
"Hal-hal yang baik datang untuk mereka yang menunggu. Tapi hal yang lebih baik lagi datang kepada mereka yang bergerak untuk mendapatkannya."
****
Sesampai di rumah besar, mata Ara tak hentinya menatap kagum pada
rumah yang beberapa bulan lalu pernah ia tinggali, keindahannya masih sama. Air mancur yang indah, halaman yang luas dengan taman yang begitu memanjakan mata. pintu gerbang yang tak sama dengan rumah-rumah lainnya. Sungguh rumah yang luar biasa.
Mobil pun berhenti tepat di depan pintu besar, persis seperti pertama mereka
datang dulu saat setelah menikah. Para penjaga sudah berdiri tegak kenyambut mereka. Entah pembelajaran seperti apa hingga mereka bisa sekompak ini.
Salah satu dari mereka sudah bersiap membukakan pintu.
"Silahkan nyonya...." ucap penjaga itu sambil membukakan pintu mobil untuk Ara dan Ratih.
Mereka pun turun dari mobil.
"Terimakasih pak ...!" ucap Ara saat melintas di depan penjaga itu. Dan seperti biasa penjaga itu hanya bisa menunduk.
"ternyata semua masih sama ...., kaku ....!" batin Ara sambil terus saja tersenyum.
"ayo aku bantu ....!" tawar Ratih yang tanpa di sadari Ara sudah berdiri di sampingnya. Membuat Ara terkejut. Ia hanya tersenyum kikuk.
“biarkan saya berjalan sendiri ibu.” Ucap Ara saat Ratih hendak
memapahnya. Tapi segera di tolak olehnya. Ia merasa tidak enak, walaupun sebenarnya tubuhnya tak begitu kuat. Tapi ia mencoba terlihat baik-baik saja.
“kuat berjalan sendiri?’ tanya Ratih khawatir. Ya Ratih sekarang
menjadi sosok yang berbeda. Sosok yang lembut. Sosok yang katanya sama seperti
sebelum ayah Agra meninggal dunia. Lembut dan penuh kasih, walaupun hanya pada orang-orang tertentu saja, salah satunya , tentu keluarganya.
“iya ibu ...., saya sudah sehat ...” Ucap Ara sambil menepis tangan ibu mertuanya dengan lembut.
“baiklah, jika merasa tidak kuat bilanglah ...” akhirnya Ratih mengalah.
“iya ibu ...” jawab Ara dengan senyum yang sedari tadi tidak pernah menyusut dari bibirnya yang merah jambu. yang sudah tampak berkilau, tak sepucat kemarin-kemarin.
“ayo kita masuk ...” ajak Ratih pada Ara, dan membiarkan Ara berjalan di depannya.
Pintu besar itu, pintu yang sekarang berada di hadapan mereka tiba-tiba terbuka, pintunya terbuka sendiri? tidak ....., ternyata di balik pintu itu sudah tertata begitu
banyak pelayan yang berjejer di sisi pintu untuk menyambut kedatangan mereka. Siapa yang memerintahnya? tentu saja nyonya besar. menakjubkan .....
“kakak” teriak perempuan dari dalam dan berlari ke arahnya. Dia
adalah Nadin. Nadin sengaja tidak datang ke rumah sakit. Ia ingin menyambut
kakaknya di rumah besar. Adik cerewetnya.
“selamat datang kakak ....” ucap Nadin sambil memeluk tubuh
kakaknya. Memeluk dengan sangat erat.
“auhg ...” Ara mengaduh.
“maaf kak, aku nggak sengaja ...” Nadin pun segera melepaskan
pelukannya setelah mendengar lenguhan kakaknya. Iya ..., lukanya memang belum
benar-benar sembuh, tapi dengan rajin di olesi salep, kulanya perlahan akan
sembuh dan mengering.
"tidak pa pa dek, cuma luka kecil, sebentar lagi sembuh ..." ucap Ara menenangkan adiknya.
"kakak pasti sangat kesakitan, bodohnya aku waktu ituz seharusnya aku tidak meninggalkan kakak, maafkan aku ....., aku sungguh tidak berguna ..." Nadin begitu merasa bersalah.
"kau memang tidak berguna ...." ucap Ara tanpa senyum.
"kakak .....!" Nampak dari ucapannya, jika Nadin begitu kecewa.
"iya ...., kakaknya pulang, malah mau di buat nangis, adik macam apa kau ini ....., menyebalkan!" ucap Ara sambil menahan senyum.
"kakaaaaak ....., kakak yang menyebalkan ...!" ucap Nadin sambil memeluk kakaknya lagi. Mereka tertawa bersama, seakan tak akan ada lagi luka yang bisa memisahkan mereka lagi.
Tiba-tiba ucapan seseorang menyadarkan mereka. Bahwa mereka tidak hanya berdua.
“selamat datang nona ...” sapa salah satu dari pelayan itu. Dan Ara
pun segera menyadarinya. Pelayang yang pernah dekat dengannya. Pelayan yang
selalu ia susahkan karena ulahnya. Pelayan yang kadang begitu menyebalkan karena tak bisa di ajak kerja sama.
‘bi Anna ...., aku merindukanmu ...” ucap Ara. Ara pun tak sabar
segera mendekat ke arah bi Anna hendak memeluknya, tapi langkahnya terhenti.
‘terimakasih nona ...” bi Anna segera memundurkan tubuhnya takut
jika majikannya akan memeluknya, menyadari gerakan bi Anna, Ara punh baru
teringat jika di sampingnya ada ibu mertuanya.
“maaf bi ...” ucap Ara sedikit berbisik. Banyak aturan pelayan di
rumah besar ini yang harus selalu di patuhi, salah satunya tidak boleh terlalu
dekat dengan keluarga atasannya.
__ADS_1
“ayo kak ..., ayah sudah menunggumu di dalam ...”ajak Nadin sambil
menggandeng tangan Ara. Ara pun mengikuti langkah Nadin. Mereka masuk ke ruang
keluarga. Di sana sudah ada Roy dan Salman. Mereka mengobrol santai sebelum
kedatangan Ratih dan Ara. Melihat kedatangan mereka Roy dan Salman secara
bersamaan berdiri.
“nak ...” sapa lembut Roy yang sudah menunggunya. Karena tak sabar, Roy pun berjalan mendekati anaknya.
“ayah ..., aku senang ayah di sini ...” ucap Ara sambil menghampiri
ayahnya dan memeluknya. Roy begitu hati-hati memeluk putrinya. Ia takut
mengenaik tubuh putrinya yang sakit. Walaupun tak datang ke rumah sakit, tapi Roy selalu memantau keadaan Ara melalui Salman. Entah sejak kapan hubungan antara Salman dan Roy kini menjadi dekat. Seperti teman dekat yang sudah lama kenal.
“maafkan ayah tak bisa menjengukmu di rumah sakit.” Ucap Roy
menyesal. Ada rona penyesalan di sana.
“Tidak pa pa ayah ..., aku senang bisa bertemu dengan ayah lagi
...” ucap Ara sambil mendongakkan wajahnya agar bisa menjangkau wajah ayahnya.
“Ayah juga senang ....” ucap Roy sambil mengusap sudut matanya, yang entah sejak kapan mengeluarkan air.
"Ayah menangis?" tanya Ara yang ternyata menyadarinya.
"tidak sayang ...." Roy mencoba berbohong.
"Ayah ......" ucap Ara lagi, berharap ayahnya berkata jujur.
"Ayah hanya senang, ayah terharu, ayah senang bisa melihat putri ayah lagi ...., melihat kehadiran cucu-cucu ayah ...., jangan buat ayah cemas lagi ya ...!"
"tidak ayah ...., semua akan baik-baik saja, ayah percaya pada menantu ayah kan, dia tak pernah berhenti meyakinkan putri ayah ini, bahwa semua akan baik-baik saja, dan aku percaya, ayah pun harus percaya ....!"
"iya ...., ayah percaya ...., dia menantu ayah ...."
"Ayah ....., kakak ....., apa kalian tidak capek berdiri terus, ayo kita duduk, dan sapa paman Salman ...." ucapan Nadin menyadarkan mereka. Mereka pun hanya bisa tersenyum dan menuruti perkataan si cerewet itu.
"Selamat datang, nona ...." sapa Salman, saat Ara dan Roy sudah mendekat.
"bagaimana kabar paman?" tanya Ara.
"saya baik nona ...." ucap Salman sambil menundukkan kepalanya.
"Jangan terlalu sungkan, paman. Kita ini keluarga ..."
"Maaf, nona."
"ternyata , anak sama bapak sama ya ....., kayak robot ...." batin Ara.
membicarakan banyak hal untuk masa depan anak-anaknya. Sesekali Salman pun ikut
menimpali. Kadang mereka tertawa bersama kadang mereka terlihat serius saat sudah memulai pembahasan yang serius.
"nyonya, apa boleh saya bertanya?" tanya Roy.
"silahkan tuan Roy ..." Ratih pun mempersilahkannya.
"Bagaimana wanita itu?" Roy bicara sambil menatap Ara, ia takut ucapannya bisa membuat putrinya kembali teringat pada kejadian itu. Saat di rasa Ara tak terpengaruh, ia pun melanjutkannya.
"Agra dan Rendi akan menanganinya, mereka juga di bantu Divta." jelas Ratih.
"Divta?" ya ...., Roy masih merasa asing dengan nama Divta, siapa Divta? kenapa namanya baru di sebut?
"iya ..., dia anak pertama keluarga ini dari istri pertama suami saya, yang tak lain adalah wanita itu." ujar Ratih sambil sesekali menatap Ara. Tampak dari wajah Ara, ia mengubah ekpresinya beberapa kali. Ada luka besar di sana. Ara masih menyimpan trauma besar atas kejadian itu.
"Apa kak Divta baik-baik saja?" Ara ikut bertanya, walaupun kini tangannya sudah terlihat gemetar, tapi ia mencoba mengingat kembali kejadian itu. Ia mengingat bagaimana Divta menyelamatkannya.
"Dia baik sayang ...., jangan khawatir." Ratih menatap wajah Ara yang semakin memucat. "Bi ...., ambilkan air putih ..." perintah Ratih.
Tak berapa lama bi Anna sudah kembali dengan membawa segelas air putih. Ratih sudah memeluk tubuh menantunya, berusaha menenangkannya.
"minumlah sayang ...." Ara pun segera meneguk habis air putih itu hingga gelasnya kosong.
"Sebaiknya kita bahas yang lain saja ....." ucap Ratih. lebih tepatnya memberi perintah.
"tidak itu ....." tapi Ara mencegahnya. Walaupun susah, ia ingin mendengar keadaan Divta. Setelah kejadian itu, dia belum bertemu lagi dengan Divta.
"Ibu bilang tidak ....., lain waktu saja kita bahas lagi, sebaiknya kau istirahat." Ternyata tetap saja, perintah ibunya adalah yang nomor satu. Tak ada yang berani membantahnya.
"baik ibu ....., tapi aku belum mengantuk, bolehkan aku ke taman bersama Nadin?"
"Baiklah ...., tapi jangan lama-lama."
"iya ibu ...."
Ara pun meninggalkan orang-orang tua itu. Ara di temani Nadin menuju ke taman belakang.
"kalian bisa mengawasi kami dari jauh kan?" tanya Ara pada pelayan.
"Tapi nona .....!" jawab pelayan sambil menuduk.
"Tidak pa pa ...., aku kan bersama adikku, jadi jangan khawatir, kalian bisa mengawasiku dari jarak 10 meter, kalian kan masih bisa melihatku dari sana, dari pintu itu ..." ucap Ara sambil menujuk pintu dimana dia keluar.
"baik nona ....."
Akhirnya para pelayan itu mengalah, ia mengawasi Ara dan Nadin dari jarak sepuluh meter.
__ADS_1
"kakak hebat ....." puji Nadin yang sedari tadi hanya memperhatikan kakaknya dan para pelayan itu.
"Baru tahu kamu kalau punya kakak hebat ....!?" ucap Ara sambil menyombongkan diri.
Mereka pun bersenda gurau di atas ayunan sambil menikmati matahari sore yang tak begitu menyengat, hanya kehangat yang mengenai kulit mereka.
Air kolam yang mengeluarkan suara gemericik, menambah suasana yang menenangkan. burung-burung berkicauan, kupu-kupu beterbangan kesana-kemari. Menambah keindahan bunga yang bermekaran. Sungguh indah kuasa Allah ....
Sedangkan di dalam rumah. Para orang tua berbicara melanjutkan membahas Aruni. Setelah pembahasan itu selesai. Ratih pamit undur diri karena ada telpon penting. kini di ruang keluarga itu hanya tersisa Roy dan Salman.
“apa benar pak Roy mempunyai saudara kembar?” tanya Salman. Setelah keheningan tercipta beberapa saat.
“iya benar , pak Salman. Rasanya ingin sekali bisa bertemu
dengannya lagi. Kami sudah sangat lama terpisah.” jelas Roy dengan wajah sendunya.
“kalau boleh, ijinkan saya menyelidiki keberadaannya.” Ucap Salman. Ia sangat berharap Roy mau menerima bantuannya.
“tentu saja boleh pak. Aku sangat senang bila di beri kesempatan
untuk bertemu dengannya lagi.” ternyata Roy menerimanya dengan lapang dada.
‘baiklah ..., aku akan segera menyelidiknya.”
‘terimakasih banyak tuan.”
“jangan sungkan ...”
***
Setelah ayah dan adiknya pulang. Ara pun segera di antar ke dalam
kamar oleh bi Anna. Ia harus segera beristirahat. Aturannya harus di taati, ia harus kembali ke rumah yang banyak aturannya kan.
Ara menatap kamar luas itu. Kamar yang pernah ia tinggali, masih
sama. Kasur besar yang di lapisi dengan badcover warna putih, bersih. Dinding
dan tirai yang di dominasi warna abu-abu. Dan di sebelah tempat tidur, terdapat
TV layar datar berukuran besar. Dan di depan TV ada sofa besar.
Ara masih mengamati isi kamar itu, kembali mengingat masa-masa itu,
ketika terdengar ketukan pintu di kamar itu. Tak berapa lama, seorang wanita
paruh baya berseragam hitam memasuki kamarnya.
“bi Anna”
“nona muda, kami bawakan makan malam untuk anda.”
Prok...prok....
Wanita itu menepuk tangannya dua kali. Kemudian seorang wanita
berseragam lainnya, yang usianya masih muda masuk ke kamar dengan membawa
makanan.
“apa Agra sudah pulang?” tanya Ara.
‘sepertinya belum, nona.?” Jawab bi Anna.
“ohhh ....” Ara terlihat kecewa.
“jika tidak ada pertanyaan lagi, maka kami undur diri.” Wanita
paruh baya itu memebri aba-aba kepada anak buahnya untuk keluar dari kamar itu,
menyisakan Ara seorang diri.
Kruuuuuk kruuuuuukk...
Perut Ara mulai berbunyi. Pertanda lapar sudah menyerangnya. Ingin
menunggu Agra pulang tapi perutnya sudah tidak bisa di ajak menunggu.
"Apa kalian lapar ..." ucap Ara sambil mengelus perutnya yang sudah besar. "Mami juga ...., kalau begitu ...., mari kita makan ...." Tanpa pikir
panjang ia pun mendekati meja dorong yang berisi makanan dan membuka
penutupnya. Selera makannya langsung bertambah saat melihat hidangan di
depannya. Ara pun segera melahap semua makanan di depannya.
Setelah makanan di depannya habis. Ia merasa matanya tak mampu di
buka lagi, Ara pun segera menuju ke atas tempat tidur, awalnya ingin menunggu
Agra pulang tapi matanya tak bisa di ajak kompromi. Setelah merebahkan tubuhnya
sebentar saja di atas tempat tidur, matanya langsung terpejam.
****
Tidak peduli bagaimana kejam dan kerasnya kehidupan masa lalumu, kamu harus punya keyakinan untuk memulainya kembali.
Karena tidak akan ada kata bahagia jika tidak ada kesedihan.
Karena hidup sungguh terlalu singkat untuk membiarkan orang lain ikut memutuskan apa yang membuat kita bahagia. – Ernest Prakasa
__ADS_1
HAPPY READING 😘😘😘😘