
Langkah Sanaya terhenti di depan kelas, anak laki-laki itu sudah menunggunya di depan kelas.
"Abi!"
"Nay!"
"Ngapain di sini?"
"Nungguin kamu!"
Jam istirahat masih tersisa lima belas menit. Sanaya memilih berlalu dan duduk di bangkunya. Abimanyu mengikutinya dan memilih berdiri di samping gadis itu.
"Aku menunggumu di kantin!" ucapnya dingin. Beberapa hari ini Sanaya memilih tidak ke kantin, ia lebih memilih menghabiskan makan siangnya dengan Aditya.
Masa hukumannya masih berlangsung, tapi Sanaya begitu santai karena ia tidak butuh uang jajan beberapa hari terakhir, ada Aditya yang membawakan bekal makan siang untuknya.
Hehhhh
Sanaya menghela nafas, ia melipat kedua tangannya di depan dada dan menyenderkan punggungnya ke senderan bangku.
"Aku kan tidak punya uang jajan! Jadi ngapain di kantin? Lagi pula kamu kan bisa makan siang sama Gara!"
"Tapi aku menunggumu, kamu masih marah gara-gara kemarin?"
"Sedikit!"
"Maafkan aku!"
Anak-anak sekelas dengan Sanaya satu persatu mulai masuk. Riska juga, langkahnya sedikit terhenti saat melihat Abimanyu berada di kelasnya.
Senyumnya mengembang, "Hai kak Abi!" sapanya tapi seperti biasa Abimanyu dengan gaya cool nya itu tersenyum tipis.
"Nanti pulang sekolah aku tunggu!" ucap Abi lagi sebelum meninggalkan kelas Sanaya.
"Jangan!" ucap Sanaya cepat membuat Abi mengerutkan keningnya.
"Ada apa?"
"Aku sudah ada janji!"
"Sama anak itu lagi?"
"Iya!" Sanaya memberi jeda pada ucapannya, "Tapi janji ...., cuma hari ini!"
Perasaan tidak rela itu kembali mengumpul di benak Abimanyu tapi rasa tidak berdaya juga menjadi penguat ia tidak bisa melakukan apa-apa.
"Aku ke kelas dulu!"
Hanya itu yang bisa ia lakukan, mencintai dalam diam itu sangat sakit dan yang paling sakit adalah saat kita mencintai tapi rasanya sulit untuk di dapat.
Sanaya hanya bisa menatap punggung anak laki-laki itu, rasanya ada yang aneh saat melihat wajah pria itu begitu sedih.
Aku terlihat jahat sekali .....
Lagi-lagi Sanaya hanya bisa menghela nafas, ia seperti tidak suka dengan sikap dingin Abimanyu.
Saat pulang sekolah pun tiba, anak-anak mulai satu per satu meninggalkan sekolah. Ada beberapa anak yang memang masih tetap ingin bertahan di sekolah untuk mengikuti ekstrakurikuler atau tambahan pelajaran.
__ADS_1
Gadis dengan rambut terurai itu sudah berdiri di bahu jalan yang ada di depan gerbang sekolah.
Beberapa menit lalu, saudara kembarnya meninggalkan dirinya sendiri.
"Beneran nih aku tinggal?" tanya Sagara.
"Iya! Aku ada janji, nanti pulang tepat waktu kok jangan khawatir! Abi juga tahu!"
Sagara menatap sahabatnya itu,
"Kita duluan saja!" ucap Abimanyu.
"Lo yakin?"
"Hmmm!"
"Terserah lah! Tapi ingat ya Nay, awas saja kalau sampai melakukan yang aneh-aneh, gue nggak akan biarkan anak itu tenang sekolah di sini!"
"Iya tahu ....!"
Mobil Gara pun meninggalkan Nay sendiri di depan gerbang itu.
Di dalam mobil itu terlihat Abi semakin tidak banyak bicara membuat Sagara beberapa kali memperhatikan sahabatnya itu.
"Lo patah hati ya bi? Lo beneran suka sama adek gue?"
Sagara terus mengorek informasi itu pada sahabatnya itu, walaupun mereka dekat tapi Abimanyu tidak pernah mengatakan apapun tentang perasaannya. Apalagi kalau menyangkut soal Sanaya.
"Sebaiknya jangan pikirkan itu, satu jam lagi klien ingin bertemu dengan kita, tuan Agra meminta kita yang menemuinya!"
Sagara menghela nafas, selalu seperti itu. Ia ingin sekali sejenak saja bersantai, tapi sepertinya tubuhnya itu bukan miliknya lagi. Dalam hidupnya hanya ada kerja, sekolah, belajar dan selalu seperti itu.
Sanaya yang masih menunggu di depan gerbang tiba-tiba matanya menemukan sosok yang sedang ia tunggu.
"Kenapa lama sekali sih?"
"Di dalam macet!" jawab Aditya dengan entengnya.
"Macet ...., macet ...., apanya yang macet!?"
"Macet itu ada beberapa versi, kalau versi aku tidak bisa cepat keluar itu namanya juga macet!"
"Terserah lah ...., males debat sama kamu!"
"Ya udah kalau males, naik aja cepet!"
Anak laki-laki itu menyerahkan sebuah helm berwarna coklat muda senada dengan warna helm yang ia pakai.
Sanaya segera memakai helmnya dan naik ke atas motor itu, karena terlalu tinggi, Sanaya menjadikan bahu Aditya sebagai tumpuan saat naik.
"Sudah?"
"Sudah!"
Motor itu segera melaju, memecah keramaian jalanan. Jalan itu masih di penuhi oleh anak-anak yang sedang berjalan, di kiri dan kanan jalan beberapa anak memilih untuk berjalan kaki. Ada juga beberapa dari mereka yang memilih menghabiskan uang sakunya sebelum pulang dengan nongkrong di kafe yang ada di sekitar sekolah.
Kawasan itu cukup elit karena sebagian besar penghuni sekolah itu adalah anak-anak dari kalangan atas, anak pengusaha yang setidaknya orang tuanya adalah pemilih sebuah perusahaan.
__ADS_1
Jikapun ada yang bukan adalah anak-anak berprestasi yang memang mendapat beasiswa dari sekolah.
Akhirnya motor itu sampai juga di depan sebuah rumah yang cukup besar. Rumah itu berada di kawasan perumahan elite.
"Turunlah!" ucap Aditya.
"Iya!"
Sanaya melepas helmnya, ia mengamati halaman rumah itu yang cukup luas dengan berbagai macam bunga tertanam di sana.
Rumah Aditya yang lumayan besar, bukan rumah
sederhana seperti yang ia pikirkan.
Penampilan Aditya yang seperti itu, Sanaya jadi mengira jika Aditya adalah salah satu anak penerimaan beasiswa seperti Abimanyu, tapi ternyata tidak.
"Rumah kamu besar ya!"
"Bukan rumah ku tapi rumah papi aku! Ayo masuk!" Ajak Aditya, ia segera menarik tangan Sanaya.
Kedatangan Sanaya dan Aditya langsung di sambut oleh
bunda Aditya.
"Siang bunda!"
"Siang sayang!"
Aditya segera memeluk bundanya itu.
Mata bunda tertuju pada anak gadis yang bersama Aditya.
"Sanaya?" tanyanya, "Kenalkan nama saya Diah, kamu bisa panggil bunda Diah!"
(Kalau kalian ingin tahu siapa bunda Diah ini, bisa langsung cus ke cerita Jodoh 1 , nanti kalian akan di suguhi kisah cinta bunda Diah sama papa Adrian)
"Bunda kok bisa tahu kalau saya Nay?" tanya Sanaya heran, pasalnya ini pertemuan mereka yang pertama.
"Karena Adit selalu menceritakan tentang kamu!" ucap bunda Diah membuat Sanaya segera menoleh pada Aditya.
"Bunda bohong!" ucap Aditya.
"Sudah sudah ...., kita makan siang saja ya!"
Ternyata Bunda Aditya sangat baik dan hangat, Sanaya
bahkan di ajari memasak oleh bunda Diah.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading đ„°đ„°đ„°đ„°
__ADS_1