My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 98


__ADS_3

Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Ara pun pamit terlebih


dahulu untuk keluar ruangan karena ingin segera ke kamar mandi,


setelah keluar dari kamar mandi ia kembali melihat isi dari hasil periksa kehamilannya, ingin rasanya cepat sampai di kafe dan memberitahu suaminya


Ia memegang kertas yang berisi keterangan


kehamilannya, saking senangnya  tanpa


sengaja ia menabrak seseorang


Bruggg


Untung saja sebelum sempat terjatuh, tubuhnya sudah lebih dulu di


tarik oleh orang itu


“maaf, aku tak sengaja ...” Ara segera melepaskan pegangan


tangannya saat tubuhnya sudah berdiri sempurna


Pria itu pun hanya tersenyum dan memungut kertas yang ara jatuhkan,


ia membaca sekilas isi kertas itu


“nona Ara ...., ini milik anda ..., selamat ya ...” orang itu


mengangkat tangannya memberi selamat


Ara pun tak menyambut tangan itu, ia merasa tidak kenal dengan pria


di hadapannya, tapi wajah pria asing di depannya itu mengingatkan pada


seseorang yang begitu dekat dengannya


“oh ...., maaf, perkenalkan nama saya Divta Anugra Putra” pria itu


mengulurkan tangannya memperkenalkan diri


“DIVTA ...” Ara begitu terkejut mendengar nama orang di hadapannya,


ya sekarang dia tahu, pria itu adalah kakak dari suaminya


“maksudku kak Divta..?.” tanyanya meyakinkan


"pantas saja wajahnya tak asing ....." batin Ara sambil mengamati wajah pria di depannya


“Putri Aulya Zahra ..., istri dari Agra Anugra Putra, ternyata kau


sudah mengenalku ya” Divta memperjelas status Ara, dan Ara hanya bisa terdiam


“kita bertemu untuk pertama kali ya , mudah-mudahan pertemuan kita


ini cukup berkesan, dan jaga baik-baik buah hati adikku itu ..., saya permisi,


adik ipar ...” Divta pun segera meninggalkan ara yang masih tak bergeming, ada


rasa takut dan cemas melanda Ara kini, pria itu terlihat begitu menyeramkan


menurutnya,


wajahnya lebih dingin dari wajah suaminya, ia teringat dengan wajah


dingin suaminya saat pertama kali mengenal suaminya sebagai atasannya


Walau pun jika di lihat dari tampangnya ia memang tak kalah tampan


dengan Agra, tapi menyimpan aura yang begitu misterius


Saat Divta tak terlihat lagi kini giliran Rendi yang


menghampirinya,


“nona ..., anda tidak pa pa ...” ucapan Rendi sambil menepuk pundak Ara, Ara pun segera membuyarkan


lamunannya


“ehh ...., tidak ....” Ara gelagapan


“mari saya antar nona ...” Ara pun hanya menganggu dan menguikuti


langkah Rendi yang akan mengantarnya pulang, Ara yang mulanya ingin pulang


sendiri kini menjadi tak punya nyali untuk pulang sendiri


Ara sudah duduk di jok belakang , sedangkan Rendi seperti biasa


duduk di samping pak Mun, Rendi terus memandangi Ara yang masih tampak syok, Ara


masih diam seribu bahasa


“apa sebenarnya yang sedang Ara pikirkan? Apa dia tidak senang


dengan kehamilannya”batin Rendi


“nona ...” ucap Rendi saat sudah masuk ke dalam mobil yang sama bersama pak Mun


“hemmm.....” Ara menoleh pada Rendi yang duduk di samping pak Mun


“langsung pulang atau nona mau ketempat lain dulu?”


“langsung pulang saja” ucap Ara dengan senyum yang masih di paksakan, entah kenapa kehadiran Divta begitu mengganggu pikirannya


“baik nona” Rendi pun kembali menghadap oe depan


“jalan pak Mun...” ucap Rendi pada pak Mun yang sudah siap dengan mesin yang sudah menyala


Sepanjang perjalanan pun masih sama, Ara masih setia dengan kediamannya


ia terus menatap ke sepanjang jalan, matanya tampak tidak fokus, sedangkan

__ADS_1


Rendi sesekali melihat ke arah Ara berharap wanita itu mau bicara padanya


Hingga tanpa terasa mereka pun sampai di depan toko, mobil pun


berhenti, tapi Ara tetap masih tak bergeming dari duduknya,


Rendi lebih dulu turun


dan membukakan pintu untuk ara


“sudah sampai nona ...” Rendi sudah berdiri di sampin Ara duduk


dengan memegang pintu mobil


Ara pun segera turun dari mobil, sebelum kakinya melangkah masuk ke


dalam toko, ara pun kembali memandang rendi


“pak Rendi ...”


“iya nona ...”


“jangan beritahu semuanya pada Agra ...” Rendi hanya diam mendengar


permintaan Ara yang dianggapnya begitu aneh, bagaimana ia menyembunyikan


kehamilannya pada suaminya sendiri


“plisss, aku janji nanti aku sendiri yang akan memberi tahunya”


"tapi jika itu keinginan anda, maka kami akan sedikit memperketat penjagaan untuk anda nona"


"tidak perlu, itu berlebihan sekali ...."


"maaf nona ...., tapi kami harus tetap melakukan itu" ucap Rendi memaksa


"terserah lah ...., asal jangan terlalu dekat dengan ku, aku tidak akan nyaman"


“baik nona ..., kalau begitu saya permisi dulu ..., selamat


istirahat nona” Ara tak menjawab ucapan Rendi, ia langsung saja masuk ke dalam


toko


Di dalam toko langsung di sambut oleh Nadin


“kak ..., bagaimana? Si balok es  nggak di suruh masuk tuh, masih ngliatin tuh


kak?” tapi Ara masih tetap diam tanpa menyahuti perkataan adiknya


Nadin secara bergantian melihat Ara dan Rendi, dan matanya langsung


tertuju pada Rendi, Rendi yang merasa di tanya hanya mengangkat kedua bahunya


tanda tak tahu tetap dengan wajah dinginnya, dan masuk ke dalam mobil begitu saja


"dasar balok es . ..., nyesel aku tanya sama dia ...., buang waktu aja" gerutu Nadin saat Ara juga sudah meninggalkannya


***


Aku langsung memasuki ruang yang menjadi ruang kerjaku, aku duduk


lemas di sofa, aku duduk setengah menyenderkan punggungku di bahu sofa


Pikiranku hari ini benar –benar kacau, antara senang dan juga


sedih, aku senang karena akan ada kehidupan lain di dalam diriku


Tapi aku sedih, aku nggak bisa memberi tahu ayahnya tentang


kehadirannya, suamiku ...., aku bingung harus apa, setelah tahu tentang


kakaknya, apa benar jika kakaknya ingin mencelakai Agra


“aku haruus bagaimana ...?” aku bahkan merasa bersalah jika harus


menyembunyikan ini


Tok tok tok


“masuklah ....” aku segera merubah posisiku menjadi duduk, ternyata


Nadin yang mengetuk pintu


“kakak tidak pa pa?” Nadin mendekatiku


“duduklah ...” aku menepuk sofa di sampingku duduk


“kakak sedang banyak pikiran saja” aku pun tak bisa memberitahu adikku tentang apa yang sedang aku pikirkan


“jika kakak mau, kakak bisa cerita padaku ...”


“maaf dek, tapi suatu saat jika aku sudah siap aku pasti memberi


tahumu ...” aku tidak mungkin memberitahu Nadin, sedangkan untyk memberitahu suamiku saja aku masih ragu


“baiklah kak jika begitu, istirahatlah ..., biar aku yang mengurus


toko” Nadin beranjak dari duduknya, sebelum tangannya menarik handle pintu


“makasih ya ...” Nadin pun kembali menoleh padaku


“sama-sama kak ...” aku hanya membalas dengan senyum


***


“bagaimana hasilnya?” tanya ibu Agra pada dokter Frans


“nona Ara memang hamil ibu ...” itu panggilan akrab dokter Frans


pada ibu Agra, Dokter Frans memang tak sekaku Rendi, ia lebih suka memanggil

__ADS_1


ibu Agra dengan sebutan ibu, ibu agra pun tidak pernah mempermasalahkan hal itu


Sebenarnya ibu agra juga menyuruh Rendi untuk memanggilnya ibu,


tapi rendi merasa tidak nyaman jika harus memanggil ibu


“berapa usia kandungannya?”


“sudah memasuki minggu ke sepuluh, usia rentan di trimester


pertama”


“apa agra sudah tahu?”


“sepertinya belum” jawab Frans ragu-ragu, kemudian pandangan Ratih


beralih pada Rendi, sepertinya memang sulit menyembunyikan sesuatu pada Ratih,


ia akan langsung tahu dengan melihat gerak-gerik seseorang saja, Rendi yang


merasa di introgasi segera membuka suara


“nona melarang saya memberi tahukan pada Agra, nyonya”


“kenapa?”


“nona Ara tidak memberitahu alasannya, ia hanya menyuruhku berjanji


tidak akan memberitahu Agra nyonya, dia berjanji akan memberitahukannya sendiri”


“aku harus menemuinya sendiri”


***


Agra pulang agak sore karena ia harus ke luar kota untuk menemui


kliennya,


“Nad ....” Agra menghampiri Nadin yang sedang memberihkan meja yang


baru saja di tinggalkan oleh pelanggan


“ya kak ...” Nadin segera menoleh ke sumber suara


“aku tak melihat Ara, kemana kakakmu?” tanya Agra sambil terus


mengedarkan pandangannya


“iya kak, dari tadi nggak keluar-keluar”


“kenapa emangnya?”


“tadi abis keluar sama si balok es, pulang-pulang langsung murung”


“ya udah aku temui Ara dulu ya ...” Agra pun langsung berlari ke


arah ruang yang ada di lantai dua yang sudah di jadikan tempat tinggal mereka,


di atas tampak seperti apartemen kecil dengan tiga ruangan ada dapur, ruang


tamu dan kamar tidur


Agra sampai di lantai atas, ia melihat istrinya sedang duduk di


tepi sofa dengan menekuk kakinya, menjadikan lututnya sebagai sandara untuk


dagunya, pandangannya menatap ke arah jendela besar yang langsung terarah ke


taman depan


“sayang ....” Agra mendekati Ara dan mengecup kening Ara


“sudah pulang bby ...” Ara pun segera menurunkan kakinya dan


menatap Agra


“kamu kenapa sayang?”


“aku ....? aku tidak pa pa” jawab Ara sambil mengulas senyum yang


terlihat di paksakan


“jangan bohong sayang ...” Agra menakup kedua pipi Ara, menatap


mata Ara dan Ara hanya menggeleng


“kamu pergi sama Rendi?” ucapan Agra membuat Ara terperanjak, ia


lupa untuk bilang pada Nadin untuk tidak memberi tahu soal Rendi, ia terlalu


terpaku pada pikirannya himngga tak sempat memberitahu Nadin


“kamu kemana dengan Rendi?” pertanyaan Agra kembali membuat Ara


tersadar dari lamunannya


“kami ketemu sama dokter Frans , bby...”


“untuk apa? Kamu sakit?” ucap agra sambil memandangi wajah Ara


“enggak bby ..., Cuma periksa kesehatan saja ...”


“beneran ...., kamu nggak bohong kan? Aku nggak suka di bohongi,


apalagi kamu perginya sama Rendi”


“masih aja cemburuan ya ....”


BERSAMBUNG


jangan lupa bayar aku dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya

__ADS_1


kasih Vote juga


__ADS_2