My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Kenyataannya!!!


__ADS_3

Sanaya memilih diam, ia menatap ke arah jendela. Tapi tiba-tiba sebuah tangan menghadang sinar matahari yang masuk melalui jendela membuatnya kembali menoleh ke pemilik tangan itu.


"Apa lagi sih Dit?"


"Tidak pa pa, gue hanya sedang protes saja sama matahari!"


"Protes kok sama matahari, memang apa salahnya matahari?"


"Ya karena di sudah berani menyentuh wajahmu dengan sinarnya!"


"Pandai banget gombalnya, belajar dari siapa?"


"Belajar dari dirimu!"


"Aku?" Sanaya menunjuk dirinya sendiri, "Sejak kapan?"


"Sejak aku tahu jika bunda menyebut nama kamu dalam doanya!"


"Kenapa bawa-bawa bunda?"


"Ya karena gue tahu doa bunda yang terbaik, jadi gue minta bunda buat favorit in nama lo dalam doanya!"


Hehhhh


Sanaya menghela nafas, mau bicara gimanapun anak laki-laki di sampingnya itu pasti bisa menimpali. Ia memilih kembali menyandarkan kepalanya dan menatap ke jendela, membiarkan tangan itu tetap bertengger di kaca itu.


Hingga akhirnya mereka sampai juga di butik yang ada dalam kartu nama. Butik yang cukup terkenal.


Sanaya sudah turun dari bus diikuti oleh Aditya.


Sanaya menghela nafas, kembali mencocokkan alamat yang ada di dalam kertas itu dengan yang ada di butik.


Benar ini butiknya ....


Sanaya pun segera melangkahkan kakinya dan di ikuti oleh Aditya. Sanaya sama sekali tidak mengatakan apa alasannya datang ke tempat itu membuatnya semakin penasaran.


"Ngapain ke sini? Mau beli baju ya?"


"Nggak!" jawab Sanaya singkat.


"Mau ngelamar jadi model?"


"Nggak!" lagi-lagi dengan jawaban yang sama.


"Ini butik nyokap lo?"


"Bukan!"


"Oma lo?"


"Bukan!"


Adit pun mempercepat langkahnya dan menghadang langkah Sanaya.


"Apa sih Dit?"


"Kalau di tanya jawab yang benar!"


"Ntar lo juga tahu!"


"Baiklah!" kali ini Adit menyerah, ia menyingkir dari depan Sanaya dan membiarkan Sanaya berjalan masuk ke dalam butik.


"Selamat datang di butik kami!" sambut salah seorang karyawan dengan pakaian rapinya.

__ADS_1


"Bisakah saya bertemu dengan nyonya Viona?"


"Apa sudah ada janji?"


"Tidak, tapi saya teman anaknya!"


"Oh baiklah, coba saya tanyakan dulu ke nyonya Viona nya ya, adik duduk dulu di sana!" ucap karyawan itu sambil menunjuk sebuah sofa di ruang tunggu.


"Terimakasih kak!"


"Sama-sama!"


Sanaya dan Aditya pun duduk di sofa yang berukuran besar berwarna coklat berbahan bludru itu.


"Siapa nyonya Viona?" tanya Aditya yang begitu penasaran. Ia sampai memiringkan kepalanya hanya untuk mencari tahu siapa yang di cari oleh Sanaya.


"Sudah gue bilang nanti lo juga tahu, jadi jangan tanya sekarang!"


"Baiklah!"


Aditya memilih kembali berdiri, mengamati deretan baju dengan berbagai model tergantung di gantungan baju. Aditya memperhatikan beberapa baju dan ia merasa tidak asing dengan baju itu.


Bukankah baju ini yang di pakai Gara beberapa waktu lalu? Jadi Sagara sebagai model ambassadornya! Apa itu berarti Sanaya juga akan jadi modelnya?


Aditya pun memilih kembali menghampiri Sanaya. Ia duduk di samping Sanaya yang sedang fokus dengan kertas di tangannya. Tapi sepertinya bukan kertas itu yang di pikirkan, tapi apa alasan kertas itu di berikan padanya.


Hingga akhirnya seseorang keluar dari ruangan yang ada di salam ruangan itu bersama karyawan yang tadi.


Sepertinya karyawan itu menunjuk ke arah Sanaya. Wanita itu tampak terkejut, tapi dalam hitungan detik ia berhasil mengamalkannya kembali.


Sanaya sudah berdiri dari duduknya saat wanita itu menghampirinya. Wanita itu menatap sinis pada Sanaya.


"Selamat siang nyonya, maaf kalau kedatangan saya menggangu waktu nyonya!"


"Saya cuma ingin tahu soal Abimanyu!" ucap Sanaya, dan lagi-lagi wanita itu terlihat terkejut tapi kembali ia menormalkan alir wajahnya.


"Ada apa?"


"Jadi anda mengenalnya?"


"Itu bukan urusan kamu, jadi kamu boleh pergi sekarang!"


"Ayolah nyonya, katakan dengan jujur kalau Abi itu putra nyonya!"


Kali ini Viona wajahnya kembali terlihat terkejut.


Bagaimana anak ini bisa tahu ....


"Itu bukan urusan mu anak kecil, jadi nggak usah macam-macam!"


"Maaf nyonya, ini jadi urusan saya karena Abi adalah teman saya, dan nyonya sudah mengerjai saya!"


"Iya saya memang mamanya Abimanyu, dan saya peringatkan padamu untuk tidak dekat-dekat dengannya, saya tidak suka!"


Sanaya tercekat, memang itu yang ingin ia tanyakan tapi saat mengetahui kenyataannya, lidah dan hatinya malah kelu.


Sepertinya Adit menyadari kalau Sanaya begitu terkejut. Ia pun segera berdiri di depan Sanaya.


"Kenalkan nyonya, saya Aditya, saya tunangan Sanaya. Jadi tante jangan khawatir kalau Sanaya akan menggangu Abimanyu. Tapi ada satu hal yang saya tidak suka dari Nyonya, yaitu telah membuat tunangan saya susah! Saya tidak akan segan-segan membuat perhitungan dengan anda jika hal itu terjadi!"


"Anak kemarin sore saja gaya-gayaan mengancam saya! Nggak mempan!"


Belum juga mereka selesai tiba-tiba seseorang menghampiri mereka.

__ADS_1


"Nay ....., Adit ....., kalian di sini?"


Suara itu sangat Sanaya kenal, ia segera menoleh ke arah sumber suara.


"Ariel!"


Ariel yang masih berdiri di depan pintu masuk segera mendekati mereka, seperti nya dia baru datang.


"Kalian ke sini ada apa?" tanya Ariel.


Jadi Ariel tidak mendengar semuanya ...., syukurlah ....


Sanaya segera tersenyum dan pura-pura biasa saja.


"Tidak pa pa, tadi hanya ada urusan sedikit dan sudah akan pergi, kamu ngapain? Mau cari baju ya?"


"Enggak!"


"Enggak?"


Apa Ariel punya urusan lain sepertiku? Tapi urusannya apa? Apa juga tentang peneror itu? Apa Ariel juga tahu kalau peneror itu adalah wanita ini ....?


Begitu banyak pertanyaan bersarang di benak Sanaya.


Ariel menatap wanita yang berdiri di depan Aditya, tapi matanya malah terlihat menyelidiki.


Apa mama berbuat sesuatu sama Sanaya ...?


Ia sudah cukup hafal dengan tabiat mamanya. Jika dengan keluarganya sendiri saja tega apalagi dengan orang lain.


"Ma ...., mama mengenal Sanaya?"


Pertanyaan yang di tujukan pada wanita itu tapi berhasil membuat Sanaya begitu terkejut.


"Mama?" gumam Sanaya.


Ariel kembali menoleh pada temannya itu, "Iya Nay, mama ini mantan suami papa Jerry. Mama kandung gue!"


Jadi maksudnya Ariel dan Abimanyu saudaraan ...., bagaimana bisa?


Sanaya benar-benar di kejutkan oleh dua kenyataan yang sama sekali tidak dia duga sebelumnya.


"Kamu dan Abi_?" rasanya ingin sekali bertanya tapi segera ia hentikan sendiri ucapannya.


"Ada apa gue sama Abimanyu?"


Apa itu artinya Ariel juga tidak tahu??


"Sepertinya gue buru-buru, gue pulang dulu ya!" ucap Sanaya lalu menarik tangan Adit keluar dari tempat itu.


"Nay tunggu!"


Panggilan Ariel tidak berhasil membuatnya berhenti. Ariel menatap mamanya.


"Ma ...., maaf ngelakuin apa Sanaya?" tanya nya menghardik pada wanita yang telah melahirkannya itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰😘😘😘


__ADS_2