My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 68


__ADS_3

  ** Begitu kamu memiliki keyakinan, maka**


kamu  akan mendapatkan kekuatan yang


membuat segala sesuatunya jadi mungkin.


Tetaplah percaya pada keyakina diri sendiri


***


Agra memasuki gedung perkantoran tepat pukul 2 siang, ia harus


mencuci seprei terlebih dahulu hingga membuat bajunya basah, mengharuskan


mengagatinya lagi


Agra sebenarnya tak enak hati karena sudah mengabaikan panggilan


Rendi, tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terlanjur


Rendi sudah menyambutnya di ambang pintu masuk gedung,


“selamat siang pak ...” Rendi langsung menyapa Agra saat melihat


kedatangannya


Agra tak menghentikan langkahnya,ia malangkah seperti biasa penuh


karisma dan tegas mereka berjalan beriringan, Agra berjalan di depan sedangkan


Rendi mengikutinya di belakang, mereka memasuki lift


“bagaimana?”  tanya Agra saat


sudah sempurna masuk ke dalam lift yang hanya di khususkan untuk para petinggi


perusahaan


Pandangan agra tetap fokus ke depan, dan sesekali memainkan


ponselnya, mengecek sendiri masalah yang terjadi melalui layar ponselnya


sebelum mendapat jawaban dari Rendi


“mereka meminta bapak sendiri yang menghadiri rapat pak” Rendi pun


sama, berucap tanpa mengalihkan pandangannya, seakan mereka punya dunianya


masing-masing


“shiiitttt ...., apa yang mereka mau sebenarnya” Agra memeras pelan


ponselnya menumpahkan kekasalannya


“sepertinya ini memang sebuah jebakan untuk menjatuhkan Anda” walau


ada raut khawatir tapi tetap saja wajah dingin itu tetap terlihat


“jadi mereka ingin bermain-main dengan saya” senyum tipis


melengkung dari bibir agra, seperti siap menerima tantangan yang di layangkan


oleh lawannya dan Rendi hanya mengangguk


“ok baiklah..., ayo kita hadapi, siapkan semuanya, kita berangkat


sekarang”


Memang dalam hal ini Agra lebih lihai di banding Rendi, selain

__ADS_1


karena Agra memiliki kekuasaannya, kemampuannya juga tak bisa di remehkan


Maka akan sangat luar bisa jika Agra dan Rendi di satukan dalam hal


pekerjaan, mereka benar-benar patner yang saling mengisi di tiap titik


kelemahan


Lawan bisnisnya di buat mati kutu saat berhadapan dengan mereka,


Agra seperti panglima sedangkan Rendi sebagai pedangnya, tak bisa di pisahkan


***


Di tempat lain , setelah kejadian itu, ia datang ke kantor Agra, Viona


begitu terpukul, ia mengunci dirinya di dalam kamar,


penampilannya tak seperti biasanya yang selalu tampil tanpa celah,


glamor dan berkelas,  kini benar-benar


tak terawat, rambutnya yang biasanya halus sekarang begitu berantakan


Sepanjang hari yang di lakukan hanya menangis dan meratapi nasib,


ibu Viona pun beberapa kali membujuknya


“nak ..., hentikan semua hal bodoh ini, kau salah jika seperti ini”


“Agra jahat ma, dia sudah menikah ma, yang lebih sakit lagi, dia


menikah dengan orang yang jauh dari aku ma, tidak secantik dan sesempurna aku


ma” Viona terus saja menangis


“jika kamu masih menginginkan Agra, berhentilah menangis”


hanya menjadikan dia pelampiasan saja”


“ya itulah kebodohanmu”


“maksud mama?”


“bagaimana kau melakukan kesalahan sebesar itu, kau melepaskan


mangsa gajah demi seekor kijang”


“aku nggak ngerti maksud mama”


“kamu tahu kan kekayaan Agra sepuluh kali lipat dari milik Vino,


Agra pewaris tungga keluarga Hermawan, seharusnya kau sekarang yang menjadi


nyonya rumah itu”


“lalu aku harus apa ma?”


“dekati ibunya Agra”


“ibunya agra?”


“ya kamu harus bisa mengambil hati Ratih, Agra tak pernah berani


menolak permintaan ibunya itu, jadi dekati dia”


“iya..., mama benar ...” kini wajah viona sudah lebih terlihat ada


lengkung senyum di bibirnya, bau-bau kelicikan akan segera datang menerpa

__ADS_1


kehidupan Agra dan Ara


***


Sedangkan di gedung lain, ibu Agra sedang duduk bersantai sambil


menikmati kopi di teman tangan kanannya Salman


“bagaimana kata Rendi?” tanya Ratih pada Salman


“berdasarkan laporan yang saya terima, sepertinya ada orang kuat di


dalamnya” Salman mencoba menjelaskan apa yang terjadi


“maksudnya ...?” wanita itu tetap duduk angkuh tanpa merubah


ekspresi wajahnya, benar-benar sama dengan putranya, wajah lembut penuh kasih


seakan telah hilang dari wanita itu semenjak suaminya meninggal


“kami menduga, ada campur tangan tuan muda Divta dan ibunya untuk


menarik para pemilik saham agar lebih memihak pada mereka”


Sekarang wajah tenang dari Ratih seketika menghilang, tangannya


mengepal sempurna seperti sedang menahan amarah yang begitu dalam


“lalu apa yang harus kita lakukan?”


“apa sudah waktunya kita memberitahu tuan muda, nyonya?” Salman


malah balik bertanya, sepertinya ia harus menyusun dengan sangat matang sebelum


memutuskan sesuatu


“aku belum siap sesuatu yang buruk terjadi pada Agra ...” suara


wanita itu sedikit melemah, ada sesuatu yang berat yang tak ingin dia ungkapkan


“jaga sebisa mungkin, supaya Agra tetap tidak tahu ...” perintahnya


kemudian


“baik nyonya ....”


***


Kekuatan tidak berasal dari kemenangan. Perjuangan membuat kita mengembangkan


kekuatan kita. Saat mengalami kesulitan dan memutuskan untuk tidak menyerah,


itulah kekuatan.


-


-


-


-


-


maaf ya up nya sedikit tertunda, karena pekerjaan di kehidupan nyata nggak bisa di tunda, jadi sabar ya nunggu up berikutnya


jangan lupa like dan komentarnya


ntar author balas deh satu persatu

__ADS_1


kasih votenya yang banyak ya biar authornya tambah semangat


__ADS_2