
Ara mengakhiri panggilan video call nya dengan
suaminya, malam ini tanpa suaminya terasa begitu sepi. Biasanya jika seperti
ini ia akan banyak bercerita pada adiknya, tapi saat ini adiknya itu sedang ada
masalah.
“Heh …., aku harus apa sekarang?” Ara terus memutar
tubuhnya, di atas tempat tidur itu sampai tak tahu arah.
Kring kring kring
Tiba-tiba ponselnya kembali berdering, wajah
suaminya kembali muncul.
“bby …, kenapa telpon lagi?”
“Aku merindukanmu!”
“Aku juga!”
“Baiklah …, aku akan kembali meeting, I miss you my wife!”
“I love you my husband!”
Ara tersenyum menanggapi kelakuan bucin suaminya. Ara segera bangun dari tempatnya dan bersiap untuk menyiapkan makan malam untuk putra putrinya. Sebenarnya lebih tepatnya melihat dan tidak di perbolehkan untuk ikut memegang apapun di dapur. itu sudah menjadi peraturan mutlak dan tidak boleh di rubah, walaupun Ara merengek seperti anak kecil.
Bi Anna yang selalu mengawasi pekerjaan pelayan yang lain dan juga nyonya muda nya.
🌺🌺🌺🌺
Pagi ini setelah mengantar Sanaya ke sekolahnya, Ara
memilih untuk tidak menunggu Sanaya. Ia malas bertemu dengan ibu-ibu dengan
gaya super model itu.
“Nay …, mom tinggal dulu nggak pa pa ya! Nanti momi
jemput lagi pas waktu pulang sekolah!”
“Yes mom …., Nay janji nggak akan nakal, nay akan
cari banyak teman nanti!”
“bagus …, anak pintar!” Ara mengusap kepala putrinya
dan mencium pipinya. Ara melambaikan tangannya menunggu putrinya itu masuk ke
dalam kelas barulah meninggalkan sekolah putrinya.
Seperti biasa pak Mun sudah siap di samping mobil menunggu Ara kembali.
“Kita ke toko kue ya pak Mun!”
“Baik nyonya!”
Ara masuk ke dalam mobil di ikuti pak mun juga, pak
Mun memutar mobilnya keluar dari area sekolah.
“Pak mun tunggu!” Ara menghentikan pak Mun, pak Mun
pun segera menginjak pedal remnya.
__ADS_1
“Ada apa nyonya?”
“Sebentar!”
Ara melihat ke arah depan, sebuah mobil dengan
penumpangnya, mobil yang sama seperti yang ia lihat kemarin. Tapi kali ini
hanya sendiri, Ara hendak turun dan mendekati mobil itu, tapi pak Mun
mencegahnya.
“Nyonya …, sebaiknya kita segera pergi saja dari
sini karena sekolah nona Sanaya hanya sebentar!”
“Tapi saya Cuma sebentar pak!”
Baru saja Nadin turun, wanita itu sudah masuk kembali
ke dalam mobilnya dan berjalan lagi.
“Yah yah …., telat lagi kan, padahal ada yang ingin
aku tanyakan!” keluh Ara. Ara pun kembali masuk ke dalam mobil.
“Kita jalan pak!”
“baik nyonya!”
Dengan masih penuh penasaran ara hanya bisa
memikirkan semuanya. Kok bisa? Pertanyaan itu yang selalu muncul di benak Ara.
Mobil Ara berhenti tepat di halaman toko roti, ia
melihat tokonya sedikit ramai. Ara segera bergegas untuk masuk ke dalam toko. Melihat
“hai mbak …!” sapa Arad an langsung ikut berdiri di
samping mbak Rini.
“Mbak Ara, kenapa di sini?”
“mau liat kerjanya mbak Rini bagus apa enggak!” goda
ara membuat mbak Rini tergelak, tapi ia segera menutup mulutnya dengan tangan.
Setelah ikut di sibukkan melayani pelanggan akhirnya
pekerjaannya selesai juga. Mbak Rini mengajak Ara duduk di salah satu kursi
yang ada di belakang meja kasir.
“Bagaimana mbak, apa ada masalah?” Tanya Ara lagi.
“Masih aman terkendali …!”
Di toko itu Ara sudah mempunyai banyak karyawan, ia
juga membuka beberapa cabang di beberapa titik.
“Bagaimana kabar mbak Nadin?’ Tanya mbak Rini.
“Nggak tahu, tapi kata Agra, Nadin baik-baik saja …,
dia memintaku untuk tidak menghubunginya sementara waktu sampai dia kembali!”
__ADS_1
“jadi mas Agra sudah tahui keberadaan mbak Nadin?”
“Kalau berdasarkan ucapannya…, aku rasa iya! Tapi sepertinya
ia sengaja menyembunyikan itu dari seseorang!”
“Maksudnya mas balok e situ, suaminya mbak Nadin?”
“bisa jadi seperti itu, mbak Rini kan tahu …,
masalah Davina!”
“Iya …, kasihan sekali dia, harus meninggal di usia
muda. Tapi aku tidak yakin kalau anak mbak Davina itu anaknya mas balok e situ!”
“Semoga juga seperti itu, selama ini aku
mengenalnya. Ia tidak mungkin melakukan hal itu, tapi putri Davina …!”
Ara menghela nafas, ia seperti menemukan jalan buntu
setiap kali memikirkan masalah rumah tangga adiknya, mau banyak bertanya juga
nggak mungkin. Walaupun adiknya, tapi sekarang mereka punya kehidupan
masing-masing, ada privasi di dalamnya.
“Oh iya mbak Ara, dulu aku kan pernah cerita ada
temannya mbak Ara yang nyariin, kemarin dia datang lagi!”
“Datang lagi?”
‘Iya …, tapi nggak nyariin mbak Ara, dia ke sini
sama anak kecil, sepertinya putrinya …., mereka beli kue!”
“Siapa?”
“Aku lupa lagi Tanya namanya!”
ara terdiam, sepertinya dia sedang memikirkan
sesuatu. Tapi kemudian ia tergagap, seperti sedang teringat sesuatu.
“sekarang sudah jam berapa?”
“jam sebelas!”
“Astaga aku harus menjemput Sanaya, aku pergi ya
mbak!”
Ara pun segera bergegas meninggalkan mbak Rini dan
berlari menghampiri mobil. Pak Mun sudah siap di sana.
“Kita segera ke sekolah Sanaya ya pak Mun!”
“Baik nyonya!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘