
Sanaya langsung membawa abi ke rumahnya.
“Abi, kamu kenapa? Nona ada apa ini?” tanya pria tua yang sudah berpuluh tahun mengabdi di rumah besar itu. Dia pak Mun, sopir pribadi mom Ara.
Sekarang pekerjaan itu sudah di gantikan oleh yang lebih muda, pak Mun hanya di minta untuk mengawasi pekerjaan para junior. Memberi arahan pada anak-anak baru.
“Tadi Abi jatuh saat tanding basket kek!” ucap Sanaya dengan masih memapah Abimanyu ke dalam rumah.
“Sini biar saya saja nona!” pak Min berusaha untuk mengganti kan Sanaya tapi Sanaya segera menolaknya.
“Tidak pa pa kek!”
Sanaya membawa Abimanyu ke dalam rumah. Setelah pintu itu di buka oleh pak Mun.
Mereka duduk di sebuah sofa besar.
"Silahkan minumnya nona!" pak Mun kembali dengan membawa segelas jus buah untuk Sanaya.
"Kenapa kakek repot-repot sekali sih? Nay kan tidak memintanya!"
"Tidak pa pa nona, silahkan lanjutkan obrolan kalian. Saya masih ada pekerjaan lain!"
"Baik kek, terimakasih!"
Sanaya mengamati rumah itu, begitu bersih dan rapi walaupun di rumah itu hanya di tinggali dua orang pria tapi tetap saja rumah itu rapi dan bersih.
"Bi!"
"Hmmm?"
Abimanyu menoleh pada Sanaya.
"Apa kamu marah padaku?"
"Kenapa aku harus marah pada mu Nay?"
"Karena aku dekat dengan Adit!"
"Kamu tahu jawabannya!"
"Apa?"
"Kamu terlalu naif Nay, semua perhatian yang kamu berikan pada Adit adalah sesuatu yang istimewa. Orang lain pun akan mengira hal yang aku katakan Nay!"
Lalu bagaimana aku harus bersikap ....., Sanaya seperti serba salah. Banyak hal yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Kerumitan dalam hatinya seperti semakin menjadi.
"Aku pulang dulu ya Bi, cepat sembuh ya!"
"Kamu hati-hati ya!"
Sanaya tersenyum, ia meminum jusnya hingga setengah lalu meninggalkan Abimanyu.
Rumah mereka tidak terlalu jauh, Sanaya memilih berjalan kaki untuk sampai di rumah.
...****...
Sagara, anak laki-laki itu sedang sibuk dengan buku-buku di depannya. Tinggal hari ini dan hukuman itu berakhir, ia menyesal karena dulu dia banyak bermain-main. Memanfaatkan kepintaran Abimanyu untuk mengerjakan semua tugas dari guru privat nya sendiri tanpa Abimanyu, ia harus memulainya dari awal dan mempelajarinya lagi.
Semua ilmu tentang bisnis sudah berhasil ia kuasai.
"Haus banget!" gumamnya sambil memegangi tenggorokannya.
Ia menoleh pada botol minumnya yang sudah kosong.
"Miss!"
"Iya?"
"Boleh saya ambil air minum dulu?" ijinnya pada wanita berkaca mata tebal yang ada di depannya.
__ADS_1
"Silahkan, tapi jangan lama-lama!"
"Baik miss!"
Sagara pun menyambar botol minumnya, dia segera keluar dari ruang baca, langkahnya cukup cepat agar cepat sampai di dapur.
Tapi di ujung tangga itu langkahnya terpaksa berhenti, ia melihat saudara kembarnya.
Bukankah dia menyaksikan pertandingan basket ....
Ia pun segera menghampiri saudaranya itu.
"Kenapa sudah pulang?" tanyanya. Ini baru jam empat dan seharusnya pertandingan basket berakhir jam lima sore.
"Hmmm!"
Sagara melipat tangannya di depan dada.
"Kalau di tanya, jawab yang benar!"
Sanaya memicingkan matanya, bukankah anak laki-laki di depannya itu juga suka melakukan hal itu.
Hehhhhh
Bukannya menjawab pertanyaan Sagara, Sanaya malah menghela nafas.
"Ada apa sih?" Sagara jadi bertambah penasaran.
"Abi cidera, jadi aku harus mengantarnya pulang!"
"Ohhh!"
Sanaya mengerutkan keningnya hingga kedua alisnya hampir menyatu, "Gitu doang?"
"Trus?"
"Kamu nggak tanya bagaimana keadaannya?"
"Hehhh?"
Sagara bukan menjawab rasa penasaran Sanaya, ia malah mengusap kepala Sanaya dan berlalu begitu saja.
"Gara ...., Gara ....!" panggil Sanaya tapi anak laki-laki itu hanya melambaikan tangannya tanpa menolah kembali ke saudari kembarnya.
"Apa sih Gara ini? Suka sekali bikin teka-teki, udah tahu gue nggak pinter!"
Di tempat lain, pertandingan basket itu sudah akan berakhir. Walaupun begitu sulit karena tim mereka kehilangan Abimanyu dan Sagara akhirnya tim mereka memperoleh kemenangan walaupun hanya selisih satu angka saja.
Seharusnya mereka bersorak senang, tapi berbeda sekali dengan anak laki-laki yang duduk di pinggir lapangan itu dia hanya sibuk mengelap keringatnya dengan handuk kecilnya.
"Hay!" beberapa anak perempuan menghampirinya membuatnya mendongakkan kepalanya.
"Boleh kenalan kan, kami tidak pernah melihatmu di tim ini!"
"Iya, saya biasanya tergabung di tim Red!"
"Pantesan saja kami tidak melihat sebelumnya, Baik tim Red dan tim Blue tetap sama-sama hebat sih!"
"Terimakasih!"
"Kenalkan, saya Resa, dia Aulia dan ini Sasa!"
"Saya Adit, maaf tapi saya tidak bisa ngobrol banyak, permisi!"
Aditya memilih berdiri dari duduknya dan meninggalkan gadis-gadis itu.
Sikapnya berubah, bukan itu yang ia mau. Dia hanya ingin Sanaya yang memberinya selamat hanya itu.
Tapi bahkan gadis itu sama sekali tidak mengirim pesan untuknya dan menanyakan bagaimana hasil pertandingannya.
__ADS_1
Hehhhhh
Aditya menghela nafas, ia berdiri di depan cermin besar yang ada di kamar mandi menatap wajahnya sendiri di cermin. Menopang tubuhnya dengan kedua tangan.
"Kenapa jadi rumit gini sih hati gue?" gumamnya.
Dia tidak pernah berpikir jika berurusan dengan wanita akan membuat hidupnya rumit. Dia pikir dekat dengan wanita bukanlah masalah besar.
"Dit, belum pulang lo?" tanya seorang anak yang tiba-tiba muncul dari dalam kamar mandi, sepertinya dia juga baru mandi.
"Belum!"
"Anak-anak mau merayakan kemenangan tim kita, lo ikut aja!"
"Sorry, gue nggak bisa! Ada urusan lain soalnya!"
"Okey deh, gue bilang sama anak-anak lain!"
"Thanks ya!"
"Santai aja bro!"
Setelah anak itu pergi, Aditya segera meninggalkan tempat itu. Ia menyambar tasnya dan segera meninggalkan gedung olah raga.
Ia menuju ke tempat motornya terparkir. Ia memakai helm full face nya dan segera menaiki motornya.
Motor besar itu melaju begitu cepat, bukan untuk pulang ke rumahnya tapi dia pergi ke suatu tempat.
Ke sebuah markas anak motor, di sana beberapa motor dengan model sama terparkir di halaman.
Aditya segera memarkirkan motornya bersama motor-motor itu.
"Muncul juga akhirnya lo! Kemana aja akhir-akhir ini?" tanya salah satu anak yang sedang memainkan ponselnya. Aditya segera bergabung dengan mereka.
"Ada urusan, kok sepi lainnya ke mana?"
"Ya semenjak lo jarang datang ke sini, anak-anak jadi males buat ngumpul!"
"Ohhhh!"
"Nggak semangat banget, lo kenapa?" tanya salah satu dari mereka saat melihat wajah kusut dari Aditya.
"Nggak pa pa, cuma capek aja! Ada info nggak malam ini?"
"Ada, taruhannya lumayan, sepuluh juta!"
"Gue ikut!"
Spesial visual Aditya
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰