
Menjauh dari rutinitas sejenak kadang di perlukan, tapi jangan terlalu terlena dan
melupakan tujuan kita, jangan terlalu lama dan segeralah kembali …~ tri.ani
Seperti pagi-pagi biasanya, Ara selalu di sibukkan dengan mengurus suami manjanya dan anak-anaknya. Tapi sepertinya lebih tepatnya suami manjanya itu, ia tidak akan pernah mau di urus oleh orang lain selain
istrinya. Sedangkan putra putrinya akan selalu mengeluhkan hal itu.
Ara yang harus menyiapkan sendiri pakaian, sepatu, dasi dan yang terpenting adalah sambutan selamat pagi untuk suaminya.
“Sayang apa hari ini kau ada acara?” Tanya Agra saat istrinya itu sedang sibuk memakaikan dasi untuknya.
“Ada apa?”
“Sudah lama sekali kau tidak mengirimiku makan siang kan!”
Padahal hari ini setelah mengantarkan Sanaya ia ingin ke toko kue, tapi kalau dia bicara jujur pada suaminya kalau dia mau ke
toko pasti suaminya akan sangat marah dan melarangnya ke sana.
“Ada apa? Apa kau punya acara?”
“Tidak …! Baiklah …, nanti bagaimana kalau aku
bawakan kue saja, aku ingin membuat kue hari ini, aku akan mengunjungi mbak
Rini dan membuat kue di sana!”
“Ide bagus …, tapi ada syaratnya …, jangan
mengerkajan apapun yang akan membuatmu kelelahan, aku tahu semua yang kau
kerjakan …, ingat itu!”
“Iya aku mengerti!”
“Bagus …, jadi kalau sudah mengerti, sekarang
biarkan aku berangkat dulu!”
“memang siapa yang menahanmu!” gerutu Ara.
“Karena kau belum memberiku ucapan selamat pagi, itu
berrarti kau menahanku!”
“Kau ini ….!” Walaupun mengeluh tapi tetap saja Ara melakukan apa yang di minta suaminya, mendekatkan bibirnya pada bibir suaminya
dan segera mengecup.
Setelah selesai dengan kegiatannnya di dalam kamar mereka pun segera turun dan sarapan bersama nyonya Ratih dan kedua buah hatinya.
Paman Salman sekarang sudah jarang datang ke rumah besar karena nyonya Ratih
juga sudah tidak seaktif dulu, ia menyerahkan tanggung jawabnya pada Agra dan
Divta. Divta sudah memutuskan untuk menetap di Indonesia dan menjadi singgel deddy.
__ADS_1
Nyonya Ratih akhir-akhir ini lebih suka mengawasi
sekolah Sagara dan Abimanyu. Ia akan menghabisakan waktunya dari pagi sampai
siang hari di rumah dan baru akan pergi saat sore hari saat pelajaran Sagara
dan Abimanyu selesai.
Tanpa terasa sekolah mereka sudah satu tahun, mereka
sudah bisa membaca dengan lancer. Pelajarannya juga semakin meningkat butuh
pengawasan khusus. Apalagi Sagara sangat suka berbuat curang pada gurunya dan
Abimanyu. Kecerdikannya seringkali membuat gurunya terpedaya.
Sanaya juga sudah naik ke kelas TK B, temannya
semakin banyak dan akrab tapi masih sama ada satu teman yang menurutnya sulit
untuk di ajak berteman, Aril. Selalu Aril yang sanaya keluhkan setiap hari. Aril
begitu cuek padanya, bahkan terkesan tertutup. Hal itu malah semakin membuat
Sanaya penasaran.
Seperti yang di katakana pada Agra, setelah
mengatarkan Sanaya ke sekolah Ara langsung menuju ke koto kue, ia benar-benar
tidak betah berlama-lama bersama ibu-ibu sosialita itu.
menyambutnya dengan sangat senang.
“Boleh aku pinjam dapurnya, aku akan membuatkan kue
untuk suamiku?”
“kenapa bertanya seperti itu, itu dapurmu!”
“baiklah …., aku akan beraksi hari ini!”
Ara begitu senang ia segera menuju ke dapur dan membuat adonan kue. Sudah lama sekali rasanya ia tidak membuat kue sendiri. Ia
hanya mengawasi orang-orang yang membuat kue, suaminya tidak membiarkan dia
melakukan apapun tapi kali ini suaminya sendiri yang meminta.
Mbak Rini membantu Ara sekedarnya karena Ara tidak membiarkan dia melakukan apapun. Ara ingin membuat kue special untuk suaminya.
Karyawan yang lain juga hanya bisa melihatnya. Sekarang di toko kue itu sudah
memiliki lebih dari dua puluh karyawan dengan penanggung jawab karyawan di
serahkan pada mbak Rini dan suaminya.
Setelah satu jam akhirnya kue itu selesai juga. Ara segera membuka afronnya. Menghirup wanginya kue itu.
__ADS_1
“Sepertinya enak sekali mbak!” puji mbak Rini pada kue buatan Ara itu.
“Pasti dong, ini aku buat dengan resep cinta!” jawab Ara dengan senyumnya yang lebar. Ia segera memasukkan kue itu ke dalam kotak kue dan kantong plastic.
“Mbak …., ada wanita yang kemarin!” tiba-tiba
seorang karyawan menghampiri mereka di dapur.
“Siapa?” Tanya mbak Rini.
“Wanita yang cantik itu, dia juga menanyakan bu Ara!”
“Aku?” Tanya Ara terkejut, siapa yang sebenarnya mencarinya.
“Iya bu!” jawab gadis muda itu, sepertibya dia
karyawan yang masih baru.
Ara dan mbak Rini saling berpandangan.
“Baiklah …, kau kembalilah bekerja, kami akan
menemuinya!” ucap mbak Rini.
“Baik mbak!”
Setelah gadis itu pergi, Ara kembali menatap mbak
Rini. Ia ingin tahu siapa wanita yang di maksud itu.
“Itu pasti wanita yang sama yang pernah aku
ceritakan pada mbak Ara, beberapa tahun ini dia sering datang dan menanyakan
mbak Ara!”
“baiklah …., aku akan menemuinya sekarang!”
Ara merapikan penampilannya. Memastikan jika tidak ada tepung atau adonan yang menempel di tubuh dan wajahnya, mengibaskan dress selututnya dan segera keluar dari dapur.
Langkahnya melambat saat ekor matanya
mulai menangkap punggung seseorang. Wanita itu duduk membelakanginya, tapi
punggung itu dulu begitu ia ingat.
“Nona Viona!” pekik Ara. Wanita itu pun segera
menoleh kea rah Ara saat emndengar namanya di sebut. Ia segera berdiri melihat
Ara datang.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘