My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Kalah


__ADS_3

Satu persatu pendukung dari sekolah lain berdatangan, begitu juga dengan pendukung dari sekolah mereka.


Sepanjang menunggu pertandingan di mulai, anak-anak cewek itu sibuk menanyakan ini itu pada Sanaya tentang kebiasaan-kebiasaan Sagara, hal-hal yang di sukai Sagara dan yang tidak di sukai.


Mereka bertambah heboh saat satu persatu pemain basket memasuki lapangan.


"Ya ampuuuuun mereka keren-keren semua!"


"Iya ..., eh bukankah itu tim kelas sebelah, dia ternyata nggak kalah ganteng ya!"


"Iya sebelas dua belas deh sama Sagara dan Abimanyu!"


"Iya ...., ganteng banget!"


Sanaya jadi tertarik dengan yang mereka lihat, dia menatap siapa yang di maksud oleh mereka dan ternyata Aditya.


Sanaya bisa melihat Aditya dan juga Abimanyu berbarengan dengan pemain yang lain.


Suara sorak soray anak perempuan menyambut mereka. para cirliders pun mulai melambaikan tangannya dengan pom pom di tangannya.


Sanaya melambaikan tangannya, tapi ia lupa lambaian tangan itu untuk siapa karena di depan ada Adit yang membalas lambaian


tangannya.


Abimanyu juga tapi ia segera mengurungkannya, ia memilih membalas lambaian tangan para anak-anak cewek yang memanggil-manggil namanya.


Para pemain pun mulai bersiap dan duduk di kursinya. Para cirliders mulai menampilkan atraksinya dan penonton bersorak.


Hanya lima belas menit sampai atraksi cirliders itu selesai.


Sebelum pertandingan di mulai, tiba-tiba Adit menghampiri Sanaya lebih dulu sebelum Abimanyu yang menghampirinya.


"Nay kasih aku semangat ya!" ucap Adit saat sudah berdiri di depan Sanaya.


Sanaya tersenyum dan mengangkat tangannya memberi semangat pada Adit.


"Semangat ya!"


Aditya mengusap kepala Nay dan tersenyum.


"Aku pasti akan menang buat kamu!"


Sanaya mengerutkan keningnya, "Aku?"


Tanpa mereka sadari, interaksi mereka itu membuat seseorang terdiam di tempatnya dengan rasa sakit. Abimanyu, anak itu menatap mereka dengan tatapan sulit di artikan.


Adit tidak berniat menjawab pertanyaan Sanaya, ia hanya tersenyum dan memilih kembali ke tempatnya.


Pelatih mulai mengumpulkan anak didiknya dan memberikan arahan pada anak didiknya. Dan pertandingan di mulai setelah suara peluit di bunyikan.


Para pemain berpencar di lapangan memperebutkan bola yang di lempar oleh wasit.


Sanaya terus bersorak menyemangati tim Abi dan Adit.


Aditya beberapa kali terlihat melambaikan tangannya pada Sanaya setiap kali berhasil mendribble bola sampai ke keranjang.


"Abi ...., Adit ...., Abi ...., Adit ....!" sorak Sanaya membuat gadis-gadis yang ada di sampingnya menoleh padanya.


"Kamu kenal cowok itu ya Nay?"


"Kenal!"


"Wahhhh enak nya kamu di kelilingi cowok-cowok ganteng!"


"Terimakasih!"


"Mau dong di kenalin sama salah satunya, ada nggak yang sama kayak Gara?"


"Banyak!"

__ADS_1


Mereka benar-benar menggangu konsentrasi ku saja ....., batin Nay kesal. Acara menyaksikan pertandingan basket jadi berubah menjadi acara gosip.


Sanaya mengacuhkan mereka, dia memilih kembali melihat ke arah depan. Ternyata points yang di dapat tim Abi dan Adit sudah bertambah.


Yahhhh kan terlewatkan jadinya .....


Sekarang giliran Abimanyu yang memegang bola, dia mendribble bola melewati beberapa lawannya, begitu lihai.


"Ayo Abi ...., ayo Abi ....!" teriak Sanaya. Sedangkan Abimanyu memilih diam. Ia sama sekali tidak melihat ke arah Sanaya.


Abi kenapa sih, kenapa dia tidak menatapku …


Abimanyu terkesan seperti sengaja mengacuhkannya.


Sepanjang pertandingan, permainan Abi tidak begitu bagus seperti biasanya.


"Dia kenapa sih? Seharusnya itu tadi masuk!" gumam Sanaya kesal saat Abimanyu melewatkan kesempatan yang bagus padahal itu sangat mudah.


Sepertinya abi tidak konsentrasi hingga akhirnya ia terjatuh karena pihak lawan seperti sengaja menyenggolnya hingga terjatuh.


"Aughhhhh!"


“Abi ….!” Teriak Sanaya dengan refleks ia berdiri.


Bahkan para pendukungnya juga melakukan hal yang sama. Aditya hendak menolong Abi untuk berdiri tapi Sanaya sudah lebih dulu berlari dan menghampirinya.


Ia berjongkok tepat di depan Abimanyu dan menangis.


"Abi!"


"Kenapa menangis? Jangan menangis Nay!"


Semuanya seperti dejavu, ia teringat kembali saat Abimanyu terluka dulu. Sanaya terus menangis di depannya, Abimanyu menghapus air mata Sanaya.


“Abi!”


Dia benar-benar cengeng.


Adit hanya berdiri tidak jauh dari mereka, melihat perhatian yang di berikan oleh Sanaya kepada Abimanyu membuat hatinya sakit.


Kenapa denganku?


Adit bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Dia hanya menganggap Sanaya sebagai temannya. Ia mengenal Sanaya karena satu hal, bukan bermaksud memberikan cintanya.


"Bantu aku ke luar dari lapangan saja ya, jangan nangis!" ucap Abimanyu dan Sanaya menganggukkan kepalanya.


Sanaya memapah Abimanyu keluar dari lapangan.


 Ia meminta Abi untuk duduk di pinggir lapangan. Pelatih sudah meminta pemain cadangan untuk masuk ke lapangan setelah memastikan jika Abimanyu tidak bisa melanjutkan pertandingan.


"Maafkan saya pak karena tidak bisa melanjutkan pertandingan!"


"Iya tidak pa pa, segeralah ke klinik biar dokter mengobati kakimu!"


"Baik pak!"


Pelatih pun meninggalkan Abimanyu setelah menepuk pundaknya.


“Mana yang sakit?” tanya Sanaya lagi setelah pelatih meninggalkan mereka.


“Tidak pa pa Nay!” ucap Abimanyu supaya Sanaya tidak terlalu khawatir dengan keadaannya.


Aditya melanjutkan pertangdingannya tapi dia tidak


bisa beralih menatap mereka. dia memang tidak terluka, mungkin dia di puja oleh banyak gadis yang sedang bersorak mengeluh-eluhkan namanya tapi ia kalah.


Hatinya terasa kalah, matanya terus memperhatikan dua orang itu, walaupun saat ini dia harus tetap melanjutkan pertandingan sampai akhir.


“Kita pulang ya?”

__ADS_1


“Kamu tidak mau melanjutkan menonton hingga habis?”


“Mana bisa, lihat kakimu saja terluka seperti itu! Bahaya kalau tidak segera di bawa ke klinik akan tambah parah!”


"Adit?" tanya Abimanyu membuat Sanaya mengerutkan keningnya. Memang tujuannya datang ke tempat itu untuk melihat Adit dan Abi bertanding tapi ...


Abi lebih penting .....


Sanaya pun segera memapah Abi keluar dari gedung olah raga.  Ia membawa Abi ke klinik yang ada di sekolah.


Seorang dokter segera memberikan obat dan membaluk


kaki Abi yang terluka dan terkilir.


“Jangan main basket dulu selama dua minggu ya!”


“Sangat parah ya dok?”


“Tidak, ini hanya cidera ringan, tapi kalau di paksakan bisa berbahaya akibatnya!”


“Baik dok, saya yang akan menjaganya!”


Setelah mengobati luka Abi, mereka pun kembali keluar dari klinik sekolah. Sanaya meminta Abi menunggu di cdepan sekolah.


“Apa kamu bawa mobil?” tanya Sanaya.


“Iya! Tapi kakiku tidak bisa buat mengendarai mobil!”


“Aku bisa!”


“Aku tidak akan biarkan!”


“Jangan keras kepala!”


“Kamu juga jangan keras kepala!”


“berikan kuncinya!”


“Nay!”


“Abi!”


Akhirnya Abimanyu pun menyerah, Sanaya memang belum punya sim tapi dia sudah cukup lihai mengemudikan mobil.


“Hati-hati Nay!”


“Aku tahu!”


Sepanjang jalan Abi terus memperingatkan sanaya agar


tidak ngebut.


Sanaya langsung membawa abi ke rumahnya.


“Abi, kamu kenapa? Nona ada apa ini?”


“tadi Abi jatuh saat tanding basket kek!”


“Sini biar saya saja nona!”


“Tidak pa pa kek!”


Sanaya membawa Abimanyu ke dalam rumah.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2