
Pagi ini tanpa sepengetahuan Agra, Ara datang ke tempat praktek
dokter Frans, sebenarnya masih ada rasa ragu untuk datang sendiri, ia ingin
sekali mengajak suaminya, tapi bagaimana jika ada masalah? mengingat hubungan mereka tak begitu baik
“kak mau kemana kok sudah rapi aja?” tanya Nadin yang kebetulan
sudah datang ke toko dan sedang merapikan etalase toko
“kakak mau keluar sebentar, nanti sebelum jam makan siang dah
balik, kamu jaga toko dulu nggak papa ya ...” ucap Ara sambil memeriksa kembali
isi tasnya
“ah kakak ini kayak sama siapa aja, tapi emangnya mau kemana kak?”
Nadin tampak penasaran
“aku mau nemuin dokter Frans” ucap Ara sambil mengetikkan pesan untuk
memesal ojol, Nadin tampak terkejut dengan jawaban Ara, dokter ...? apa Ara
sakit?
“kakak kenapa kak? Kakak lagi sakit ...? tapi kakak nggak pucet
...” Nadin memeperhatikan wajah kakaknya dengan seksama, memeriksa tubuh
kakaknya
“kakak nggak kenapa-kenapa dek ..., kakak Cuma cek kesehatan doang,
nggak sakit sama sekali” ucap Ara meyakinkan adiknya
“ah..., lega aku kak ....” Nadin mengelus dadanya, Nadin memang
sangat menyayangi kakaknya,
“ya udah aku pergi ya ...., sudah kesiangan nih, kalau mbak Rini
datang suruh buat seperti biasa aja” Ara sambil berjalan keluar ruko
“ok kak, siap ....” Nadin bergaya hormat dengan menaruh telapak
tangan di keningnya
“ kakak naik apa?” Nadin celingak-celinguk kesana kemari melihat ke
luar ruko
“aku udah pesan ojol ...., tuh ojolnya dah nunggu di depan” Ara
sambil menunjuk ke arah pria yang duduk di atas motor dengan jakek khasnya
berwarna hijau
“kakak nggak di jemput sama ajudannya balok es?” tanya Nadin heran
“nggak enak dek nyuruh njemput...., lagian nanti kalau Agra liat
bisa runyam urusannya”
“emang kak Agra nggak tau ya kak?” Nadin merasa aneh jika kakak iparnya sampai tidak tahu
“enggak ....., makanya jangan kasih tau ...” ucap Ara sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Nadin
“ya udah hati-hati kak ...”
“ok ....” Ara segera meninggalkan Nadin, menuju ke ojol yang sudah
menunggu sejak tadi , tapi saat bersamaan sebuah mobil warna silver berhenti tepat di
samping Ara
“pak Mun ...”
Ucap Ara saat melihat siapa yang keluar dari dalam mobil itu
“iya nona ...” pria paruh baya itu menunduk hormat
“kenapa pak Munir kesini?” tanya Ara, sudah lama sekali semenjak mereka keluar dari rumah tak bertemu dengan pak Mun, ini untuk pertama kalinya
“saya di perintah pak Rendi untuk menjemput anda, nona”
“tapi saya sudah pesan ojol” ucap Ara sambil menunjuk mas ojol yang terlihat bingung di samping Ara
“anda bisa membatalkannya nona” pak Mun tak mau kalah
“bagaimana bisa ....., nggak bisa, pak Mun aja yang duluan, biar
aku naik ojol” tapi Ara juga tak kalah ngototnya
“maaf nona, tapi saya harus memastikan nona sampai tujuan dengan
selamat”
Setelah menyelesaikan ucapannya, pak Mun pun langsung mendekati
pengendara ojol, dan memberikan selembar uang 50 ribu untuk ganti rugi dan
mempersilahkan ojol untuk pergi
“nggak bisa gitu dong pak mun ....,” protes Ara
“maaf nona ...”
“menyebalkan ...” Ara menginjal-injakkan kakinya sebal
"nggak atasan nggak bawahan, sama-sama menyebalkan, suka sekali memaksa" batin Ara sambil terus menatap pak Mun kesal
“mari nona ...” pak Mun membukakan pintu mobil, dengan terpaksa Ara
ikut masuk ke dalam mobil dengan ocehannya yang di jamin bikin kuping pak Mun
kriting
***
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam akhirnya mobil pak Mun
sampai juga di depan rumah sakit tempat Frans praktek, Ara segera turun dari
mobil tanpa menunggu pak mun membukakan pintu dan meninggalkan pak Mun begitu
__ADS_1
saja.
Tapi tingkah Ara yang seperti itu malah membuat pak Mun tersenyum,
“nona benar-benar berbeda ..., pantas nyonya menyukai anda nona,
semoga kalian bahagia” guman pak Mun
Ara langsung berjalan memasuki rumah sakit setelah melewati halaman
rumah sakit yang cukup luas Rumah sakit ini merupakan rumah sakit yang dimiliki oleh orang tua Agra
Rumah sakit ini memiliki peralatan medis yang mutakhir serta
memiliki sekitar 250 dokter spesialis, subspesialis dan dokter umum.
Rumah sakit yang berlokasi di Jakarta ini memiliki peralatan
medis yang canggih serta fasilitas yang bertaraf internasional.
Ara menemui serepsionis rumah sakit yang mengenakan pakaian putih
khas rumah sakit
“pagi mbak..”
“pagi ..., ada yang bisa di bantu?”
“saya ada janji dengan dokter Frans”
“baik dengan nyonya siapa?”
“Ara, Putri Aulia Zahra”
“baik tunggu sebentar nyonya, saya akan menghubungkan pada dokter
Frans, silahkan tunggu di sana dulu nyonya” mbak-mbak itu menyuruh ara untuk
duduk di kursi tunggu di depan meja resepsionis ,
Ara pun hanya bisa menurut dan duduk di salah satu kursi tunggu,
sedangkan mbak-mbak resepsionis itu sepertinya sedang sibuk menghubungi
seseorang
Tak berapa lama panggilannya pun di akhiri
“nyonya Ara ...” dan benar mbak-mbak itu menghampiri Ara
“iya mbak ...” Ara yang merasa di panggil langsung mendongakkan
kepalanya , Ara pun bangun dari duduknya
“anda sudah di tunggu di ruangan dokter frans nyonya” ucap wanita
itu
“kalau boleh tahu, dimana ya ruangannya?”
“saya akan mengantar anda nyonya” ucap wanita itu lagi dengan penuh
hormat, tidak seperti tadi
Ara pun segera mengibas-kibaskan tangannya menolak
tunjukkan saja di mana tempatnya”
“tapi nyonya ...”
“saya akan bilang sama dokter Frans jika saya sendiri yang
memintanya” bujuk Ara
“ baik nyonya, maaf atas kelancangan saya”
“tidak pa pa sekarang tunjukkan pada saya”
“dokter Frans berada di lantai tiga di ruangan paling ujung nyonya”
“baik, trimakasih ...” Ara pun menundukkan punggunggya memberi
hormat dan langsung menuju ke lift, ia segera menekan tombol tiga, dan tak
butuh waktu lama pintu lift pun terbuka, kebetulan lift sedang sepi, hingga Ara
menyenderkan punggungnya di salah satu dinding lift
“aku harus bagaimana? Aku takut ...” guman Ara sambil menutup
matanya
Setelah lift terbuka, ara pun langsung melangkahkan kakinya keluar
dari lift, Ara melangkah dengan perasaan yang tak menentu, ia belum siap jika
harus melakukan beragam pemeriksaan , apalagi dalam pikirannya sedang
berkecamuk
“bagaiman kalau dokter Frans sendiri yang memeriksa ...?”
“ah .... nggak ngak ...., aku harus bagaimana?” ara lagi-lagi menginjak-injak
lantai seakan di bawah ada kecoak yang harus di injak
“aku belum siap ....”
“tapi aku sudah janji ...”
Tanpa terasa langkah Ara sudah sampai di depan ruangan paling ujung
“selamat pagi kakak ipar ...” suara barito itu seketika menyadarkan
lamunan Ara,
“dokter Frans .....”
“silahkan masuk kakak ipar ...” dokter Frans sudah membuka pintu
yang menurut penuturan mbak-mbak resepsionis tadi adalah ruangan dokter Frans
“B-baik ...” ara menjadi sangat tergagap, keterkejutannya bertambah
lagi saat mendapati orang lain di dalam ruangan itu, dan orang lain itu adalah
__ADS_1
Rendi
“selamat pagi nona” sapa Rendi yang segera bangun dari duduknya
saat ara datang
“pagi ..., pak Rendi di sini
juga?” kegugupan Ara semakin bertambah saat melihat Rendi juga berada di situ
“kami menunggu anda nona”
“apa nona sudah siap?”
“sebentar ...sebentar , tapi apa boleh aku bertanya?” Ara kembali
memundurkan langkahnya
“silahkan nona”
“yang memeriksa .....?”
“tenang nona, yang memeriksa anda asisten dokter Frans” tak berapa
lama dokter frans kembali masuk dengan seoarang perempuan cantik berjilbab,
usianya sepertinya tak beda jauh dengan Ara
“selamat pagi nona Ara, saya dokter Sifa, asisten dokter Frans”
dokter sifa menyodorkan tangannya mengenalkan diri, tak menunggu waktu lama ara
pun langsung menyambut tangan dokter sifa
“senang berkenalan dengan anda dokter Sifa” Ara menunjukkan senyum
ramahnya pada dokter Sifa
“dokter Sifa ini yang akan memeriksa secara rutin kakak ipar”
dokter Frans berusaha menjelaskan
“apa sudah siap nona?” dokter Sifa menanyai Ara kembali
“Ara ..., hanya Ara ...”
“baik non ..., Ara ..., mari ikut saya ...”
Ara pun langsung naik ke aras ranjang pasien, dokter Sifa menutup
bagian bawah tubuh ara dengan selimut, kemudian menyingkapkan baju sebatas
teruyt ara dan mengoleskan jel yang terasa begitu dingin
“Ara ..., sudah pernah melakukan tespek mandiri?”
“belum dok”
Dokter Sifa mengoleskan jell yang terasa dingin di perut Ara,
kemudian pun menempelkan sebuah alat di atas perut ara dan memutar mutarnya
seakan sedang mencari sesuatu
“bagus ....”
dokter Sifa mengukur berat
badan serta tanda-tanda vital Ara, yang meliputi tekanan darah, denyut jantung,
laju pernapasan, dan suhu tubuh. Dokter Sifa juga melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan kandungan,
termasuk pemeriksaan
Leopold.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan , dokter Sifa mengajak Ara
kembali ke ruangan dimana dokter Frans dan Rendi berada, di ruangan yang
terpisah dengan ruang pemeriksaan
“silahkan duduk nona” Rendi langsung mempersilahkan Ara untuk duduk
dan di ikuti dengan dokter Sifa
“bagaimana hasil pemeriksaannya dokter Sifa?’ tanya dokter Frans
“nona Ara sedang memasuki kehamilan trimester pertama, sedang
rentang-rentangnya”
“maksud dokter ...?” Ara benar-benar bingung, ia langsung
membulatkan matanya, menajamkan telinganya, berharap apa yang ia dengar bukan
sebuah ilusi
“ya nona anda sedang hamil, memasuki usian sepuluh minggu”
“apa ...?” Ara benar-benar terkejut, ada rasa senang yang tak
tergambarkan, ia mengelus perutnya yang masih rata, ada kehidupan baru di dalam
sana
“apa yang harus dilakukan setelah ini dokter?” Rendi mewakili Ara
untuk bertanya, ara masih terlihat syok hingga tak mampu berkata-kata
“ Selain rutin menjalani pemeriksaan kehamilan, terapkan juga pola
makan sehat dan bergizi seimbang, konsumsi vitamin
prenatal sesuai anjuran dokter, minum air
putih yang cukup, lakukan olahraga ringan secara rutin, dan istirahat yang
cukup agar kehamilan nona Ara tetap sehat”
“terimakasih dokter atas penjelasannya”
***
BERSAMBUNG
__ADS_1
Jangan lupa bayar authornya dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
kasih vote juga OK