
“Serius?” dan nay pun menganggukkan kepalanya. Jelas Sagara tidak begitu percaya melihat penampilan anak itu yang terkesan tidak
rapi, ia juga suka sekali membobol, buktinya bisa masuk ke area sekolah
walaupun gerbang di tutup.
Ha ha ha …
Sagara malah tertawa terpingkal-pingkal sambil
memegangi perutnya.
“kenapa tertawanya seperti itu?” tanya Sanaya.
“Akhirnya aku menemukan orang yang sebanding dengan
abimanyu!”
Sanaya tersenyum lalu segera membuka pintu mobil
yang sudah di lepas oleh Sagara. Ia duduk di bangku belakang sedangkan bagian
depan ada Abimanyu yang duduk di balik kemudi dan sagara duduk di sampingnya.
Sesekali terlihat Sagara menatap Abimanyu, ia tidak
bisa menyembunyikan senyumnya setiap mengingat bagaimana wajah kecewa Abimanyu
saat tahu ia hanya meraih juara dua di olimpade sains itu.
“Kenapa senyum terus?” tanya Abi ketus tanpa menoleh
pada Sagara. Ia tahu jika yang duduk di sampingnya itu sedang menertawakannya.
“Nggak, biasa aja!”
“Jangan bohong!”
“Cuma aneh aja ternyata kamu bisa kalah sama anak
berantakan itu!”
Sejenak Abimanyu menoleh padanya tapi kembali fokus pada jalanan. Ia tidak begitu tahu
dengan apa yang di maksud Sagara. Tapi tentang kekalahan, hanya sekali ia
merasa kalah.
“Siapa anak berantakan yang kamu maksud?”
“anak laki-laki yang bareng sama Sanaya tadi, dia
saingan kamu!”
Abimanyu kembali menoleh, “Benarkan?”
“Tuh kan kamu juga nggak percaya!”
“Kalau dia sangat pintar, bukankah dia seharusnya sudah masuk kelas
akselerasi? Kalau iya berarti seharusnya dia sudah lulus!”
“Mana aku tahu, kalau itu kan bisa kamu tanyakan
langsung sama dia!”
Mereka terus mengobrol sampai tidak sadar anakn yang
biasanya sangat cerewet itu hanya diam saja. Saat mobil mereka sampai di depan
rumah besar itu akhirnya mereka menoleh ke belakang dan ternyata penghuni
belakang itu sedang tidur pulas sambil meringkuk.
“Pantas aja nggak ada suaranya!” gumam Sagara sambil
menggelengkan kepalanya.
“Bagaimana dong sekarang?”
“Biar aku gendong aja!” ucap Sagara, ia pun segera
turun dan membuka pintu mobil belakang. Ia segera menyusupkan kedua tangannya
di bawah paha dan punggung Sanaya. Hanya dengan sekali hentakan tubuh Sanaya
sudah beralih ke dalam gendongannya.
Sagara berjalan sedikit lebih cepat, mom Ara yang
melihat sagara datang dengan membopong tubuh Sanaya segera berlari menghampiri
__ADS_1
putranya itu.
“Gara …, Nay kenapa?”
‘Dia Cuma ketiduran mom, jangan khawatir, tolong
bukain aja pintu kamarnya ma!”
“Baiklah!”
Mom Ara pun akhirnya mengikuti putranya, ia
membukakan pintu kamar sanaya. Dengan pelan Sagara menurunkan tubuh Sanaya ke
atas tempat tidur. Sanaya seperti tidak merasakan jika tubuhnya sudah berpindah
dari satu tempat ke tempat lain, ia malah semakin pulas saja tidurnya.
Hahhhhh
“Dia keterlaluan, bahkan tidak bangun!” gerutu
Sagara membuat mom Ara tersenyum.
“Baiklah sebagai gantinya mom akan buatkan jus buah
untuk kamu!”
“Yang bener mom, wahhhh mau banget!”
“Ya udah ayo, biarkan dia tidur! Kita ke dapur ya!”
“Iya mom!”
Saat turun, Abimanyu masih di sana. Ara tersenyum,
“Abi …!” panggilnya.
“Iya nyonya!”
“Jangan pulang dulu ya, saya akan buatkan jus buah
buat kalian!”
“Iya nyonya!”
Mereka pun mengikuti mom Ara ke dapur, mom Ara mulai
semakin terasa manis.
“Apa nih yang terjadi di sekolah?” tanya mom Ara
sambil menyerahkan dua gelas jus ke duaanak laki-laki itu.
“Mom tahu, Gara sekarang tahu siapa saingan Abi ,
mom!”
“Siapa?”
“Anak yang penampilannya berantakan!”
“benarkah?”
Abimanyu yang di bicarakan hanya bisa diam. Ia
benar-benar masih tidak tereima menjadi nomor dua.
“Nggak pa pa Bi, lagi pula kan hanya kompetisi. Beda
kalau masalah hati, itu baru pantas kamu perjuangkan!” ucap mom Ara.
“Iya nyonya!”
Setelah meminum jus buahnya, Abimanyu pun berpamitan
untuk pulang, hari ini tidak ada jadwal apapun. Ia bisa menghabiskan waktunya
seperti anak-anak lainnya.
Malam ini semuanya sudah berkumpul di meja makan
begitupun dengan Sanaya dan Sagara. Yang ada yang aneh awalnya karena memang
seperti ini suasananya. Hening …, tanpa ada yang berani berbicara sebelum omanya yang bicara.
Saat ia mulai meletakkan kedua sendoknya di atas piring, maka saat itulah semua bersiap untuk mendengarkan apa yang akan di
katakan oleh omanya.
“Ada yang ingin kalian katakan sama oma, papa dan
__ADS_1
mama kalian?”
Ucapan omanya seketika tertuju pada Sagara dan
Sanaya. Mereka saling menatap dan berpikir tentang kesalahan yang telah mereka
lakukan seharian ini.
Oma tahu …., batin Sagara, ia pun menggerakkan alisnya mencoba
bertanya apakah Sanaya juga memiliki kesalahan yang sama.
“Kalian melakukan apa?” tanya mom Ara sambil menatap
kedua anaknya itu.
“Iya sayang, apa yang kalian lakukan?” papa Agra pun
tidak mau kalah. Sanaya mulai terlihat pucat, ia sudah pernah mengalami hal ini
dulu. ia bolos ikut pelajaran karena ingin melihat pertandingan basket dan
hasilnya ia tidak dapat uang saku selama dua minggu. Sedangkan sagara, sungguh
hal yang luar biasa jika anak itu sampai melakukan kesalahan. Tapi dia tadi
melihat sendiri bagaimana saudara kembarnya itu menyapu lapangan olah raga,
seperti biasa setiap hari pasti ada yang menyapu lapangan itu tapi bukan tukang
kebun melainkan anak-anak yang terlambat masuk sekolah.
“Maaf oma, sebenarnya tadi Sagara terlambat!” ucap
Sagara sambil menundukkan kepalanya.
Mom Ara terkejut, jika Sagara terlambat pasti Nay
juga melakukan hal yang sama karena mereka berangkat bersama-sama.
“Kalian terlambat?”
Sagara menggelengkan kepalanya, “Kok bisa?”
“Sagara membantu teman Sagara yang jatuh, dia
terluka makanya Sagara terlambat!”
Begitu …, jadi jika hanya Sagara yang terlambat lalu
sanaya? Mom Ara pun beralih menatap Sanaya, “Kamu Nay?”
“Jadi begini mom, oma, pa …, sebenarnya setelah olahraga , seragam Nay hilang! Ternyata ada yang iseng sama Nay, Nay harus mencari seragam Nay dulu, jadi tidak ikut pelajaran …! Tapi oma …, Nay cuma
tidak ikut satu pelajaran, beneran oma …!”
Nay menunjukkan wajah penyesalannya, atau lebih
tepatnya wajah tertindas. Ia tidak mau terlalu di salahkan karena memang ia
tidak sengaja melakukannya, ia akan terima jika ia di hukum sesuai kesalahannya
saja.
“baiklah, oma sudah menyiapkan hukuman untuk kalian,
Sagara harus mengikuti tambahan jam pelajaran dua jam setiap hari selama satu
minggu dan kamu Sanaya, oma akan menyimpan uang jajan kamu satu minggu ini!”
“Yahhh oma, kok gitu sih oma …, Nay kan nggak
sengaja oma!” protes Sanaya.
“Gara juga nggak sengaja!” ternyata oma Ratih lebih
tidak mau di bantah. Ia menghukum kedua cucunya dengan cara yang
berbeda. Sagara dengan di beri tambahan jam pelajaran dan Sanaya di skor uang
jajannya selama satu minggu, cukup adil untuk keduanya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1