
Akhirnya Ara dan Agra menuju ke rumah ayah Roy, sesampai di sana mereka langsung di sambut oleh ibu Dewi.
"Nak ...., kalian datang, ayah kalian pasti senang sekali!" ibu Dewi tergopoh-gopoh menyambut kedatangan mereka.
"Duduklah nak, biar ibu ambilkan minuman dulu!"
"nggak usah repot ibu, nanti biar Ara ambil sendiri!"
"nggak pa pa, ibu nggak merasa di repotkan, duduklah ...., kalian pasti capek baru pulang kerja!"
Agra sudah duduk di sofa ruang tamu, Ara meminta ijin untuk ikut ibu Dewi ke dapur.
" Ayah kemana Bu?" tanya Ara yang sudah berdiri di depan meja dapur, menatap ibunya yang sedang sibuk membuat minuman untuk mereka.
"Ayahmu tadi sedang keluar sebentar, katanya ada masalah di tempat pengiriman barang, jadi ayah kalian sedang meluruskan masalahnya!"
"Masalahnya serius ya Bu?" Ara begitu khawatir.
"Enggak nak, cuma masalah biasa!"
"Nenek di mana Bu?"
"Nenek sedang berkunjung di rumah kerabat ayahmu, katanya dulu mereka sangat dekat, makanya mereka mengajak nenek menginap di rumahnya!"
"Oh ....!" Ara menganggukan kepalanya mengerti. "Biar aku bawa ibu ...!" Ara meminta nampan yang di bawa ibu Dewi, mereka kembali menghampiri Agra yang masih duduk di tempatnya.
"Kenapa sepi sekali Bu, di mana Davina?" Agra menoleh pada ibu mertua sambungnya,
"Akhir-akhir ini Davina pulangnya sering sekali terlambat nak, aku nggak tahu sebenarnya ada masalah apa?" ibu Dewi ikut duduk bersama mereka, wanita paruh baya itu terlihat begitu sedih, ia sepertinya ingin membagikan kesedihannya pada Agra dan Ara.
Ara mengusap punggung ibu Dewi, matanya menatap suaminya, mencari jawaban di mata suaminya, ia merasa suaminya mengetahui sesuatu.
"Sabar ibu, semua akan baik-baik saja!"
"Iya nak, aku benar-benar bersyukur di karunia putri-putri cantik seperti kalian. Kalian telah menjadikan aku begitu istimewa sebagai seorang ibu, aku hanya ibu sambung, tapi kalian memperlakukanku begitu istimewa!"
"Nggak ada yang namanya ibu sambung atau ibu kandung Bu, selama cinta itu murni, tak ada yang berbeda."
__ADS_1
"Terimakasih nak!" ibu Dewi memeluk Ara dengan penuh cinta, ia menghapus air mata yang belum sempat turun,
"Itu nak ...., ayah kalian sudah datang!" suara mobil pick up yang terparkir di halaman menghentikan obrolan mereka.
"Kalian kesini ...., ayah senang ...!" ayah Roy sudah merentangkan tangannya, meminta di.peluk oleh putri sulungnya itu.
"Ayah sehat?" tanya Ara dalam dekapan ayahnya.
"Iya nak, ayah sehat. Apa cucu-cucu ayah ikut?"
"Kami tidak mengajak mereka yah, kami baru dari kantor jadi tidak membawa mereka kesini juga!" Agra ikut bangun dan menyambut ayah mertuanya itu.
Setelah bertukar kabar, Agra pun segera menyampaikan inti kedatangan mereka ke rumah ayahnya,
"Sebenarnya kedatangan kami ke sini, kami ingin berpamitan untuk pergin ke Korea membawa Nadin juga, saya harap ayah akan mengijinkannya."
"Dalam rangka apa?"
"Ada pekerjaan di sana, sekaligus honeymoon untuk Rendi dan nadin!"
"Kemana anak itu, setelah menikah ia tidak pernah datang ke sini!" keluh ayah Roy.
Setelah cukup lama mereka berbincang-bincang, mereka pun berpamitan untuk pulang karena hari semakin gelap.
Saat sampai di depan rumah, tepat saat Davina pulang, Agra yang akan masuk.ke dalam mobil mengurungkan langkahnya.
"Sayang ...., masuklah dulu. Ada yang harus aku bicarakan sama Davina sebentar!"
"Masalah apa?" perasaan curiga Ara kembali mencuat.
"Hanya masalah pekerjaan, kamu masuk dulu gih ....!" Ara pun menurut, ia masuk ke dalam mobil, sedangkan Agra segera menghampiri Davina yang melintas di samping mobil mereka.
"Bisa bicara sebentar!" ucap Agra
"Ada apa kak?" Davina menghentikan langkahnya, ia sudah terlihat begitu gugup.
"Kita bicara sebentar di sana!" Agra menunjuk sebuah bangku yang ada di tepi jalan, cukup.jauh dari teras rumah sehingga orang rumah tidak akan bisa mendengar pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Duduklah ....!" Agra meminta Davina duduk di sampingnya, ia sama sekali tidak menatap Davina, sedang Davina sudah memilin ujung bajunya, ia begitu cemas, ia sudah menduga keadaan seperti ini pasti akan segera datang, apa yang tidak bisa di ketahui oleh orang nomor satu di finityGroup itu, mata dan telingannya ada di mana-mana, bahkan dinding pun bisa mendengar.
"Aku tahu semuanya!" ucap Agra dingin dan tegas, suara yang begitu menakutkan, suara yang kehilangan kelembutannya.
"Maafkan aku kak, saat itu aku benar-benar emosi!"
"Seharusnya bukan denganku kau minta maaf, minta maaflah pada Nadin, dia yang paling terluka!"
Davina terdiam, ia tidak mungkin merendahkan harga dirinya dengan meminta maaf pada Nadin. Egonya menolak keras.
"Kali ini aku mengampuni kesalahanmu, aku tidak akan mengatakan pada siapapun, ayah dan ibumu, istriku, tapi tidak untuk lain waktu!"
"Aku bisa lebih menakutkan dari yang kau kira!" Agra mengakhiri ucapannya dengan meninggalkan Davina seorang diri.
Davina masih mematung di tempatnya, ucapan Agra benar-benar seperti sebuah bom waktu yang bisa sewaktu-waktu meledak dan menghancurkannya.
Agra segera masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Ara.
"Jalan pak!" perintah Agra pada sopir.
"Baik tuan!"
Mobil pun melaju meninggalkan rumah ayah Roy, Ara menatap ke luar, menatap Davina yang masih terpaku di tempatnya dengan wajah ketakutan, walaupun dalam temarang lampu jalan, tapi wajah cemas itu begitu terlihat.
"bby!"
"Hemmm?"
"Sebenarnya ada apa?"
"Jangan mencemaskan sesuatu yang tidak penting!" Agra mengecup punggung tangan Ara dan beralih mengecup bibirnya, ia tak peduli dengan pria yang duduk di depan di balik kemudi itu, ia benar-benar menganggap dunia milik berdua.
**Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya, kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘**