
Tidak ada yang lebih keras dan menyedihkan selain hari senin, karena menurut sebagian orang haru senin adalah hari yang sangat panjang, lebih panjang dari jalan tol.
Saat kita baru bermalas-malasan satu hari penuh dan hari senin menghadapkan kita pada rutinitas harian kita yang melelahkan ....
Tapi mungkin juga tidak bagi sebagian orang lainnya, hari senin adalah saat untuk memulai yang baru, waktu yang bagus setelah dua hari tidak bertemu bagi yang sedang jatuh cinta.
Lalu bagaimana hari senin bagi Si kembar?
Sanaya terlihat uring-uringan di kamarnya karena ia lupa jika hari ini ada ulangan, seharusnya semalam dia belajar tapi gadis itu malah sibuk menonton drakor kesayangannya.
Lalu di kamar sebelah, Sagara sibuk mengamati penampilannya. Selama ini penampilannya sudah sangat perfect tapi tiba-tiba penampilan itu seakan sangat buruk.
"Gara ...., Nay ...., ayo cepetan sudah siang sayang ...., kalian sekolah tidak!?" teriak dari lantai bawah.
Itu teriakan dari nyonya besar ke dua di rumah itu.
Papa Agra, mom Ara dan oma Ratih sudah menunggu mereka di meja makan.
"Mereka kenapa sih nggak seperti biasanya!?" gumam papa Agra.
"Iya mom!" teriak mereka bersamaan, mereka sama-sama keluar dari kamarnya dengan begitu terburu-buru.
"Kamu juga?" tanya Gara.
"Kamu juga?" Sanaya juga tidak kalah terkejutnya. Pasalnya saudara kembarnya itu paling perfect, mana mungkin dia kesiangan gara-gara belum belajar. Bukan Sagara banget ....
Sanaya dan Sagara pun berjalan menghampiri ketiga orang yang sudah menunggunya itu. Tapi saat yang bersamaan belum juga Sanaya dan Sagara duduk, tiba-tiba seorang pelayan menghampiri meja mereka.
"Maaf nona Sanaya!"
"Iya?"
"Ada tamu yang mencari nona!"
"Sepagi ini? siapa?"
"Yang kemarin ke sini nona!"
Ucapan pelayan itu berhasil membuat semua orang yang ada di sana menoleh pada Sanaya. Pasalnya kemarin tidak ada orang di rumah selain Sanaya.
"Kenapa kalian menatap ku seperti itu?" tanya Sanaya tidak mengerti.
"Siapa yang kemarin ke sini?" tanya Sagara penasaran.
"Iya sayang, siapa? Mom kok nggak tahu?"
Setahu mereka tidak ada satupun teman Sanaya yang tahu rumah asli Sanaya. Lalu siapa yang menemui Sanaya?
"Papa juga curiga ya sama Nay?" tanya Sanaya saat melihat papanya sampai berdiri karena ulah putrinya itu.
"Nay ...., papa nggak mau kamu berbuat yang tidak-tidak!"
"Apaan sih pa!? Nggak gitu ceritanya!"
"Selamat pagi semuanya!" sapa seseorang berhasil membuat mereka semua menoleh ke arah sumber suara.
Sagara mengerutkan keningnya, "Adit?"
Sedangkan ketiga orang yang mulanya mencurigai Sanaya kini tersenyum.
__ADS_1
"Adit, ayo ikut kami sarapan!" ajak oma Ratih.
"Beneran oma, boleh?"
"Iya boleh, ayo!" Ajak mom Ara juga.
Adit pun mengedipkan matanya pada Sanaya yang masih terkejut dengan kedatangan Aditya.
Sekarang mereka sudah duduk, ada anggota baru sekarang. Aditya duduk di samping Sagara.
"Bagaimana kabar bunda kamu Dit?"
"Baik tante, bunda juga titip salam buat tante! Oh iya hampir lupa!" Aditya merogoh sesuatu dari tangannya.
"Ini ada oleh-oleh dari bunda, tan! Buat tante!" ucap Adit sambil menyerahkan sebuah bungkusan.
"Makasih ya, sampaikan salam tante buat bunda kamu ya!"
"Iya tante, pasti!"
Mereka pun menyelesaikan sarapannya dan kemudian bersiap-siap dengan kegiatannya masing-masing.
Papa Agra kembali lagi ke kamar untuk mengambil tasnya, mom Ara mengikuti papa Agra. Oma Ratih sudah lebih dulu pergi karena dia ada urusan.
Kini tinggal mereka bertiga di sama yang siap-siap keluar.
Di depan Abimanyu baru saja datang, ia harus berangkat bersama Sagara.
"Ini bukanlah motor, Aditya?" gumamnya saat melihat motor yang terparkir di depan. Dan benar saja tidak berapa lama ketiga orang itu keluar.
"Abi!" gumam Sanaya.
"Selamat pagi Abimanyu!" Aditya membalas sapaannya. Abimanyu hanya menatapnya dengan tatapan dingin.
Sanaya masih terpaku di tempatnya, ia menatap sendu pada pria itu, tapi tiba-tiba sebuah tangan menarik tangannya.
"Ya sudah, ayo Nay!"
Aditya menarik tangan Sanaya melewati Abimanyu begitu saja dan berjalan menghampiri motornya.
Aditya mengambil sebuah helm dan mengenakannya di kepala Sanaya.
"Terimakasih!" seperti biasa, Aditya lebih suka mengusap kepala Sanaya dari pada menjawab ucapan terimakasih sadi Sanaya. Ia pun segera naik ke atas motornya dan di susul oleh Sanaya, hingga akhirnya motor itu melaju.
Abimanyu dan Sagara masih setia di tempatnya.
"Kamu harus siap, karena selama beberapa bulan ini kamu akan menemukan pemandangan yang sama!" ucap Sagara lalu berjalan mendahului Abimanyu.
Dan aku akan mencoba untuk tetap biasa saja selama aku bisa demi kamu, Nay ....
Abimanyu memilih menyusul Sagara dan seperti biasa dia yang akan mengemudikan mobilnya.
"Ga!" ucap Abi tanpa menoleh pada pria di sampingnya. Ia tetap fokus pada jalan raya di depannya. Sesekali tangannya menggerakkan stang setir mobil itu.
"Apa?"
"Kalau saranku, jangan lanjutkan hubunganmu dengan Ariel sebelum terlalu dalam!"
Sagara mengerutkan keningnya, ini memang bukan yang pertama tapi ia tidak mengerti kenapa sahabatnya itu memintanya untuk menjauhi Ariel.
__ADS_1
"Kenapa? Apa karena kamu tidak bisa mendapatkan Sanaya lalu aku pun harus melepaskan Ariel?"
"Pikiranmu terlalu picik!"
"Aku tidak akan melakukan sesuatu tanpa alasan yang jelas apalagi soal hati!"
Abimanyu memilih diam, percuma bicara pada Sagara jika dia tidak percaya. Jika bukan sekarang mungkin nanti, tapi dia tetap berharap nasib cinta Ariel dan Sagara tidak sepahit cintanya.
Melihat Abimanyu tidak lagi menimpali ucapannya, Sagara pun memilih menatap jalanan. Ia sudah sangat kesal dengan Aditya sekarang di tambah Abimanyu.
...***...
Sanaya dan Aditya sudah sampai di depan sekolah.
"Stop stop ....!" teriak Sanaya sambil memukuli punggung Aditya.
Aditya menghentikan motornya.
"Ada apa sih Nay?" protes Aditya.
Sanaya pun segera turun dari motor dan melepaskan helm di kepalanya. Aditya masih berada di atas motornya, ia membuka kaca helm full face nya.
"Sampai di sini aja!"
"Kenapa? Malu ya jalan sama gue?"
Hehhhh
"Negatif thinking banget jadi orang!"
"Bukan gitu Nay, lagian kita berangkatnya bareng, ngapain turunnya nggak bareng?"
"Belum terbiasa!"
Belum sampai Aditya menimpalinya kembali seseorang menghampiri mereka.
"Hay Nay!" Sapa seseorang membuat Sanaya menoleh ke sumber suara.
"Ariel!"
Ariel mengerutkan keningnya saat melihat yang bersama Sanaya, bukan Sagara. Padahal dia berharap sekali bertemu dengan Sagara,
"Kamu sama dia?" tanyanya.
Sanaya menoleh ke arah Aditya yang masih duduk di atas motornya.
"Gue sama Ariel aja!" ucap Sanaya lalu menarik tangan Ariel menjauh dari Aditya.
Aditya hanya tersenyum menatap punggung gadis yang sudah membuatnya memilih berjuang.
Jika nanti aku lelah, ingatkan aku kembali bahwa mendapatkan kamu begitu sulit ....
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading đ„°đ„°đ„°đ„°