My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Syarat dari oma


__ADS_3

Satu minggu lagi ulangan akhir tahun, anak kelas dua belas harus mempersiapkan diri untuk memilih universitas yang akan di tuju, sedangkan anak kelas sepuluh harus mulai menjatuhkan pilihannya dalam hal jurusan. Ipa, ips atau bahas.


Dan mungkin anak kelas sebelas yang paling santuy, karena ia tinggal menunggu untuk naik ke kelas dua belas.


Seandainya saja mau sedikit serius dengan hidupnya, mungkin dia bisa menyamai saudaranya. Tapi memang terkadang kenyataan tidak sejalan dengan yang di pikirkan.


Saat sahabat, calon tunangan dan juga saudaranya sedang berjuang agar bisa masuk ke universitas yang di pilih, dia masih sibuk dengan hasil ujian yang tidak begitu bagus dan cenderung jelek.


Tukkkk


Sebuah ketukan mendarat di kening Sanaya membuat gadis itu mendongakkan kepalanya.


Ia tidak berminat untuk bertanya, anak laki-laki itu tiba-tiba duduk di depannya.


Anak kayak gini apa bagusnya ....., batin Sanaya. Ia kembali mengingat obrolannya dengan sang oma tempo hari.


"Kenapa hari ini ada yang sedang bersahabat dengan buku?"Aditya.


Sanaya mencibirkan bibirnya, "Enak kayak lo, otak udah encer dari sononya! Kalau gue, boro-boro otak encer, otaknya di ajak mikir aja kabur terus!"


Kadang ia merasa iri dengan saudara kembarnya, mereka di lahirkan oleh rahim yang sama dalam waktu yang sama dengan wajah yang sama tapi kenapa takaran otaknya berbeda?


"Jangan ngeluh, kalau gue lebih suka sama otak lo!"


"Kenapa?"


"Karena gue bisa tahu isi pikiran lo dari otak lo! Dia baik banget tuh sama gue!"


"Hahhhh ...., garing!"


Sanaya menutup kembali buku-bukunya. Ia mengambil cupcin yang belum sepat ia minum tadi lalu meneguknya. Seketika rasa hausnya hilang.


"Lo udah ambil formulir dari kampus mana? University of Oxford, Stanford University, Harvard University, Caltech, MIT, University of Cambridge, University of California, Berkeley, Yale University, Princeton University, University of Chicago!" Sanaya mengabsen setiap nama universitas keren di luar negri, terutama di amerika.


Adit mengerutkan keningnya, ia tidak percaya Sanaya tahu begitu banyak nama universitas,


"Lo kok kayak kamus berjalan aja, atau lo jangan-jangan agen penyalur mahasiswa ya?"


Plekkkkk


Sanaya memukul bahu Adit keras, ia begitu gemas.


"Aughhh, panas tahu!" ucap Adit sambil mengusap-usap bahunya.


"Apaan sih, lagian siapa suruh ngledek, itu tuh nama-nama universitas yang gue impiin! Lalu lo suka ya ke mana?"


Aditya tersenyum tipis, ia segera menyangga dagunya dengan kedua tangannya menatap Sanaya yang duduk di depannya,


"UI!" ucapnya dengan santai.


Sanaya mengerutkan keningnya, setelah menyebutkan begitu banyak nama universitas luar negri, dan sebagian besar anak-anak di sekolah itu memilin universitas luar negri, kenapa .....


"UI? Maksudnya universitas Indonesia?"


"Hemmm!"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Ya karena gue cinta indonesia!"


"Gue juga cinta Indonesia, tapi bukan itu maksudnya!"


"Karena lo!"


"Gue?"


"Iya! Kalau gue milih kampus yang ada di luar negri, itu artinya gue harus siap kehilangan lo!"


Apa ini artinya sama dengan ucapan oma, dia harus siap buat jaga gue? Lalu impiannya?


"Kok malah bengong sih?"


"Lalu impian lo?"


"Untuk saat ini impian gue, lo!"


...🍀🍀🍀...


Saat ini gadis dengan cekung pipi itu terlihat tergesa-gesa, seseorang memintanya untuk bertemu.


Dia adalah Ariel, tadi sepulang sekolah seorang pria bertubuh tegap menjemputnya dan mengantarnya ke tempat ini. Sebuah restauran mewah tapi bukan itu yang menjadi pusat perhatian, tapi alasan kenapa ia di minta untuk datang oleh seseorang.


Akhirnya pria itu menunjukkan sebuah ruangan khusus, itu adalah ruang VVIP yang ada di dalam restauran itu, hanya ada satu buah meja dan dua buah kursi.


"Silahkan nona!"


Dia di perlakukan dengan begitu sopan. Bahkan pria itu membukakan pintu untuknya.


"Terimakasih tuan!"


"Baik!"


Akhirnya Ariel masuk seorang diri dan pria itu memilih menunggu di luar ruangan. Saat masuk ia sudah di hadapkan dengan seorang wanita.


"Nyonya ingin bertemu dengan saya?" tanyanya dan wanita itu menganggukkan kepalanya sekali dengan senyum yang bisa membuat orang yang berhadapan dengannya serasa ingin cepat kabur.


"Duduklah!" perintah wanita paruh baya itu.


"Terimakasih nyonya!"


Ariel pun segera duduk di bangku kosong itu. Ia berhadapan dengan wanita anggun di depannya.


"Minumlah dulu!"


"Terimakasih nyonya!"


Jangankan untuk minum, untuk menelan salivanya sendiri dia begitu kesusahan.


"Saya mengundangmu ke sini, ada hal penting yang ingin saya bicarakan!"


Ariel tercekat, ia merasa tidak ada urusan khusus dengan wanita pemilik sekolah itu. Dia adalah ketua yayasan sekaligus pemilik sekolah tempatnya belajar kini. Selain urusan dengan sekolah, dia tidak ada urusan lain menurutnya.


"Kamu pasti bingung dengan alasan saya mengundang kamu ke sini, bukan urusan dengan sekolah. Oleh karena itu saya mengundangmu khusus ke sini!"


"Urusan lain?"

__ADS_1


"Iya! Saya omanya Gara!"


Omanya Gara ....? Apa aku sudah membuat masalah? batin Ariel.


Ia bahkan tidak berani menatap wanita di depannya.


"Saya hanya punya dua pilihan untukmu!"


"Maksud nyonya?"


Ariel bingung karena tiba-tiba saja wanita di depannya memberinya dua pilihan, lalu pilihan dalam hal apa?


"Jauhi Gara dan kamu masih tetap bisa kuliah dan merawat papa kamu, atau saya akan membuatmu pergi jauh dari tempat ini sebelum kamu lulus dari sekolah!"


Tiba-tiba saja mata Ariel berair tanpa di siram, kenyataan pahit apa lagi ini. Kenapa wanita di depannya memusuhinya.


"Tapi kenapa nyonya?"


"Suatu saat kamu akan tahu alasannya, saya lakukan ini demi kebaikan Sagara dan kamu!"


"Kebaikan yang mana nyonya?" kali ini buliran bening itu sudah tidak mampu tertahan lagi. Membayangkan jauh dari Sagara, begitu berat. Kenapa wanita di depannya itu begitu kejam?


"Dekat denganmu saat ini adalah kehancuran bagi Sagara!"


"Maksud nyonya?"


"Ada yang sengaja memanfaatkan kedekatan kalian. Hanya sampai Sagara benar-benar bisa lebih kuat dan saya akan memberi kebebasan padanya untuk menentukan dengan siapa dia harus dekat!"


"Siapa yang nyonya maksud?"


"Saya tidak akan mengulanginya! Silahkan pilih, menjauh dari Gara dan jangan menampakkan dirimu di depan Gara dan kamu bisa tetap mejalani hidup dengan mudah atau kamu akan menghancurkan hidup Gara?"


Jika memang benar saya adalah sumber kehancuran bagi Gara, lalu apa gunanya saya ada ...


"Tapi saya harus pergi ke mana nyonya?"


"Itu sudah menjadi urusan saya, tinggal katakan Iya atau tidak dan semuanya akan saya urus!"


"Boleh saya meminta satu syarat saja dari nyonya?"


"Katakan!"


"Biarkan saya habiskan waktu satu bulan ini dengannya dan saya janji di hari pengumuman kelulusan saya dan papa saya akan benar-benar pergi dari hidup Gara!"


"Saya pegang janji kamu, saya sudah menyiapkan semuanya untukmu dan papa kamu termasuk fasilitas pengobatan bagi papa kamu!"


"Saya mengerti nyonya!"


"Baiklah, makanlah dulu sebelum pergi!" ucap nyonya Ratih dan dia pun beranjak dari duduknya meninggalkan Ariel yang masih terduduk di tempatnya menatap punggung nyonya Ratih yang menghilang di balik pintu.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰


__ADS_2