
** Begitu kamu memiliki keyakinan, maka**
kamu akan mendapatkan kekuatan yang
membuat segala sesuatunya jadi mungkin.
Tetaplah percaya pada keyakina diri sendiri
***
Agra memasuki gedung perkantoran tepat pukul 2 siang, ia harus
mencuci seprei terlebih dahulu hingga membuat bajunya basah, mengharuskan
mengagatinya lagi
Agra sebenarnya tak enak hati karena sudah mengabaikan panggilan
Rendi, tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terlanjur
Rendi sudah menyambutnya di ambang pintu masuk gedung,
“selamat siang pak ...” Rendi langsung menyapa Agra saat melihat
kedatangannya
Agra tak menghentikan langkahnya,ia malangkah seperti biasa penuh
karisma dan tegas mereka berjalan beriringan, Agra berjalan di depan sedangkan
Rendi mengikutinya di belakang, mereka memasuki lift
“bagaimana?” tanya Agra saat
sudah sempurna masuk ke dalam lift yang hanya di khususkan untuk para petinggi
perusahaan
Pandangan agra tetap fokus ke depan, dan sesekali memainkan
ponselnya, mengecek sendiri masalah yang terjadi melalui layar ponselnya
sebelum mendapat jawaban dari Rendi
“mereka meminta bapak sendiri yang menghadiri rapat pak” Rendi pun
sama, berucap tanpa mengalihkan pandangannya, seakan mereka punya dunianya
masing-masing
“shiiitttt ...., apa yang mereka mau sebenarnya” Agra memeras pelan
ponselnya menumpahkan kekasalannya
“sepertinya ini memang sebuah jebakan untuk menjatuhkan Anda” walau
ada raut khawatir tapi tetap saja wajah dingin itu tetap terlihat
“jadi mereka ingin bermain-main dengan saya” senyum tipis
melengkung dari bibir agra, seperti siap menerima tantangan yang di layangkan
oleh lawannya dan Rendi hanya mengangguk
“ok baiklah..., ayo kita hadapi, siapkan semuanya, kita berangkat
sekarang”
Memang dalam hal ini Agra lebih lihai di banding Rendi, selain
__ADS_1
karena Agra memiliki kekuasaannya, kemampuannya juga tak bisa di remehkan
Maka akan sangat luar bisa jika Agra dan Rendi di satukan dalam hal
pekerjaan, mereka benar-benar patner yang saling mengisi di tiap titik
kelemahan
Lawan bisnisnya di buat mati kutu saat berhadapan dengan mereka,
Agra seperti panglima sedangkan Rendi sebagai pedangnya, tak bisa di pisahkan
***
Di tempat lain , setelah kejadian itu, ia datang ke kantor Agra, Viona
begitu terpukul, ia mengunci dirinya di dalam kamar,
penampilannya tak seperti biasanya yang selalu tampil tanpa celah,
glamor dan berkelas, kini benar-benar
tak terawat, rambutnya yang biasanya halus sekarang begitu berantakan
Sepanjang hari yang di lakukan hanya menangis dan meratapi nasib,
ibu Viona pun beberapa kali membujuknya
“nak ..., hentikan semua hal bodoh ini, kau salah jika seperti ini”
“Agra jahat ma, dia sudah menikah ma, yang lebih sakit lagi, dia
menikah dengan orang yang jauh dari aku ma, tidak secantik dan sesempurna aku
ma” Viona terus saja menangis
“jika kamu masih menginginkan Agra, berhentilah menangis”
hanya menjadikan dia pelampiasan saja”
“ya itulah kebodohanmu”
“maksud mama?”
“bagaimana kau melakukan kesalahan sebesar itu, kau melepaskan
mangsa gajah demi seekor kijang”
“aku nggak ngerti maksud mama”
“kamu tahu kan kekayaan Agra sepuluh kali lipat dari milik Vino,
Agra pewaris tungga keluarga Hermawan, seharusnya kau sekarang yang menjadi
nyonya rumah itu”
“lalu aku harus apa ma?”
“dekati ibunya Agra”
“ibunya agra?”
“ya kamu harus bisa mengambil hati Ratih, Agra tak pernah berani
menolak permintaan ibunya itu, jadi dekati dia”
“iya..., mama benar ...” kini wajah viona sudah lebih terlihat ada
lengkung senyum di bibirnya, bau-bau kelicikan akan segera datang menerpa
__ADS_1
kehidupan Agra dan Ara
***
Sedangkan di gedung lain, ibu Agra sedang duduk bersantai sambil
menikmati kopi di teman tangan kanannya Salman
“bagaimana kata Rendi?” tanya Ratih pada Salman
“berdasarkan laporan yang saya terima, sepertinya ada orang kuat di
dalamnya” Salman mencoba menjelaskan apa yang terjadi
“maksudnya ...?” wanita itu tetap duduk angkuh tanpa merubah
ekspresi wajahnya, benar-benar sama dengan putranya, wajah lembut penuh kasih
seakan telah hilang dari wanita itu semenjak suaminya meninggal
“kami menduga, ada campur tangan tuan muda Divta dan ibunya untuk
menarik para pemilik saham agar lebih memihak pada mereka”
Sekarang wajah tenang dari Ratih seketika menghilang, tangannya
mengepal sempurna seperti sedang menahan amarah yang begitu dalam
“lalu apa yang harus kita lakukan?”
“apa sudah waktunya kita memberitahu tuan muda, nyonya?” Salman
malah balik bertanya, sepertinya ia harus menyusun dengan sangat matang sebelum
memutuskan sesuatu
“aku belum siap sesuatu yang buruk terjadi pada Agra ...” suara
wanita itu sedikit melemah, ada sesuatu yang berat yang tak ingin dia ungkapkan
“jaga sebisa mungkin, supaya Agra tetap tidak tahu ...” perintahnya
kemudian
“baik nyonya ....”
***
Kekuatan tidak berasal dari kemenangan. Perjuangan membuat kita mengembangkan
kekuatan kita. Saat mengalami kesulitan dan memutuskan untuk tidak menyerah,
itulah kekuatan.
-
-
-
-
-
maaf ya up nya sedikit tertunda, karena pekerjaan di kehidupan nyata nggak bisa di tunda, jadi sabar ya nunggu up berikutnya
jangan lupa like dan komentarnya
ntar author balas deh satu persatu
__ADS_1
kasih votenya yang banyak ya biar authornya tambah semangat