
Ara begitu terpikirkan dengan ucapan Aruni, wanita itu begitu takut jika terjadi
sesuatu dengan suaminya, ia jadi mengingat ancamannya tempo hari.
memikirkan saja membuat bulu kuduknya merinding. ucapan wanita itu begitu membekas di dalam benaknya.
***
Saat itu Ara sedang sibuk melayani pelanggan di kafe, walaupun sudah memiliki banyak karyawan. Ara masih suka turun langsung melayani pelanggan atau membuat dan memastikan kue-kue yang di jual tetap dengan resep yang sama. tiba-tiba ia di kagetkan dengan kedatangan seorang
wanita paruh baya datang menjadi pelanggan di kafenya
Wanita itu sebenarnya sudah beberapa kali datang, ia datang layaknya pelanggan lainnya , menikmati kue dan minum kopi, tapi anehnya dia selalu datang seorang diri, sekali waktu ia hanya datang untuk menatap ke arah Ara dan seperti sedang mengawasi, tapi untuk kedatangannya yang
terakhir kali, ia meminta Ara untuk menemaninya. Sebenarnya sebelum-sebelumnya Ara cukup penasaran dengan wanita itu, tapi kemudian ia memikirkan kenyamanan pelanggan. asalkan tidak mengganggu atau menyakitinya Ara akan tetap membiarkan.
“silahkan nyonya ...” Ara menyuruh pelanggan itu duduk, Ara
tersenyum begitu ramah pada wanita paruh baya itu, yang sepertinya usianya sama
dengan ibu mertuanya
“bisa temani saya sebentar, saya ingin mengobrol denganmu” ucap
wanita itu sambil duduk di salah satu kursi yang sudah di sediakan dan menaruh
tas branded nya di atas meja.
"tapi nyonya ....." Ara ragu untuk mengiyakan
"cuma sebentar."
“baik nyonya ...” Ara pun ikut duduk dengan wanita yang tampaknya
dari keluarga kaya
“kenalkan saya Aruni ...” ucap wanita itu sambil mengulurkan
tangannya, dan Ara segera menyambut tangannya
“saya Ara ...., apa saya mengenal anda?” tanya Ara
“suamimu yang mengenal saya ..., ia begitu mengenal saya, kami
sangat dekat ...”
“benarkah ...., tapi dia tak pernah bercerita tentang anda nyonya
...”
“ya karena kami sudah lama tidak bertemu, saya lama di luar negri”
“oh ..., begitu ...” Ara menganggukan kepalanya tanda mengerti
“apa kau tidak penasaran siapa saya?”
“jika suami saya kenal sama anda, berati anda juga tamu saya nyonya
...., senang bisa menyambut anda”
“kau hamil?” Aruni memperhatikan perut Ara yang sudah mulai
membesar
“iya nyonya ...., kembar ...” Ara tampak begitu senang saat
mengatakan jika ia sedang mengandung anak kembar
“pasti senang sekali ya ...”
“ya ..., kami sangat bahagia menanti kelahiran mereka”
"jaga baik-baik kandunganmu ..." ucap Aruni lembut tapi tampak menakutkan jika di lihat dari pandangan matanya
"tentu nyonya ....., kami sangat menyayanginya"
“jika di suruh memilih kau akan memilih suamimu atau anak dalam
kandunganmu?”
“anda ini bicara apa? Saya tidak mungkin memilih salah satu dari
mereka, mereka bukan pilihan, tapi hidup saya nyonya”
“wah ..., beruntung sekali ya Agra, punya istri sepertimu”
“terimakasih nyonya, tapi saya lebih beruntung mendapatkan suami sepertinya, nyonya”
“tapi bukankah seharusnya kau bisa memilih, suami atau anak? Atau kau juga
__ADS_1
boleh mengajukan pilihan pada suamimu , perusahaan atau istri dan anaknya”
“maksud nyonya? Saya benar-benar tidak mengerti” Ara gagal mencerna ucapan wanita di depannya. apa maksud dari ucapannya? ia merasa cukup bodoh dalam berteka-teki.
“nanti kamu akan mengerti ..., saya rasa pembicaraan kita cukup
sampai di sini, sampai jumpa di lain waktu, semoga dalam keadaan yang lebih baik dari ini”
Ara hanya menatap bingung kepergian wanita nyang menyebutkan
namanya Aruni itu,
***
Dan malam ini ia baru tahu jika itu alasan kenapa wanita itu
menemuinya sama seperti putranya yang sering menemuinya, entah itu sebuah
ancaman atau sebuah peringatan.
“sayang ..., kau belum tidur ...?” tanya Agra yang baru saja
memasuki kamar setelah melihat istrinya masih terjaga.
“bby .....” ucap Ara sambil menatap suaminya sendu. rasanya ada yang ingin ia katakan dan harus di katakan.
“iya sayang ...” Agra pun segera mendekati Ara dan mengusap
pipinya dengan jempol tangannya, menyingkirkan anak rambut yang menghalangi
wajah istrinya
“aku takut bby ....” ucapnya sambil menenggelamkan wajahnya ke dada
bidang suaminya, ia mengeratkan pelukannya
“jangan takut sayang...., semua akan baik-baik saja ...” ucap Agra
sambil mengelus punggung istrinya. ia mencoba menguatkan hati istrinya walaupun saat ini hatinya juga sedang rapuh.
“apa semuanya akan baik-baik saja ...?” tanya Ara. ia terus memeluk suaminya seakan-akan jika ia lepaskan pelukannya. suaminya itu akan menghilang dari hadapannya.
“jika tidak bisa semua baik-baik saja, setidaknya aku akan tetap
memastikan kalian baik-baik saja sayang....” ucap Agra dengan mata yang menerawang entah ke mana.
“kamu bby ...” Ara mendongakkan kepalanya. memastikan ekspresi wajah suaminya
tubuh istrinya dan meninggalkan ciuman di kening istrinya, kemudian menutupnya
dengan selimut.
Agra berencana untuk turun dari tempat tidur, ia harus memeriksa
sesuatu, tapi langkahnya terhenti saat tangan Ara meraih kaos yang ia kemakan
“jangan pergi bby ....” ucapnya lemah tanpa membuka matanya
“iya sayang ..., aku di sini” Agra mengurungkan niatnya untuk turun
dari tempat tidur, ia mengelus kepala istrinya sampai ia pun ikut tertidur
bersama istrinya karena rasa lelah setelah dua hari ini menyiapkan begitu
banyak acara
*******
Pagi ini matahari menampakkan sinarnya yang terasa lebih cepat bagi
dua orang yang sedang terbaring di balik selimut tebalnya
Tapi sinar matahari yang sudah terlanjur menerobos masuk melalui
celah kelambu jendelanya membuat sepasang mata harus merelakan tidurnya yang
harus sudah di akhiri
“uahhhh ....”Ara menguap sambil meregangkan badannya
“sudah pagi ya ...., apa siang ya ...?” ia menatap jendela yang
menampakkan mentari sudah begitu tinggi, kemudian matanya beralih pada jam
kecil yang berada di atas nakas, ia mengambilnya dan memastikan pandangannya
‘hah ...., sudah jam 10 ..., kenapa aku bisa kesiangan ...?”
Ara meletakkan kembali jam itu ke atas nakas, dan melihat ke
__ADS_1
sampingnya yang ternyata suaminya juga masih terlelap
Ia memperhatikan wajah suaminya yang masih terlelap, begitu polos
dan tampan, Ara pun segera turun dari tempat tidur dengan perlahan, kemudian
jongkok di hadapan wajah suaminya, ia memperhatikan wajah suaminya dari dekat
Melihat setiap lekuk wajahnya, begitu tampan dan terpahat jelas tanpa celah, begitu indah.
“kalau orang ganteng ..., tidur pun ganteng ya ...” gumamnya pelan
Ara mulai tak mampu menahan tangannya untuk menyentuh wajah pria
yang sudah satu tahun ini di cintainya, entah sejak kapan cinta itu hadir
hingga membuatnya tak mampu berpaling dari wajah tampan di hadapannya
Ara mengabsen setiap inci dari wajah Agra dengan telunjuknya,
hingga tangannya terhenti di belahan bibir suaminya yang tipis dan merah jambu,
bibir yang memang tak pernah tersentuh asap rokok itu begitu terlihat merona
Ingin rasanya Ara mengecup bibir itu, tapi takut jika membangunkan
si pemilik bibir, tapi entah dapat keberanian dari mana, Ara pun semakin
mendekatkan bibirnya hingga menyentuh bibir suaminya
Saat hendak menjauhkan bibirnya, tiba-tiba tengkuknya di tahan oleh
tangan kekar suaminya hingga bibir mereka kembali bersentuhan, Ara hanya bisa
membulatkan matanya saat melihat mata Agra juga terbuka, Agra segera *******
bibir Ara dengan lembut hingga beberapa waktu
“seharusnya kau lakukan ini setiap pagi sayang ...., ini namanya
morning kiss, seperti pasangan-pasangan di luar negri sana” ucap Agra saat
sudah melepaskan ciumannya
‘kau mengagetkanku ...” ucap Ara kesal
“jadi dulu kamu selalu lakuin itu ya sama pacar-pacar kamu di luar
negri” tuduh Ara
“ya nggak sayang ...., kan itu aku lakuin sama istri aku, kalau
sama pacar enggak ...” ucap Agra mengklarifikasi ucapannya, ia merasa salah berucap
“tapi sama nona Viona?”
“nggak selalu juga sayang ....”
“tapi sering kan ...?”
Agra benar-benar termakan omongannya sendiri, rencananya ingin ngerjai
Ara tapi malah jadi bumerang untuk dirinya sendiri
“maaf sayang ......, tapi nggak lagi sayang ....”
“aku percaya tapi ada syaratnya ...”
“apa sayang ...”
“aku pengen makan pecel pagi ini, jadi kau harus mengantarku ke
penjual pecel, naik motor”
“hah ...., naik motor ...? kita kan sudah punya mobil, pakai mobil
saja ya sayang, kasihan dedek bayinya”
“nggak mau ..., aku maunya naik motor ...”
“baiklah ..., tapi pecelnya yang dekat-dekat sini aja ya sayang
....” Ara pun hanya tersenyum dan menganggu
Seperti anak kecil yang telah mendapatkan es krim kesukaannya, Ara
pun segera berlari ke kamar mandi
“kenapa aku selalu kena sih ...” gerutu Agra
__ADS_1
****
BERSAMBUNG