
Bertahan Dan Melepaskan Sama-Sama
Menyakitkan Namun Jauh Lebih Menyakitkan Jika Harus Berjuang Sendirian
By Rosmawati
Setelah memasuki mobil , Ara terdiam sambil menunggu kedatangan pak
Mun yang berjalan di belakangnya, ia seperti sedang memikirkan sesuatu
“maaf nona harus menunggu ...” ucap pak Mun ketika sudah duduk di
balik kemudi, dan Ara hanya membalas dengan senyuman, tapi tetap saja wajahnya
tak menunjukkan jika ia sedang tidak apa-apa
“apa nona baik-baik saja?”
“iya pak ....., jangan khawatirkan aku” jawab Ara menyakinkan pak
Mun supaya ia tidak berpikir macam-macam
“ apakah boleh mampir ke suatu tempat dulu sebelum pulang?”
“maaf nona”
“hanya sebentar ...” setelah berpikir sebentar baru pak Mun bisa
menjawabnya
“baiklah nona, tapi sebentar saja sebelum nyonya dan tuan muda
pulang”
“ok ... siaap ....”
“kita kemana nona?”
“ke taman kota ...”
Pak Mun segela melajukan mobilnya, sedangkan Ara sibuk mencari
nomor kontak di ponselnya setelah menemukannya segera menekan tombol panggil
Tut tut tut
“hallo kak ..., aku merindukanmu, kenapa kakak susah sekali di hubungi? bagaimana
kabar kakak, kakak lama sekali tak menghubungiku, bagaimana keadaan kakak,
kakak baik-baik saja kan, aku sungguh mencemaskanmu” Ara hanya bisa nyengir
mendengar kecrewetan adiknya
“bisa nggak tanyanya satu satu?’ Ara mendengus kesal karena tak mau
buang-buang waktu
“maaf kak aku terlalu bersemangat, nomor kakak tak bisa di hubungi,
membuatku cemas saja”
“temui aku di taman kota ya”
“kapan kak?”
“sekarang ...”
Tut tut tut
Belum sempat Ara menjawab Nadin sudah lebih dulu menutup telponnya
“ah ..., kebiasaan memang anak ini, seenaknya saja menutup telpon”
gumam Ara, membuat orang di sampingnya melengkungkan senyumnya samar hingga tak
di sadari oleh Ara
“nona benar-benar mengingatkanku pada putriku, seandainya dia
sepertimu, mungkin ...” batin pak Mun sambil terus memperhatikan Ara melalui
kaca yang tergantung di depan
“tolong lebih cepat ya pak ..., aku ingin sedikit lebih lama di
sana”
__ADS_1
“baik nona...” pak mun sedikit menambahkan kecepatan mobilnya,
untung saja masih satu jam lagi jam pulang kantor, jadi jalanan sedikit lengang
Mobil pun sudah berhenti di tepi jalan , jalan yang memang di
sediakan untuk parkir mobil pengunjung taman, sore itu udara cukup bersahabat,
angin berhembus mengibarkan anak rambut gadis yang sedang menunggu kedatangan
kakaknya di salah satu bangku di pinggir danau
“Nadin ...” ara segera menghampiri adiknya
“kakak ...., aku merindukanmu ...” nadin segera berhambur memeluk
kakaknya, pelukannya terlepas saat melihat orang yang berada di belakang
kakaknya
“selamat sore ....” nadin menundukkan kepalanya memberi hormat pada
orang-orang di belakan Ara, Ara pun ikut meoleh kebelakang
“pak Mun bisa tinggalkan kami berdua saja ...”
“tapi nona”
“saya akan aman, pak Mun bisa mengawasiku dari sama” Ara menunjuk
sebuah bangku kosong yang jaraknya tak begitu jauh dari tempatnya berdiri
sekarang
“baik nona ...” pak mUn pun tak punya pilihan selain menurutinya,
ia dan dua pengawal itu berjalan ke bangku yang di tunjuk Sara, pak mun duduk
mengawasi sedangkan dua pengawal itu tetap berdiri di samping pak Mun, memang
selain pak Salman dan Rendi pak Mun merupakan senior yang patut di segani
Ara mengajak nadin untuk kembali duduk, mereka memandangi air danau
yang tampak mengkilat karena terpaan sinar matahari sore yang hampir saja
tenggelam, cahaya jingga menambah keindahan di permukaan air, angin yang
“mereka siapa kan menakutkan sekali?”
“mereka yang mengawalku”
“hah ...., pengawal .....? kakak seperti putri raja saja
kemana-mana selalu di kawal”
“aku juga merasa seperti itu ....hahahah...”
“cihhhh, kakak ini.....bagaimana kabar kakak? Aku merindukanmu,
rasanya beda tanpa kakak di rumah, Ayah begitu merindukanmu hingga ia harus
tidur setiap malam di kamar kakak”
“benarkah ....’
‘jadi kakak meragukanku, kita aku begitu merindukanmu, jahat sekali
...”
“dasar kau ini...” Ara memukul kepala adiknya pelan “ bukan itu
yang kakak maksud, aku percaya...., ayah merindukanku?”
“iya..., pulanglah kak ...”
“mana bisa aku pulang, untuk bisa keluar seperti ini saja butuh
ijin yang rumit ....”
“benarkah seperti itu? Lalu bagaimana dengan ...” Nadin menatap
pada perut Ara yang masih rata
“kau kan tahu sendiri, aku sudah mengatakannya padamu, semua itu
tidak benar-benar terjadi”
“iya aku tahu kak, tapi ini sudah empat bulan setelah kakak
menikah, bukankah waktu kakak tinggal hitungan hari , semua orang akan tahu”
__ADS_1
“iya kau tahu ...., aku akan pergi setelah semuanya terungkap”
“apa kakak benar-benra tidak ...., maksudku sampai sekarang belum
memiliki perasaan pada kak Agra, dia orang baik kak, walaupun aku tahu caranya
untuk menunjukkan kadang terlihat begitu kasar, tapi aku tahu hatinya lembut”
“kamu sok tahu dek ...”
“mungkin kakak belum menyadari saja kalau sebenarnya kakak
mencintai kak Agra”
“tapi nona Viona?”
“dia manta..., Cuma MANTAN PACAR...., masih kalah dengan status
kakak sekarang”
Belum sempat Ara menjawab, pak mun sudah berdiri di hadapan mereka
“ini sudah waktunya pulang nona”
“hah ...., secepat itu” Ara begitu kecewa karena rasa rindunya pada
Nadin belum terobati
“kita mungkin akan sedikit terlambat jika nona mengulur waktu lagi”
“oh ...., astaga ....” Ara menatap wajah nadin yang juga terlihat
tidak rela
“maafkan kakak dek, kakak harus pergi, salam buat ayah, bilang aku
merindukannya” Ara memelik adiknya dan sedikit menitikkan air matanya tapi
segera menghapusnya sebelum Nadin menyadari
“aku pasti merindukanmu kak, setelah semuanya, tetaplah pulang ke
rumah ...., rumah itu akan tetap terbuka untuk kakak”
“baik dek, kakak harus menyelesaikan yang harus kakak selesaikan,
tunggu kakak kembali” nadin hanya mengangguk
“mari nona” pak Mun merasa tak sabar karena terlalu lama
Ara segera melepaskan pelukannya dan berdiri meninggalkan adiknya,
ia melangkah, tapi belum sampai sepuluh langkah, langkahnya terhenti
“sempatkan untuk mengunjungi ayah kak ...” nadin berteriak, dan Ara
hanya menoleh sebentar dan mengangguk, ia langsung melanjutkan langkahnya tak
mau membuat masalah untuk orang lain, jika ia terlambat mungkin bukan Cuma dia
yang akan terkena masalah, semua kana terkena masalah karena ulahnya.
"Tidak
peduli betapa beratnya cobaan yang ingin menggoyahkan hubungan kita, aku tetap
mempertahankanmu untuk belajar mencintaimu."
"Meski
ada banyak orang lain yang lebih baik, aku akan menyerah untuk menjadi yang terbaik dalam
hidupmu."
"Setidaknya aku sudah berusaha memperjuangkan hubungan ini.
Namun jika kamu lebih memilihnya, aku harus apa?" gumam Ara tanpa terasa sudut matanya menitikkan cairan bening saat langkahnya terhenti di depan mobil yang sudah terparkir apik
“### Ketika kamu telah menemukan cinta sejati,
jangan berniat untuk menemukannya lagi. Peluk dan genggamlah dia selama kamu
masih memilikinya.”
tetap kasih dukungan dengan memberikan LIKE dan KOMENTARNYA ya ....
author begitu mengharapkan nya .......
dan beberapa VOTE juga .....
__ADS_1