
Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Ara pun pamit terlebih
dahulu untuk keluar ruangan karena ingin segera ke kamar mandi,
setelah keluar dari kamar mandi ia kembali melihat isi dari hasil periksa kehamilannya, ingin rasanya cepat sampai di kafe dan memberitahu suaminya
Ia memegang kertas yang berisi keterangan
kehamilannya, saking senangnya tanpa
sengaja ia menabrak seseorang
Bruggg
Untung saja sebelum sempat terjatuh, tubuhnya sudah lebih dulu di
tarik oleh orang itu
“maaf, aku tak sengaja ...” Ara segera melepaskan pegangan
tangannya saat tubuhnya sudah berdiri sempurna
Pria itu pun hanya tersenyum dan memungut kertas yang ara jatuhkan,
ia membaca sekilas isi kertas itu
“nona Ara ...., ini milik anda ..., selamat ya ...” orang itu
mengangkat tangannya memberi selamat
Ara pun tak menyambut tangan itu, ia merasa tidak kenal dengan pria
di hadapannya, tapi wajah pria asing di depannya itu mengingatkan pada
seseorang yang begitu dekat dengannya
“oh ...., maaf, perkenalkan nama saya Divta Anugra Putra” pria itu
mengulurkan tangannya memperkenalkan diri
“DIVTA ...” Ara begitu terkejut mendengar nama orang di hadapannya,
ya sekarang dia tahu, pria itu adalah kakak dari suaminya
“maksudku kak Divta..?.” tanyanya meyakinkan
"pantas saja wajahnya tak asing ....." batin Ara sambil mengamati wajah pria di depannya
“Putri Aulya Zahra ..., istri dari Agra Anugra Putra, ternyata kau
sudah mengenalku ya” Divta memperjelas status Ara, dan Ara hanya bisa terdiam
“kita bertemu untuk pertama kali ya , mudah-mudahan pertemuan kita
ini cukup berkesan, dan jaga baik-baik buah hati adikku itu ..., saya permisi,
adik ipar ...” Divta pun segera meninggalkan ara yang masih tak bergeming, ada
rasa takut dan cemas melanda Ara kini, pria itu terlihat begitu menyeramkan
menurutnya,
wajahnya lebih dingin dari wajah suaminya, ia teringat dengan wajah
dingin suaminya saat pertama kali mengenal suaminya sebagai atasannya
Walau pun jika di lihat dari tampangnya ia memang tak kalah tampan
dengan Agra, tapi menyimpan aura yang begitu misterius
Saat Divta tak terlihat lagi kini giliran Rendi yang
menghampirinya,
“nona ..., anda tidak pa pa ...” ucapan Rendi sambil menepuk pundak Ara, Ara pun segera membuyarkan
lamunannya
“ehh ...., tidak ....” Ara gelagapan
“mari saya antar nona ...” Ara pun hanya menganggu dan menguikuti
langkah Rendi yang akan mengantarnya pulang, Ara yang mulanya ingin pulang
sendiri kini menjadi tak punya nyali untuk pulang sendiri
Ara sudah duduk di jok belakang , sedangkan Rendi seperti biasa
duduk di samping pak Mun, Rendi terus memandangi Ara yang masih tampak syok, Ara
masih diam seribu bahasa
“apa sebenarnya yang sedang Ara pikirkan? Apa dia tidak senang
dengan kehamilannya”batin Rendi
“nona ...” ucap Rendi saat sudah masuk ke dalam mobil yang sama bersama pak Mun
“hemmm.....” Ara menoleh pada Rendi yang duduk di samping pak Mun
“langsung pulang atau nona mau ketempat lain dulu?”
“langsung pulang saja” ucap Ara dengan senyum yang masih di paksakan, entah kenapa kehadiran Divta begitu mengganggu pikirannya
“baik nona” Rendi pun kembali menghadap oe depan
“jalan pak Mun...” ucap Rendi pada pak Mun yang sudah siap dengan mesin yang sudah menyala
Sepanjang perjalanan pun masih sama, Ara masih setia dengan kediamannya
ia terus menatap ke sepanjang jalan, matanya tampak tidak fokus, sedangkan
__ADS_1
Rendi sesekali melihat ke arah Ara berharap wanita itu mau bicara padanya
Hingga tanpa terasa mereka pun sampai di depan toko, mobil pun
berhenti, tapi Ara tetap masih tak bergeming dari duduknya,
Rendi lebih dulu turun
dan membukakan pintu untuk ara
“sudah sampai nona ...” Rendi sudah berdiri di sampin Ara duduk
dengan memegang pintu mobil
Ara pun segera turun dari mobil, sebelum kakinya melangkah masuk ke
dalam toko, ara pun kembali memandang rendi
“pak Rendi ...”
“iya nona ...”
“jangan beritahu semuanya pada Agra ...” Rendi hanya diam mendengar
permintaan Ara yang dianggapnya begitu aneh, bagaimana ia menyembunyikan
kehamilannya pada suaminya sendiri
“plisss, aku janji nanti aku sendiri yang akan memberi tahunya”
"tapi jika itu keinginan anda, maka kami akan sedikit memperketat penjagaan untuk anda nona"
"tidak perlu, itu berlebihan sekali ...."
"maaf nona ...., tapi kami harus tetap melakukan itu" ucap Rendi memaksa
"terserah lah ...., asal jangan terlalu dekat dengan ku, aku tidak akan nyaman"
“baik nona ..., kalau begitu saya permisi dulu ..., selamat
istirahat nona” Ara tak menjawab ucapan Rendi, ia langsung saja masuk ke dalam
toko
Di dalam toko langsung di sambut oleh Nadin
“kak ..., bagaimana? Si balok es nggak di suruh masuk tuh, masih ngliatin tuh
kak?” tapi Ara masih tetap diam tanpa menyahuti perkataan adiknya
Nadin secara bergantian melihat Ara dan Rendi, dan matanya langsung
tertuju pada Rendi, Rendi yang merasa di tanya hanya mengangkat kedua bahunya
tanda tak tahu tetap dengan wajah dinginnya, dan masuk ke dalam mobil begitu saja
"dasar balok es . ..., nyesel aku tanya sama dia ...., buang waktu aja" gerutu Nadin saat Ara juga sudah meninggalkannya
***
Aku langsung memasuki ruang yang menjadi ruang kerjaku, aku duduk
lemas di sofa, aku duduk setengah menyenderkan punggungku di bahu sofa
Pikiranku hari ini benar –benar kacau, antara senang dan juga
sedih, aku senang karena akan ada kehidupan lain di dalam diriku
Tapi aku sedih, aku nggak bisa memberi tahu ayahnya tentang
kehadirannya, suamiku ...., aku bingung harus apa, setelah tahu tentang
kakaknya, apa benar jika kakaknya ingin mencelakai Agra
“aku haruus bagaimana ...?” aku bahkan merasa bersalah jika harus
menyembunyikan ini
Tok tok tok
“masuklah ....” aku segera merubah posisiku menjadi duduk, ternyata
Nadin yang mengetuk pintu
“kakak tidak pa pa?” Nadin mendekatiku
“duduklah ...” aku menepuk sofa di sampingku duduk
“kakak sedang banyak pikiran saja” aku pun tak bisa memberitahu adikku tentang apa yang sedang aku pikirkan
“jika kakak mau, kakak bisa cerita padaku ...”
“maaf dek, tapi suatu saat jika aku sudah siap aku pasti memberi
tahumu ...” aku tidak mungkin memberitahu Nadin, sedangkan untyk memberitahu suamiku saja aku masih ragu
“baiklah kak jika begitu, istirahatlah ..., biar aku yang mengurus
toko” Nadin beranjak dari duduknya, sebelum tangannya menarik handle pintu
“makasih ya ...” Nadin pun kembali menoleh padaku
“sama-sama kak ...” aku hanya membalas dengan senyum
***
“bagaimana hasilnya?” tanya ibu Agra pada dokter Frans
“nona Ara memang hamil ibu ...” itu panggilan akrab dokter Frans
pada ibu Agra, Dokter Frans memang tak sekaku Rendi, ia lebih suka memanggil
__ADS_1
ibu Agra dengan sebutan ibu, ibu agra pun tidak pernah mempermasalahkan hal itu
Sebenarnya ibu agra juga menyuruh Rendi untuk memanggilnya ibu,
tapi rendi merasa tidak nyaman jika harus memanggil ibu
“berapa usia kandungannya?”
“sudah memasuki minggu ke sepuluh, usia rentan di trimester
pertama”
“apa agra sudah tahu?”
“sepertinya belum” jawab Frans ragu-ragu, kemudian pandangan Ratih
beralih pada Rendi, sepertinya memang sulit menyembunyikan sesuatu pada Ratih,
ia akan langsung tahu dengan melihat gerak-gerik seseorang saja, Rendi yang
merasa di introgasi segera membuka suara
“nona melarang saya memberi tahukan pada Agra, nyonya”
“kenapa?”
“nona Ara tidak memberitahu alasannya, ia hanya menyuruhku berjanji
tidak akan memberitahu Agra nyonya, dia berjanji akan memberitahukannya sendiri”
“aku harus menemuinya sendiri”
***
Agra pulang agak sore karena ia harus ke luar kota untuk menemui
kliennya,
“Nad ....” Agra menghampiri Nadin yang sedang memberihkan meja yang
baru saja di tinggalkan oleh pelanggan
“ya kak ...” Nadin segera menoleh ke sumber suara
“aku tak melihat Ara, kemana kakakmu?” tanya Agra sambil terus
mengedarkan pandangannya
“iya kak, dari tadi nggak keluar-keluar”
“kenapa emangnya?”
“tadi abis keluar sama si balok es, pulang-pulang langsung murung”
“ya udah aku temui Ara dulu ya ...” Agra pun langsung berlari ke
arah ruang yang ada di lantai dua yang sudah di jadikan tempat tinggal mereka,
di atas tampak seperti apartemen kecil dengan tiga ruangan ada dapur, ruang
tamu dan kamar tidur
Agra sampai di lantai atas, ia melihat istrinya sedang duduk di
tepi sofa dengan menekuk kakinya, menjadikan lututnya sebagai sandara untuk
dagunya, pandangannya menatap ke arah jendela besar yang langsung terarah ke
taman depan
“sayang ....” Agra mendekati Ara dan mengecup kening Ara
“sudah pulang bby ...” Ara pun segera menurunkan kakinya dan
menatap Agra
“kamu kenapa sayang?”
“aku ....? aku tidak pa pa” jawab Ara sambil mengulas senyum yang
terlihat di paksakan
“jangan bohong sayang ...” Agra menakup kedua pipi Ara, menatap
mata Ara dan Ara hanya menggeleng
“kamu pergi sama Rendi?” ucapan Agra membuat Ara terperanjak, ia
lupa untuk bilang pada Nadin untuk tidak memberi tahu soal Rendi, ia terlalu
terpaku pada pikirannya himngga tak sempat memberitahu Nadin
“kamu kemana dengan Rendi?” pertanyaan Agra kembali membuat Ara
tersadar dari lamunannya
“kami ketemu sama dokter Frans , bby...”
“untuk apa? Kamu sakit?” ucap agra sambil memandangi wajah Ara
“enggak bby ..., Cuma periksa kesehatan saja ...”
“beneran ...., kamu nggak bohong kan? Aku nggak suka di bohongi,
apalagi kamu perginya sama Rendi”
“masih aja cemburuan ya ....”
BERSAMBUNG
jangan lupa bayar aku dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
__ADS_1
kasih Vote juga