
Pagi ini di kamar itu Ara menggulung tubuhnya ke dalam selimut, ia
merasa malas untuk bangun, ia terus mengacak rambutnya sendiri, meratapi
kebodohanya
“apa kau benar-benar tidak mau bangun?” tanya agra yang sudah siap
dengan kemejanya, sudah rapi hendak ke kantor, tapi Ara masih dengan sangat
malas untuk beranjak dari atas tempat tidur
“aku harus bagaimana?” Ara malah balik bertanya, ternyata ucapan
Agra tadi malam masih mengganggu pikirannya
“bangunlah ...., kita sarapan” Agra memberi perintah pada istrinya
“kau harus membantuku jika aku kena hukuman” Ara benar-benar merasa
cemas memikirkan hukuman yang akan di terimanya
“aku harus ke kantor ...”
“kau menyebalkan sekali, kau tak setia kawan, kau kan ikut
memakannya ....” Ara mengerucutkan bibirnya karena kesal
“tidak pa pa ..., tapi aku setia istri ...” Agra berkata sambil
mendekatkan wajahnya ke wajah Ara dengan sebelah tangannya di jadikan tumpuan
untuk menyangga tubuhnya dan mencubit hidung Ara
“ihhhh ......” Ara memukul dada Agra “ kau menyebalkan sekali”
“augggh...., kau galak sekali ...” Agra pura-pura mengaduh sakit
“siapa suruh menggodaku”
“kau yang menggodaku, awas saja kalau aku hitung sampai tiga kau
tak juga bangun maka aku akam memakanmu lagi, kita lanjutkan yang tadi malam”
“hahhhh ....” Ara terbelalak mendengar ancaman suaminya, ia paham
apa yang di maksud dengan memakan
“mulai sekarang ...., sat...” belum sempat Agra melanjutkan ara
sudah lebi dulu lari terbirit ke kamar mandi
“aku mandi ....”
‘baguslah ...., aku akan menunggumu” teriak agra saat Ara sudah
memasuki kamar mandi
‘dia sungguh menggemaskan” gumam Agra sambil merapikan dasinya
Setelah Ara selesai mandi, Agra segera mengajak Ara untu turun sarapan
bersama, di meja makan sudah terlihat Ratih, Salma dan juga Rendi
“selamat pagi ibu”
“selamat pagi paman”
“selamat pagi pak Rendi”
seperti biasa Ara menyapa mereka semua baru akan duduk di kursinya
“selamat pagi ibu..., paman ...” Agra juga menyapa sebelum duduk
“ selamat pagi nona, tuan muda ...” Salman dan Rendi berdiri
menyambut Agra dan Ara
Setelah basa basi itu, mereka sarapan dengan sangat hikmat..., tak
ada yang berkeinginan untuk membuka suara
“nyonya kami menemukannya” Bi anna datang dari belakang
memnghampiri mereka yang sedang sarapan, Ratih segera melihat yang di bawa bi
Anna , Begitu juga dengan semua yang ada di ruangan itu
__ADS_1
“astaga ...., mati aku ....” batin Ara, sambil menggigit bibir
bawahnya untuk mengurangi rasa cemasnya
, seketika wajah Ara berubah pias, jantungnya berdetak lebih cepat
, keringat dingin sudah keluar tanpa ijin, tangannya yang memegang sendok
sedikit terlihat bergetar. Ia segera melepaskan sendoknya dan menyembunyikan
tangannya yang bergetar di balik meja supaya tidak ada yang menyadarinya
“apa yang kau lakukan?” Ratih menatap Ara tajam, dan Ara hanya bisa
menunduk, Agra yang melihatnya langsung menggengam tangan Ara memberi kekuatan
“itu milikku ibu, aku yang menyuruhnya membuatkannya untukku” agra
mencoba membela
“buang semuanya” Ratih menyuruh bi Anna membuang beberapa bungkus
mie instan itu
“baik nyonya” bi Anna segera undur diri
“kau tahu apa kesalahanmu?” Ratih masih belum beralih dari menatap
Ara
‘aku tahu ibu” Ara berucap gemetar
“karena kau telah melanggar aturan rumah ini, jadi kau harus
menjalani hukumanmu”
“baik ibu ...” Ara masih terus menunduk sambil menggigit bibir
bawahnya
“kau tahu kau sedang hamil, makan makanan yang tak seharusnya akan
membahayakan janinmu”
“maafkan aku ibu”
ingat semua makanan harus kau makan sesuai yang di berikan bi Anna”
“astaga ...., ini tidak masuk akal ...., aku hanya akan mendekam di
dalam kamar...., seharian ....., aku mau menangis ....” batinAra
“kau sanggup?”
“baik ibu ...” Ara menatap Agra sekilas, melihat pria itu
tersenyum jahil
“baiklah ibu, aku harus segera berangkat, mungkin aku akan kembali
cepat pada jam makan siang ...” ucap Agra sambil tetap tersenyum jail pada Ara
“astaga ...., apa yang dia pikirkan, menakutkan ...” gumam Ara
Setelah Agra dan Rendi meninggalkan ruang makan, Ratih kembali
menatap Ara
“masuklah ke kamarmu, hukuman di mulai dari sekarang” Ara hanya
bisa mengangguk pasrah dan segera berdiri dari duduknya
“permisi ibu, permisi paman” Ara segera meninggalkan meja makan dan
berlalu naik ke tangga menuju ke dalam kamar, walaupun kamar itu tidak di kunci
jelas ia tidak bisa keluar karena ada CCTV di setiap sudut ruangan
***
kini hubungan Agra dan Ara sudah masuk ke jenjang selanjutnya,
hubungan mereka sudah menjadi hubungan layaknya suami istri yang sesungguhnya,
Ara berusaha menjadi istri yang baik untuk suaminya
Agra memanfaatkan hukuman yang di berikan pada ibunya, ia pulang di
jam makan siang
__ADS_1
“kok sudah pulang?” ara menyambut kepulangan suaminya dengan penuh
keheranan, bercampur senang karena pikirnya ia tidak akan bosan karena ada yang
menemaninya di dalam kamar
Cup
Sebuah kecupan mendarat di keningnya
“kau bilang tadi pagi ingin aku membantumu menjalankan hukumanmu,
kau ini gimana?” jawab agra sambil menakup nkedua pipi Ara gemas
“maksudnya......, kau akan mengajakku keluar?” tapi Agra malah
menggeleng
“lalu apa?”Ara bertanya dengan sangat penasaran
“aku akan menemanimu sayang ....”Agra mencakup kedua pipi Ara gemas
“ciihhhh..., apa bedanya ada kamu atau tidak, tetap saja nggak bisa
keluar” gerutu Ara
“aku merindukanmu sayang, jauh darimu benar-benar menyiksaku”
Agra pun meraih pinggang istrinya dan menciumi terngkuk istrinya,
seakan aroma tubuh istrinya adalah oksigen yang harus ia hirup setiap hari,
rasa sayangnya semakin hari semakin besar
“aughhh..., sekarang jadi pinter gombal ya” Ara melenguh karena sudah merasa geli berusaha melepaskan pelukan
Agra
“aku nggak gombal sayang, aku sepertinya nggak sanggup sehari saja
tanpa kamu”
tapi pelukan agra malah
semakin erat, seakan tak mau lepas
“sudah lepaskan sayang, biar aku siapkan air untukmu, bau tahu ...”
“iya deh sayang ku” Agra pun menyerah dan membiarkan Ara ke kamar
mandi,
tapi jangan di tanya kalau tidak jail bukan Agra namanya, sikap
dingin yang sering di tunjukkan dulu pada Ara seakan memudar dengan sendirinya
di ganti dengan sikap manja
Agra malah mengikuti Ara masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci
pintunya, tentu saja Ara sangat terkejut karena pelukan Agra dari belakan
sambil membisikkan kata-kata mesra di telinganya
“mandi bareng yuk sayang ...” seketika Ara seakan kehilangan
kekuatannya hanya untuk menopang berat tubuhnya,
“kau mengerjaiku ...”
mandi yang harusnya hanya butuh waktu 15 menit, kini harus lebih
lama 1 jam barus mereka keluar dari kamar mandi
setelah acara mandi, Agra dan Ara duduk di atas tempat tidur dengan
Agra yang tidur dan menggunakan pangkuan Ara sebagai bantal kepalanya
“apa pak Rendi tidak pa pa di tinggal sendiri?”
“dia sudah biasa bekerja sendiri, jangan khawatirkan dia”
“### kau kejam sekali ....”
jangan lupa kasih dukungan pada author ya dengan memberikan like dan komentarnya
kasih vote juga ya
hari ini aku kasih dua episode sekaligus looooooohhhhh
__ADS_1