
Agra segera kembali ke rumahnya, ia begitu terburu-buru
seakan tak sabar untuk segera bertemu dengan putra dan putrinya.
“bby …, dari mana?” Tanya Ara yang baru saja selesai dari
dapur, ia menghampiri suaminya yang sedang tergesa. Karena masalah beberapa
hari ini membuatnya jarang bisa menyapa suaminya, rasanya selalu kesal setiap
kali bertemu suaminya itu.
“Di mana anak-anak?” Tanya Agra tanpa menghentikan
langkahnya, Ara pun ikut mengikutinya dari belakang.
“Sebenarnya ada apa?” Ara begitu penasaran, sebenarnya apa
yang sudah membuat suaminya itu tergesa-gesa seperti itu.
“Mereka di mana?”
“Di kamar mereka!”
Agra pun terus berjalan ke kamar anak-anaknya. Langkahnya
terhenti tepat di pintu kamar itu, melihat kedua buah hatinya sedang bermain
sungguh pemandangan yang membuatnya senang.
Agra memilih tidak melanjutkan langkahnya, ia melipat
tangannya di depan dada dan menyandarkan sebelah pundaknya di tepian pintu,
sangat sayang jika menggangu mereka, ia juga meminta Ara untuk diam.
“Bang …, jika aku sakit apa kau akan merawatku seperti aku
merawat winy?” Tanya Sanaya sambil bermain dengan boneka panda nya yang bernama Winy dan peralatan dokternya.
Sedangkan Sagara ia lebih suka dengan permainan robotnya.
“Tidak perlu bertanya, kau ini menanyakan sesuatu yang sudah
jelas jawabannya!” jawab Sagara tanpa menoleh ke adiknya itu.
Ucapan dua anak itu sudah tidak begitu cadel, usianya sudah
__ADS_1
bertambah besar sekarang.
“Aku senang jika abang selalu bersamaku, tapi jika terus bersamaku, bukankah aku juga tidak bica bermain dengan anak-anak perempuan karena
mereka akan takut dengan abang!”
“Aku benci keramaian, jadi jangan khawatir, asal kau tidak
mengajak teman-teman perempuanmu dan berisik di kamar ini, apa kau masih
memikirkan ucapan oma?”
“Mom marah sama pap, gara-gara hal itu!”
Ternyata kedua anak itu sama hal nya dengan orang-orang
dewasa mereka membahas hal yang sama, ucapan orang tua memang harus di saring
jika berada di depan anak-anak. Sedikit banyak mereka akan menyerap walaupun
tidak terlalu paham dengan maksudnya.
“Siapa bila papi bertengkar dengan momi kalian!” Agra
berjalan mendekati putra putrinya.
peralatan dokter-dokterannya dan membopong bonekanya mendekati papinya.
“Pap …., jangan suka menguping pembicaraan orang, itu tidak
baik!”
Agra bertumpu pada kedua lututnya, mensejajarkan tubuhnya
dengan putrinya, ia memegangi kedua daun telinganya.
“maaf …, papi tadi tidak sengaja!”
“papi memang tidak bisa di percaya!” celetus Sagara sambil
menatap papinya. Ara mendekati putranya itu dan mengusap kepalanya.
“Abang …., kenapa bicaranya seperti itu?” sagara hanya
menghela nafas mendengar ucapan mominya.
Sagara mengangkat tubuh putrinya, ia mendekat pada putranya
__ADS_1
yang tetap dengan posisinya.
“papi kenapa?” Tanya Sagara.
“papi mau bicara serius sama kalian! Duduklah di sini di
samping papi!” perintah Agra pada putranya, Sagara pun mendekat duduk berjajar seperti itu, seperti melihat
Agra kecil dan Agra dewasa, Sagara benar-benar duplikat Agra, bukan Cuma wajahnya
yang mirip tapi sikapnya pun juga sama.
“Apa kalian senang jika sebentar lagi masuk sekolah?”
“Iya pap, Nay senang …, pasti nanti Nay akan banyak teman!”
“Kalau Gara, apa senang?”
“Gara senang, tapi Gara lebih senang jika menuruti
permintaan oma, jika oma ingin Gara home schooling, Gara nggak keberatan, asal
Gara tetap bisa belteman dengan siapapun!”
“kenapa putraku begitu dewasa seperti ini, Frans benar
sekali!” gumam Agra Lirih tapi masih bisa di dengar oleh Sagara.
“Pap …, Gara memang sudah dewasa, jadi jangan menganggap ku
anak kecil, Nay lah yang kecil, harus di lindungi!” Sagara protes tidak suka di
katakana anak kecil, anak berusia empat tahun itu memiliki pemikiran yang lebih
bijak dari pada orang dewasa sekalipun. Kadang-kadang pemikiran anak-anak
memang seperti itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.4259
Happy Reading 😘😘😘😘
__ADS_1