
"Gimana sayang pemotretan nya hari ini?" tanya seorang pria yang mampu mengubah gadis kecil itu menjadi gadis yang ceria. Namanya papa Jerry.
papa Jerry sedang menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
Ariel memilih duduk di kursi kecil berbetuk lingkaran yang ada di dapur mini mereka. Ia lebih suka mengamati papanya yang memakai clemek seperti itu, walaupun keibuan tapi sangat terlihat keren.
"Ada nggak ya pa yang baiknya sama kayak papa?" tanya Ariel sambil menyanggah dagunya menatap papanya.
Papa Jerry segera menghentikan kegiatannya saat putrinya bertanya seperti itu, ia menatap putrinya dan duduk di depannya. Menyanggah dagunya persis seperti yang di lakukan oleh Ariel.
"Banyak, papa hanya sebagian kecil dari mereka!"
"Kenapa papa baik banget sama mama, papa kan tahu mama gimana sama papa!"
"Karena mama Ariel juga baik sama papa!"
"Apa memang baiknya mama?"
"Karena mama kamu papa jadi punya putri sebaik kamu sayang!"
"Papa sayang banget ya sama Ariel?"
"Sayang banget, banget, dan banget!"
"Kalau papa sayang sama Ariel papa harus mau di operasi pa, demi Ariel!"
Mendengar ucapan putrinya, papa Ariel memilih untuk kembali berdiri dan meninggalkan putrinya.
"Pa ...., Ariel mohon! Papa harus sembuh!"
"Papa sembuh sayang, papa setiap hari minum obat, jadi jangan khawatir!"
Hehhhhhhh
Ariel menghela nafas kesal, selalu seperti itu. Papa nya terlalu sibuk mengurusnya hingga mengabaikan kesehatannya.
"Jangan cemberut terus, ayo kita makan! Papa sudah selesai masaknya!" Papa Jerry sudah kembali dengan dua piring nasi goreng untuk mereka.
Ariel dan papa Jerry akhirnya menikmati makan malamnya bersama. Papa Jerry akhir-akhir ini kesehatannya kurang baik, setelah di periksa ternyata dia menderita kanker dan dokter sudah menyarankan untuk operasi tapi Jerry selalu menolaknya dengan berbagai alasan.
...****...
Karena kejadian kemarin kini Sagara jadi sedikit curiga dengan Sanaya dan Abimanyu.
"Nay ...., nanti istirahat aku tunggu di kantin!" ucap Sagara sebelum Sanaya benar-benar turun dari mobil.
Sanaya mengerutkan keningnya, "Ada apa?"
Abimanyu hanya mendengarkan pembicaraan mereka dari depan, Abimanyu selalu duduk di depan di samping sopir.
Sagara melirik pada Abimanyu, "Agar tidak ada yang mencoba mendekatimu!"
"Kamu aneh, udah ahh aku turun, lagi pula istirahat ada acara sama Osis! Jangan di tunggu!"
Sanaya segera keluar, itu sebenarnya pemberitahuan untuk kedua pria dalam mobil itu. Sanaya sedikit berlari memasuki gerbang sekolah.
"Kalian tidak sedang merencanakan sesuatu?" tanya Sagara curiga sambil menatap punggung Abimanyu.
"Issstttttt, dasar posesif!"
__ADS_1
Abimanyu memilih turun dari mobil dan meninggalkan Sagara juga.
"Issstttttt, ada apa dengan mereka! Mencurigakan!" gumamnya sambil menatap punggung Abimanyu yang semakin menghilang.
"Apa tuan muda tidak ingin turun juga?" pertanyaan dari sopir membuatnya sadar jika tinggal dia di dalam mobil itu.
"Iya, aku turun!"
Sagara pun turun dari dalam mobil, mulai melangkahkan kakinya. Hari ini ia sengaja tidak membawa mobil karena tidak ada acara kemana-mana, ia ingin segera pulang dan menikmati waktunya.
Biasanya jika hampir akhir pekan seperti ini papa dan mom nya akan mengajak mereka makan di luar atau quality time di rumah.
Brukkkk
"Aughhhhhh!"
Sagara tanpa sengaja menabrak seseorang hingga membuat orang itu terjatuh.
"Maaf, saya kurang hati-hati tadi!" Sagara mengulurkan tangannya, seorang anak perempuan memegangi sikunya karena terbentur tanah.
Anak itu mendongakkan kepalanya,
"Kamu!"
Anak perempuan yang sudah mengulurkan tangannya itu kembali menariknya saat tahu siapa yang menabraknya hingga membuat sikunya terluka.
"Lupakan perseteruan kita, siku mu terluka!"
Tanpa pikir panjang, Sagara pun segera menarik tangan anak perempuan itu dan membawanya berjalan mencari tempat duduk.
Anak perempuan itu adalah Ariel, ia hanya bisa menatap punggung anak laki-laki yang mencengkeram lengannya itu.
Jika di antar oleh sopir, mereka memang jarang di antara sampai di dalam area sekolah. Bahkan sampai sekarang pihak sekolah tidak ada yang tahu jika Sagara dan Sanaya adalah cucu dari pemilik sekolah itu.
Pihak sekolah pun memberlakukan peraturan yang sama seperti anak-anak lainnya pada Sagara atau Sanaya.
Ariel hanya bisa pasrah, ia duduk atas perintah Sagara. Pria itu terlalu cool untuk di bantah, bahkan kebencian Ariel menghilang melihat sikap lembut Sagara di balik sikap diktaktor nya.
Sagara mengambil air minum.di dalam tas dan menyiramkannya ke luka Ariel, ia memeriksa kembali tasnya tapi ia tidak menemukan plaster luka di dalam tasnya, ia hanya menemukan sebuah ikat kepala.
"Pakai ini saja!" ucap Sagara lagi, ia membalutkan ikat kepalanya ke siku Ariel yang berdarah.
"Sudah!"
Sagara kembali berdiri saat selesai membalut luka Ariel.
"Terimakasih!"
"Hemmmm!"
Ariel pun ikut berdiri, seketika suasana menjadi begitu canggung. Biasanya mereka bertemu dengan saling berantem dan sekarang tiba-tiba Sagara begitu manis padanya.
Tetttttttt tetttttttt tettttttt
Bel sekolah berbunyi menyadarkan mereka, dua anak itu kembali saling berpandangan.
"Sudah masuk kelas!" gumam Sagara.
"Iya!"
__ADS_1
"Lari!" teriak Sagara dan dengan reflek ia kembali menarik tangan Ariel menuju ke gerbang sekolah.
"Pak ...., buka pak ....., kami ingin masuk!" Sagara teriak-teriak memanggil pak satpam, tangan kanannya memukul-mukul gerbang tapi tangan kirinya masih terus menggenggam lengan Ariel.
Ariel hanya bisa terdiam dan melihat tangannya yang berada dalam genggaman pria yang ada di depannya.
"Ayo ikutan panggil pak satpam!" ucap Sagara membuat Ariel tersadar, ia pun segera berdiri di samping Sagara dan ikut memanggil- manggil pak satpam.
Dan akhirnya pak satpam benar-benar datang menghampiri mereka.
"Kalian terlambat? Kok bisa barengan? Tangannya juga gandengan, emang di kereta apa!"
Mendengar hal itu Sagara baru sadar jika tangannya masih menggenggam tangan Ariel.
"Maaf!" ucapnya lirih.
"Tidak pa pa!"
"Ehhhh di tanya malah lihat-lihat an ....!" ucap pak satpam lagi membuat mereka kembali sadar dan menatap pak satpam.
"Kami nggak terlambat pak!"
"Kami nggak terlambat pak!" ucap mereka kebersamaan.
"Kompak banget ....!" ucap pak satpam lagi, "Nggak terlambat kok di luar gerbang!"
"Jadi tadi ngini nih pak kejadiannya, kami ..., eh lihat ini luka dia, dia jatuh jadi aku bantu obatin dulu lukanya!"
"Alasan saja! Tunggu di sini sampai saya memanggil guru BK untuk kalian!"
Pak Satpam lebih memilih meninggalkan mereka.
"Pak ...., pak ...., jangan dong ....!" teriak mereka tapi percuma karena pak satpam tidak peduli.
"Hehhhhh ...., percuma teriak-teriak!" suara seseorang membuat mereka menoleh ke belakang, seorang anak laki-laki dengan penampilan yang sedikit berantakan, baju keluar, rambut panjang, benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat dari penampilan Sagara.
Dia anak sini juga ...., nggak pernah kelihatan ...., batin Sagara saat melihat bet baju seragam anak itu.
"Percuma juga kalian teriak-teriak nggak bakal di bukain! Baru pertama kali terlambat ya? Kelihatan sih dari penampilan kalian!" ucap anak laki-laki berantakan itu dengan permen karet di mulutnya.
"Kalau mau masuk, ikut gue!" ucapnya tapi sepertinya Sagara dan Ariel malah terpaku melihat tingkah santai anak laki-laki itu.
"Ya sudah terserah kalian!"
Anak itu meninggalkan mereka dan berjalan menjauhi pintu gerbang sekolah.
"Dia kemana?" gumam Sagara.
"Mana aku tahu!"
"Aku nggak tanya sama kamu!" ucap Sagara kesal, gara-gara mengobati luka Ariel mereka jadi terlambat.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading đ„°đ„°đ„°đ„°