My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
posesifnya Sagara


__ADS_3

Motor itu melaju menyusuri jalan raya, menembus ramainya jalanan ibu kota. Mungkin orang-orang sengaja keluar di jam-jam seperti ini untuk menikmati suasana malam.


Dengan motor mereka bisa menyelip di sela-sela mobil yang bahkan kesulitan untuk bergerak.


Di dalam salah satu mobil yang mereka lewati sepertinya mengenal Sanaya, dia adalah Abimanyu.


"Nay ....! Sama anak itu!" gumamnya.


Setelah lampu merah berganti menjadi hijau, motor mereka kembali melaju hingga Abimanyu tidak mampu mengejarnya lagi.


Sanaya masih penasaran dengan ucapan Aditya tentang papa nya.


"Dit!"


"Hmmm?"


“Emang papa kamu mau pulang ya?” tanya Nay setelah


sekian lama terdiam.


“Iya!”


“Kata bunda kamu, papa kamu jarang pulang ya?”


“Iya, soalnya semenjak oma sama opa nggak lagi


pegang perusahaan , papa yang gantiin!”


“Emang perusahaannya di mana?”


“Ada di luar negri, tapi juga punya cabang di Jakarta! Kalau perusahaan papa sendiri ada di Jakarta!”


“Ohhhh …! Adik kamu?"


"Dia ikut oma sama opa!"


"Kamu nggak kangen sama adik kamu?"


“Kenapa? Udah mulai kepo ya sama keluarga gue?”


“Nggak, cuma nanya aja emang nggak boleh?”


“Nanya itu harus ada upahnya!”


“Perhitungan banget!”


“Upahnya bukan uang kok, besok temenin gue ikut pertandingan basket antar sekolah!”


Sanaya jadi teringat dengan Abimanyu. Abimanyu dan Sagara juga tergabung dalam tim basket inti di sekolahnya.


Bukankah itu berarti ada Abimanyu dan Sagara juga …


“Abimanyu?”


Hehhhhh


Aditya menghela nafas yang langsung meninggalkan uap di kaca helmnya.


“Walaupun malas, tapi kenyataannya memang dia satu


tim sama gue!”


"Gue kok baru tahu ada lo, lo baru ya?"


"Baru kemarin gue gabung di tim mereka, sebelumnya gue gabung sama tim yang dulu!"


"Pantesan!"


Mereka pun akhirnya sampai juga di depan rumah besar


itu. Rumah yang di penuhi dengan penjagaan ketat di sana.


...****...


Sejak siang Sagara menunggu Sanaya, hingga sore hari pun masih di depan rumah, ia terus mondar mandir di sana.  Ia tahu jika sanaya pergi bersama anak


laki-laki yang menurutnya tidak baik.


Mom Ara yang melihat putranya itu terus mondar-mandir di depan rumah jadi tertarik untuk menghampirinya.


"Gara!"


"Mom, ngapain ikut keluar?"


"Nggak pa pa, nemenin kamu aja!"

__ADS_1


“Mom ngapain bolehin Nay pergi sih mom?”


“Nay kan perginya jelas Gara!”


“Tapi dia itu pergi sama cowok yang menurut Gara_!” ucapan Gara menggantung saat mom Ara memotongnya.


“Nggak baik?” tanya mom Ara dan Sagara pun menganggukkan kepalanya.


“Gara, baik buruknya seseorang itu tidak bisa di lihat dari penampilannya sayang!”


“Tapi penampilan juga menentukan siapa seseorang itu


mom!”


Mom Ara hanya menghela nafas, putranya itu tidak jauh beda dengan suaminya. Jika menurutnya itu salah dia juga tidak mau mengalah.


“Sudah jangan di pikirin, bentar lagi Nay juga sampai!”


Sagara mengerutkan keningnya, “Mom tau dari mana?”


“Nay baru saja kirim pesan sama mom!”


“Curang banget, kalau mom di bales! Gara telpon nggak di angkat!”


“Kamu itu persis banget sama papa kamu, posesif! Beri Nay kebebasan untuk memilih Gara, biar dia memilih apa yang terbaik buat Nay atau tidak!”


Lalu Gara?


Dia selalu merasa jika hidupnya bahkan bukan miliknya lagi. Semuanya sudah di atur sedemikian rupa. Bahkan ia harus melupakan


cita-citanya untuk menjadi seniman karena papa dan omanya menginginkan dia


menjadi seorang pewaris.


Ia sudah mengubur dalam semua keinginannya hanya untuk menerima semua tanggung jawab sebagai pewaris.


Sebuah motor berhenti tepat di depan mereka, itu Nay dan Adit. Nay segera turun dari motor lalu melepas helmnya. Karena ada mom Ara, Adit pun ikut turun dari motornya dan mereka pun menghampiri Sagara dan mom


Ara.


“Sore tante!” sapa Aditya pada mom Ara.


“Sore!”


“Maaf tan, Adit mulangin Nay nya agak telat!”


nya itu, sejak kapan mereka dekat atau sejak kapan mom nya mengenal bundanya


Adit.


“Saya rasa kamu sudah nggak ada urusan lagi di rumah


ini, jadi bisa langsung pergi kan!” ucap Sagara dengan wajah dinginnya.


Aditya hanya menatap acuh pada Sagara dan kembali beralih pada mom Ara.


“Ya sudah, Adit pulang dulu ya tante. Sekali lagi makasih atas ijinnya!”


“Iya sama-sama! Hati-hati di jalan ya, nggak usah


ngebut!”


Adit memakai kembali helmnya, dann menaiki motornya.


Saat yang bersamaan mobil papa Agra datang saat motor Adit mulai meninggalkan


halaman rumah itu.


Papa Agra menatap hingga motor itu menghilang


kemudian menoleh pada istri dan kedua anaknya.


“Gara ngomongnya gitu banget sih!” keluh Nay. Ia tidak suka Gara memperlakukan Aditya seperti itu.


“Bukan aku yang salah, tapi kamu itu terlalu cepat


percaya sama orang!”


“Mom …, itu tadi siapa?” tanya papa Agra membuat


perdebatan Sagara dan Sanaya terhenti. Sanaya yang sudah terlanjur kesal segera


meninggalkan mereka.


“Itu tadi temennya nay, bby!”

__ADS_1


“Anak motor?”


“Tuh kan, papa aja juga nggak suka mom!”


“Jangan jadi kompor, sudah sana masuk!”


Sagara pun terpaksa masuk setelah di perintah mommy


nya.


“Dia anak motor?”


“Nggak tahu bby, tapi dia sopan kok bby!”


“Ibu tahu hal itu?”


Mom Ara mengangkat kedua bahunya, tanda tidak tahu.


Ia segera mengambil alih tas yang ada di tangan suaminya itu.


Ternyata Sagara tidak menyerah. Ia mengikuti sanaya ke kamarnya. Sanaya yang baru saja keluar dari kamar mandi begitu terkejut melihat Gara sudah duduk di atas tempat tidurnya.


“Gara …, masuk nggak ijin sih!”


“Sudah biasa!”


“Gue mau ganti baju dulu!”


“Kalau mau ganti, ya ganti aja!”


“Gue anak gadis Gara!”


“Tahu, memang sejak kapan kamar kamu ini nggak ada


ruang gantinya?”


Hehhh


Sanaya hanya menghela nafas, ia pun terpaksa kembali


masuk ke dalam ruang ganti dan memakai bajunya di sana. Saat ia kembali keluar


ternyata Sagara masih di tempatnya.


“Lo masih di sini?”


“Gunakan bahasa yang benar, jangan pakek lo gue sama aku!”


“Ribet!”


“jadi gitu, itu pasti gara-gara kamu dekat sama cowok


itu kan!”


“Namanya Adit, kami cuma temenan! Dia baik sama


Nay!”


“Semua orang juga baik sama kamu kalau ada maunya!”


“Makanya gue nggak mau orang-orang tahu identitas


gue! Jadi jangan suka buka identitas gue di depan umum!”


“Walaupun di sembunyiin bagaimanapun, semua anak di


sekolah juga bakal tahu kalau kamu adalah putri finitygroup jadi jangan sembarangan mencari teman! Mereka bisa memanfaatkan hal itu!”


“Jadi maksud lo, gue harus dekatnya cuma sama lo dan


sama Abi? Lo terlalu kaku gara!”


“Terserah pokoknya gue nggak suka lo deket-deket


sama dia!”


Spesial visual Sagara



Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2