
Kini Viona sudah tahu tentang berita kehamilan Ara sebelum menikah,
membuatnya mempunyai kesempatan untuk menghancurkan Ara, ia seperti menemukan
angin segar untuk menjatuhkan Ara, apa lagi jika di lihat tubuh Ara tak ada
perubahan sama sekali
“saya meragukan kehamilan menantu anda nyonya” kini Viona berbicara
secara tegas
Ara yang juga masih ikut duduk di situ seketika tersedak dengan
salivanya sendiri
Huks huks huks
“nona ..., nona tidak pa pa ...?” tanya salman khawatir
“tidak pa pa paman, biarkan saya mengambil minum, ibu” Ara meminta
ijin pada mertuanya
“pergilah ...” Ratih mempersilahkan Ara meninggalkan mereka
Setelah Ara meninggalkan mereka, Ratih pun kembali menatap Viona
“apa maksud ucapanmu?”
“jika di hitung dari waktu mereka menikah, seharusnya, perutnya
sudah sedikit buncit, ini sudah hampir lima bulan mereka menikah, tapi perutnya
tetap sama, apakah nyonya pernah memeriksanya langsung?” Viona berusaha
memprofokasi
“nona jangan lancang ..., kami tidak akan segan ...” Salman membuka
suara memberi ancaman pada gadis di depannya, tapi segera Ratih mengangkat
tangannya memberi isyarat untuk tetap diam
“aku akan memikirkan yang kau katakan”
“tapi nyonya ...” Salman berusaha membantah keputusan atasannya
“sekarang pulanglah jika tidak ada yang di bicarakan lagi ...”
‘terimakasih nyonya atas waktunya” ratih pun beranjak dari duduknya
dan berlalu meninggalkan Viona yang bernafas lega, ia sudah berfikir jika
rencananya berhasil
***
Ara yang sudah masuk ke dapur, tapi pikirannya tidak lepas dari
ucapan Viona, ia benar-benar takut jika Viona sampai mencari tahu
Ia menuang air putih ke dalam gelas, tapi tanpa sadar air pun
sampai tumpah ke lantai
“nona ..., nona tidak pa pa?” Bi Anna yang menyadarinya segera
mendekati Ara dan meraih tempat air yang berada di tangan Ara, hingga membuat
Ara tersadar dari lamunannya
“maafkan aku bi ..., aku tidak sengaja ...” Ara jadi merasa bersalah
“tidak pa pa nona, biar saya bersihkan ..., duduklah nona ...” bi
Anna pun mempersilahkan Ara untuk duduk
“baik bi ..., maafkan aku ....” Ara pun duduk sambil meneguk
minumannya di dalam gelas
***
Setelah kepergian Viona, Ratih dan Salman masih duduk di ruang tamu
“apa perlu kita membungkam gadis itu , nyonya?” tanya Salman yang
duduk di depan Ratih
“biarkan saja...., mungkin nanti akan bisa di jadikan senjata”
jawab Ratih tegas
__ADS_1
“maksud nyonya?” Salman masih merasa bingung dengan maksud menjadi
‘senjata’
“kapan Divta akan kembali?”
Setelah menyebutkan nama ‘Divta’ barulah Salman mengerti apa maksud
Ratih, ternyata Ratih sudah memikirkan jauh ke depan
“kalau menurut berita, mungkin satu atau dua bulan lagi, nyonya ...”
“sebelum itu, kita harus mencegah Agra bertemu dengannya..., anak
itu terlalu sayang dengan kakaknya, ia pasti akan mengalah begitu saja jika di
minta”
“lalu apa rencana nyonya?”
“seperti yang ku katakan sebelumnya, gadis itu bisa di jadikan
senjata”
****
Agra tak mengetahui kedatangan Viona ke rumah, Agra datang ke
kantor dengan wajah sumringahnya, bibirnya tak pernah berhenti tersenyum, tanpa
ia tahu akan ada prahara besar yang sedang mengancam hidupnya
“siang pak” Rendi seperti biasa menyapa bosnya ke dalam ruangan,
untuk menyusun jadwal untuk hari ini,
“ada apa....?”
Melihat bosnya yang
sepertinya tak henti tersenyum, membuat
Rendi penasaran untuk segera bertanya
“apa bapak bahagia?” walaupun mereka bersahabat tapi jika sedang
jam kerja, protokol kerja masih tetap di laksanakan
makanya buru-buru menikah biar kamu bisa merasakannya” entah karena apa
akhir-akhir ini bosnya itu tidak terlalu mematuhi protokol kerja
brakkk
“dasar ...” karena Rendi
gregetan hingga melempar Agra dengan map yang ada di sampingnya
“aduchhh ..., kurang ajar banget lo jadi anak buah” Agra pun
mengelus hidungnya yang terkena lemparan map
“gue boleh nggak ngomong sebagai saudara dan sahabat lo?”
“sudah waktunya makan siang ya...?” jawab Agra sambil melihat jam
tangannya,
“ya udah karena sudah waktunya ....,silahkan” ia masih bersikap formal kepada Rendi
“ciihhhh ...” Rendi berdecak kesal karena tingkah Agra
“lo beneran cinta sama Ara?” Rendi terlihat begitu serius dengan
pertanyaannya, karena menurutnya ini terlalu cepat untuk agra kembali jatuh
cinta
“menurut lo?” Agra sedikit memutar kursinya dan merenggangkan
dasinya supaya lebih nyaman
“ ...” jawab Rendi ragu
“aku beneran jatuh cinta padanya, dia telah merubah hidupku,
memberi warna dan kekuatan yang mungkin tidak pernah aku dapat dari Viona ....”
kini gantian Agra menggulung kemejanya sebatas siku hingga memperlihatkan otot-
otot tangannya yang saling menonjol
__ADS_1
“lalu ...., Viona ?” Rendi kembali bertanya, karena Agra masih
menyebutkan nama mantannya, ia tahu jika baru kemarin sahabatnya ini
tergila-gila sama yang namanya Viona
“gue udah move on bro, cinta gue Cuma buat Ara ...”
“ gue tahu lo ragu karena ini terlalu cepat, tapi dia sudah merubah
hidup gue, merubah pandangan gue tentang cinta”
“ cinta itu bukan Cuma menuntut tapi juga memberi rasa nyaman pada
pasangannya itu lebih penting, aku rasa aku pada Viona hanya sebuah obsesi
ingin memiliki karena kesempurnaannya saja”
“baguslah kalau begitu” Rendi pun merasa lega, tapi kemudian ia
teringan dengan apa yang di katakan Frans kemarin kepadanya tentang kehamilan
Ara
“masalah kehamilan ...?” Rendi merasa ragu dengan apa yang ingin di
tanyakan, karena apa yang di katakan dokter frans selepas memeriksa Ara membuat
rendi begitu penasaran, ia juga tidak memberikan informasi ini pada ibunya Agra
“ya itu benar....” Agra menghela nafas panjang seakan berat untuk
menceritakan
“Ara belum hamil...” ucapannya kembali terhenti, memastikan
bagaimana ekspresi sahabat di depannya itu, dan benar saja Rendi terlihat tak
begitu terkejut
“jadi lo benar sudah tahu ya ..., lalu ibu?” Agra memastikan
sesuatu kembali pada sahabatnya
“gue belum memberitahu nyonya besar ..., jadi lo belum ...?” Rendi merasa
ragu untuk menanyakannya, hatinya belum rela
“ lo gila aja.....” Agra memukul punggung Rendi, Rendi pun sedikit
meringis menahan nyeri
“ mana mungkin gue nglakuin hal itu sebelum nikah ...., selama gue
sama Viona selama 4 tahun aja gue cuma sebatas ciuman, apa lagi ini Ara yang
bahkan kami nggak pernah pacaran, gue masih punya prinsip sebagai laki-laki sejati ...”
“trus selama ini?” Rendi yang duduk di sofa di susul dengan Agra
mencoba rileks untuk mendengar cerita dari sahabat plus saudaranya itu
Agra pun akhirnya menceritakan dari awal sejak kemunculan kesalah fahaman
ini, hingga ibu Agra datang dan menganggap jika Ara sedang hamil karena ulah
Agra hingga ibunya menyuruhnya untuk menikah
“lalu bagaimana dengan ibu?” tanya Rendi sedikit memperlihatkan
guratan cemas di wajahnya
“aku harap ibu tak perlu tahu, dan sebelum ibu tahu Ara harus sudah
benar-benar hamil”
“mudah-mudahan ......”
“jadi kau mendukungku ...?”
“tentu, kau sahabatku ...”
maaf ya up nya agak lambat ..., authornya lagi nyari wangsit
jangan lupa ya kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya
trus kasih bintang lima
vote nya juga
maaf kalau authornya cerewet ya
banyak maunya
semangat bacanya ....
__ADS_1