
Wajah tegang menghiasi setiap langkah
pria dengan jaket jeans warna biru itu,
ia melangkah sedikit terburu-buru , entah apa yang di pikirkan nya, tapi yang
jelas ia sedang ingin menemui seseorang
Ia berhenti di depan sebuah ruangan dengan pintu besar yang di
depannya sudah berjajar 4 penjaga dengan pakaian yang sama, jas hitam dan kaca
mata hitam
“dimana tuanmu?” tanyanya gusar
“silahkan masuk, anda sudah di tunggu”perintah salah satu penjaga
dengan membukakan pintu itu yang berda tepat di belakang para penjaga
Pria itu adalah Agra, ia segera masuk ke dalam ruangan itu, setelah badannya sudah sempurna masuk, penjaga itu meninggalkannya, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan
hingga matanya menangkap sosok pria yang sedang berdiri membelakangi tempat Agra berdiri,
pria itu berdiri tegap menatap jendela kaca yang langsung menghubungkannya ke panorama
jakarta siang hari, ia tak juga membalikkan badannya walaupun tahu orang yang di tunggunya telah datang, tapi walaupun hanya menatap punggungnya, Agra langsung bisa mengenali siapa pria di depannya itu
“bang Divta” iya dia adalah Divta, kakaknya yang sudah 15 tahun tak ia temui, ingin
rasanya memeluk dan menceritakan hari-harinya tanpa kakaknya tapi begitu mustahil karena kakaknya yang sekarang begitu membencinya
“kamu sudah datang?” pria itu hanya berucap santai sambil meneguk secangkir kopi yang entah sejak kapan ia memegangnya, setelah puas dengan pikirannya, ia pun segera membalikkan badannya dan meletakkan cangkirnya di atas meja, dan
benar, pria itu adalah Divta
“bagaimana kabar kamu adikku ...?” Divta segera berjalan melewati meja yang tampaknya menjadi meja kerjanya, ia menghampiri Agra
yang masih berdiri mematung di tempatnya
Setelah berada di hadapan Agra, Divta segera memeluknya
“apa kau tak merindukan abang mu ini, kita sudah lama tak bertemu” ucapnya tanpa melepas pelukannya tapi tak juga mendapat jawaban dari Agra
Setelah melepaskan pelukannya, Divta menyuruh Agra untuk duduk di
sofa panjang di ruangan itu, Agra masih saja enggan untuk menanggapi ucapan
demi ucapan abangnya, banyak sekali pertanyaan yang ingin ia lontarkan pada
pria di depannya itu tapi tak punya ujung atau pangkal untuk memulainya
“untuk apa abang kembali ke sini?” entah kenapa setelah melakukan pemikiran yang cukup panjang, itu yang Agra tanyakan pertama
kali
“apa kau tak suka jika abangmu ini pulang?” ya Divta bukan menjawab tapi berbalik bertanya pada adiknya
"jika tujuanmu baik maka aku pasti mendukungmu sebagai seorang adik yang baik" ucap Agra tegas
"sekarang katakan..., apa tujuan abang pulang?" Agra pun mempertegas pertanyaannya
"apakah itu penting buatmu ...?"
"jika yang menjadi tujuanmu adalah aku, maka akan menjadi penting, jika tidak ada, maka aku tidak akan peduli"
“aku sedang ingin mengambil yang menjadi hak ku” jawab Divta sambil
meneguk secangkir kopi yang sudah di sediakan utuk mereka, entah sudah berapa banyak cangkir yang ia minum sesiang ini
“jika yang abang maksud harta, ambilah..., aku tidak ada urusan
lagi dengan semua itu” jawab Agra tegas, karena menututnya perusahaa. bukan prioritas nya lagi
"benarkah .....?" tanya Divta sambil memicingkan sebelah matanya
"ya ...., aku akan menyerahkan yang menjadi hakmu, asal kau ataupun ibumu tidak mengambilnya dengan cara kotor ..."
“kotor ...?" tanyanya dengan kembali memicingkan matanya
"sebegitu bencinya kah kau dengan abangmu ini?” tanya Divta dengan
senyum sarkisnya
__ADS_1
"mungkin aku bisa mempercayaimu tapi tidak dengan ibumu ..."
"ada apa dengan ibuku?"
"aku rasa abang yang lebih tahu siapa ibumu ...., dan lagi bukankah abang yang memang tak pernah menganggap ku adik?”
pertanyaan Agra seketika membuat Divta tertohok tak mampu menjawab lagi
“bang..., apakah tak ada sedikitpun keinginanmu untuk bisa berdamai
denganku?” ucapan Agra sedikit melemah, terdengar seperti bukan pertanyaan tapi
sebuah permohonan
“ini semua terjadi karena ibumu..., bukan ibuku ..."
“memang apa yang sudah dilakukan ibu?” tanya Agra gagal mencerna
ucapan abangnya
“dia sudah mengambil semuanya, ayah..., dan kebahagiaanku”
"aku atau ibu tak pernah mengambilnya tapi ibumulag yang meninggalkannya ...." sebenarnya Agra tak yakin dengan ucapannya, ia tidak terlalu faham dengan masa lalu mereka
“jika abang menginginkan harta itu ambilah, tapi bisakah kita hidup
layaknya kakak beradik pada umumnya?”
“semua tak sesederhana yang kau pikirkan, karena ibumu sudah
membuat semua semakin rumit”
Pembicaraan mereka terhenti saat mendengar keributan di luar,
Divta dan Agra pun segera berdiri meninggalkan ruangan dan menuju ke depan mencari tahu
keributan apa yang sedang terjadi
Ternyata di sana ada pertarungan sengit antara anak buah Divta dan
anak buah Rendi
“berhenti ...” teriakan Divta mengentikan perkelaian mereka
Rendi pun segera menghampiri Agra yang berdiri tak jauh dari tempat
“lo nggak pa pa?” belum sempat Agra menjawab pertanyaan Rendi ,
Divta pun segera angkat bicara
“sebegitu pengecutnya ya ternyata singa yang di gadang-gadang jadi penerus
finityGroup, sampai kemana-mana harus di lindungi oleh anjing peliharaan
ibunya, benar-benar anak mami” ucapan Divta seketika memancing emosi Rendi,
melihat Rendi yang hendak melayangkan tinjunya ke arah Divta, Agra pun segera
menangkisnya
“buat apa lo ke sini? Gue nggak butuh kalian” ucapan Agra sedikit
meredam amarah Rendi
“siapa yang nyuruh lo ke sini?” tanya Agra lagi pada Rendi, sedang
Divta sudah tersenyum puas melihat perdebatan dua sahabat itu
“tadi Ara yang menghubungi gue buat nyusul lo ke sini”
“Ara ...?” Agra mengerutkan keningnya
“oh jadi sekarang istri kamu juga jadi tameng ya ...” ucapan Divta
segera membuat Agra dan Rendi mengalihkan pandangan mereka ke arah Divta, ada
sebuah pertanyaan dari pandangan mereka berdua
“wooo wooo wooo ...., sabar ......” ucap Divta santai menanggapi
tatapan mereka berdua
“yah aku sudah ketemu sama istri kamu beberapa kali, berapa kali ya ...., aku sampai lupa ....,PUTRI AULYA ZAHRA,
di panggil Ara, mantan sekertaris mu kan, cantik .....” Divta menatap Agra dengan sedikit
__ADS_1
senyum licik di bibirnya
Mendengar ucapan Divta, Agra pun segera menghampiri Divta dan
menarik kerah baju Divta, mendorongnya hingga punggung Divta membentur ke
dinding
“jangan macam-macam sama istri aku, urusan abang Cuma sama aku ...”
teriak Agra yang benar-benar terpancing emosinya setelah mengetahui bahwa Abangnya telah menemui istrinya, ia benar-benar takut jika Divta menyakiti istrinya
“santai ...., aku belum melakukan apapun pada istrimu, aku Cuma
perkenalan saja dan sedikit peringatan, tapi aku tak janji untuk pertemuan kami
selanjutnya” ucap Divta sambil senyum , walaupun mata Agra sudah melotot,
dengan tangan yang mengepal sempurna siap di layangkan, dan benar saja
Bug
Sebuah tinjuan berhasil mendarat di pipi Divta, hingga ujung
bibirnya sedikit mengeluarkan darah, melihat majikannya di pukul, anak buah
Divta hampir menyerang Agra, tapi gerakan tangan Divta yang menyuruh mereka
tidak bertindak membuat mereka berheti
“ini belum saatnya...” ucapnya dengan tangan sebelahnya mengusap
darah segar yang menggenang di sudut bibirnya
“ku peringatkan kau..., jangan libatkan Ara dalam urusan kita, jika
sampai itu terjadi, aku benar-benar tidak akan memaafkan mu” ucap Agra sambil
mendorong keras tubuh Divta hingga sedikit terhuyung tapi tak membuatnya jatuh
Agra pun segera meninggalkan tempat itu, di ikuti oleh Rendi dan
anak buahnya
***
“kenapa lo nyusul gue?’ tanya Agra saat mereka sudah sampai di
sebuah kafe
“istri lo ngasih tahu gue jika lo bakal ketemuan sama Divta”
“apa benar dia sudah menemui Ara?” tanya Agra yang masih terlihat khawatir
“itu bisa lo tanyakan langsung sama istri lo, bukankan dia istri lo ...., lo sendiri yang bilang gue nggak boleh deket-deket sama istri lo ..."
"lagian lo harusnya paham sama sifat istri lo, dia suka mendem semuanya sendiri, harusnya lo yang lebih peka" ucap Rendi panjang lebar
“apa alasan lo ngelarang gue ketemu sama bang Divta? Padahal kalian
sudah tahu keberadaan bang Divta” tanya Agra setelah menduga-duga sendiri segala kemungkinan dari pertanyaannya tapi tak segera menemukan jawabannya
“gue takut lo bakal ngelakuin hal yang bakal lo sesali seumur
hidup” ucap Rendi sambil menyesap minumnya yang sudah semenjak tadi di atas meja
“maksud lo ...?’ tanya Agra sedikit bingung dengan ucapan Rendi, Agra pun menyenderkan punggungnya ke senderan kursi supaya lebih relax
“lo sudah baca map yang gue kasih ke elo beberapa waktu lalu?” tapi Rendi malah kembali mengajukan pertanyaan
“belum..., gue belum sempat ...” ucap Agra santai, sambil
meregangkan punggungnya
“lo bakal tau jawabannya di situ”
‘emang apa isinya?”
“lo liat sendiri aja, ntar lo juga tahu”
***
BERSAMBUNG
jangan bosan-bosan ya jika selalu saya ingatkan untuk meninggalkan jejak di setiap episode MY BOS IS MY HERO ini
__ADS_1
kasih like dan komentarnya
kasih vote juga