My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 91


__ADS_3

#kadang apa yang kita anggap baik belum tentu baik untuk orang lain


Tetapi cinta mengajarkan kita arti keiklasan untuk tetap bertahan


dengannya#


Setelah pertemuannya dengan Ara, Rendi pun menjalankan mobilnya menuju


ke rumah Frans, semenjak kejadian Agra keluar dari rumah, Agra sudah tak lagi


nongkrong bersama mereka


“tuan Rendi...” kedatangannya langsung di sambut oleh pelayan di


rumah  dokter Frans


“apa dokter Fransnya di rumah?” tanya Rendi


“ada tuan ..., silahkan masuk, pak dokternya ada di kamar”


“ya sudah saya langsung ke kamarnya saja bi...”


“baik tuan”


Rendi pun langsung berlari ke kamar dokter Frans, ia sudah begitu


hafal dengan seluk beluk rumah itu


Setelah masuk ke dalam kamar dokter Frans ia segera merebahkan


badannya di atas tempat tidur, dokter Frans yang telah selesai mandi sedikit


terkejut dengan kedatanghan Rendi


“lo Rend..., mengagetkan gue saja ...”


“gue lagi banyak pikiran” ucap Rendi sambil menutup kedua matanya


dengan lengannya


Dokter Frans pun segera mengenakan pakaiannya, sedangkan Rendi


sudah berpindah tempat ke sofa yang ada di sudut kamar


“lo kenapa setiap kesini, bawaannya mukanya di tekuk mulu ...”


Frans melempar sebotol minuman ke arah Rendi yang sudah duduk di sofa


“gue takut...”


“emang gue nyeremin sampek lo takut ...” Frans ikut duduk di


samping Rendi


“bukan lo, dengerin kalau gue mau ngomong ..., ini masalah Agra”


“emang kenapa lagi dengannya?”


“Ara tau semuanya”


“maksud lo ..., tentang harta itu juga ...?”


“kalau masalah harta gue belum ngomong sama dia, kalau bisa orang


lain jangan sampai tahu kalau nyonya mengalihkan harta Agra ke Ara, itu bisa


bahaya buat Ara”


“bukankah itu bagus, Agra kan bisa kembali ke rumah utama dan yang


terpenting semuanya kembali dia miliki,lebih cepat lebih baik kan, atau


jangan-jangan ....” sebelum Frans menyelesaikan kata-katanya Rendi sudah lebih


dulu melemparnya dengan bantal sofa


“jangan pikir macam-macam ..., lo pikir gue tega merampas harta


saudara, gila aja lo ..., lo kan juga kenal Agra, kita sahabat dari kecil,


gimana Agra kalau sudah cinta sama seseorang”


“oh ..., gue pikir lo mau nguasain hartanya Agra, kalau sampek lo


lakuin itu, gue orang pertama yang bakal musuhin lo. Lo ingat itu ...”


“kalau sampai ibunya bang Divta sampek nemuin Ara bisa bahaya  ...”


“ya ya ya ..., aku faham sekarang, jadi kita harus memikirkan


supaya hubungan antara Agra dan Divta baik-baik saja, baru membawa mereka


kembali”


***


“selamat malam bby, kamu pulang terlambat lagi, pasti kamu capek?


Segeralah mandi , aku sudah menyiapkan air hangar dan pakaian ganti, setelah


itu segera kesini biar aku siapkan makan malam” Ara menghampiri Agra yang


membuka pintu dan menyembunyikan wajah murungnya dengan banyak bicara pada


suaminya


“sayang kamu tidak pa pa kan?” Agra merasa curiga dengan tingkah


tak biasa istrinya

__ADS_1


“ti-tidak ..., memang aku kenapa, aku tidak pa pa, aku baik baik


saja” Ara menyembunyikan Air matanya yang sudah ingin turun dengan tetap


melakukan aktifitasnya di dapur sambil berdiri membelakangi Agra


“berhenti seperti itu ra ...” Agra meninggikan suaranya sambil


menarik tangan Ara supaya berhadapan dengannya, kini jarak mereka hanya 30


centi dengan kedua mata saling menatap, tapi Ara langsung memalingkan


pandangannya agar Agra tak bisa membaca matanya, tapi tetap saja semua itu


sudah terlambat


“aku tidak pa pa ...” Ara masih berusaha menghindari tatapan


suaminya


“berhenti berbohong Ara, jangan membuatku marah ...” lagi-lagi Agra


meninggikan suaranya, membuat Ara tak mampu lagi membendung air matanya yang


sejak tadi sudah siap siap meluncur dan sekarang benar- benar meluncur


Melihat air mata Ara, Agra menyerah, ia melapas genggaman tangan


nya pada tangan Ara dan mengusap kasar rambutnya sendiri, ia benar-benar merasa


sakit melihat Ara menangis


“jangan menangis sayang ...” sekarang suara Agra lebih lembut


“duduklah ...” Agra menuntun Ara untuk duduk di kursi plastik di


dapur itu


“sayang jelaskan padaku, apa yang membuatmu seperti ini?” Agra


berjongkok di depan Ara duduk dan mengusap kedua tangan Ara


“aku tidak pa pa bby...., sungguh ...” tapi Ara tetap menangis


membuat Agra taak percaya


“aku mohon ..., jangan bohongi aku sayang, semua ini akan terasa


semakin berat jika kau tak jujur padaku ...”


Ara menghela nafasnya dalam, ingin memulai mengatakan apa yang


sedang ada dalam benaknya, tapi rasanya begitu berat, sangat berat


“aku tahu semuanya ....” Ara malah semakin bersedu dengan


Ara, menjadikan dadanya sebagai sandaran istrinya


“apa yang kamu ketahui ...?” setelah lama dalam pelukan , Agra


melepaskan pelukannya dan mengusap kedua pipi Ara serta mencium kedua mata Ara


bergantian


“semuanya ..., kenapa kamu lakukan semua ini bby?” Agra langsung


bisa menebak arah penbicaraan Ara, karena selama ini tak ada yang di


sembunyikannya dari Ara kecuali hal itu


“karena aku mencintaimu ... Ara, aku mencintaimu ..., aku tak mau


berpisah denganmu ...” mendengar Agra, tangis Ara semakin kencang


“kenapa kamu malah menangis lagi? Jangan membuatku takut Ra ....”


Agra semakin frustasi karena tangisan Ara yang semakin menjadi


“aku tak seberharga itu bby ...,aku nggak pantas ..., tolong jangan


berkorban lagi buat aku, aku akan menyerah, kembalilah pada kehidupanmu, aku


akan baik –baik saja , percayalah ...”


“berhenti bicara tidak berguna seperti itu, aku tidak suka ...”


Agra kembali meninggikan suaranya, rasanya begitu sakit mendengar apa yang di


katakan Ara, Agra berdiri dan membalikkan badannya membelakangi Ara


menyembunyikan titik air mata di sudut matanya yang mulai berair


“aku mohon Ra ..., jangan menyerah ...., aku janji aku akan


berusaha lebih baik lagi , kau kekuatanku, aku bisa menukar semua yang aku


miliki demi bisa hidup denganmu, bahkan jika itu nyawaku, aku akan berikan” mendengar


Agra, Ara pun langsung berdiri dari duduknya dan memeluk tubuh Agra dari


belakang


“maafkan aku ,bby ..., aku janji aku tidak akan membuatmu melakukan


lebih banyak lagi untukku”


“aku suka jika kau membutuhkanku, aku suamimu ..., kau seharusnya tetap


menjadikanku sebagai tumpuanmu” Agra masih tetap tak membalas pelukan Ara

__ADS_1


“kau marah ...., aku mohon jangan marah ..., aku nggak bisa lihat


kamu marah ....” Ara semakin mengeratkan pelukannya, kini hati Agra menjadi


luluh mendengar penuturan Ara, ia pun membalikkan tubuhnya dan membalas pelukan


Ara


“aku nggak mungkin bisa marah sama kamu, aku Cuma tidak suka kamu


berkata seperti itu, tetaplah jadi Araku ..., jadi penyemangatku” Agra mengecup


puncak kepala Ara


“maaf ....” Ara mengeratkan pelukannya pada Agra


“lain kali jangan lakukan itu, aku tidak suka, dasar ...., suka


sekali membuat suami susah ...” Agra mengacak-acak rambut Ara gemas


“maaf ...” ucap Ara dengan wajah memelas


“suami pulang malah di sambut dengan wajah jelek kayak gini, senyum


dong ...., biar cantik ...” Ara pun hanya bisa diam dan menunjukkan senyum


manisnya pada sang suami


“tapi aku nggak suka kamu jadi kuli panggul di pasar ...”


“hah ...., kamu tahu ...?” Agra kaget ternyata istrinya tahu


pekerjaannya


“aku ngikutin kamu sepanjang hari ini ...” Ara cemberut pura-pura


marah


“maaf ..., ok baik tuan putri, aku tidak akan nglakuin itu lagi”


“kita harus mulai buka usaha bby ..., aku nggak mau kamu kerja


kasar terus” Ara terus saja protes


“tapi modal aku belum cukup sayang ...”


“kita cari bareng-bareng ...”


“maksud kamu ...?”


“biarkan aku juga kerja”


“nggak sayang, jualan kue kamu aja sudah cukup menguras tenaga


sayang”


“aku juga nggak kerja sama orang bby ..., aku Cuma mau nambah


jumlah dan jam buka aku saja, dan kamu juga bisa bantu aku masarin jajanan


produk aku, gimana?” mendengar penuturan Ara, Agra sedikit berpikir


“ya udah deh aku setuju, tapi kalau capek harus bilang sama aku,


kalau gitu besok aku akan usahain cariin ruko buat kita”


“jangan bby ..., sewa ruko mahal ...”


“kamu ngraguin kemampuan aku ....? jangan salah suamimu ini pekerja


keras, emang berapa uang sih ...? aku bayarin ...”


“ya ya ya ..., percaya ....., sudah malam aku mau tidur, nggak usah


tidur sama aku kalau nggak mandi” Ara pun meninggalkan Agra dan masuk ke dalam


kamar dan segera menutup pintu, Agra hanya bisa mengikuti Ara dari belakang dan


terhalang oleh pintu yang lebih dulu di tutup oleh Ara


“sayang ..., kamu kok tega sih ..., ini sudah malam, dingin tau


sayang kalau mesti mandi ...” Agra terus mengetuk pintu berharap ara bukakan


pintu, karena kini sudah pukul 02.00


“bodo amat ...,  ketuk pintu


nanti kalau sudah mandi , bau ...” akhirnya Agra menyerah, dari pada tidur di


luar lebih baik mandi sambil menahan dingin, karena air hanyat yang di siapkan


istrinya sudah kembali dingin


#memikirkan kebahagiaan orang yang kita cinta, tak ada yang salah


tapi yang salah adalah menganggap apa yang kita anggap benar menjadi sebuah kebenaran#


biarkan cinta dan takdir yang memutuskan kita akan berjalan kemana


***


BERSAMBUNG


jangan lupa jangan lupa


kasih aku upah dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


kasih VOTE juga

__ADS_1


__ADS_2