
jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi , tapi jalannan terlihat sedikit lengang karena hari libur. tapi tak sedikit mobil -mobil bergerak sedikit lebih cepat dari hari biasanya, motor lebih leluasa menyelip di antara kendaraan besar, bus kota terluhat sedikit lengang karena banyak dari mereka yang lebih suka menghabiskan weekend dengan tiduran di rumah
Mobil Agra telah sampai di depan
gedung universitas tempat Nadin menempuh pendidikan
“apa kau sudah menghubunginya?” tanya Agra saat Ara hendak turun
dari mobil "bukankah ini hari libur?"
“sudah..., dia menungguku di taman, dia ada urusan sedikit di kampus”
“baiklah, aku jemput dua jam lagi di sini”
“baiklah ..., hati-hati di jalan” Ara pun segera turun dari mobil
dan melambaikan tangannya pada Agra
Mobil Agra pun melaju hingga tak terlihat lagi dari jangkauan Ara,
Ara segera berjalan menuju taman yang sudah di tujuk Nadin
Tanaman serbian sepruti menjadi objek pandangannya ketika melewati
jalan yang menghubungkan dua sisi jalan , setelah berjalan menyusuri jalan di
sampin taman, pandangannya tertuju pada salah satu bangku taman
Nadin sudah melambaikan tangannya pada Ara, ia duduk di salah satu
bangku taman di bawah pohon perdu yang begitu sejuk
“kakak ...., aku merindukanmu ...” nadin segera memeluk Ara, ketika
Ara sudah berlari mendekat
“aku juga merindukanmu dek”
“duduklah kak ...” Ara pun ikut duduk di samping Nadin
“begaimana kabar Ayah dek?”
“jika kakak rindu pada ayah, kenapa tidak ke rumah saja, kita bisa
bertemu di sana”
“ayah masih marah padaku dek, bahkan ayah tidak pernah mau mengakat
telpon dariku”
“tapi ayah merindukanmu kak, ayah sudah jarang tersenyum semenjak
kakak pindah”
“mungkin ayah masih butuhg waktu dek”
***
Agra menghentikan mobilnya di depan sebuah kafe, yang biasa di
__ADS_1
gunakan tiga sekawan itu untuk ngobrol dan nongkrong tanpa membicarakan
pekerjaan di hari minggu
Agra langsung masuk dan menemukan ruang VVIP di dalam kafe itu, di
sana sudah duduk dua sahabatnya
“hai ...bro ...” sapa Agra pada kedua sahabatnya dan langsung ikut
bergabung, ia duduk di sofa yang berbeda dengan kedua sahabatnya
“sendiri? Bukankah bersama Ara?” tanya Rendi saat melihat Agra hanya datang seorang diri
“sudah ku duga pasti ibu melaporkannya padamu” jawab Agra malas
saat mengetahui jika sahabatnya itu menjadi mata-mata ibunya
“lalu di mana Ara?” tanya Rendi lagi seakan tak mempedulikan
kekesalan Agra
“bukan urusan lo ...” jawab Agra ketus
“santai bro ..., kita di sini mau nongkrong bukan untuk berdebat,
ok ...” Frans mencoba menengahi perdebatan dua sahabatnya
“akan bahaya jika Ara pergi sendiri” Rendi masih dengan
pendiriannya ingin tahu keberadaan Ara
“dia istri gue, jadi jangalah terlalu mengurusi urusanku”
“benarkah seperti itu ...? bukan karena kau terlalu mencemaskan
istriku?” jawab Agra dengan nada dinginnya sambil mengambil minuman yang sudah
di pesankan oleh kedua sahabatnya
“bisakah kalian bersikap biasa saja ...., kalian ini seperti anak
kecil saja” lagi-lagio Frans mencoba menengahi “memangnya kau tinggal di mana
kakak ipar?” tanya Frans santai
“aku mengantarnya bertemu dengan adiknya”
“oh ...., bukankah itu tidak membahayakan, iya kan bro?” Frans
kembali meminta persetujuan pada Rendi yang sudah terlihat gusar
“di rumah ...?” tanya Rendi lagi
“ia bertemu dengan adiknya di kampus”
“apa.....” Rendi benar-benar terkejud dengan kecerobohan Agra
“kenapa kau terkejud sekali?” tanya Agra santai
__ADS_1
“bukankah itu kampus Dio juga”
“benarkah, itu itak masalah ....” tapi nyatanya apa yang di
katakan tak sesuai dengan apa yang ada
dalam pikirannya
Mau tak mau pikiran Agra terganggu saat nama dio di sebutkan, ada
rasa yang aneh yang tak ingin itu terjadi
“gue pergi ...” tanpa berkata apa pun Agra langsung meninggalkan
kedua sahabatnya
“lo mau ke mana ...?’ tanya Rendi saat agra tiba-tiba pergi, tapi
Agra enggan menjawab pertanyaan sahabatnya dan hendak mengejarnya, tapi
langkahnya terhenti
“sudah jangan di kejar, aku tahu kemana dia akan pergi” Frans
terlihat begitu santai
“kenapa dia, dia ceroboh sekali” gumam rendi
“jangan di pikirkan, dia akan melakukan apa yang seharusnya dia
lakukan” Frans menepuk punggung sahabatnya
“memang kemana dan apa yang akan dia lakukan?” Rendi pun kembali
duduk di tempatnya
“dia pasti menemui kakak ipar, kayaknya Agra sudah mulai jatuh
cinta”
‘syukurlah ...”
“lo harus merubah haluan ..., jika sudah rela, maka relakan ...,
jangan membuat dirimu terluka semakin dalam”
“aku tahu ...”
“tapi wajahmu itu tak bisa menyembunyikan jika kau memang ...”
ucapan Frans menggantung
“sudah hentikan, aku pergi ...” Rendi pun malah meninggalkan Frans
seorang diri
“he kau ...., dasar ..., begitulah jika sudah urusannya dengan
perempuan, semuanya jadi ribet ....” gumam Frans saat Rendi juga sudah tak
__ADS_1
terlihat lagi
***