My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Extra part 12


__ADS_3

"Bu Dewi ini sekarang sudah menjadi ibumu ...!"


"Maksudnya?"


"Ayah sudah menikah dengan ibu Dewi . ..!" ucap Roy pada Ara, ia memegang tangan putri sulungnya itu.


"Apa?" Ara begitu terkejut mendengar ucapan ayahnya.


*Bagaimana ayah menyembunyikan hal sebesar ini ...?


PoV Ara


aku benar-benar terkejut dengan apa yang di katakan Ara, ayahku mengatakan hal itu, setelah sekian lama.


Ya jika di ingat saya dan Nadin dulu begitu menginginkan ayah untuk menikah lagi. Tapi ternyata kabar ini begitu mengejutkan untukku.


Apakah Nadin juga merasakan hal yang sama seperti aku? Dimana dia?


Aku mengedarkan pandanganku ke semua yang ada di sana, dia tidak ada. Aku mungkin tak akan apa, tapi bagaimana dengannya, apa dia bahagia?


"Nak ....?"


Panggilan dari ayah segera menfokuskan mataku kembali pada ayah, ayah menatapku sendu.


"Maaf yah ...!"


"Maaf?"


"Apa ayah bahagia?"


Aku harus meyakinkan diriku sendiri jika ayah saat ini sedang bahagia. Aku menatap ayahku, memastikan tidak ada yang berusaha mempengaruhinya.


"Sayang ....., ayah bahagia, tentu ayah sangat bahagia."


Hatiku terasa lega, setidaknya ayah sekarang tak sendiri lagi di masa tuanya, Nadin, dia mungkin juga akan menikah dan meninggalkan ayah. Tapi saat belum mendapatkan kepastian dari Nadin, aku belum bisa tenang.


"Lalu Nadin?" tanyaku lagi pada ayah, mungkin aku terlihat seperti anak yang terlalu protektif, atau posesif, entahlah .... ,biarkan orang lain menganggapku seperti itu, asalkan aku bisa melihat keluargaku bahagia.


"Aku rasa, Nadin juga bahagia, dia mencintai nenek dan ibu Dewinya. Tapi kamu bisa pangsung bertanya padanya ...." ucap ayah, kemudian dia mengedarkan pandangannya. "Dimana anak itu?"


"Aku tidak melihatnya sedari tadi ayah, kak Divta juga tidak ada."


Ya sedari tadi aku juga tidak melihat kak Divta, bukankah kak Divta yang menjemput mereka. Lalu di mana mereka berdua?


"Biar aku cari mereka, sayang..." ucap Agra menawarkan diri, aku hanya bisa mengangguk. Tapi saat Agra hendak bangun dari duduknya, kak Divta muncul dari balik pintu.


"Itu dia ...., dari mana saja bang?" tanya Agra pada bang Divta yang baru masuk rumah.


"Dari luar....!" ucap Divta sambil menunjuk ke luar.


"Lalu Nadin?" tanya Agra lagi.

__ADS_1


"Tadi denganku, tapi sekarang sudah pergi!" ucap Nadin.


"Pergi? Kemana?" tanyaku pada kak Divta.


"Tadi sama Rendi, kayaknya sih ada masalah." ucap kak Divta dengan santainya.


"Rendi ...., sejak kapan dia punya masalah dengan Nadin?" tanya Agra, ia terlihat begitu penasaran. Tapi kak Divta malah mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu.


"Kalau giu biar saya telpon saja!" ucap Agra, ia hendak mengambil ponselnya yang ada di atas meja, tapi aku segera menghalanginya.


"Jangan bby ...., mungkin mereka ada urusan yang kita tidak tahu."


Aku tahu jika Nadin sejak dulu memiliki perasaan pada Rendi. Mungkin aku sudah banyak ketinggalan informasi tentang hubungan mereka, aku tidak mau dengan menelpon Rendi, akan mengganggu waktu mereka.


"Baiklah ....., lalu sekarang bagaimana sayang? Kamu mau kan menerima bu Dewi sebagai ibu barumu ...?"


"Iya bby ...., aku mau ....!"


"Terimakasih nak ...., ayah bangga sama kamu ....!" ayah begitu senang saat aku memgatakan setuju dengan keputusannya, tapi aku sangat menyayangkan keputusan itu karena ayah tidak berunding dulu padaku dan Nadin dengan keputusannya yang sebesar ini.


Sampai saat ini aku tidak pernah meragukan cinta ayah pada ibu kami, aku tahu ayah pasti punya alasan yang jelas di balik keputusan ayah untuk menikah lagi.


"Tapi yah ....?!"


"Ada apa lagi sayang ...?"


"Dia siapa? Ayah belum mengenalkannya padaku!"


Ada nenek Nani dan ibu Dewi, tapi di antara mereka masih ada satu lagi, dia sepertinya dua atau tiga tahun di bawahku usianya, dia cantik.


Aku menatap gadis itu, dia tersenyum. Tapi entah kenapa aku tidak terlalu suka dengan senyumnya. Senyumnya berbeda.


"Hai kak ....!" sapanya padaku. Ternyata dia ramah. Semoga selamanya kau akan ramah.


"Hai ...., kenalkan aku Ara ...., senang punya saudara baru ...!"


Aku pun segera memeluk gadis itu. Davina selamat karena sudah menjadi bagian dari keluarga kami.


"Kakak ......!"


Aku melihat dari arah masuk, Nadin segera berjalan mendekati ku.


"Astaga dari mana saja dek ....?" tanyaku pada Nadin. "Kak Divta sudah masuk dari tadi."


Aku senang bisa melihat Nadin, rasanya sudah sangat lama kami tifak bertemu.


Nadin menatap kak Divta yang juga sedang mengamati Nadin. Dia seperti meminta pembelaan pada kak Divta.


Kak Divta malah melipat tangannya di depan dada, bersiap mendengarkan pembelaan yang akan di lakukan Nadin.


"Nadin keluar sebentar dengan pak Rendi." ucap Nadin singkat, aku tidak puas dengan jawabannya, aku ingin dia menjelaskan sesuatu.

__ADS_1


Davina yang berada di sebelahku tersenyum, entah apa yang membuatnya tersenyum seperti itu.


"Rendi ...? Ada urusan apa?" tanya Agra. aku tahu selama ini tidak ada rahasia di antara mereka. Rendi seperti bayangan bagi Agra. Dimana ada Agra di situ juga ada Rendi. Aku sampai merasa jika mereka satu tubuh.


Apa ada urusan pribadi ...? Aku berharap akan ada berita baik. Aku senang jika Nadin mendapatkan pria seperti Rendi. Aku percaya padanya.


"Ada urusan sedikit kak ....!"


"Iya ...., sedikit itu yang seperti apa?" tanya ayah yang sepertinya juga ikut penasaran atas tidak kembalinya Nadin.


"Ya ...., seperti ngobrol santai ..., tidak ada yang penting."


"Baiklah ...., mungkin aku bisa bertanya langsung pada Rendi." ucap Agra.


Tak berapa lama Rendi pun segera berjalan mendekati kami.


"Selamat sore, semuanya ...!" sapa Rendi dengan langkah pasti. Semua beralih menatap kedatangan Rendi.


"Kamu dari mana saja?" tanya Agra.


"Maaf pak, tadi ada uruaan sebentar dengan Nadin."


"Urusan apa?"


Rendi mengatakan jika di kampus Nafin akan di adakan acara magang. Rendi pun menjelaskan panjang lebar. Ia aku baru ingat jika adikku itu sebentar lagi akan lulus dari kampusnya, hanya timggal satu setengah tahun lagi.


"Iya ...., aku rasa itu ide bagus Gra ...., aku setuju dengan ide Rendi ...., selain kita bisa melihat kinerja Nadin, kita juga bisa mengawasinya ....!" ucap Divta ikut memberi dukungan pada usulan Rendi.


"Kita ...?" tanya Agra. Ya ..., ia hanya fokus pada kata kita . Sejak kapan kakaknya itu peduli pada orang lain.


"Mak-maksudku ..., kamu ...., aku tadi hanya salam memilih kata saja." ucap Divta mencoba meralat ucapannya sendiri.


"Ya aku rasa itu ide bagus ...., kamu besok bisa langsung mengantarkan surat magangnya ke kantor." ucap Agra pada Nadin, Nadin hanya bisa menggangguk bingung.


"Lalu bagaimana denganku kak? Aku kan juga sama kayak Nadin, aku juga mau magang." tanya Davina.


"Oh iya aku hampir lupa jika sekarang mempunyai dua adik, maka demi keadilan, kalian besok bisa datang ke kantor untuk menyerahkan surat tugas dari kampus." ucap Agra pada Davina dan Nadin.


Iya aku batu tahu jika ternyata Davina juga satu kelas dengan Nadin. Walaupun baru saja masuk di kampus Nadin tapi Davina transfer dari kampusnya sebelumnya di Samarinda. Untung saja Davina tidak di minta untuk mengulang ke semester dua, ia hanya di suruh mengulang di semester lima, seharusnya jika tidak msngulang ia bisa lulus tahun ini. Tapi itu sudah menjadi kebijakan kampus, Davina di samarinda sudah masuk semester delapan, tapi harus mengulang di semester lima.


***


Obrolan itu berlanjut hingga malam tiba, tepat sebelum waktu makan malam, ibu datang bersama paman Salman. Kami pun makan malam dengan formasi lengkap, aku dengan keluarga kecilku. Ibu mertua yanh sudah bahagia bersama putra barunya kak Divta. Rendi dengan paman Salman. Dan ayah dengan keluarga barunya.


Akhirnya kami mengabadikannya dalam sebuah foto dengan formasi yang begitu lengkap.


**Tak ada yang sempurna di dunia ini, jika sekarang kita bahagia, maka nikmatilah kebahagiaan kita saat ini. Untuk besok ...., jalani dulu yang hari ini untuk merencanakan hati esok.


Tak ada kebahagiaan yang benar-benar bahagia, tergantung bagaimana kita menyikapi hidup.


"Kebahagiaan selalu terasa kecil saat Anda mendapatkannya. Namun, coba biarkan dia berlalu begitu saja, Anda akan merasakan seberapa besar dan berharganya kebahagiaan itu."

__ADS_1


***


Sekian Extra part dari MBMH ya ...., selamat melajjutkan baca di My Block of Ice**


__ADS_2