My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Kenapa kamu?


__ADS_3

Pagi ini suasana sekolah masih sangat sepi, gadis dengan kuncir kudanya itu sudah berdiri sedari tadi di dekat pintu gerbang sekolah.


"Katanya janjian pagi-pagi, dia belum datang sah!" keluhnya, sebenarnya bukan kesalahan Ariel tapi memang dia yang datangnya benar-benar terlalu pagi.


Karena terlalu bersemangat Sanaya sudah datang bahkan sebelum matahari muncul di permukaan.


Saat jam jam masih menunjuk ke angka lima dia sudah berada di samping gerbang sekolah.


^^^//Kemana sih lo, gue udah nyampek dari tadi//^^^


//Gue masih di jalan, lagi pula ini masih pagi sekali//


^^^//Kan lo sendiri yang bilang kalau kita harus datang pagi-pagi, gimana sih lo//^^^


//Tapi nggak subuh-subuh juga kali Nay//


^^^//Udah jangan bawel, cepetan datang atau gue bakal tuduh lo pelakunya//^^^


//Kok ngancam sih//


Sanaya memilih kembali duduk, ia sengaja duduk di tempat yang tersembunyi agar tidak ada yang melihat.


Kemudian matanya menangkap seorang anak dnegan jaket huddy besar berwarna hitam dengan gambar mawar di belakangnya persis seperti apa yang di ceritakan oleh Ariel semalam.


Itu orangnya ....


Sanaya pun tidak membuang kesempatan itu, dia pun segera mengejar anak itu, mengikutinya dari jarak aman.


Tidak lupa Sanaya juag mengirimkan pesan pada Ariel.


//Gue udah masuk, gue lihat anak yang ciri-cirinya sama seperti yang kamu katakan//


Sebelum menerima balasan, Sanaya segera mengganti mode dering ponselnya menjadi mode diam dan menyatukannya kembali ke saku bajunya.


Ariel yang sudah sampai di depan sekolah, ia segera mencari keberadaan Sanaya. Tapi ternyata dia tidak menemukannya, ia berencana untuk menelponnya tapi ia sudah lebih dulu mendapati pesan dari Sanaya.


"Peneror itu sudah datang!?" gumamnya. Ia pun segera berlari masuk ke dalam sekolah. Menyusul Sanaya, ia hanya takut terjadi sesuatu sama Sanaya.


"Bagaimana kalau peneror itu menyakiti Sanaya!"


Ariel semakin mempercepat langkahnya, semua hal-hal buruk tiba-tiba muncul di benaknya.


Persis seperti yang di lakukan oleh Ariel, Sanaya juga tidak langsung menampakkan diri, ia memilih untuk menguntitnya terlebih dulu.


Dan benar saja ternyata anak itu yang menaruh gulungan kertas teror itu.


Sanaya pun segera masuk, tidak sabar segera menarik jaket huddy milik gadis itu hingga terlepas dari kepalanya.


"Siapa lo?"


Tapi anak itu segera mendorong tubuh Sanaya hingga terjatuh dan hendak kabur tapi ia salah, Ariel sudah menghadang di depannya.


"Mau ke mana lo?"


Ariel merentangkan kedua tangannya hingga anak itu tidak bisa pergi.


Sanaya yang kembali bangun segera menarik maskernya hingga menampakkan wajah pelaku peneror itu.


"Riska!?"


Sanaya begitu terkejut, dia memang pernah berpikir jika Riska orangnya, tapi sejauh dia mengenal Riska. Riska bukan orang yang seperti itu.

__ADS_1


Dia tahu jika Riska menyukai Abimanyu, tapi hanya sebatas suka. Dia bukan orang yang suka hingga menggebu-gebu hingga melakukan kecurangan seperti itu.


"Kamu?"


Sanaya masih belum yakin jika dia yang melakukannya.


"Kenapa kamu melakukan ini Ris, kenapa?"


Riska hanya diam, dia bingung harus mengatakan apa. Dia memang salah.


"Aku suka sama kak Abi!" ucap Riska.


"Aku nggak percaya karena itu!"


"Lalu aku harus berkata bagaimana lagi, memang itu kenyataannya!"


"Jangan bohongi aku dengan mengatakan hal itu, jika memang itu alasannya, kamu bisa melakukannya sejak kita kelas sepuluh, kenapa baru sekarang?"


"Nay, lo terlalu percaya sama gue, itu salah lo!"


"Gue cuma pengen tahu apa alasannya, tolong jujur sama gue!"


Riska tiba-tiba matanya berkaca-kaca.


"Lo tahu perusahaan bokap gue bangkrut, sekarang nyokap gue yang harus banting tulang buat bayar sekolah gue yang super mahal, apa lagi bokap gue sekarang sakit-sakitan!


Lo enak, mau apa aja tinggal minta. Nggak seperti gue, gue harus bantu nyokap buat cari uang bayar sekolah biar bisa ikut ujian.


Apa gue salah saat ada orang yang nawarin gue buat misahin lo sama kak Abi dan ngasih uang yang lumayan buat gue, gue terima?"


"Siapa yang nyuruh lo?"


Riska mendorong tubuh Ariel begitu saja lalu pergi dari mereka.


Mendengarkan alasan Riska membuat Sanaya tidak tega untuk terus mencerca Riksa dengan begitu banyak pertanyaan.


"Ada yang lo curigai?" tanya Sanaya pada Ariel yang sedari tadi hanya terdiam. Ia bahkan tidak menghadang Riska saat anak itu pergi.


Ariel malah tercengang di tempatnya.


Dia anak yang sama dengan waktu itu, apa mungkin orang yang anak itu maksud .....


"Riel? Riel? Lo kenapa? Lo tahu sesuatu?"


"Nggak, nanti kalau gue tahu gue kasih tahu! Gue pergi dulu!"


Ariel memilih meninggalkan Sanaya dan pergi ke kelasnya.


Sanaya hanya bengong, dia memang sudah menemukan siapa peneror itu tapi sekarang malah muncul teka-teki baru.


...🌷🌷🌷🌷...


Gadis itu sedang meletakkan kepalanya di atas meja dengan mata terpejam.


Saat semua teman-temannya sedang sibuk makan siang di kantin, Sanaya malah sibuk ke dunia mimpi.


Seseorang tiba-tiba mengusap kepalanya pelan membuat gadis itu membuka perlahan matanya yang begitu sulit di buka.


Dia terlalu pagi datangnya hingga kehilangan waktu tidur nyenyaknya.


Sanaya segera mengangkat kepalanya menatap siapa yang sudah mengusap kepalanya itu.

__ADS_1


"Abi!"


"Kata Gara, kamu tidak berangkat petang sekali ya?"


"Iya!"


"Minumlah dulu!" ucap Abi sambil menyodorkan sebotol air.


"Nggak perlu, uang jajanku sudah kembali, minum saja sendiri!"


"Ini untuk merayakan berakhirnya hukuman kamu!"


"Gitu ya?"


"Iya, kalau kamu mau kamu bisa menggantinya dengan mentraktirku nanti!"


"Pasti! Ehh tapi sebelum itu aku ada urusan sebentar!"


Sanaya baru teringat sesuatu, ia pun segera berdiri dan berlalu meninggalkan Abimanyu, tidak lupa dia juga mengambil botol minumnya.


"Makasih ya minumannya, sampai jumpa nanti pulang sekolah!"


Ini yang aku suka dari kamu Nay ...., kamu jauh lebih kuat dari yang aku duga ...., semangat ya Nay ....


Sanaya ternyata menuju ke ruang guru. Tapi bukan ruangan itu tujuannya. Tujuannya adalah ruangan utama yang ada di dalam ruangan guru itu.


Ruangan utama yang hanya ada satu penghuni di dalamnya dengan ruangan yang berukuran lebih besar.


Tok tok tok


Sanaya mengetuk pintu itu, ada beberapa guru di sana.


"Masuk!"


Setelah mendapat sahutan, Sanaya pun segera masuk.


"Maaf pak, saya ingin bertemu dengan ibu ketua yayasan!"


Tepat saat bapak kepala sekolah berada di ruangan itu,


"Ada perlu apa?"


"Sebenarnya bu Ratih sendiri yang meminta saya ke sini pak!"


Pak kepala sekolah terlihat tidak percaya, pasalnya Sanaya hanya anak dari kelas yang tidak begitu berprestasi, lalu buat apa bu ketua memanggilnya, "Benarkah?"


"Benar pak, kalau bapak tidak percaya bapak bisa tanyakan langsung sama ibu ketua!"


"Baiklah sebentar saya tanyakan!"


Pak kepala sekolah benar-benar tidak percaya dengan ucapan Sanaya. Ia pun memilih menghadap Bu ketua.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2