My Bos Is My Hero

My Bos Is My Hero
Episode 104


__ADS_3

    Wajah tegang menghiasi setiap langkah


pria dengan jaket jeans warna biru  itu,


ia melangkah sedikit terburu-buru , entah apa yang di pikirkan nya, tapi yang


jelas ia sedang ingin menemui seseorang



Ia berhenti di depan sebuah ruangan dengan pintu besar yang di


depannya sudah berjajar 4 penjaga dengan pakaian yang sama, jas hitam dan kaca


mata hitam


“dimana tuanmu?” tanyanya gusar


“silahkan masuk, anda sudah di tunggu”perintah salah satu penjaga


dengan membukakan pintu itu yang berda tepat di belakang para penjaga


Pria itu adalah Agra, ia segera masuk ke dalam ruangan itu, setelah badannya sudah sempurna masuk, penjaga itu meninggalkannya, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan


hingga matanya menangkap sosok pria yang sedang berdiri membelakangi tempat Agra berdiri,


pria itu berdiri tegap menatap jendela kaca yang langsung menghubungkannya ke panorama


jakarta siang hari, ia tak juga membalikkan badannya walaupun tahu orang yang di tunggunya telah datang, tapi walaupun hanya menatap punggungnya, Agra langsung bisa mengenali siapa pria di depannya itu


“bang Divta” iya dia adalah Divta, kakaknya yang sudah 15 tahun tak ia temui, ingin


rasanya memeluk dan menceritakan hari-harinya tanpa kakaknya tapi begitu mustahil karena kakaknya yang sekarang begitu membencinya


“kamu sudah datang?” pria itu hanya berucap santai sambil meneguk secangkir kopi yang entah sejak kapan ia memegangnya, setelah puas dengan pikirannya, ia pun segera membalikkan badannya dan meletakkan cangkirnya di atas meja, dan


benar, pria itu adalah Divta


“bagaimana kabar kamu adikku ...?” Divta segera berjalan melewati meja yang tampaknya menjadi meja kerjanya, ia menghampiri Agra


yang masih berdiri mematung di tempatnya


Setelah berada di hadapan Agra, Divta segera memeluknya


“apa kau tak merindukan abang mu ini, kita sudah lama tak bertemu” ucapnya tanpa melepas pelukannya tapi tak juga mendapat jawaban dari Agra


Setelah melepaskan pelukannya, Divta menyuruh Agra untuk duduk di


sofa panjang di ruangan itu, Agra masih saja enggan untuk menanggapi ucapan


demi ucapan abangnya, banyak sekali pertanyaan yang ingin ia lontarkan pada


pria di depannya itu tapi tak punya ujung atau pangkal untuk memulainya


“untuk apa abang kembali ke sini?” entah kenapa setelah melakukan pemikiran yang cukup panjang, itu yang Agra tanyakan pertama


kali


“apa kau tak suka jika abangmu ini pulang?” ya Divta bukan menjawab tapi berbalik bertanya pada adiknya


"jika tujuanmu baik maka aku pasti mendukungmu sebagai seorang adik yang baik" ucap Agra tegas


"sekarang katakan..., apa tujuan abang pulang?" Agra pun mempertegas pertanyaannya


"apakah itu penting buatmu ...?"


"jika yang menjadi tujuanmu adalah aku, maka akan menjadi penting, jika tidak ada, maka aku tidak akan peduli"


“aku sedang ingin mengambil yang menjadi hak ku” jawab Divta sambil


meneguk secangkir kopi yang sudah di sediakan utuk mereka, entah sudah berapa banyak cangkir yang ia minum sesiang ini


“jika yang abang maksud harta, ambilah..., aku tidak ada urusan


lagi dengan semua itu” jawab Agra tegas, karena menututnya perusahaa. bukan prioritas nya lagi


"benarkah .....?" tanya Divta sambil memicingkan sebelah matanya


"ya ...., aku akan menyerahkan yang menjadi hakmu, asal kau ataupun ibumu tidak mengambilnya dengan cara kotor ..."


“kotor ...?" tanyanya dengan kembali memicingkan matanya


"sebegitu bencinya kah kau dengan abangmu ini?” tanya Divta dengan


senyum sarkisnya

__ADS_1


"mungkin aku bisa mempercayaimu tapi tidak dengan ibumu ..."


"ada apa dengan ibuku?"


"aku rasa abang yang lebih tahu siapa ibumu ...., dan lagi bukankah abang yang memang tak pernah menganggap ku adik?”


pertanyaan Agra seketika membuat Divta tertohok tak mampu menjawab lagi


“bang..., apakah tak ada sedikitpun keinginanmu untuk bisa berdamai


denganku?” ucapan Agra sedikit melemah, terdengar seperti bukan pertanyaan tapi


sebuah permohonan


“ini semua terjadi karena ibumu..., bukan ibuku ..."


“memang apa yang sudah dilakukan ibu?” tanya Agra gagal mencerna


ucapan abangnya


“dia sudah mengambil semuanya, ayah..., dan kebahagiaanku”


"aku atau ibu tak pernah mengambilnya tapi ibumulag yang meninggalkannya ...." sebenarnya Agra tak yakin dengan ucapannya, ia tidak terlalu faham dengan masa lalu mereka


“jika abang menginginkan harta itu ambilah, tapi bisakah kita hidup


layaknya kakak beradik pada umumnya?”


“semua tak sesederhana yang kau pikirkan, karena ibumu sudah


membuat semua semakin rumit”


Pembicaraan mereka terhenti saat mendengar keributan di luar,


Divta dan Agra pun segera berdiri meninggalkan ruangan dan menuju ke depan mencari tahu


keributan apa yang sedang terjadi


Ternyata di sana ada pertarungan sengit antara anak buah Divta dan


anak buah Rendi


“berhenti ...” teriakan Divta mengentikan perkelaian mereka


Rendi pun segera menghampiri Agra yang berdiri tak jauh dari tempat


“lo nggak pa pa?” belum sempat Agra menjawab pertanyaan Rendi ,


Divta pun segera angkat bicara


“sebegitu pengecutnya ya ternyata singa yang di gadang-gadang jadi penerus


finityGroup, sampai kemana-mana harus di lindungi oleh anjing peliharaan


ibunya, benar-benar anak mami” ucapan Divta seketika memancing emosi Rendi,


melihat Rendi yang hendak melayangkan tinjunya ke arah Divta, Agra pun segera


menangkisnya


“buat apa lo ke sini? Gue nggak butuh kalian” ucapan Agra sedikit


meredam amarah Rendi


“siapa yang nyuruh lo ke sini?” tanya Agra lagi pada Rendi, sedang


Divta sudah tersenyum puas melihat perdebatan dua sahabat itu


“tadi Ara yang menghubungi gue buat nyusul lo ke sini”


“Ara ...?” Agra mengerutkan keningnya


“oh jadi sekarang istri kamu juga jadi tameng ya ...” ucapan Divta


segera membuat Agra dan Rendi mengalihkan pandangan mereka ke arah Divta, ada


sebuah pertanyaan dari pandangan mereka berdua


“wooo wooo wooo ...., sabar ......” ucap Divta santai menanggapi


tatapan mereka berdua


“yah aku sudah ketemu sama istri kamu beberapa kali, berapa kali ya ...., aku sampai lupa ....,PUTRI AULYA ZAHRA,


di panggil Ara, mantan sekertaris mu kan, cantik .....” Divta menatap Agra dengan sedikit

__ADS_1


senyum licik di bibirnya


Mendengar ucapan Divta, Agra pun segera menghampiri Divta dan


menarik kerah baju Divta, mendorongnya hingga punggung Divta membentur ke


dinding


“jangan macam-macam sama istri aku, urusan abang Cuma sama aku ...”


teriak Agra yang benar-benar terpancing emosinya setelah mengetahui bahwa Abangnya telah menemui istrinya, ia benar-benar takut jika Divta menyakiti istrinya


“santai ...., aku belum melakukan apapun pada istrimu, aku Cuma


perkenalan saja dan sedikit peringatan, tapi aku tak janji untuk pertemuan kami


selanjutnya” ucap Divta sambil senyum , walaupun mata Agra sudah melotot,


dengan tangan yang mengepal sempurna siap di layangkan, dan benar saja


Bug


Sebuah tinjuan berhasil mendarat di pipi Divta, hingga ujung


bibirnya sedikit mengeluarkan darah, melihat majikannya di pukul, anak buah


Divta hampir menyerang Agra, tapi gerakan tangan Divta yang menyuruh mereka


tidak bertindak membuat mereka berheti


“ini belum saatnya...” ucapnya dengan tangan sebelahnya mengusap


darah segar yang menggenang di sudut bibirnya


“ku peringatkan kau..., jangan libatkan Ara dalam urusan kita, jika


sampai itu terjadi, aku benar-benar tidak akan memaafkan mu” ucap Agra sambil


mendorong keras tubuh Divta hingga sedikit terhuyung tapi tak membuatnya jatuh


Agra pun segera meninggalkan tempat itu, di ikuti oleh Rendi dan


anak buahnya


***


“kenapa lo nyusul gue?’ tanya Agra saat mereka sudah sampai di


sebuah kafe


“istri lo ngasih tahu gue jika lo bakal ketemuan sama Divta”


“apa benar dia sudah menemui Ara?” tanya Agra yang masih terlihat khawatir


“itu bisa lo tanyakan langsung sama istri lo, bukankan dia istri lo ...., lo sendiri yang bilang gue nggak boleh deket-deket sama istri lo ..."


"lagian lo harusnya paham sama sifat istri lo, dia suka mendem semuanya sendiri, harusnya lo yang lebih peka" ucap Rendi panjang lebar


“apa alasan lo ngelarang gue ketemu sama bang Divta? Padahal kalian


sudah tahu keberadaan bang Divta” tanya Agra setelah menduga-duga sendiri segala kemungkinan dari pertanyaannya tapi tak segera menemukan jawabannya


“gue takut lo bakal ngelakuin hal yang bakal lo sesali seumur


hidup” ucap Rendi sambil menyesap minumnya yang sudah semenjak tadi di atas meja


“maksud lo ...?’ tanya Agra sedikit bingung dengan ucapan Rendi, Agra pun menyenderkan punggungnya ke senderan kursi supaya lebih relax


“lo sudah baca map yang gue kasih ke elo beberapa waktu lalu?” tapi Rendi malah kembali mengajukan pertanyaan


“belum..., gue belum sempat ...” ucap Agra santai, sambil


meregangkan punggungnya


“lo bakal tau jawabannya di situ”


‘emang apa isinya?”


“lo liat sendiri aja, ntar lo juga tahu”


***


BERSAMBUNG


jangan bosan-bosan ya jika selalu saya ingatkan untuk meninggalkan jejak di setiap episode MY BOS IS MY HERO ini

__ADS_1


kasih like dan komentarnya


kasih vote juga


__ADS_2