
Siang ini Sagara sudah mengganti seragamnya dengan kaos oblong khas anak muda, ia juga sudah memakai jaket warna hitamnya.
Hari ini ia sengaja membawa motornya dan meminta Abimanyu untuk mengantar Sanaya.
Saya sudah di depan
Sebuah pesan muncul dari ponsel gadis itu membuat Ariel sedikit terburu-buru, tadi setelah jam sekolah berakhir dia harus ke ruang guru dulu untuk mengumpulkan tugas anak-anak satu kelasnya.
"Ariel!" panggil seseorang membuat langkahnya terhenti.
"Iya?"
Dia Abimanyu, ada yang ingin dia tanyakan terkait dengan kedatangan Ariel di rumahnya kemarin.
Ia tidak mungkin bertanya pada kakeknya karena ia tidak akan mendapat jawaban apapun.
"Bisa bicara sebentar kan?"
"Tapi aku buru-buru!"
"Cuma sebentar saja!"
Karena Abimanyu terus memaksa, akhirnya Ariel pun menyerah.
"Baiklah!"
"Kita duduk di sana!"
Mereka duduk di salah satu bangku yang ada di depan kelas.
"Ada apa?"
"Kami sudah janji kan kemarin. Kenapa ke rumahku?"
Hehhh
Ariel menghela nafas, ia tidak tahu harus memulainya dari mana. Tapi ia yakin jika baik Abi atau kakeknya tahu sesuatu.
"Apa kamu mengenal wanita yang bernama Viona?"
Dan ekspresi yang juga ia dapat dari Abimanyu. Dia juga begitu terkejut saat mendengar nama itu.
"Tuh kan kamu juga mengeluarkan ekspresi yang sama persis seperti kakek kamu, bohong jika kamu bilang tidak tahu sesuatu!"
"Dari mana kamu mengenal orang itu?"
Ternyata Abimanyu tidak sekeras kakeknya. Ariel hampir lupa jika Abimanyu juga sama sepertinya, seorang anak muda yang ingin tahu banyak hal termasuk sesuatu yang membuat mereka penasaran.
"Dia mama ku!"
Ucapan Ariel berhasil membuat Abimanyu terdiam seribu bahasa.
Kring kring kring
Belum juga Ariel kembali bertanya, tiba-tiba ponselnya berdering membuat Ariel menghentikan percakapan mereka. Ia segera menggeser layat ponselnya.
"Hallo Gara!"
"Kamu di mana?"
"Aku masih di dalam, bentar lagu keluar!"
"Ok aku tunggu, nggak lebih dari lima menit!"
"Iya!"
Sambungan telpon terputus, ia segera menoleh kembali pada Abimanyu, sebenarnya masih ingin melanjutkan percakapan mereka tapi ia juga tidak mau membuat Sagara menunggu terlalu lama.
"Maaf ya aku harus pergi!"
"Itu Gara?" tanya Abimanyu dan Ariel pun menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Ariel pun segera menyambar kembali tasnya dan meninggalkan Abimanyu begitu saja.
Jadi Ariel adalah ....
Akhirnya Ariel sampai juga, Sagara tersenyum senang melihat kedatangan Ariel.
"Kamu pakek motor?"
"Kenapa? Nggak suka ya?"
"Nggak! Cuma aneh aja, Yakin bisa bawa motor?"
"Jangan raguin kemampuan aku, ayo naik!"
"Baiklah!"
Ariel pun memakai helm yang di sediakan oleh Sagara dan naik ke atas motor itu.
"Pegangan!"
"Hehh?"
Srekkkkk
Dengan cepat Sagara menarik tangan Ariel dan melingkarkannya di perutnya.
Motor mulai melaju memecah keramaian jalanan di siang hari. Motor memudahkan pengemudinya untuk selip kanan selip kiri.
Hingga akhirnya mereka sampai juga di depan gedung bioskop. Dan Sagara segera mempraktekkan apa yang di lakukan kemarin.
"Mau nonton film apa?" tanya Gara.
"Katanya kemarin ada film yang bagus!?"
"Ah iya lupa, tunggu sebentar ya, aku beli tiketnya dulu!"
"Baiklah, bagaimana kalau aku yang beli pop cornnya dan kamu yang beli tiket?"
"Iya kita bagi tugas dong!"
"Baiklah!"
Di tempat lain, di sekolah itu. Sanaya memang sudah mengatakan jika dia akan pulang terlambat karena ada praktek ipa di lap.
Beberapa nilainya kurang jadi guru Ipa memintanya untuk ngikuti kelas tambahan ipa di kelas lain bersama beberapa teman lainnya.
Setelah berkecimpung di dala. lap, akhirnya Sanaya keluar juga.
Ia sudah akan pulang tapi langkahnya terhenti tepat di depan gedung olah raga itu.
Adit ...., kenapa dia menghampiriku?
Sanaya hampir saja berlalu tapi tangannya segera di tahan oleh Adit.
"Apa sih Dit, sudah gue katakan kan waktu itu, anggap saja kita tidak pernah berteman! Jadi lepasin gue!"
"Mudah banget ngomong gitu, kamu nggak akan bisa semudah itu lepas dari aku!"
"Apa masalahnya?"
Belum juga Aditya menjawab tiba-tiba Abimanyu datang menghampiri mereka.
"Bisa lepasin tangan lo nggak?"
"Kalau gue nggak mau, lo mau ngapain, heh?"
Bug
Tiba-tiba sebuah tonjokan mendarat di pipi Adit, hingga membuat tangan Sanaya terlepas dari genggaman Adit.
Sanaya menutup mulutnya terkejut.
__ADS_1
"Itu yang akan gue lakukan!" ucap Abimanyu sambil menunjuk wajah Adit. Adit hanya tersenyum kecut sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
Ternyata Adit tidak terima, ia segera bangun dan menarik tangan Abi dan ....
Bug
Melakukan pukulan tepat di pipi Abimanyu persis seperti apa yang di lakukan oleh Abi tadi.
"Maka gue akan membalasnya!"
Abimanyu tidak terima, ia pun hampir melayangkan pukulannya kembali dan Adit menangkisnya. Mereka saling tonjok dan terjadi perkelahian.
"Hentikan ...., kalian apa-apaan dih, berhenti!" teriak Sanaya.
Untung saja suasana sekolah sudah sepi jadi tidak begitu banyak anak yang menyaksikannya.
Jika sampai berita ini tersebar pasti akan timbul masalah baru.
"Berhenti ....!" teriak Sanaya kali ini berhasil menghentikan perkelahian mereka.
"Kalian apa-apaan sih hehh? Kayak anak kecil semua!"
Sanaya menarik tangan Abimanyu hingga membuatnya menatap Sanaya, " Dan lo Abi, kenapa datang-datang main tonjok aja?"
"Karena gue suka sama lo, karena gue cinta sama lo, gue nggak suka lo deket-deket sama dia, gue nggak suka lo nangis gara-gara dia!"
"Abi!?" Sanaya begitu terkejut.
"Iya Nay, Abi ini ...., Abi yang selalu mencintaimu, sejak dulu...!"
"Ini nggak mungkin!" gumam Sanaya, ia benar-benar tidak percaya hal ini akan terjadi.
Sanaya memilih berlalu meninggalkan mereka berdua,
"Nay .....!"
Sanaya tidak mengindahkan panggilan Abi, ia terus berjalan meninggalkan dua orang pria itu.
Abi memilih menyusul Sanaya sedangkan Adit masih diam di tempatnya.
"Nay tunggu!" ucap Abi sambil menarik kembali tangan Sanaya hingga membuat tubuh Sanaya berbalik dan masuk ke dalam pelukannya.
"Nay, apa yang aku katakan itu benar Nay, aku kira kamu tahu perasaanku semenjak dulu!"
Sanaya melepaskan pelukan Abimanyu, ia menggeser tubuhnya menjauh dari Abimanyu.
"Bibirmu terluka, pipimu juga lebam, duduklah biar aku obati!"
Sanaya menarik tangan Abi dan memintanya duduk di salah satu bangku yang ada di halaman sekolahnya.
"Tunggu sebentar!"
Sanaya berlari meninggalkan Abi, ia menuju ke kantin untuk meminta air es.
Sanaya segera kembali dan mengompres wajah Abi yang lebam dan menutup lukanya dengan hansaplas yang selalu ia bawa di tasnya.
Tapi sikap Nay menjadi sangat dingin, bahkan Nay tidak ingin membahas tentang kejadian tadi.
"Nay, jangan diamkan aku seperti ini!" ucap Abi saat Sanaya beranjak hendak meninggalkan Abi, ia berdiri membelakangi Abi tanpa berniat untuk membalik tubuhnya.
"Jangan bahas ini lagi Bi, aku mohon!"
Sanaya pun berlalu begitu saja meninggalkan Abi yang sedang dalam keadaan begitu kacau. Ia tahu resikonya jika sampai ia mengungkapkan perasaannya ini.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading đ„°đ„°đ„°đ„°