
Menjadi sangat sulit saat mereka merasa di buang atau di abaikan, tapi alasan yang membuat mereka harus melakukan hal itu kadang menjadi kekuatan tersendiri.
Hari pertama ujian, menjadi hari yang sibuk untuk mereka yang sedang mencoba melewati masa itu.
Sanaya sudah siap dengan kerja kerasnya beberapa hari ini, ia harus membuktikan pada omanya jika nanti dia juga bisa kuliah di universitas pilihannya seperti Gara dan Abimanyu.
Gara, dia sedang gundah karena jika ia harus kuliah di kampus pilihannya, dia harus meninggalkan Ariel. Kecuali jika Ariel mau di ajak untuk ikut bersamanya, kuliah di sana.
Abimanyu, ini memang tujuannya. Ia memilih prinsip dari pada cintanya. Jika dia mau mungkin saat ini dia tidak perlu menjadi tangan kanan Gara dan mendapatkan cinta Sanaya karena dia yakin Sanaya juga memiliki perasaan yang sama. Walaupun tidak sedalam dirinya. Tapi baginya prinsip adalah identitasnya, keberadaannya saat ini di tempat itu adalah karena prinsipnya.
Aditya, ada hal yang membuatnya istimewa di hati seseorang di finityGroup. Dia mempunyai tempat tersendiri. Kehadirannya bukan serta merta, dia bukan orang yang mudah di pengaruhi apalagi di paksa untuk melakukan sesuatu. Terlebih lagi ini menyangkut hidup dan masa depannya.
Sanaya adalah pilihannya, orang tuanya tidak pernah memaksanya untuk menerima. Tapi Aditya yang memilih mengagumi sosok bernama Sanaya yang sedang ia usahakan untuk diperjuangkan.
Dua jam berlalu, satu mata pelajaran terlewati hari ini. Semua anak boleh sedikit lega. Mereka keluar dari dalam kelasnya dengan ekspresi yang berbeda-beda, ada yang senang dan puas karena merasa ia bisa mengerjakannya. Ada yang keluar dengan wajah lusuh karena ternyata yang ia pelajari semalam suntuk tidak ada yang keluar di soal ujian. Ada juga yang masih bimbang, merasa bisa tapi sulit untuk mengeluarkan. Ada juga yang santai dan masa bodoh dengan yang sudah di lewati.
"Ariel ...., aku ingin bicara!" panggil seorang anak dengan wajah tampan dan rambut yang sedikit panjang itu.
"Ada apa Gara?"
Ariel masih merasa sulit setiap kali bertemu dengan pria yang sudah mengambil hatinya itu.
"Kita bicara sebentar di taman ya sebelum pulang!"
"Baiklah, ayo!"
Mereka berjalan beriringan keluar dari kelas. Abimanyu hanya bisa memperhatikan mereka dari kejauhan. Ia yakin apapun yang terjadi nanti pasti semua akan baik-baik saja.
"Duduklah!" Gara meminta Ariel untuk duduk lebih dulu.
"Makasih!"
Setelah Ariel duduk kini giliran Gara yang duduk.
"Ril, sejak kemarin kenapa? Apa ada masalah?"
Ariel hanya menggelengkan kepalanya cepat.
"Jangan menutupi apapun!"
"Tidak pa pa, serius!"
"Apa karena papa kamu?"
Lagi-lagi Ariel hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Nggak Ga, nggak ada apa-apa! Serius!" Ariel memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Rasanya masih begitu kelu saat mengingat bahwa kebersamaan mereka akan segera berakhir.
"Ril, aku akan kuliah di Amerika bersama Abimanyu, bisakah kamu ikut bersamaku ke sana? Sama papa kamu juga!"
Ariel mengerutkan keningnya,
Bagaimana bisa aku ikut, jika waktu kita bersama hanya tinggal beberapa minggu saja .....
__ADS_1
"Ga ..., jangan pernah ragu buat melangkah, aku akan selalu mendukung mu! Apapun yang terjadi, tapi berjanjilah nanti ada atau tanpa aku kamu akan tetap berjuang untuk dirimu sendiri!"
"Maksudnya apa?"
"Yah maksudnya, aku akan tetap kuliah di sini dan kita bisa bertemu nanti saat kamu libur kuliah!"
"Itu lama Ril, mana bisa aku jauh dari kamu!"
"Pasti bisa!"
Kamu harus bisa Ga ...., aku tidak bisa terus bersamamu, aku tidak mau hadirku akan membuat kehancuran bagi dirimu ...
Brrrttttt brrrrtttttt brrrrtttttt
Tiba-tiba ponsel Sagara yang berdering membuat percakapan mereka terhenti.
"Bentar ya!"
Gara mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ia melihat ada panggilan masuk dari Sanaya.
"Nay?"
Gara dengan cepat mengangkat sambungan telponnya.
"Hallo, ada apa?"
"Lo di mana?"
"Panggil yang benar!"
"Masih di sekolah, ada di taman sama Ariel. Ada apa?"
"Jemput aku dong, aku terdampar di toko buku!"
"Ngapain di sana?"
"Beli bakso! Ya beli buku lah!"
"Cepet banget sampek toko buku, kamu bolos?"
"Nggak! aku selesai lebih cepat!"
"Awas saja kalau dapat nilai jelek, lagian tidak biasanya kamu ada di toko buku?!"
"Sudah ah jangan bawel, jemput nggak kalau nggak aku aduin sama papa!"
"Dasar tukang ngadu!"
Sagara memilih mematikan sambungan telponnya lalu memasukkan ke dalam tas.
"Ril, bareng sama aku ya pulangnya, kita jemput Sanaya fi toko buku!"
"Kamu duluan aja ya, aku masih ada urusan!"
__ADS_1
"Kamu yakin? Atau aku akan menjemputmu lagi setelah menjemput Sanaya?"
"Nggak perlu Ga, lagian aku tadi bawa motor!"
"Baiklah, kabari aku kalau ada sesuatu!"
"Baik!"
Sagara pun segera berlalu meninggalkan Ariel. Ariel mempunyai dua alasan kenapa dia tidak mau pulang bersama Sagara. Pertama karena dia harus mulai terbiasa jauh dari pria itu agar nanti saat waktunya tiba dia tidak terlalu sakit dan yang kedua, ada urusan yang memang belum ia selesaikan.
Dengan cepat ia menuju ke kelasnya kembali, mencari pria dingin itu. Sudah tidak ada di kelas.
"Dia kemana?" gumamnya.
"Dito, lihat Abimanyu nggak?" tanyanya pada salah satu teman sekelasnya yang duduknya bersebelahan dengan Abimanyu.
"Dia pasti ke kelasnya Sanaya!"
"Oh iya, makasih ya infonya!"
Ariel berjalan cepat menuju ke kelas Sanaya. Tapi sesampai di sana, kelas itu sudah sepi. Sepertinya bukan cuma Sanaya yang selesai lebih cepat, rata-rata teman-teman sekelas Sanaya menyelesaikan soalnya lebih cepat. Bukan karena mereka bisa tapi karena sebagian dari mereka tidak mau terlalu lama memikirkan jawaban yang tidak kunjung dapat.
"Kemana lagi!?" gumamnya lagu. Kemudian ia teringat beberapa kali dulu dia selalu menemukan anak itu.
"Di belakang sekolah!?"
Ariel pun kembali berlari, ia berharap tidak terlambat lagi menemui Abimanyu.
Heh heh heh ....
Nafasnya berkerja lebih cepat hingga membuat dadanya naik turun. Ia berhenti tepat di belakang sekolah, di dekat anak itu.
Ariel tidak langsung menghampiri pria itu, ia lebih memilih menyetabilkan nafasnya terlebih dulu barulah memanggilnya.
"Abi ...!"
Panggilan itu berhasil membuat anak laki-laki yang bernama Abimanyu itu menoleh padanya.
Seketika suasana menjadi hening,
"Ariel!"
Ariel pun berjalan mendekat dan berhenti satu meter di depan Abimanyu.
"Ada yang ingin aku tanyakan!" ucap Ariel.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading đ„°đ„°đ„°đ„°