My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 55


__ADS_3

 


Bertahan Dan Melepaskan Sama-Sama


Menyakitkan Namun Jauh Lebih Menyakitkan Jika Harus Berjuang Sendirian


By Rosmawati



Setelah memasuki mobil , Ara terdiam sambil menunggu kedatangan pak


Mun yang berjalan di belakangnya, ia seperti sedang memikirkan sesuatu


“maaf nona harus menunggu ...” ucap pak Mun ketika sudah duduk di


balik kemudi, dan Ara hanya membalas dengan senyuman, tapi tetap saja wajahnya


tak menunjukkan jika ia sedang tidak apa-apa


“apa nona baik-baik saja?”


“iya pak ....., jangan khawatirkan aku” jawab Ara menyakinkan pak


Mun supaya ia tidak berpikir macam-macam


“ apakah boleh mampir ke suatu tempat dulu sebelum pulang?”


“maaf nona”


“hanya sebentar ...” setelah berpikir sebentar baru pak Mun bisa


menjawabnya


“baiklah nona, tapi sebentar saja sebelum nyonya dan tuan muda


pulang”


“ok ... siaap ....”


“kita kemana nona?”


“ke taman kota ...”


Pak Mun segela melajukan mobilnya, sedangkan Ara sibuk mencari


nomor kontak di ponselnya setelah menemukannya segera menekan tombol panggil


Tut tut tut


“hallo kak ..., aku merindukanmu,  kenapa kakak susah sekali di hubungi? bagaimana


kabar kakak, kakak lama sekali tak menghubungiku, bagaimana keadaan kakak,


kakak baik-baik saja kan, aku sungguh mencemaskanmu” Ara hanya bisa nyengir


mendengar kecrewetan adiknya


“bisa nggak tanyanya satu satu?’ Ara mendengus kesal karena tak mau


buang-buang waktu


“maaf kak aku terlalu bersemangat, nomor kakak tak bisa di hubungi,


membuatku cemas saja”


“temui aku di taman kota ya”


“kapan kak?”


“sekarang ...”


Tut tut tut


Belum sempat Ara menjawab Nadin sudah lebih dulu menutup telponnya


“ah ..., kebiasaan memang anak ini, seenaknya saja menutup telpon”


gumam Ara, membuat orang di sampingnya melengkungkan senyumnya samar hingga tak


di sadari oleh Ara


“nona benar-benar mengingatkanku pada putriku, seandainya dia


sepertimu, mungkin ...” batin pak Mun sambil terus memperhatikan Ara melalui


kaca yang tergantung di depan


“tolong lebih cepat ya pak ..., aku ingin sedikit lebih lama di


sana”

__ADS_1


“baik nona...” pak mun sedikit menambahkan kecepatan mobilnya,


untung saja masih satu jam lagi jam pulang kantor, jadi jalanan sedikit lengang


Mobil pun sudah berhenti di tepi jalan , jalan yang memang di


sediakan untuk parkir mobil pengunjung taman, sore itu udara cukup bersahabat,


angin berhembus mengibarkan anak rambut gadis yang sedang menunggu kedatangan


kakaknya di salah satu bangku di pinggir danau


“Nadin ...” ara segera menghampiri adiknya


“kakak ...., aku merindukanmu ...” nadin segera berhambur memeluk


kakaknya, pelukannya terlepas saat melihat orang yang berada di belakang


kakaknya


“selamat sore ....” nadin menundukkan kepalanya memberi hormat pada


orang-orang di belakan Ara, Ara pun ikut meoleh kebelakang


“pak Mun bisa tinggalkan kami berdua saja ...”


“tapi nona”


“saya akan aman, pak Mun bisa mengawasiku dari sama” Ara menunjuk


sebuah bangku kosong yang jaraknya tak begitu jauh dari tempatnya berdiri


sekarang


“baik nona ...” pak mUn pun tak punya pilihan selain menurutinya,


ia dan dua pengawal itu berjalan ke bangku yang di tunjuk Sara, pak mun duduk


mengawasi sedangkan dua pengawal itu tetap berdiri di samping pak Mun, memang


selain pak Salman dan Rendi pak Mun merupakan senior yang patut di segani


Ara mengajak nadin untuk kembali duduk, mereka memandangi air danau


yang tampak mengkilat karena terpaan sinar matahari sore yang hampir saja


tenggelam, cahaya jingga menambah keindahan di permukaan air, angin yang


“mereka siapa kan menakutkan sekali?”


“mereka yang mengawalku”


“hah ...., pengawal .....? kakak seperti putri raja saja


kemana-mana selalu di kawal”


“aku juga merasa seperti itu ....hahahah...”


“cihhhh, kakak ini.....bagaimana kabar kakak? Aku merindukanmu,


rasanya beda tanpa kakak di rumah, Ayah begitu merindukanmu hingga ia harus


tidur setiap malam di kamar kakak”


“benarkah ....’


‘jadi kakak meragukanku, kita aku begitu merindukanmu, jahat sekali


...”


“dasar kau ini...” Ara memukul kepala adiknya pelan “ bukan itu


yang kakak maksud, aku percaya...., ayah merindukanku?”


“iya..., pulanglah kak ...”


“mana bisa aku pulang, untuk bisa keluar seperti ini saja butuh


ijin yang rumit ....”


“benarkah seperti itu? Lalu bagaimana dengan ...” Nadin menatap


pada perut Ara yang masih rata


“kau kan tahu sendiri, aku sudah mengatakannya padamu, semua itu


tidak benar-benar terjadi”


“iya aku tahu kak, tapi ini sudah empat bulan setelah kakak


menikah, bukankah waktu kakak tinggal hitungan hari , semua orang akan tahu”

__ADS_1


“iya kau tahu ...., aku akan pergi setelah semuanya terungkap”


“apa kakak benar-benra tidak ...., maksudku sampai sekarang belum


memiliki perasaan pada kak Agra, dia orang baik kak, walaupun aku tahu caranya


untuk menunjukkan kadang terlihat begitu kasar, tapi aku tahu hatinya lembut”


“kamu sok tahu dek ...”


“mungkin kakak belum menyadari saja kalau sebenarnya kakak


mencintai kak Agra”


“tapi nona Viona?”


“dia manta..., Cuma MANTAN PACAR...., masih kalah dengan status


kakak sekarang”


Belum sempat Ara menjawab, pak mun sudah berdiri di hadapan mereka


“ini sudah waktunya pulang nona”


“hah ...., secepat itu” Ara begitu kecewa karena rasa rindunya pada


Nadin belum terobati


“kita mungkin akan sedikit terlambat jika nona mengulur waktu lagi”


“oh ...., astaga ....” Ara menatap wajah nadin yang juga terlihat


tidak rela


“maafkan kakak dek, kakak harus pergi, salam buat ayah, bilang aku


merindukannya” Ara memelik adiknya dan sedikit menitikkan air matanya tapi


segera menghapusnya sebelum Nadin menyadari


“aku pasti merindukanmu kak, setelah semuanya, tetaplah pulang ke


rumah ...., rumah itu akan tetap terbuka untuk kakak”


“baik dek, kakak harus menyelesaikan yang harus kakak selesaikan,


tunggu kakak kembali” nadin hanya mengangguk


“mari nona” pak Mun merasa tak sabar karena terlalu lama


Ara segera melepaskan pelukannya dan berdiri meninggalkan adiknya,


ia melangkah, tapi belum sampai sepuluh langkah, langkahnya terhenti


“sempatkan untuk mengunjungi ayah kak ...” nadin berteriak, dan Ara


hanya menoleh sebentar dan mengangguk, ia langsung melanjutkan langkahnya tak


mau membuat masalah untuk orang lain, jika ia terlambat mungkin bukan Cuma dia


yang akan terkena masalah, semua kana terkena masalah karena ulahnya.



"Tidak


peduli betapa beratnya cobaan yang ingin menggoyahkan hubungan kita, aku tetap


mempertahankanmu untuk belajar mencintaimu."


"Meski


ada banyak orang lain yang lebih baik, aku  akan menyerah untuk menjadi yang terbaik dalam


hidupmu."


"Setidaknya aku sudah berusaha memperjuangkan hubungan ini.


Namun jika kamu lebih memilihnya, aku harus apa?" gumam Ara tanpa terasa sudut matanya menitikkan cairan bening saat langkahnya terhenti di depan mobil yang sudah terparkir apik


 “### Ketika kamu telah menemukan cinta sejati,


jangan berniat untuk menemukannya lagi. Peluk dan genggamlah dia selama kamu


masih memilikinya.”


tetap kasih dukungan dengan memberikan LIKE dan KOMENTARNYA ya ....


author begitu mengharapkan nya .......


dan beberapa VOTE juga .....

__ADS_1


__ADS_2