My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Part 2 (47)


__ADS_3

Setelah percakapannnya dengan istrinya cukup membuatnya tidak bisa tidur dengan tenang, bahkan ia juga tidak bisa bekerja dengan


tenang.Agra berkali kali membuka dan menutup berkas itu. Konsentrasinya


terpecah.



“Aku harus mencari tahu sesuatu!” gumam Agra. Ia memutuskan untuk menemui seseorang, ia segera berdiri dari duduknya.


Agra segera menyambar jasnya, ia melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangannya.


Langkahnya terhenti saat Divta tiba-tiba


muncul di hadapannya. Abangnya itu terlihat bertanya-tanya dengan tatapan matanya.


“Gra …, mau kemana?” Divta memilih untuk bertanya pada adiknya itu.


"Ada urusan sedikit, bang! Mungkin nanti aku nggak balik ke sini, nggak pa pa ya!"


"Urusan apa sih? Kayaknya penting sekali!" jiwa kepo Divta muncul melihat adiknya yang terlihat cemas, sepertinya banyak pikiran.


“Aku harus menemui seseorang bang!” ucap Agra sambil sedikit mendesah, ia memang seperti sedang memikul beban berat yang hanya dia sendiri yang mampu memikulnya.


“Seseorang?” tanya Divta lagi, dia tidak menyerah. Rasa ingin tahunya semakin besar saja.


“Iya …., seseorang yang mungkin tahu sesuatu!” walaupun tidak yakin, tapi itu jalan satu-satunya untuk mencari kebenaran.


“Iya …, seseorang siapa?”


“Nanti abang juga tahu sendiri, aku pergi dulu ya…!” akhirnya Agra memilih untuk tidak meladeni abangnya itu.


Agra pun segera berlalu meninggalkan abangnya yang masih dengan kebingungan. Wajah tenangnya terlihat gusar. Ada yang sedang di sembunyikan olehnya.


“Ada apa dengannya …, tidak biasanya!” gumam Divta yang masih merasa heran.


Sebuah mobil sudah siap di depan gedung dengan sopir yang sudah berdiri di sisi mobil siap untuk mengantarnya kemana saja.


Sopir dan orang-orang yang berjalan di belakang Agra dengan jas hitamnya sudah bersiap.


“Silahkan tuan!” sopir itu membukakan pintu mobil untuk Agra, sopir bukan sekedar sopir, sopir pribadi Agra adalah sopir yang pandai


bela diri dan cekatan.


Mobil itu mulai meninggalkan pelataran gedung


finitygroup memecah keramaian jalanan di siang hari. Agra tampak tak sabar


untuk sampai di tujuannya. Ia sudah mendapatkan alamat itu dari anak buahnya.

__ADS_1


Mereka berhenti di depan sebuah gedung perkantoran yang tampaknya masih baru dan besar. Agra mendongakkan kepalanya, mencoba menggapai lantai paling atas, ia tersenyum melihatnya.


“Dia sudah banyak mengalami kemajuan!”


Agra melepaskan kaca mata hitamnya dan segera melangkah masuk ke dalam gedung. Ia menghampiri resepsionis.


“Apa Jerry nya di tempat?” Tanya Agra.


Resepsionis itu sepertinya sangat mengenali pria yang ada di hadapannya itu, wajahnya sering nangkring di majalah dan surat


kabar, jadi siapapun akan mudah mengenalinya.


“Tuan Agra …!”


Resepsionis itu segera menunduk hormat.


“Saya akan menghubunginya tuan!”


Agra menunggu sebentar lalu wanita itu kembali menghampirinya.


“Mari tuan saya antar!” wanita itu mempersilahkan


Agra untuk berjalan di depan. Mereka pun berjalan menyusuri lorong bersama dua


anak buah Agra yang selalu mengikutinya kemanapun dia pergi.


Setelah melewati lift akhirnya mereka sampai juga di lantai delapan. Di sama sudah ada sekertaris yang menjaga di luar.


membukakan pintu untuk Agra, ia benar-benar di perlakukan begitu istimewa.


“Kalian tunggu di luar!” ucap agra pada anak


buahnya.


“baik tuan!”


Agra masuk seorang diri, ia mengedarkan pandangannya. Seorang pria sudah tersenyum ramah padanya sepertinya sudah sengaja menunggu kedatangan Agra.


“Selamat datang ….,selamat datang …..!” pria itu


segera menghampiri Agra dan memberikan pelukan persahabatan.


“Ayo duduklah ….!”


“Terimakasih!”


Mereka duduk di sofa yang sama, dua cangkir kopi sudah tersedia di sana.


“Aku tidak menyangka secepat ini …., seorang Agra Anugra Putra mengunjungiku!”

__ADS_1


“Ini kemajuan yang luar biasa, selamat untukmu!”


“Terimakasih ….! Tapi apa cuma ini alasanmu


menemuiku?”


“Kau lebih mengerti aku, ada hal lain yang ingin ku bicarakan!”


“Minumlah dulu …!”


Agra pun mulai menyesap secangkir kopi itu, dengan perlahan sambil menikmatinya. Tak lama ia segera meletakkan kembali cangkir itu


di atas meja.


“Aku ingin menanyakan tentang Aril!” ucap Agra


dengan nada yang tenang dan datar. Jerry tersenyum.


“Aku sudah menduganya! Maaf jika kemunculan kami membuat keluarga kalian terkena masalah!”


“Bukan masalah tepatnya, tapi sebuah dilema!”


“Awalnya aku juga mengalami hal itu, hingga sesuatu meyakinkanku!”


“Maaf jika aku terlalu mencampuri urusanmu, tapi demi kebaikanaku harus melakukan ini!”


“Jangan sungkan, aku akan menceritakan semuanya!”


“Terimakasih!”


Jerry pun mulai bercerita.


Awalnya aku tidak pernah mengenal wanita angkuh dan sombong itu, aku juga tidak berminat untuk mengenalnya. Dia bukan tipe ku.


Aku patah hati, aku terluka saat mengetahui seseorang yang begitu ingin aku dapatkan ternyata sudah menjadi milik orang lain, aku sampai mengubah penampilanku dari seorang anak laki-laki yang gendut dan tidak menarik menjadi pria dewesa yang rupawan. Aku


menjadi pria yang penuh dengan kelebiha. Aku senang ketika pencarianku setelah


beberapa tahun akhirnya membuahkan hasil.


Aku mencoba untuk mendekatinya dengan memesan semua kuenya, tapi perjuangku butuh proses yang lama, aku selalu menantinya datang ke kafe ku untuk mengantarkan kuenya, tapi gadis itu sulit sekali ku temui, dia selalu meminta orang lain untuk mengantarkan kue-kuenya itu. Aku hanya bisa melihatnya dari jauh setiap kali datang ke rumahnya, aku tidak punya nyali untuk menemuinya.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 😘😘😘😘😘


__ADS_2