My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 119


__ADS_3

Setelah menemui dokter, langkah Ratih terhenti pada satu ruangan.


Dia melihat pria yang dia kenal masuk ke dalam ruangan itu. Ia pun penasaran,


dan memutuskan untuk mengikutinya masuk.


Langkahnya terhenti di depan pintu yang tertutup sebagian.


"Bangaimana keadaanmu?"


"aku sudah lebih baik." jawab pria yang duduk dengan bersender di atas tempat tidur. Nampak wajahnya begitu sendu.


"Apa kata dokter?"


"aku lusa sudah boleh keluar dari sini."


"syukurlah ....!"


Keheningan tercipta sesaat setelah mereka mengakhiri pembicaraan.


"bagaimana keadaan mereka?" pria itu kembali bertanya, setelah berkelana dalam pikirannnya masing-masing.


"mereka belum sadar."


"bayinya?" tanyanya nampak begitu khawatir.


"semoga ada keajaiban, jika dalam waktu dekat ibunya sadar, maka bayinya pun akan selamat."


Pria itu pun kembali terdiam. Ada begitu banyak luka yang ia sembunyikan.


"jangan biarkan wanita itu selamat."


"maksudnya?"


"Aruni .....!" ada penekanan di sana. "jangan biarkan dia lolos, hukum dia atas semua kesalahannya, aku menyesal karena mengenalnya. Ini semua terjadi karena dia."


“Divta ...”


“nyonya ...” pria yang di lihatnya masuk adalah Rendi. Divta yang


namanya di panggil juga ikut melihat ke sumber suara.


“ada apa nyonya ke sini ...?” tanya Rendi.


“biarkan saya berdua dengannya ...” ucap Ratih dengan wajah tegasnya.


“baik nyonya ..., kalau begitu saya permisi.” Rendi pun


meninggalkan mereka berdua. Ada keheningan di ruangan itu. Ratih mendekat ke


tempat Divta yang sedang berbaring.


“bagaimana keadaanmu?”


“saya baik ...nyo...nya ...”


“terimakasih ...” ucapan Ratih begitu membuat Divta terkejut. Ia


berfikir bahwa wanita itu akan datang memakinya, menyalahkannya bahkan mungkin


akan menuntutnya dengan apa yang terjadi pada putra dan menantunya.


“tidak nyonya ..., saya tidak pantas menerima  ucapan itu dari nyonya ...., saya merasa


malu.” Ucap Divta dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


“di saat yang tepat kau telah menyelamatkan putra dan menantuku


...”


“tapi semua itu karena mama saya , saya benar-benar merasa malu di


depan nyonya jika mengingat semua kejahatan mama saya ...”


“sudah lupakan, aku senang kini kau tahu kebenarannya, dan tidak


menganggapku buruk lagi ...”


“terimakasih nyonya ...”


“jangan panggil nyonya, panggil aku sama seperti Agra memanggilku


....”


“aku tidak pantas menerima semua ini ....”


“tapi aku ingin kau melakukannya ...” Ratih mendekati Divta dan


merentanggkan tangannya


“boleh aku memelukmu ...?” tanya Ratih, Divta hanya terpaku di


tempatnya, tanpa terasa air matanya mengalir, Ratih pun segera memeluk Divta


dengan penuh kasih sayang. Kasih sayang seorang ibu pada putranya.


***


Cahaya matahari mulai menyelinap masuk menembus horden jendela


rumah sakit. Ratih terlihat masih terjaga semalaman. Ia benar-benar tak ingin


meninggalkan putra dan menantunya walau hanya sekejap. Tapi penantiannya tidak


sia-sia. Ia melihat tangan Agra mulai di gerakkan. Ratih segera terkesiap dari


posisinya, ia mendekat dan memastikan.


“nak ..., kau bangun ....”

__ADS_1


Agra mengerjapkan matanya yang sudah dua hari ini terpejam. Ia


banyak kehilangan darah, seperti sedang menahan sakit, ia mencoba untuk


menggerakkan bibirnya yang kering. Tapi tampak begitu sulit.


“apa nak ....” ada senyum bahagia di bibir Ratih, ia pun segera


memanggil dokter Frans yang tetap setia menunggu perkembangan sahabatnya itu.


Setelah beberapa saat beberapa dokter pun datang membantu dokter Frans memeriksa tubuh Agra.


“bagaimana dok keadaan putra saya ?” tanya Ratih setelah dokter


selesai memeriksa Agra.


“pak Agra baik nyonya, semua anggota tubuhnya sudah merespon dengan


sempurna semua rangsangan dari kami, kami rasa tidak ada masalah dengan fungsi


saraf maupun ototnya, semua normal. Mungkin hanya butuh beberapa hari supaya


pak Agra kembali pulih.” Ratih pun hanya mengangguk tanda mengerti.


“kalau sudah tidak ada yang di tanyakan , saya permisi nyonya ...”


Ratih lagi-lagi hanya mengangguk, setelah dokter meninggalkan ruangan. Ratih


kembali menghampiri Agra.


"Ini kabar baik, ibu." ucap dokter Frans setelah dokter yang lain meninggalkan ruangan.


"Terimakasih Frans, kalian anak-anak ibu yang luar biasa." Ratih menatap Frans dan Rendi. kemudian beralih lagi pada Agra.


“sayang ..., kau mau sesuatu?” tanya Ratih. Tapi Agra tetap diam,


ia mencoba untuk bicara, tapi terlihat begitu sulit.


“A-ra ....” ucap Agra dengan suara lemahnya. Ratih yang mengerti


dengan ucapan putranya pun bingung harus mengucapkan apa.


“ma-na ...A-ra ...” ucap Agra terbata-bata. Ratih pun lalu sedikit


menggeser tubuhnya. Ia menunjuk ke sebelah tempatnya duduk. Ke tempat di mana


Ara juga sedang terbaring lemah. Agra mengikuti arah mata ibunya. Mata sayunya


terpaku pada satu tubuh yang begitu ia rindukan.


“A-ra ...” Agra pun berusaha untuk bangun, tapi tubuh lemahnya tak


cukup kuat untuk menggeser tubuhnya.


“sabar sayang ..., kau baru saja sadar..., dia akan baik-baik saja


...”


Rendi dan Frans kembali yang kebetulan mereka menunggu di luar ruangan.


Ia juga tak pernah meninggalkan


rumah sakit selama Agra masih belum sadarkan diri. Hanya beberapa kali karena


urusannya dengan Aruni.


Rendi dan Frans pun segera memapah tubuh Agra dan mendudukkannya di kursi


roda. Ia mendorong kursi roda Agra hingga dekat dengan tempat tidur Ara.


Agra menatap wajah polos istrinya. Ara terbaring lemah di sana


dengan bantuan beberapa selang di tangan dan hidungnya. Matanya tertutup rapat.


Bibirnya yang biasa merah alami kini pucat pasi.


Tubuh Agra terasa lemas tak bertenaga, rasanya tak sanggup melihat


orang yang di cintai dalam keadaan yang begitu menyedihkan. Agra hampir saja


terjatuh dari kursinya. Untung saja Rendi selalu siap menopangnya.


“kuatkan hatimu Gra ..., Ara akan baik-baik saja ...” ucap Rendi


menguatkan. Ratih hanya bisa terus menangis di tempatnya.


Agra mencoba mengumpulkan kekuatannya kembali.  Pelan-pelan ia mendekati tubuh Ara yang


selalu tampil dengan kepolosannya dan ceroboh itu. Agra menarik kursi rodanya,


mengatur duduknya agar bisa lebih dekat menatap wajah yang sangat ia rindukan.


Agra meraih tangan Ara yang tak terkena jarum infus, menempelkan


tangan Ara ke pipinya. Air mata Agra pun tak mampu terbendung.


“sayang, aku mohon... buka matamu. Aku nggak bisa liat kamu seperti


ini. Ayo bangun..., aku ingin liat senyummu ...” tapi wanita itu tidak


bergeming. Tetap diam. Agra mengalihkan pandangannya ke perut Ara, yang


ternyata masih besar.


“rend ..., Frans ...., apa mereka baik-baik saja ...?” tanya Agra pada Rendi


yang tetap berdiri di belakangnya.


“mereka anak-anak yang kuat ..., dokter mengatakan tidak ada

__ADS_1


tanda-tanda janinnya melemah, hanya saja...” Rendi ragu untuk mengatakannya.


“hanya saja apa ...?” tanya Agra


“dokter bilang, semua tergantung ibunya, jika ibunya bisa segera


sadar dan terlepas dari traumanya, maka mereka akan selamat, jika Ara tetap


memilih untuk tidak sadarkan diri maka kemungkinannya akan buruk pada


janinnya.”


“kau dengar itu sayang ..., bangunlah ..., demi aku ..., demi


anak-anak kita ...., mereka membutuhkanmu sayang ..., bangunlah ...., aku


merindukanmu ...” seperti mendengar perkataan suaminya. Ara pun menggerakkan


jari-jarinya. Merespon perkataan Agra. Agra yang menyadari gerakan Ara, terus


saja mengajaknya bicara berharap istrinya itu akan segera bangun.


“kenapa kau cerewet sekali ....” ucapan ara dengan suara yang masih tertahan di tenggorokan.


benar-benar membuat


senyum mengembang di bibir Agra. Benar-benar sebuah keajaiban. Ia merespon semua


perkataan suaminya. Seakan suaminya adalah hidupnya. Walaupun masih begitu


lemah, Ara tetap berusaha untuk tersenyum.


“kau mengagetkanku sayang ...”


Dokter Frans segera memeriksa Ara, sedangkan Rendi segera memanggil dokter yang lain,


setelah dokter datang, Agra sedikit memundurkan kursinya untuk memberi ruang


pada semua dokter memeriksa istrinya.


Diantara dokter itu. Yang selalu setia


memantau keadaan mereka adalah dokter Frans. Ia memberikan perawatan terbaik


untuk sahabatnya.


“bagaimana istri saya dok?” tanya Agra yang tampak tidak sabar.


“istri anda sudah melewati masa kritisnya”


“lalu ..., anak-anak saya?”


“mereka beruntung karena memiliki ibu yang kuat , mereka baik-baik


saja. Jika di lihat dari kejadiannya sungguh luar biasa mereka bisa selamat


semuanya.” Mendengar ucapan dokter. Agra tersenyum bahagia rasanya cahayanya


kini kembali terang.


Setelah dokter meninggalkan mereka , Agra pun kembali mendekat pada


Ara, ia mengelus wajah Ara dengan lembut.


“sayang ..., aku merindukanmu ...” ucap Agra.


“kau terluka bby ...” ucap Ara setelah mengingat terakhir kali


mereka bertemu dan tentang penusukan itu.Ara pun berusaha menggapai tubuh Agra


yang masih berbalut perban yang tak tertutup oleh baju.


“jangan khawatirkan aku sayang ...” jawab Agra, “bagaimana


keadaanmu sayang, apa yang kamu rasakan?” tanya Agra.


“kepalaku sakit, punggungku sakit, dan perutku ...” Ara mengentikan


kalimatnya, matanya melebar dan tangannya berusaha meraih perutnya, walaupun


tangannya terasa nyeri.


“mereka baik-baik saja sayang, mereka anak-anak yang kuat ...” ucap


Agra dengan senyum di bibirnya.


“benarkah bby ....” Ara benar-benar tak percaya, mengingat apa yang


di lakukan Aruni pada dirinya dan kandungannya. Ia benar-benar bersyukur karena


masih di beri kesempatan untuk tetap bersama mereka.


“sayang sebaiknya jangan banyak gerak dulu ya ...” pinta Agra.


“aku ingin memelukmu bby ...”


“jangan dulu ya sayang ..., besok jika sudah baikan kamu boleh


peluk aku sepuasnya ...”


Agra pun membetulkan tempat tidur Ara dan memberikan kembali


selimutnya ke tubuh Ara.Agra beralih duduk di tepi tempat tidur, ia meraih


tangan Ara. Sorot mata Agra begitu penuh syukur dan rasa bersalah. “maafkan aku


karena mengecewakanmu sayang.”


“biarkan semuanya berlalu bby..., aku iklas ...”

__ADS_1


BERSAMBUNG


HAPPY READING 😘😘😘😘


__ADS_2