
Walaupun belum waktunya keluar dari rumah sakit. Divta meminta ijin pada dokter untuk keluar lebih awal dari rumah sakit.
Setelah mendapat ijin dari dokter untuk melakukan rawat jalan pada
luka-lukanya. Divta pun meninggalkan rumah sakit tanpa berpamitan pada
siapapun.ia masih merasa malu untuk menemui semua orang.
Tujuan Divta kali ini bukan pulang ke rumah, melainkan pergi ke
kantor polisi untuk menemui mamanya, Aruni. Ia berharap wanita itu mempunyai
jawaban atas semua pertanyaannya.
Divta pun lekas memarkirkan mobilnya kemudian pergi ke bagian
resepsionis untuk menanyakan keberadaan ruang penyidikan. Petugas memberi
arahan rute untuk menuju ke ruang penyidikan. Dan Divta melangkah mengikuti
arahan dari petugas.
“bang Divta ...!” panggil seseorang ketika Divta hendak masuk ke
sebuah ruangan yang menjadi tujuannya.
“Rendi!”
Pria itu menghampiri Divta dengan langkah pastinya. “kenapa bang
Divta kesini? Bagaimana keadaanmu?” tanya Rendi tetap dengan gaya coolnya.
“aku harus bertemu dengan mama. Aku ingin menanyakan sesuatu
padanya.”
“dia belum bisa menerima tamu. Karena ini kasus yang berat.” Ujar
Rendi.
“lalu..., apa yang kau lakukan di sini?” tanya Divta.
“saya mewakili Agra dan menjadi saksi.”
"Aku ingin melihatnya sebentar ...."
"baiklah ...., mungkin jika sebentar saja akan di ijinkan ..." Rendi pun akhirnya menemani Divta meminta ijin pada petugas jaga. Dengan susah payah akhirnya mereka di ijinkan.
Mereka menyusuri lorong. menuju ke ruangan yang sempit, di sana , di balik jeruji besi itu hanya ada satu orang. Dia Aruni, yang sedang duduk di sudut ruangan, tampak wajah prustasinya. Wajah cantik, rapi, anggun nan angkuh itu seakan hilang di telan sepinya ruang yang hanya 2×2 meter itu. Menyedihkan ....
"mama .....!" Divta yang menghentikan langkahny tepat di depan jeruji yang memisahkan dirinya dengan wanita yang ada di dalam sana.
Aruni yang merasa di panggil, segera mendongakkan wajahnya yang baru saja tertunduk lesu.
"Divta sayang ....." Aruni pun segera berdiri menatap putranya, perlahan ia mulai melangkahkan kakinya mendekat.
"mama yakin, pasti kamu ke sini ...., mama tahu kau pasti datang untuk mama, untuk bebasin mama ..." ucap Aruni sambil memegang tangan Divta yang menempel di balik jeruji.
"mama berfikir seperti itu?"
"iya sayang ...., kenapa wajahmu, tanganmu, kenapa banyak luka? kau dari mana? apa antek Ratih menyakitimu?" tanya Aruni dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
"benarkah mama tidak tahu?"
"Maksud kamu ....?"
"ini ulah anak buah mam ...!!!" seru Divta dengan sedikit di tekankan suaranya.
"maksud kamu, mama benar-benar tidak mengerti....?!"
"aku hampir mati mam karena ulah anak buah mam ..., aku yang datang malam itu mam, aku yang datang menyelamatkan Ara, dia gadis itu mam, gadis yang selama ini aku ceritakan pada mam, gadis yang membuat aku setuju untuk kembali ke Indonesia."
"Apa???" Aruni terkejut.
"ya ....., dialah orangnya mam, dan mam akan melenyapkannya ...."
"tapi dia istri Agra ...."
"mungkin jika aku belum tahu semuanya, aku akan merebutnya dari Agra, tapi sekarang beda mam, aku sudah tahu semuanya...."
"Semuanya?"
"ya ..., semuanya mam ..., semua kejahatan mam ...."
"maksud kamu ....?"
Belum sempat Divta menjawab. Tampak Rendi muncul dari balik dinding. Aruni tentunya begitu terkejut. Bagaimana bisa putranya datang bersama Rendi? Apa yang terjadi? Benarkah putranya tak berpihak padanya lagi?
"kamu ....!!!??"
"iya nyonya..., senang bertemu dengan anda lagi ...."
"apa yang kau lakukan dengan putraku?"
"seharusnya saya yang bertanya pada nyonya, apa yang nyonya lakukan pada putra nyonya?"
__ADS_1
"jika kedatangan kalian hanya ingin menertawakanku, pergilah ....!"
"baik mam ..., aku akan pergi ...., dan aku akan kembali dengan beberapa tuntutan pada mam ..."
"kamu tega pada mamamu, Divta ....!" teriak Aruni, saat Divta dan Rendi berlalu meninggalkannya.
***
Dua minggu sudah mereka berada di rumah sakit. Ratih memberitahu
pada mereka jika besok mereka sudah di perbolehkan untuk pulang. Tapi Ratih
memberi syarat kepada mereka untuk tinggal di rumah besar Ratih tidak akan
membiarkan mereka untuk kembali tinggal di kafe.
Agra dan Ara sebenarnya begitu keberatan dengan keputusan ibunya .
tapi ibunya adalaqqh orang paling keras kepala. Ia akan menutup kafe jika Agra
dan Ara tetap dengan pendiriannya. Perdebatan mereka terhenti ketika pintu di
ketuk.
Tok tok tok
Ceklek!
Mereka melihat siapa yang datang. Dan ternyata Rendi.
“Bagaimana ...?” Ratih berdiri dari duduknya. “kamu sudah menyelidiki
semuanya?”
Rendi menghampiri Ratih dan menyerahkan beberapa lembar foto pada
Ratih.
“siapa ini?wajahnya terlihat tidak asing?” tanya Ratih.
“Viona dan ibunya, nyonya,” jawab Rendi.
“sejauh apa mereka terlibat?” tanya Agra yang ikut mendengar
pembicaraan mereka.
“Viona dan ibunya sudah menjalin hubungan dengan mereka sebelum
mereka kembali ke Indonesia. Mereka yang memberikan data nyonya dan Agra selama
“lalu bagaimana mereka sekarang?”
“anak buah saya sudah membereskan sampai ke akar-akarnya nyonya.
Saya pastikan tidak ada lagi yang mengancam keselamatan Agra maupun Ara lagi.”
Rendi meyakinkan Ratih,
“bagus aku suka dengan kerjamu ...” puji Ratih.
“terimakasih, nyonya.” Jawab Rendi.
***
Siang ini mereka sudah mendapat ijin dari dokter untuk keluar dari
rumah sakit. Di dalam ruang rawat inap Agra dan Ara hanya ada Ratih dan Salman.
Roy dan Nadin memang sengaja di larang datang untuk ikut menjemput karena
jaraknya yang cukup jauh. Mereka akan menyambut kedatangan Agra dan Ara di
rumah besar.
Tapi sebelum pulang ke rumah, Agra harus mampir dulu ke kantor
polisi untuk memberikan kesaksian. Sehingga Agra dan Ara menggunakan mobil yang
berbeda. Sebenarnya Ara sangat ingin ikut Agra ke kantor pilisi, tapi Agra
begitu melarangnya. Ia tak mau pertemuan istrinya dengan Aruni akan memancing trauma
Ara kembali.
Setelah melewati beberapa bujukan akhirnya Ara mengalah. Ia pulang
bersama Ratih dan Salman, sedangkan Agra bersama Rendi mampir dulu ke kantor polisi.
Setelah sampai di kantor polisi.Agra segera memberikan
kesaksiannya.
“kita harus menunggu kesaksian seseorang dulu, Gra,” ujar Rendi.
“siapa?” tanya Agra.
__ADS_1
Rendi menatap ke ujung koridor, ia tersenyum tipis menatap
kedatangan seseorang. Seseorang itu adalah Divta.
“bang Divta?” Agra tak percaya dengan yang di lihatnya.
Divta berhenti tepat di hadapan mereka. “saya akan memberi
kesaksian, tapi ijinkan aku bertemu dengannya.”
Rendi menatap pengacaranya, meminta agar menunjukkan tempat dimana
Aruni berada.
Divta lekas membuka pintu ruangan yang telah di tunjukkan. Ia
menatap wanita itu dengan penuh amarah.
‘Divta ..., kamu datang lagi sayang ..., kau pasti berubah pikiran.” ucap Aruni. Ia pun berdiri dari
duduknya dan segera menghampiri Divta.
“jangan sentuh aku mam ...., tidak semudah itu.” ucap Divta sambil menbepis tangan
Aruni yang hendak meraih lengan Divta.
“sayang ..., kenapa kau sekarang jadi kasar sama mam?” ucap Aruni dengan penuh kecewa.
“Aku tidak perlu menjawabnya, karena pertanyaan itu seharusnya mam sudah punya jawabannya.kenapa mama lakuin semua ini ...?” tanya Divta.
“aku lakuin semua ini demi kamu sayang ...” ucap Aruni dengan air
mata yang menggenang di matanya.
“aku tidak butuh semua ini mam, aku akan menjadi saksi atas
kejahatan mam, aku tidak menyangka jika mama akan sejahat ini. Mama sudah
memanfaatkanku untuk jadi alat kejahatan mama.”
“jangan salahkan mama sayang, salahkan saja pria itu dan ibunya
yang tidak tahu diri itu. Mereka yang sudah membuat mama jadi orang jahat.”
Aruni melirik Agra yang berdiri tak jauh dari Divta.
“jangan mencari alasan untuk membenarkan perbuatanmu, nyonya!” ucap
Agra. “seharusnya kamu menyadari kesalahanmu.”
“aku tidak peduli.” Aruni tersenyum menang. “walaupun aku tak bisa
menghabisi istrimu setidaknya aku sudah menanamkan luka yang besar pada
istrimu, dia tidak akan pernah bisa melupakan penyiksaan yang telah aku
berikan.” Aruni menatap Agra dengan penuh kemenangan.
“mam ...” teriak Divta. “hal yang paling aku sesali adalah menjadi
putramu, mam ..., aku kecewa padamu ...”
Divta segera meninggalkan ruangan itu menyisakan kecewaan besar di
hati Aruni. Agra dan Rendi pun menyusul Divta keluar.
Setelah sampai di halaman parkir. Agra segera menghentikan langkah
Divta.
“bang ...” panggil Agra.
Divta pun menghentikan langkahnya.
“terimakasih ...” ucap Agra.
“seharusnya aku minta maaf padamu dan Ara...” jawab Divta
“tapi bantuan bang Divta sudah membuktikan semuanya, bahwa waktu 15
tahun tidak akan pernah mampu merubah semuanya, abang tetampah abangku 15 tahun
lalu, abang yang baik yang akan selalu menyayangiku sebagai adiknya.” Ujar
Agra.
“kau memaafkanku?” tanya Divta tak percaya.
“lebih dari itu bang, bisakah kita menjadi saudara seperti dulu?”
“aku senang ...” Divta pun merentangkan tangannya. Mereka pun berpelukan,
menumpahkan segala rindu dan sayang.
BERSAMBUNG
__ADS_1
HAPPY READING 😘😘😘😘