
#kadang apa yang kita anggap baik belum tentu baik untuk orang lain
Tetapi cinta mengajarkan kita arti keiklasan untuk tetap bertahan
dengannya#
Setelah pertemuannya dengan Ara, Rendi pun menjalankan mobilnya menuju
ke rumah Frans, semenjak kejadian Agra keluar dari rumah, Agra sudah tak lagi
nongkrong bersama mereka
“tuan Rendi...” kedatangannya langsung di sambut oleh pelayan di
rumah dokter Frans
“apa dokter Fransnya di rumah?” tanya Rendi
“ada tuan ..., silahkan masuk, pak dokternya ada di kamar”
“ya sudah saya langsung ke kamarnya saja bi...”
“baik tuan”
Rendi pun langsung berlari ke kamar dokter Frans, ia sudah begitu
hafal dengan seluk beluk rumah itu
Setelah masuk ke dalam kamar dokter Frans ia segera merebahkan
badannya di atas tempat tidur, dokter Frans yang telah selesai mandi sedikit
terkejut dengan kedatanghan Rendi
“lo Rend..., mengagetkan gue saja ...”
“gue lagi banyak pikiran” ucap Rendi sambil menutup kedua matanya
dengan lengannya
Dokter Frans pun segera mengenakan pakaiannya, sedangkan Rendi
sudah berpindah tempat ke sofa yang ada di sudut kamar
“lo kenapa setiap kesini, bawaannya mukanya di tekuk mulu ...”
Frans melempar sebotol minuman ke arah Rendi yang sudah duduk di sofa
“gue takut...”
“emang gue nyeremin sampek lo takut ...” Frans ikut duduk di
samping Rendi
“bukan lo, dengerin kalau gue mau ngomong ..., ini masalah Agra”
“emang kenapa lagi dengannya?”
“Ara tau semuanya”
“maksud lo ..., tentang harta itu juga ...?”
“kalau masalah harta gue belum ngomong sama dia, kalau bisa orang
lain jangan sampai tahu kalau nyonya mengalihkan harta Agra ke Ara, itu bisa
bahaya buat Ara”
“bukankah itu bagus, Agra kan bisa kembali ke rumah utama dan yang
terpenting semuanya kembali dia miliki,lebih cepat lebih baik kan, atau
jangan-jangan ....” sebelum Frans menyelesaikan kata-katanya Rendi sudah lebih
dulu melemparnya dengan bantal sofa
“jangan pikir macam-macam ..., lo pikir gue tega merampas harta
saudara, gila aja lo ..., lo kan juga kenal Agra, kita sahabat dari kecil,
gimana Agra kalau sudah cinta sama seseorang”
“oh ..., gue pikir lo mau nguasain hartanya Agra, kalau sampek lo
lakuin itu, gue orang pertama yang bakal musuhin lo. Lo ingat itu ...”
“kalau sampai ibunya bang Divta sampek nemuin Ara bisa bahaya ...”
“ya ya ya ..., aku faham sekarang, jadi kita harus memikirkan
supaya hubungan antara Agra dan Divta baik-baik saja, baru membawa mereka
kembali”
***
“selamat malam bby, kamu pulang terlambat lagi, pasti kamu capek?
Segeralah mandi , aku sudah menyiapkan air hangar dan pakaian ganti, setelah
itu segera kesini biar aku siapkan makan malam” Ara menghampiri Agra yang
membuka pintu dan menyembunyikan wajah murungnya dengan banyak bicara pada
suaminya
“sayang kamu tidak pa pa kan?” Agra merasa curiga dengan tingkah
tak biasa istrinya
__ADS_1
“ti-tidak ..., memang aku kenapa, aku tidak pa pa, aku baik baik
saja” Ara menyembunyikan Air matanya yang sudah ingin turun dengan tetap
melakukan aktifitasnya di dapur sambil berdiri membelakangi Agra
“berhenti seperti itu ra ...” Agra meninggikan suaranya sambil
menarik tangan Ara supaya berhadapan dengannya, kini jarak mereka hanya 30
centi dengan kedua mata saling menatap, tapi Ara langsung memalingkan
pandangannya agar Agra tak bisa membaca matanya, tapi tetap saja semua itu
sudah terlambat
“aku tidak pa pa ...” Ara masih berusaha menghindari tatapan
suaminya
“berhenti berbohong Ara, jangan membuatku marah ...” lagi-lagi Agra
meninggikan suaranya, membuat Ara tak mampu lagi membendung air matanya yang
sejak tadi sudah siap siap meluncur dan sekarang benar- benar meluncur
Melihat air mata Ara, Agra menyerah, ia melapas genggaman tangan
nya pada tangan Ara dan mengusap kasar rambutnya sendiri, ia benar-benar merasa
sakit melihat Ara menangis
“jangan menangis sayang ...” sekarang suara Agra lebih lembut
“duduklah ...” Agra menuntun Ara untuk duduk di kursi plastik di
dapur itu
“sayang jelaskan padaku, apa yang membuatmu seperti ini?” Agra
berjongkok di depan Ara duduk dan mengusap kedua tangan Ara
“aku tidak pa pa bby...., sungguh ...” tapi Ara tetap menangis
membuat Agra taak percaya
“aku mohon ..., jangan bohongi aku sayang, semua ini akan terasa
semakin berat jika kau tak jujur padaku ...”
Ara menghela nafasnya dalam, ingin memulai mengatakan apa yang
sedang ada dalam benaknya, tapi rasanya begitu berat, sangat berat
“aku tahu semuanya ....” Ara malah semakin bersedu dengan
Ara, menjadikan dadanya sebagai sandaran istrinya
“apa yang kamu ketahui ...?” setelah lama dalam pelukan , Agra
melepaskan pelukannya dan mengusap kedua pipi Ara serta mencium kedua mata Ara
bergantian
“semuanya ..., kenapa kamu lakukan semua ini bby?” Agra langsung
bisa menebak arah penbicaraan Ara, karena selama ini tak ada yang di
sembunyikannya dari Ara kecuali hal itu
“karena aku mencintaimu ... Ara, aku mencintaimu ..., aku tak mau
berpisah denganmu ...” mendengar Agra, tangis Ara semakin kencang
“kenapa kamu malah menangis lagi? Jangan membuatku takut Ra ....”
Agra semakin frustasi karena tangisan Ara yang semakin menjadi
“aku tak seberharga itu bby ...,aku nggak pantas ..., tolong jangan
berkorban lagi buat aku, aku akan menyerah, kembalilah pada kehidupanmu, aku
akan baik –baik saja , percayalah ...”
“berhenti bicara tidak berguna seperti itu, aku tidak suka ...”
Agra kembali meninggikan suaranya, rasanya begitu sakit mendengar apa yang di
katakan Ara, Agra berdiri dan membalikkan badannya membelakangi Ara
menyembunyikan titik air mata di sudut matanya yang mulai berair
“aku mohon Ra ..., jangan menyerah ...., aku janji aku akan
berusaha lebih baik lagi , kau kekuatanku, aku bisa menukar semua yang aku
miliki demi bisa hidup denganmu, bahkan jika itu nyawaku, aku akan berikan” mendengar
Agra, Ara pun langsung berdiri dari duduknya dan memeluk tubuh Agra dari
belakang
“maafkan aku ,bby ..., aku janji aku tidak akan membuatmu melakukan
lebih banyak lagi untukku”
“aku suka jika kau membutuhkanku, aku suamimu ..., kau seharusnya tetap
menjadikanku sebagai tumpuanmu” Agra masih tetap tak membalas pelukan Ara
__ADS_1
“kau marah ...., aku mohon jangan marah ..., aku nggak bisa lihat
kamu marah ....” Ara semakin mengeratkan pelukannya, kini hati Agra menjadi
luluh mendengar penuturan Ara, ia pun membalikkan tubuhnya dan membalas pelukan
Ara
“aku nggak mungkin bisa marah sama kamu, aku Cuma tidak suka kamu
berkata seperti itu, tetaplah jadi Araku ..., jadi penyemangatku” Agra mengecup
puncak kepala Ara
“maaf ....” Ara mengeratkan pelukannya pada Agra
“lain kali jangan lakukan itu, aku tidak suka, dasar ...., suka
sekali membuat suami susah ...” Agra mengacak-acak rambut Ara gemas
“maaf ...” ucap Ara dengan wajah memelas
“suami pulang malah di sambut dengan wajah jelek kayak gini, senyum
dong ...., biar cantik ...” Ara pun hanya bisa diam dan menunjukkan senyum
manisnya pada sang suami
“tapi aku nggak suka kamu jadi kuli panggul di pasar ...”
“hah ...., kamu tahu ...?” Agra kaget ternyata istrinya tahu
pekerjaannya
“aku ngikutin kamu sepanjang hari ini ...” Ara cemberut pura-pura
marah
“maaf ..., ok baik tuan putri, aku tidak akan nglakuin itu lagi”
“kita harus mulai buka usaha bby ..., aku nggak mau kamu kerja
kasar terus” Ara terus saja protes
“tapi modal aku belum cukup sayang ...”
“kita cari bareng-bareng ...”
“maksud kamu ...?”
“biarkan aku juga kerja”
“nggak sayang, jualan kue kamu aja sudah cukup menguras tenaga
sayang”
“aku juga nggak kerja sama orang bby ..., aku Cuma mau nambah
jumlah dan jam buka aku saja, dan kamu juga bisa bantu aku masarin jajanan
produk aku, gimana?” mendengar penuturan Ara, Agra sedikit berpikir
“ya udah deh aku setuju, tapi kalau capek harus bilang sama aku,
kalau gitu besok aku akan usahain cariin ruko buat kita”
“jangan bby ..., sewa ruko mahal ...”
“kamu ngraguin kemampuan aku ....? jangan salah suamimu ini pekerja
keras, emang berapa uang sih ...? aku bayarin ...”
“ya ya ya ..., percaya ....., sudah malam aku mau tidur, nggak usah
tidur sama aku kalau nggak mandi” Ara pun meninggalkan Agra dan masuk ke dalam
kamar dan segera menutup pintu, Agra hanya bisa mengikuti Ara dari belakang dan
terhalang oleh pintu yang lebih dulu di tutup oleh Ara
“sayang ..., kamu kok tega sih ..., ini sudah malam, dingin tau
sayang kalau mesti mandi ...” Agra terus mengetuk pintu berharap ara bukakan
pintu, karena kini sudah pukul 02.00
“bodo amat ..., ketuk pintu
nanti kalau sudah mandi , bau ...” akhirnya Agra menyerah, dari pada tidur di
luar lebih baik mandi sambil menahan dingin, karena air hanyat yang di siapkan
istrinya sudah kembali dingin
#memikirkan kebahagiaan orang yang kita cinta, tak ada yang salah
tapi yang salah adalah menganggap apa yang kita anggap benar menjadi sebuah kebenaran#
biarkan cinta dan takdir yang memutuskan kita akan berjalan kemana
***
BERSAMBUNG
jangan lupa jangan lupa
kasih aku upah dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
kasih VOTE juga
__ADS_1